
Mobil Edrea kini memasuki area sekolahannya setelah di setiap perjalanannya, ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Saat mobil tersebut sudah terparkir rapi, Edrea keluar dan saat melihat sekitarnya ia mengkerutkan dahinya.
"Kenapa masih sepi? mobil juga belum seberapa, biasanya ini parkiran penuh," gumam Edrea.
Ia pun menggedikkan bahunya kemudian dengan cepat ia berlari menuju kelasnya, tapi lagi-lagi ia di buat bingung kala para siswa dan siswi masih bersantai ria di luar kelas mereka.
"Ini kenapa masih di luar kelas semua sih? apa para guru baru ada rapat atau gimana?" batinnya dengan terus berlari.
Dan tiba-tiba saat dirinya tak memperhatikan jalan karena asik mengamati semua siswa di sekitarnya dengan pikiran yang bertanya-tanya, tubuh Edrea tak sengaja menabrak seseorang dengan cukup keras bahkan tubuhnya sampai terpental jatuh ke lantai.
Brukkk!!!
"Aws," ringis Edrea sembari memegangi sikunya yang tadi terbentur lantai.
Orang yang di tabrak Edrea tadi tampak kaget dan kemudian ia berjongkok untuk membantu Edrea berdiri.
"Lo gak papa kan?" tanyanya. Edrea yang mendengar itu pun langsung mendangakan kepalanya, kemudian dengan cepat ia berdiri dari lantai dan saat dirinya ingin bergegas pergi, lengannya harus tertahan oleh orang tersebut.
"Rea, please maafin gue," ucapnya.
"Lo gak pernah salah Zic, jadi gak usah minta maaf. Lepasin tangan gue, gue mau ke kelas bentar lagi udah mau bel masuk," tutur Edrea.
Tapi Zico tak mendengarkan ucapan dari Edrea tadi, ia malah semakin menggenggam tangan Edrea dan mengikis jarak keduanya.
"Zic, lepasin gue," ucap Edrea memberontak.
Zico kini menghentikan langkahnya dan ia menolehkan wajahnya ke semua tatapan siswa disana yang melihatnya tapi genggaman tangan tersebut masih tergenggam erat di tangan Edrea.
"Semuanya dengarkan baik-baik kalau mulai hari ini, Edrea akan menjadi milik gue. Jika ada yang ganggu dia atau cari masalah sama dia berarti kalian juga akan berurusan sama gue!" teriak Zico lantang.
Edrea yang berada di depan Zico, kini melongo mendengar penuturan Zico tadi.
"Zic, lo apa-apaan sih," geram Edrea. Ia tak terima jika dirinya sudah di hak paten oleh Zico seenak jidatnya sendiri.
"Lo udah jadi milik gue. Semua orang sekarang udah tau dan gak akan berani deketin lo," bisik Zico tepat di telinga Edrea.
Edrea yang mendengar ucapan dari Zico tadi langsung melayangkan tinju di perut Zico dengan cukup keras dan hal itu mampu membuat Zico merasakan nyeri di perutnya.
"Rasain," ucap Edrea.
__ADS_1
"Dengarkan semuanya kalau yang di ucapkan Zico tadi tidak ben---hmmmm," perkataan Edrea terpotong gara-gara Zico membungkam mulutnya.
"Maaf atas keributan tadi. Tapi untuk ucapan gue tadi kalian harus selalu mengingatnya," tutur Zico, kemudian ia membawa tubuh Edrea menjauh dari kerumunan para siswa tadi menuju rooftop sekolah tersebut.
"Lo apa-apa sih," geram Edrea saat mereka telah sampai di balkon tersebut.
"Re, gue benar-benar menyesal. Dan gue baru ngerasa setelah lo jauhin gue, gue baru menyadari kalau gue suka, sayang dan cinta sama lo," ucap Zico. Edrea menatap lekat-lekat mata Zico untuk mencari kebohongan disana namun tampaknya yang diucapkan Zico tadi adalah kebenarannya dan ungkapan isi hati yang begitu dalam.
Edrea menghela nafas kemudian melepaskan genggaman tangan dari Zico tadi.
"Udah lah Zic. Buang semua rasa lo ke gue toh lo juga udah punya pasangan sekarang. Gue bukan cewek gampangan yang mau jadi selingkuhan lo, Zic. Dan untuk ucapan lo tadi biar gue yang klarifikasi nanti," tutur Edrea dan berbalik untuk pergi dari rooftop sekolah tersebut. Tapi lagi-lagi tubuhnya harus terhenti kala pelukan dari belakang tubuhnya ia rasakan.
