
Saat Azlan dan Zea sudah mulai berbaikan, berbeda dengan Erland yang masih berusaha untuk menjelaskan semuanya kepada Kayla.
"Kay, dengerin dulu lah, jangan main pergi-pergian begini," ujar Erland sembari mengejar langkah Kayla.
Kayla yang terus mengabaikan ucapan dari Erland pun sama sekali tak membuatnya untuk menghentikan langkahnya sekarang juga.
"Kay," panggil Erland yang lagi-lagi tak mendapat jawaban dari Kayla. Hingga akhirnya Erland yang sudah terpancing emosinya pun dengan cepat ia menarik lengan Kayla dan menggenggam lengan tersebut dengan sangat erat.
"Jangan gini Kay. Aku juga punya batas kesabaran. Aku bukan tipe orang yang selalu bisa ngertiin kamu di setiap waktu, aku juga bukan tipe yang bisa meramal mood kamu yang tiba-tiba berubah begini tanpa alasan. Kalaupun aku yang menjadi alasan buat kamu jadi begini dan bukan karena kesalahan pahaman tentang tadi di sekolah, oke aku minta maaf. Tapi katakan dimana letak kesalahanku," ujar Erland.
"Udahlah Er, gue lagi malas. Gue juga buru-buru mau kerja gak ada waktu juga buat bahas hal yang gak penting gini," tutur Kayla lalu setalahnya ia melepaskan cekalan dari Erland secara paksa.
"Menurut kamu emang gak penting Kay. Tapi menurutku, semua yang menyangkut tentang hubungan kita itu penting Kay," teriak Erland.
"Kita tidak pernah punya hubungan spesial Er. Lo harus ingat itu," ujar Kayla yang membuat Erland langsung terdiam. Hatinya yang tadinya utuh kini mulai retak karena perkataan dari Kayla tadi.
"Kita tidak lebih dari sekedar teman biasa. Gue juga gak ada rasa suka sama lo," sambung Kayla tanpa menolehkan kepalanya kearah Erland dan tanpa menghentikan langkahnya.
Erland kini mengepalkan tangannya, mencoba menyalurkan rasa sakit hatinya ke kepalan tangan tersebut.
"Jadi perhatian gue selama ini hanya lo anggap sebagai perhatian sesama teman Kay? Jadi selama ini lo gak pernah jawab perasaan gue karena lo gak suka sama gue? Tapi kenapa lo gak langsung ngomong buat nolak gue, Kay?" ujar Erland sembari menatap punggung Kayla.
Kayla kini menghentikan langkahnya lalu setalahnya ia menatap kearah Erland.
"Iya memang benar, gue selama ini nganggep perhatian lo itu hanya sekedar perhatian teman biasa. Dan gue akuin gue jahat karena udah gantung perasaan lo. Kalau gue langsung nolak Lo waktu itu, gue gak tega lihat wajah lo. Jadi gue putusin untuk mencoba terlebih dahulu siapa tau gue perlahan ada rasa sama lo, tapi nyatanya semakin kesini gue semakin benci sama lo," ujar Kayla dengan lantang.
__ADS_1
"Jadi gue tegasin mulai sekarang. Kalau lo dan gue tidak mempunyai hubungan apapun. Kita hanya sekedar teman biasa tidak lebih dari itu. Gue juga gak suka sama lo. Jadi mulai sekarang mending lo menjauh dari gue. Karena gue juga risih di ganggu terus menerus sama lo," sambung Kayla lalu setelahnya ia melangkahkan kakinya kembali hingga terdapat taksi yang kini melintas di jalan tersebut dan langsung di berhentikan oleh Kayla.
Erland yang sudah jelas perasaannya di tolak oleh Kayla pun ia hanya bisa memandangi taksi tadi menghilang dari pandangannya tanpa berniat untuk mengejarnya lagi.
"Arkhhhh jadi selama ini dia hanya kasian sama gue doang. Hahaha lucu sekali. Perasaan orang mudah banget buat di jadiin mainan sama dia," ujar Erland dengan kekehan getir di bibirnya.
Dan tanpa ia ketahui ternyata obrolan dia dan Kayla tadi di dengar oleh Azlan dan Zea yang dari tadi berdiri tak jauh dari tepat Erland tersebut.
"Kok Kayla begitu sih," ujar Zea sembari memegang lengan Azlan dengan sangat erat.
"Aku kira selama ini dia juga suka sama Erland. Tapi ternyata... ahhh kasian Erland dong kalau kayak gini," sambung Zea. Tak tau saja Azlan yang merupakan saudara kembar dari Erland dan jelas-jelas juga bisa merasakan bagaimana sakit hatinya Erland sedari tadi ia mengepalkan tangannya untuk mengontrol emosinya.
