
Sesuai dengan permintaan dari Azlan sebelumnya, ia kini tertidur dengan memeluk tubuh Zea dengan elusan di kepalanya.
Sudah hampir 1 jam Azlan tertidur dan hal tersebut membuat Zea kini bisa menghela nafas lega setidaknya bayi besarnya itu tak lagi merengek seperti sebelumnya. Dan dengan menatap wajah Azlan yang tampak damai itu pun ia tersenyum.
"Pasti capek ya karena harus nolongin orang-orang yang ada disekelilingmu, sampai kamu tidur nyenyak gini. Terimakasih ya sayang, walaupun aku yakin pikiran kamu sekarang lagi terbagi dengan keadaan Edrea juga keadaan Leon tapi kamu masih bisa menguatkan aku disini yang juga membutuhkan seseorang yang ada di sampingku. Padahal orangtuaku saja mana peduli dengan keadaanku selama ini, tapi kamu yang belum menjadi suamiku bahkan keluargamu benar-benar menganggapku seperti keluarga sendiri. Entah kebaikan apa yang sudah aku lakukan di kehidupan sebelumnya sampai aku seberuntung sekarang. I Love You, sayang. Istirahat yang nyenyak karena aku akan ada di sampingmu untuk selamanya," ucap Zea diakhiri dengan ia mencium kening Azlan.
Dan setelah mengecup kening kekasihnya itu, Zea berniat untuk menuju ke kamar mandi. Walaupun sangat susah untuk berjalan, Zea tetap akan berusaha karena ia tak tega untuk membangunkan Azlan dari tidur lelapnya.
Saat Zea berhasil menelapakan kakinya dan berniat untuk mulai melangkahkan kakinya, dobrakan pintu ruangan itu membuat Zea terperanjat kaget begitu juga dengan Azlan yang tidurnya harus terusik karena suara dobrakan yang sangat keras itu.
Zea yang masih menstabilkan tubuhnya untuk berdiri matanya kini terus menatap kearah pelaku yang menyebabkan keributan itu. Dan saat dirinya melihat dengan jelas siapa orang yang ada di balik pintu tersebut, tiba-tiba saja detak jantungnya memacu begitu cepat, bahkan tangannya kini memegang erat tiang infus.
Orang itu kini melangkahkan kakinya dengan langkah lebar menuju kearah Zea lalu tanpa Zea duga, tangan orang tersebut melayang dan berakhir mendarat di pipinya. Sebuah tamparan yang dulu sering ia terima kini kembali ia rasakan.
Azlan yang tadinya ingin merengek kepada Zea dengan mata yang masih tertutup pun, matanya di buat terbuka sempurna saat mendengar suara tamparan yang cukup keras serta suara jatuhnya tiang infus yang menandakan bahwa Zea juga ikut jatuh ke lantai ruangan tersebut.
"Zea," ucap Azlan sembari bergegas menuju kearah Zea untuk membantu kekasihnya itu kembali bangkit lagi dari posisinya saat ini.
Tapi baru saja dirinya ingin meraih lengan Zea tarikan seseorang membuat tubuhnya terhuyung ke belakang. Dan belum sempat dirinya melontarkan suaranya, bogeman mentah dari orang tersebut membuat kepala Azlan menoleh ke samping bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
Dan baru beberapa detik setelahnya, Azlan kembali mendapat pukulan di perutnya hingga hal tersebut membuat dirinya jatuh ke lantai. Dan tanpa menunggu Azlan bernafas, lagi-lagi orang tersebut memukul Azlan bahkan kini sangat membabi buta.
Zea yang melihat hal tersebut pun dengan menyeret kedua kakinya ia mendekati kedua orang tadi yang tengah beradu jotos.
"Papa! Stop!" teriak Zea sembari memegang lengan orang tersebut yang merupakan papanya. Tapi ucapannya tadi bukannya didengar oleh laki-laki tersebut, Papanya justru mendorong tubuh Zea, hingga Zea menjauh darinya.
Azlan yang melihat kekasihnya di perlakukan kasar, terlihat kilatan amarah di matanya dan tanpa melihat siapa lawannya sekarang, ia membalas bogeman yang ia dapatkan tadi ke arah laki-laki tersebut. Ia tak peduli konsekuensinya yang akan ia dapatkan nanti karena siapapun orangnya yang telah menyakiti kekasihnya makan orang itu akan berurusan langsung dengannya.
