
Edrea masih memikirkan tentang Leon juga orang misterius yang selalu menolongnya itu hingga pertandingan basket tersebut telah usai dan lamunannya buyar saat botol air mineral yang ia pegang kini direbut oleh seseorang tanpa permisi terlebih dahulu. Ia menengadahkan kepalanya untuk menatap wajah orang yang sudah berdiri didepannya sembari menenggak minuman tadi.
Edrea mengerjabkan matanya untuk menetralkan kegugupan apalagi saat matanya tak sengaja melihat jakun laki-laki yang berdiri didepannya dan laki-laki itu tak lain dan tak bukan adalah Leon yang sedari tadi telah menghantui pikirannya. Tapi beberapa detik kemudian ia membelalakkan matanya lalu ia langsung berdiri berhadapan dengan Leon.
"Itu air bekas gue," tutur Edrea yang sepertinya baru sadar setelah Leon menghabiskan air yang berada di botol tersebut.
Leon memincingkan alisnya sembari melihat botol yang ada di tangannya itu kemudian tatapannya beralih kearah Edrea.
"Ya terus kenapa?" tanya Leon dengan santainya.
"Lo masih tanya kenapa? bibir gue tadi nempel di botol itu," tutur Edrea yang semakin banyak menyita perhatian penghuni sekolah tersebut.
"Ya namanya juga minum. Semua orang juga ngelakuin apa yang lo lakuin," ujar Leon yang entah memang tidak tau maksud dari Edrea atau ia hanya ingin menjahili gadis didepannya itu.
"Lo gak tau maksud gue?" Leon dengan polosnya menggelengkan kepalanya.
Edrea kini menepuk pelan keningnya sendiri.
__ADS_1
"Lo beneran gak tau?" tanyanya lagi.
"Apa sih? gue gak tau apa yang sedari tadi lo omongin. Toh gue juga cuma minta minuman lo doang. Nanti gue ganti deh," tutur Leon yang membuat Edrea berdecak sebal.
"Bukan itu masalahnya. Astaga. Itu lho saat bibir lo nyentuh botol itu otomatis bibir lo nyentuh bibir gue juga artinya kalau kita udah ciuman secara tidak langsung," geram Edrea yang malah membuat Leon tersenyum penuh arti dan setelah itu, Leon kini justru melangkahkan kakinya untuk merapatkan tubuhnya ke Edrea dan setelah jarak mereka menipis, Leon kini mencondongkan tubuhnya.
Edrea yang tak sempat menghindar karena percuma saja jika ia mundur kebelakang juga sudah tak bisa karena tubuhnya terhalang oleh kursi yang ia pakai untuk duduk tadi. Sedangkan Leon yang tak mendapat pemberontakan dari Edrea pun dalam diam ia tersenyum. Kemudian ia semakin mencondongkan tubuhnya hingga wajah Leon juga Edrea hanya berjarak beberapa senti saja. Dan hal itu langsung membuat seluruh siswa-siswi disana heboh. Ada yang baper, ada yang marah-marah tak jelas karena dua idola sekolah itu secara terang-terangan memperlihatkan keromantisan mereka berdua dan ada juga yang iri dengki entah itu kepada Edrea ataupun Leon.
Begitu juga dengan kedua teman Edrea yang sekarang tengah menganga lebar. Mereka masih tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Pantas saja Edrea tadi sempat marah kepada mereka saat keduanya memanggil Leon dengan sebutan ganteng. Dan tebakan dari keduanya tadi sepertinya benar kalau Edrea sekarang tengah menjalin hubungan dengan laki-laki tampan itu. Tapi tunggu, bagiamana nasib Zico jika Edrea bersama dengan Leon? Ah sudahlah mending nanti mereka tanyakan langsung kepada Edrea saja.
"Ambilin ponsel gue buruan," heboh Yesi sembari menyenggol lengan Resti.
"Mau buat foto adegan ini. Cepetan ih ambilin ponsel gue," tutur Yesi tak sabaran. Dan karena Resti tak mau mengalihkan pandangannya, ia dengan random mengambil ponsel yang tergeletak di atas kursi yang tadi ia duduki. Lalu setelahnya ia menyodorkan ponsel tadi kearah Yesi dan dengan cepat langsung diterima oleh sang empu.