"Hari ini kamu pindah ke apartemenku. Jangan nolak karena ini perintah," ujar Azlan yang hanya bisa diangguki oleh Zea.
"Jangan gara-gara perempuan lo jadi lemah begini. Lo harus ingat di dunia ini bukan hanya ada satu perempuan saja melainkan masih banyak perempuan-perempuan di luar sana yang jauh lebih baik dari Kayla," ujar Azlan mencoba untuk menguatkan Erland.
"Bang, gue boleh nangis kan? Ini benar-benar sakit dari yang gue banyangkan," ucap Erland dan tanpa diizinkan oleh Azlan, air matanya sudah lebih dulu membasahi pipinya.
"Nangis, boleh tapi sebentar saja. Jangan terlalu berlarut-larut. Kalau dia sampai lihat lo rapuh begini dia justru akan senang. Dan buktikan ke dia kalau lo bisa bangkit tanpa ada dia disamping lo lagi dan buktikan, lo bisa menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Buat dia menyesal udah nolak lo dan memilih pergi dari hidup lo," ujar Azlan sembari menepuk-nepuk punggung Erland.
"Tapi emang bisa gue move on dari dia? Dia cinta pertama gue bang. Kenapa dia tega banget mainin perasaan gue selama ini?" ucap Erland dengan suara paraunya.
"Gue yakin lo bisa move on dari dia. Buat apa juga lo masih berharap sama dia setelah apa yang dia lakuin ke lo selama ini. Ingat aja gimana dia nyakitin lo hari ini di saat lo ingin kembali sama dia. Dan kalau lo tanya kenapa dia tega mainin lo, gue juga gak tau Er, tapi perlu lo ingat, tuhan itu baik karena udah buka semua tentang dia sebelum semuanya terlambat dan jika sampai terlambat akan lebih menyakitkan lagi dari saat ini. Dan tuhan juga berarti sudah menyiapkan seseorang yang tepat untuk lo, dan orang itu akan jauh lebih baik dari dia," tutur Azlan lalu setalahnya ia melepaskan pelukannya dari tubuh Erland.
Kemudian ia menepuk pelan pipi Erland.
__ADS_1
"Hapus air mata lo. Ingat, ini air mata yang terakhir yang lo keluarkan demi perempuan itu, habis ini balas dia dengan kebahagiaan lo," ujar Azlan yang membuat Erland menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia menghapus air matanya lalu setalahnya ia mengangguk setuju dengan apa yang dia katakan oleh Azlan tadi.
"Sekarang kita pulang. Lo jangan kemana-mana dulu beberapa hari ini. Tenangkan diri lo dan setelah semuanya baik-baik saja lo baru boleh keluar dari rumah," ujar Azlan.
Lalu setalahnya tangan Azlan kini menengadah kearah Erland. Dan hal itu membuat sang empu mengerutkan keningnya.
"Kunci motor lo sini," ucap Azlan.
"Buat apaan?"
"Biar gue yang pakai motor lo. Karena kalau sekarang lo bawa motor, gue gak yakin lo sampai rumah dengan selamat," ujar Azlan yang membuat Erland memutar bola matanya malas.
Tapi setalahnya tangannya kini merogoh kunci di saku Hoodienya lalu setelahnya ia menyerahkan kunci tadi ke tangan Azlan.
"Kalau lo bawa motor gue, gue pulangnya gimana?" tanya Erland.
"Lo pulangnya sama Zea. Biar dia yang bawa mobilnya. Kamu bisa bawa mobil kan sayang?" tanya Azlan yang diangguki oleh Zea.
Azlan yang melihat hal itu pun tersenyum kearah sang kekasih sebelum ia menyerahkan kunci mobilnya kearah Zea.
"Duh, tolonglah lihat situasi kalau mau mesra-mesraan. Adik lo ini baru juga di tolak sama orang eh abangnya malah mesra-mesraan didepan orang yang lagi parah hati. Ck, gak ada akhlak," ujar Erland yang membuat Azlan dan Zea terkekeh kecil.
"Sorry, kelepasan. Udah kita pulang sekarang. Awas jangan macem-macem sama calon kakak ipar lo," ujar Azlan yang membuat Erland lagi-lagi memutar bola matanya malas.
"Gak. Lo tenang aja sih, gue gak setega itu mau nikung Abang sendiri. Buruan pulang sekarang, jangan disini mulu. Kalau lama-lama disini gue jadi semakin patah hati nanti," tutur Erland. Lalu setalahnya ia melangkahkan kakinya terlebih dahulu sebelum akhirnya Azlan dan Zea mengikuti langkah kaki Erland dari belakang.
__ADS_1