
Kini Edrea telah sampai disekolahannya yang sudah beberapa hari ini tak ia kunjungi. Dan baru saja ia memasuki lobi sekolah tersebut, ia sudah disambut oleh para sahabatnya, siapa lagi kalau buka Yesi dan Resti. Bahkan keduanya berteriak memanggil namanya sembari berlari kencang kearahnya. Hingga apa yang dilakukan oleh keduanya mengalihkan atensi para siswa/siswi di sekitar lobi tersebut.
Sedangkan Edrea, ia hanya bisa pasrah dan menyiapkan diri supaya ia tak terjatuh nanti saat kedua sahabatnya itu menyerbu dirinya. Dan dia juga sudah menyiapkan beberapa alasan jika mereka bertanya kemana dirinya beberapa hari ini.
Benar saja tubuh Edrea kini terhuyung kebelakang saat kedua sahabatnya itu sudah berhambur kepelukannya. Untung saja Edrea tak sampai terjatuh, jika terjatuh malu sudah dirinya.
"Kalian ini bisa santai dikit gak sih. Malu tau di lihatin orang-orang tuh," ucap Edrea yang membuat kedua sahabatnya kini melepaskan pelukannya.
"Biarin aja sih toh mereka juga punya mata. Gunanya mata juga buat lihat yang penting kan kita gak ganggu hidup mereka. Dan Lo tau beberapa hari belakangan ini hari-hari gue serasa hampa tanpa Lo," tutur Resti.
"Njir, lebay lo," timpal Yesi.
"Gue gak lebay ya. Tapi gue jujur. Emang lo gak kesepian kemarin saat Rea gak berangkat ke sekolah?" Yesi mencebikkan bibirnya. Sejujurnya ia juga sama dengan Resti yang merasakan kehampaan tanpa Edrea disisi mereka. Tapi ia malu untuk mengakuinya.
"Tuh kan gue yakin lo juga kesepian," ucap Resti sembari menyenggol lengan Yesi.
"Udah-udah kita ke kelas aja. Hari ini acaranya apa? kalau remidian gue rasa udah selesai kan?" Yesi maupun Resti menganggukkan kepalanya.
"Remidian selesai kemarin dan lo sama sekali gak ada yang remidi disemua mapel. Dan sepertinya acara sekarang class meeting," jawab Yesi.
"Oh ya udah kalau gitu," ucap Edrea sembari mulai melangkahkan kakinya menuju ke kelasnya.
"Tapi ada satu hal yang belum kita beritahu ke lo, Re," tutur Resti diakhiri dengan menggigit bibir bawahnya.
"Apa tuh?"
__ADS_1
"Lo ikut partisipasi di class meeting." Edrea kini menghentikkan langkahnya dan kini menoleh kearah Resti.
"Apa kata lo?" tanya Edrea memastikan.
"Lo ikut partisipasi di class meeting. Dan di bidang bola basket," ulang Resti yang semakin membuat Edrea melongo tak percaya. Bukan karena ia tak bisa bermain bola basket tapi ia hanya tak ingin berpartisipasi saja. Karena jika ia ikut, sudah dipastikan semua mata akan tertuju padanya. Bukan dia sombong tapi memang itu kenyataannya. Sudah pernah ia buktikan dengan mengikuti acara seperti ini, saat kelas 10 dulu dan dirinya langsung menjadi pusat perhatian semua orang. Hal itu membuatnya benar-benar risih lalu setelah itu ia tak pernah mengikuti acara yang menyangkut aktivitas sekolah kecuali olimpiade.
"Astaga. Siapa yang ngajuin gue buat ikut?" tanya Edrea.
Yesi dan Resti kini saling pandang satu sama lain kemudian dengan memberanikan diri mereka berdua mengangkat tangannya tanpa berani menatap mata Edrea yang sepertinya sudah memancarkan aura membunuhnya.
"Kalian tau kan kalau gue dari dulu gak mau ikut ginian. Kenapa lo berdua malah daftarin gue sih?" geram Edrea yang semakin membuat kedua orang tersebut menundukkan kepalanya.
"Ki---kita ngelakuin itu biar lo balik sekolah lagi. Lebih tepatnya buat pancingan lo. Karena kita kira lo gak masuk gara-gara gak ada kerjaan disekolah. Jadi hal itu langsung buat kita berdua berinisiatif buat daftarin lo kegiatan ini biar lo balik lagi ke sekolah. Eh taunya sebelum gue kasih tau kabar ini lewat chat, lo udah balik ke sini duluan," jelas Yesi.