"Astagfirullah, ini bukan ponsel gue. Tapi ini ponsel lo," ucap Yesi saat dirinya tak kunjung bisa memasukan pin di ponsel tersebut. Maklum lah ketiga gadis itu jika memiliki barang kemungkinan besar akan sama persis dan hanya beda di warnanya saja. Tapi untuk ponsel, mereka memilih untuk kembaran saja. Alhasil jika ada yang terburu-buru, tak heran kalau mereka sering salah ambil, seperti saat ini contohnya.
"Lah iya. Bentar-bentar biar gue ambilin lagi," ucap Resti kemudian ia meraih ponsel yang kali ini memanglah ponsel milik Yesi.
__ADS_1
Dan setelah ponsel tersebut berada di tangan sang pemilik, Yesi dengan cekatan memotret Edrea juga Leon yang masih betah saling pandang. Hingga situasi semakin menegang saat Leon kembali mendekatkan wajahnya hingga hidung mancungnya bersentuhan dengan hidung Edrea. Sedangkan Edrea yang jantungnya sudah memacu lebih cepat pun dengan reflek ia memejamkan matanya dan pada saat itu pula, senyum Leon lagi-lagi mengembang.
Tapi setelahnya ia mengalihkan wajahnya tepat didepan telinga Edrea.
"Cukup kita ciuman lewat benda saja untuk hari ini tapi untuk kedepannya jika lo menginginkan bibir kita saling menyatu tanpa perantara, gue akan ngelakuin apa yang lo minta saat itu juga," ucap Leon diakhiri dengan ia mencuri kecupan di pipi Edrea tapi hal itu hanya bisa mereka berdua rasakan tanpa sempat dilihat oleh orang-orang disana.
Dan setelah membisikan hal tersebut Leon memundurkan tubuhnya dengan mata yang terus menatap wajah Edrea yang sudah memerah. Lalu setelah ada celah, Edrea kini berlari sembari memegang pipinya yang tadi sempat mendapat ciuman dari Leon untuk menjauhi kerumunan orang-orang tersebut termasuk Leon yang tengah menatapnya dengan kekehan kecil di bibirnya.
"Gemes," gumam Leon yang hanya bisa didengar oleh kedua sahabat Edrea yang lagi-lagi melongo tak percaya. Dan setelah itu, Leon juga beranjak dari tempat tersebut menuju kearah teman-temannya yang sedari tadi memperlihatkan aksinya dari kejauhan.
Dan baru saja ia bergabung dengan teman-temannya itu, Leon langsung mendapat godaan dari mereka semua.
"Acieeee yang udah maju selangkah. Mana tadi main cium-cium segala lagi," ucap Galuh yang diakhir ucapannya seperti mengisyaratkan jika ia tak terima pipi Edrea dicium oleh Leon. Karena dia juga salah satu fans boy Edrea yang mengidam-idamkan tipe pasangan seperti gadis tersebut.
"Lo juga mau ngerasain cium dia?" tanya Leon sembari menatap kearah Galuh.
"Emangnya boleh? Kalau boleh sih gas aja lah. Mubazir kalau ditolak," ujar Galuh yang langsung mendapat tatapan tajam dari Leon.
__ADS_1
"Boleh, tapi setelah nyawa lo melayang di tangan gue," ucap Leon yang membuat nyali Galuh langsung menciut seketika.
"Canda kali elahhh. Gitu aja dimasukin ke hati, di bikin serius pula," tutur Galuh dengan cebikan di bibirnya. Leon tak memperdulikan ucapan dan gerutuan dari temannya itu karena didalam pikirannya kini hanya ada bayang-bayang Edrea dengan tatapan teduhnya tadi yang tengah menatap manik matanya. Dan jangan lupakan akan keberaniannya untuk mencium Edrea tadi. Entah darimana ia mendapat keberanian itu, dan jika saja tindakannya tadi dilihat oleh para pawang Edrea, siapa lagi kalau bukan Azlan, Erland, Adam juga Daddy Aiden sudah dipastikan saat itu juga badannya akan dihancurkan oleh manusia-manusia kejam itu.