"Re, gue minta maaf. Dan gue udah tegasin sama lo saat kita bicara di belakang sekolah kalau gue dan perempuan itu gak ada hubungan apa-apa. Gue antar jemput dia karena orangtuanya yang nyuruh gue waktu itu. Dan apa lo tau, saat gue lihat lo dekat dengan Joni, hati gue sakit Re," ucap Zico.
"Baru pertama ini gue ngerasain jatuh cinta Re dan cewek satu-satunya yang bisa luluhin hati gue yang keras ini cuma lo. Lo cinta pertama gue," sambungnya dengan suara yang cukup rapuh terdengar di telinga Edrea.
"Gue benar-benar minta maaf atas semua kebodohan gue, Re. Tolong maafin gue," ucap Zico.
Edrea tampak terdiam sembari menggigit bibir bawahnya.
"Lo, Lo nangis?" tanya Edrea saat merasakan bahunya sedikit basah.
"Ini beneran Zico kan? cowok yang dingin dan tak berperasaan itu? dan cowok itu sekarang nangis gara-gara gue. Yang benar saja," batin Edrea tak menyangka.
"Re, gue minta maaf," tutur Zico.
Edrea yang tak tega pun langsung merengkuh tubuh Zico dan memeluknya guna menyalurkan rasa ketenangan untuk pria itu.
"Lo gak salah Zic, jadi gak usah minta maaf. Gue dulu yang salah bukan lo. Sudah-sudah jangan nangis lagi, malu ih cowok kok nangis," tutur Edrea sembari menepuk-nepuk punggung Zico.
"Gue salah bahkan sangat salah saat sikap gue yang keterlaluan waktu itu Re. Bahkan gue sempat kecewa sama diri gue sendiri, kenapa gue bisa bersikap seperti itu ke lo. Gue nyesel Re, gue benar-benar minta maaf sama lo," ucap Zico penuh dengan penyesalan bahkan ia mengeratkan pelukannya.
"Baiklah-baiklah gue maafin lo, udah ya jangan nangis lagi." Zico kini merasa lebih tenang, kemudian ia melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Edrea begitu lekat.
"Re."
"Hmmm?"
"Gue sayang sama lo. Please jangan cuekin gue lagi," ucap Zico.
__ADS_1
Edrea menghela nafas dan menganggu untuk menjawab ucapan dari Zico tadi.
"Tapi gue masih gak percaya kalau lo sayang sama gue," tutur Edrea.
"Kenapa lo gak percaya?"
"Entahlah, sulit aja gitu," jawab Edrea.
"Huh kalau begitu, ini saatnya untuk gue buktiin apa yang gue ucapkan tadi, biar lo percaya sama gue. Dan satu hal yang harus lo ingat sekarang, kalau gue udah suka dan sayang sama seseorang, gue gak akan pernah lepasin dia sampai kapanpun. Apapun rintangannya, gue gak akan menyerah gitu aja," tutur Zico sembari menggenggam tangan Edrea.
"Ini janji gue sama lo, Re. Lo cewek pertama yang bikin gue jatuh hati dan meruntuhkan hati gue yang udah beku dan tak percaya lagi tentang cinta. Entah apa yang harus gue lakuin dan korbankan nantinya, gue tetap ada berada di depan lo sebagai pelindung dan tameng lo untuk kedepannya," batin Zico.
"Baiklah akan gue tunggu bukti itu. Dan perlu lo ingat kalau gue mau balas dendam sama lo karena gara-gara lo, gue sempat galau," ucap Edrea.
"Gue mau tau gimana cara balas dendam lo," tutur Zico dengan senyum yang pertama kali Edrea lihat.
"Lo kalau senyum kayak gitu, tingkat ketampananmu sedikit bertambah dari biasa jadi lumayan," ucap Edrea.
"Lo yakin kalau wajah gue cuma biasa aja?" tanya Zico.
"Iya lah. Eh astagfirullah gue lupa," tutur Edrea sembari memukul dahinya sendiri.
"Lupa apa?"
"Gue telat masuk ke kelas. Astagfirullah, sekarang jam berapa? gue lupa pakai jam tangan soalnya."
Zico mengerutkan keningnya dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Masih 8 menit lagi bel masuk bunyi," ucap Zico.
Edrea membelalakkan matanya.
"Jam lo gak bermasalah kan?"
"Enggak, jam gue masih normal."
"Arkh sial gue dikerjain," gerutu Edrea.
"Awas aja nanti gue akan balas kalian berdua," sambung Edrea dalam hati.
__ADS_1