Edrea kini memijit pangkal hidungnya. Jika sudah seperti ini ia marah sekalipun juga tak bisa membatalkan semua yang sudah direncanakan oleh dua sahabatnya itu. Karena ia yakin daftar orang yang berpartisipasi sudah diserahkan ke pihak pengurus acara. Walaupun masih bisa dibatalkan ia juga nantinya akan mencari penggantinya. Dan itu akan sangat sulit lagi. Maka dari itu mau tidak mau dia harus ikut berpartisipasi dalam acara tersebut.
Resti dan Yesi kini dengan cengirannya mulai berani menatap kembali wajah Edrea.
"Hari ini," ucap keduanya dengan serempak.
"What? hari ini. Yang benar aja. Kalau hari ini gue mau tanding pakai apa? Gue gak bawa baju olahraga," tutur Edrea.
"Seriusan lo?" tanya Resti yang langsung mendapat sentilan didahinya dari Edrea.
"Kalau gue gak serius ngapain sampai bilang begitu tadi. Makannya kalau kalian rencanain sesuatu tuh bilang dulu biar gue ada persiapannya. Gak dadakan kayak gini. Gue gak mau tau kalau kalian gak bisa nemuin seragam olahraga yang bisa gue pinjam, kalian yang harus tanggungjawab saat gue nanti gak jadi ikut partisipasi," tutur Edrea kemudian ia kembali melangkahkan kakinya meninggalkan kedua sahabatnya itu yang tengah resah dan mulai menanyai satu persatu siswi disana yang hari ini membawa seragam olahraga dan bersedia mereka pinjam.
__ADS_1
Sedangkan Edrea yang moodnya telah rusak pun terus melangkahkan kakinya menuju ke kantin disekolah tersebut, mungkin dengan memesan minuman dingin akan mengembalikan moodnya hari ini.
Tapi baru saja dirinya ingin membelokkan tubuhnya masuk ke area kantin, ia menabrak seseorang dengan cukup keras. Jika saja pinggangnya tak di tahan oleh orang tersebut mungkin ia sudah terjatuh di lantai.
"Hati-hati kalau jalan tuh," ucap orang tersebut tanpa melepaskan pelukannya. Dan suara orang tersebut tak asing di telinga Edrea dan saat Edrea menengadahkan kepalanya, ia bisa melihat wajah orang itu.
"Leon," ucapnya. Leon tersenyum kemudian mulai melepaskan pelukannya.
"Te---terimakasih," tutur Edrea yang menjadi gugup sendiri.
"Hmmm. Lain kali kalau jalan jangan sambil ngedumel kayak tadi." Edrea menggaruk kepalanya yang tak gatal sembari melemparkan cengiran. Ia malu ternyata tingkahnya tadi telah diperhatikan oleh orang lain.
"Edrea!" teriak kedua sahabat Edrea sembari berlari dengan membawa satu set seragam olahraga yang entah mereka dapatkan darimana.
"Nih kita udah dapat seragamnya. Jadi jangan marah lagi ya sama kita. Maaf karena udah daftarin lo ikut class meeting hari ini," ucap Yesi yang diangguki oleh Resti. Edrea kini menerima seragam sekolah tersebut dadi tangan Yesi.
"Lo ikut class meeting?" tanya Leon tiba-tiba yang membuat kedua sahabat Edrea sadar jika mereka tak hanya bertiga saja melainkan ada orang lain disekitarnya.
"Eh ada Abang Leon ganteng," ucap Resti sembari menyelipkan rambutnya dibelakang telinga. Hal itu membuat Edrea bergidik jijik melihat tingkah sahabatnya itu. Sedangkan Leon, ia hanya bisa membalasnya dengan senyum tipis bahkan saking tipisnya tak bisa terlihat.
"Najis banget ya Allah punya teman kayak gini bentukannya," gerutu Edrea.
Tapi sepertinya ucapannya tadi tak dihiraukan oleh keduanya, nyatanya kini giliran Yesi yang beraksi.
"Babang Leon udah makan?" tanyanya dengan centil.
__ADS_1
"Kalau belum makan. Kita makan bareng yuk. Dedek Yesi yang traktir," sambungnya diakhiri dengan mengedipkan sebelah matanya.
Edrea yang sudah tak tahan dengan kecentilan Yesi dan Resti pun dengan reflek ia menggandeng lengan Leon dan membawa laki-laki itu pergi dari hadapan kedua sahabatnya.