
Sudah beberapa hari sejak malam itu, Edrea tetap saja tak bisa menghubungi nomor Leon dan nomor Mr. Misterius. Walaupun ia terus mencoba setiap hari dan mencoba mencari informasi dari para sahabat Leon, mereka sama sekali tidak mau memberitahunya dimana Leon sekarang berada. Untuk Mr. Misterius, Edrea sudah menyerah karena ia mau mencari kemana, sedangkan ia tak mengenal teman-teman Mr. Misterius itu ataupun rumahnya.
Sama seperti saat ini, Edrea menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi saat ia baru saja menemui Jojo yang kebetulan tak lagi sibuk dan mau bertemu dengannya walaupun harus ada pancingannya terlebih dahulu. Tapi orang itu tetap saja bungkam tanpa memberitahu informasi mengenai Leon sama seperti yang lainnya. Bahkan saat Edrea memulai topik pembicaraan mengenai Leon, Jojo seakan-akan langsung mengalihkan topik tersebut. Hingga akhirnya Edrea menyerah dan memilih pergi saja dari hadapan Jojo daripada dirinya nanti ngamuk di restoran tersebut kan bisa berabe.
Dan kini ia menghela nafas lelah. Entah sampai kapan Leon akan bisa ia hubungi lagi. Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
"Gue harap kita segera ketemu dan lo bisa bantu gue memecahkan pertanyaan-pertanyaan yang selalu menghantui otak gue, Leon," gumam Edrea dengan tatapan nanar lurus kedepan. Dan dengan beberapa helaan nafas, ia kini menjalankan mobilnya dan memilih untuk kembali pulang kerumah.
Hanya butuh beberapa menit saja akhirnya Edrea telah sampai di kediaman keluarga Abhivandya dan baru saja ia turun dari mobil, dirinya dibuat melongo dengan banyaknya orang yang tengah berbaris rapi sampai di halaman rumah itu.
"Ini ada apa? Kenapa banyak orang begini? Emak sama bapak gue lagi bagi-bagi sembako gratis ke warga sekitar kah? Tapi kayaknya gak deh karena gue aja gak kenal sama mereka semua. Wajah mereka pun juga baru pertama ini gue lihat," gumam Edrea sembari menatap ke deretan orang-orang itu.
Dan karena rasa penasarannya yang tinggi Edrea kini mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah tersebut dengan sesekali menatap deretan orang-orang tadi.
"Oh astaga di ruang tamu juga penuh. Baru gue tinggal bentar nih rumah bisa-bisanya gue langsung ketinggalan berita panas ini," ujar Edrea lalu setalahnya ia kembali melangkahkan kakinya mengikuti barisan orang-orang itu hingga akhirnya, berakhir di ruang keluarga.
Diruangan itu hanya terdapat beberapa orang saja yang duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan kedua orangtuanya, ketiga abangnya, dan Vivian juga beberapa bodyguard yang mengelilingi mereka yang tengah terduduk di sofa itu. Bahkan saking banyaknya bodyguard, Edrea harus berjinjit dulu agar ia bisa melihat apa yang tengah keluarganya itu lakukan.
Dan karena ia merasa capek sendiri, akhirnya Edrea mencolek lengan salah satu bodyguard disana.
"Om," panggil Edrea dengan lirih. Bodyguard yang tadi mendapatkan colekan dari Edrea pun kini menolehkan kepalanya kearah Edrea.
__ADS_1
"Eh Non Rea, kenapa?" tanya bodyguard tadi.
"Ini ada apa sih Om, kok banyak banget orang disini?" tanya Edrea.
"Oh itu Non, semua orang ini tuh kandidat ayah kandung dari anaknya nona, siapa ya namanya?" ucap bodyguard tersebut sembari mengingat-ingat nama seseorang.
"Puri?" tebak Edrea yang membuat bodyguard itu menjentikkan jarinya.
"Nah iya, anaknya nona Puri," ujar bodyguard tersebut.
"Hah? Om yakin ini semua kandidatnya?" tanya Edrea yang diangguki oleh bodyguard tadi.
"Tapi kenapa harus sekarang ngumpulin orangnya? Bukan saat Puri melahirkan nanti? Dan kalau Dad ngelakuin ini semua, bisa-bisa mereka setelah pulang dari sini akan kabur dan berakhir tak mau tanggungjawab dengan perbuatan mereka," tanya Edrea yang masih dalam mode kepo.
"Nona tenang saja, mereka semua tidak bisa kabur begitu saja karena tuan besar sudah memegang kendali hidup mereka semua," jawab bodyguard tadi dengan senyumannya.
"Megang kendali gimana? Dad bukan tuhan Om, jangan ngada-ngada deh," tutur Edrea.