__ADS_1
"Azlan, Papa. Stop!" teriak Zea dengan mencoba untuk memisahkan mereka berdua.
"Az, please stop!" teriakan Zea kini membuat Azlan yang tadinya sudah terbakar emosi dan hampir membuat laki-laki yang sekarang berada di bawah kunciannya itu tak sadarkan diri, kini ia menghentikan aksinya tadi dan memilih untuk menghampiri Zea yang tengah menangis ketakutan.
"Maaf," ucap Azlan saat dirinya sudah berada disamping Zea dan saat dirinya ingin memeluk tubuh perempuan tersebut, tarikan seseorang lebih dulu menjauhkan tubuh Zea darinya. Dan saat tubuh Zea terseret beberapa meter dari Azlan terdengar sebuah tamparan kembali Zea dapatkan. Bukan dari Papanya melainkan dari Mamanya.
"Dasar anak tidak tau diri. Jadi begini kelakuan kamu selama pergi dari rumah? Berduaan dengan laki-laki yang tidak jelas asal usulnya, sudah berani tidur bersama dan bermesraan di tempat umum seperti ini. Apa kamu tidak malu dengan semua yang kamu lakukan itu? Mama yang sebagai orangtua kamu saja malu Zea atas apa yang kamu lakukan. Dan apa kamu tau, kamu sekarang terlihat seperti wanita murahan. Sudah pergi berbulan-bulan dari rumah dan tidak memberikan kabar apapun ke orangtua kamu sendiri, eh sekarang malah kepergok sedang berduaan disatu ruangan dengan seorang laki-laki. Mama sekarang jadi tau uang darimana yang kamu dapatkan untuk membayar kehidupanmu dan biaya sekolahmu setelah kita berdua memutuskan untuk memblokir semua ATM dan menghentikan untuk membiayai sekolah kamu, akhirnya semuanya sekarang sudah Mama lihat dengan mata kepala Mama sendiri bahwa kamu bisa bertahan hidup tanpa tergantung ke kita berdua karena kamu menjual diri kamu sendiri!" ucap Mama Zea dengan menunjuk wajah Zea.
"Tidak Ma, Zea tidak melakukan hal itu," sangkal Zea dengan gelengan di kepalanya.
"Halah, orang yang bersalah mana mungkin ngaku. Mama menyesal karena sudah melahirkan kamu di dunia ini. Jika waktu bisa di putar kembali Mama lebih baik mengugurkan kamu setelah Mama tau kalau Mama hamil anak kurang ajar, anak tidak tau diri, anak yang tidak tau terimakasih, hanya bisa malu-maluin keluarga, wanita murahan seperti kamu ini!" ucap perempuan tersebut yang tampak murka.
"Dasar anak sialan!" umpatnya dan saat dirinya ingin melayangkan tamparannya kembali. Lengannya di cekal oleh Azlan.
Dan hal tersebut membuat perempuan tersebut menolehkan kepalanya kearah Azlan. Dan saat dirinya melihat Azlan, ia menampilkan senyum miringnya. Lalu setelahnya ia menghentakkan tangannya hingga cekalan Azlan tadi terlepas dari lengannya.
"Oh ini laki-laki yang selama ini sudah membayar kamu, Zea?" ucap perempuan tersebut dengan menatap kearah Azlan dari atas sampai bawah.
Dan ucapan dari kedua orangtuanya itu membuat hati Zea benar-benar sakit bahkan sangat sakit seperti ribuan belati menusuk dadanya secara bersamaan, sangat menyesakkan.
Azlan yang mendengar ucapan kedua orang yang berada di hadapannya itu yang tengah merendahkan Zea yang notabenenya adalah anaknya sendiri pun ia kini mengepalkan tangannya.
"Jaga perkataan kalian," geram Azlan.
"Perkataan mana yang harus kita jaga? Bukannya apa yang kita katakan tadi memang benar adanya. Anak sialan sekaligus wanita murahan ini telah menjual dirinya sendiri ke kamu. Saya hanya ingin tau harga dia berapa?" ujar Papa Zea yang benar-benar sudah membuat Azlan semakin emosi dibuatnya.