"Maksudnya tuh, tuan besar sudah memegang semua aset berharga mereka yang merupakan sumber keuangan utama mereka dan," ucap bodyguard tadi dengan sengaja menggantung ucapannya. Dan beberapa detik setelahnya ia melirik ke sekelilingnya dan setalahnya ia memajukan wajahnya tepat disamping telinga Edrea kemudian ia membisikan sesuatu ke nona mudahnya itu.
"Dan tuan besar juga sudah mengantongi beberapa video panas dari orang-orang itu, juga sudah mengantongi nomor ponsel para istri dari laki-laki hidung belang ini. Bahkan tuan juga tau seluk-beluk keluarga mereka semua. Jadi kalau mereka kabur, tuan besar tinggal menghancurkan usahanya, mengirimkan video tadi ke istri mereka atau keluarga mereka dan yang terakhir tuan juga akan menjatuhkan reputasi mereka didepan publik," bisik bodyguard tadi.
__ADS_1
Edrea yang sebenarnya sudah menduga bahwa Daddynya itu tidak akan bertindak gegabah sebelum memikirkan semuanya pun kini ia menganggukkan kepalanya.
"Syukurlah kalau begitu Om. Oh ya kira-kira jumlah semua orang disini berapa?" tanya Edrea.
"Entahlah Non, saya saja pusing ngitungnya. Pokoknya banyak lah," ujar bodyguard tadi.
"Gila ya Om, laki-laki segini banyaknya masuk ke lubang yang sama. Tuh Puri emang gak takut gitu kena penyakit kelamin. Hih ngeri sendiri Rea," ucap Edrea dengan bergidik saat otaknya mulai membayangkan betapa bebasnya Puri waktu itu.
"Iya juga ya Non. Tapi kebanyakan orang yang sudah seperti itu hanya ada dua kemungkinan. Satu, karena dia benar-benar butuh uang atau terpaksa dan dengan merelakan tubuhnya dia bisa mendapatkan uang secara instan juga dalam jumlah banyak. Dan yang kedua, kemungkinan dia sudah ketagihan berhubungan dengan lebih dari satu pasangan. Dan orang-orang yang begitu tuh kebanyakan tidak memikirkan kesehatan tubuh mereka yang pentingkan dapat cuan banyak dan bisa buat hura-hura, pamer, juga ngikutin trend zaman sekarang. Lebih tepatnya karena mereka gengsi tapi mau ngikutin trend tidak punya uang juga tidak mau kerja susah, jadinya ya begitulah," tutur bodyguard tersebut.
Edrea kini mengangguk-anggukkan kepalanya tapi sesaat setelahnya tatapan matanya yang tadi tengah menatap satu-persatu orang-orang disana kini beralih kearah bodyguard tadi.
"Kok Om bisa tau? Jangan-jangan Om pernah one night stand lagi. Hayo lho Om, Rea bilangin sama Mbak Tun ya," ucap Edrea dengan diakhiri ancaman.
Bodyguard tadi langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tidak Non. Saya tidak pernah melakukan hal begituan. Saya tau semuanya itu dari teman-teman saya yang memang sering begitu. Kalau saya mah gak pernah melakukan hal seperti itu, beneran deh suer, gak bohong. Kalau saya sampai begitu, bisa-bisa saya jadi samsak hidup sama istri saya, Non kan tau sendiri bagaimana galaknya istri saya itu. Dan daripada saya masuk kuburan setalah berbuat begituan mending saya cari uang non, buat menghidupi keluarga saya," tutur bodyguard tersebut dengan ekspresi wajah yang memelas. Dan hal itu membuat Edrea terkekeh kecil sembari tangannya memukul pelan lengan bodyguard tersebut.
"Hahahaha, iya Om, Rea percaya kok kalau Om gak akan mengkhianati cinta Mbak Tun. Rea tadi cuma bercanda aja. Udah dulu ya Om, Rea mau ikut gabung sama mereka sekaligus nguping. Dan kalau Rea dapat info yang menarik, nanti Rea panggil Om. Kita bergosip bersama," ucap Edrea sembari menaik-turunkan alisnya. Dan hal itu diacungi jempol oleh bodyguard tadi dengan senyum lebarnya.
Edrea membalas senyuman tadi, lalu setalahnya ia nyelonong masuk kedalam lingkaran para bodyguard tadi. Sedang bodyguard tadi kini bisa menghela nafas lega karena Edrea tak akan memanas-manasi rumah tangganya, lalu setalahnya ia menggelengkan kepalanya melihat Edrea yang tengah berjalan menuju perkumpulan orang-orang di ruang keluarga tersebut.
__ADS_1