"Bajingan!" umpat Azlan sebelum dirinya melayangkan sebuah pukulan di rahang laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Perlu kalian berdua tau. Harga diri Zea tidak akan pernah bisa di beli dengan apapun karena Zea jauh lebih berharga dari uang kalian ataupun dari diri kalian sendiri. Bukannya kalian orangtua Zea bahkan orangtua kandungan dia. Tapi kenapa kalian berdua justru malah menjatuhkan mental dia dengan menuduh dia seperti tadi? Dimana otak kalian sehingga dengan teganya kalian mengucapkan kata-kata tadi untuk merendahkan anak kalian sendiri?" sentak Azla. Dan dengan ia menunjuk kearah dua orang tadi, Azlan kembali melanjutkan ucapannya.
"Dulu saya sangat kekeuh mencoba membujuk Zea untuk kembali ke rumah kalian karena saya juga tau jika apa yang tengah dia lakukan itu salah. Tapi setelah saya tau kelakuan kalian ini yang sangat rendah bahkan lebih rendah dari seekor hewan, saya mulai sekarang tidak akan pernah melepaskan Zea ke siapapun terlebih ke kalian berdua. Saya memang membiayai hidup Zea selama dia keluar dari rumah kalian dan saya juga yang membayar biaya sekolahnya, tapi apa yang saya lakukan itu bukan karena saya sudah mendapatkan harga diri Zea, tapi saya melakukan itu karena saya merasa jika Zea adalah tanggungjawab saya setelah kedua orangtuanya melepaskan tanggungjawab terhadap dirinya. Dan satu pertanyaan yang selalu berada di pikiran saya yang membutuhkan jawaban dari kalian berdua. Apa saat Zea keluar dari rumah kalian, kalian tidak merasa khawatir sedikitpun sampai kalian tidak mencari keberadaan dia dan hanya mengabaikan dia begitu saja? Bahkan kalian terlihat tidak peduli dengan keadaan anak kalian sendiri? Apakah dia baik-baik saja atau justru sebaliknya? Tapi sekarang setelah semuanya membaik bahkan Zea sudah tidak bersedih karena memikirkan kalian atas ketidak pedulian kalian berdua terhadap dirinya, kalian justru kembali dengan memberikan luka baru ke dirinya dengan menuduh dia yang tidak-tidak bahkan sangat-sangat tidak pantas untuknya. Apa yang kalian lakukan saat ini menurut anda benar? Jika iya, saya sepertinya perlu membawa kalian ke rumah sakit jiwa. Karena saya sekarang meragukan kewarasan kalian berdua," geram Azlan. Bahkan saking geramnya ia sampai tak mengizinkan kedua orang tadi menimpali ucapannya.
"Lancang sekali kamu!" ucap Papa Zea dengan mengayunkan tangannya. Tapi sayangnya Azlan tak mengizinkan tangan laki-laki itu mendarat di pipinya karena ia sekarang mencekal kuat lengan laki-laki tersebut.
"Sekarang saya tau alasan Zea dulu ketika pergi ke sekolah memakai bedak yang tebal karena dia selalu menutupi luka lebam yang ia dapatkan dari orangtuanya sendiri," tutur Azlan dan dengan kasar ia melepaskan tangan Papa Zea.
"Sepertinya Zea mulai detik ini dia benar-benar tidak membutuhkan kalian berdua. Dia jauh lebih bahagia jika tidak ada kalian berdua. Dan saya akan memastikan jika Zea akan jauh lebih bahagia lagi saat dia selalu bersama saya. Kalian juga tenang saja, selama saya masih hidup di dunia ini, semua kebutuhan Zea mampu saya penuhi. Dia sudah tidak membutuhkan uang kalian berdua, jadi kalian tidak perlu takut jika uang kalian akan habis karena membiayai hidup Zea. Dan kalian berdua jangan pernah merendahkan Zea seperti apa yang kalian berdua tadi katakan karena dia tidak pernah dan tidak akan pernah melakukan hal yang sangat menjijikkan itu. Tapi jika saya mendengar kalian masih merendahkan dia, harga diri dan mulut kalian yang akan saya beli," sambung Azlan yang justru membuat kedua orang tadi mengeluarkan senyum miringnya.
"Heh, anak kemarin sore sudah bisa berkata seperti ini. Saya jadi penasaran seberapa kayanya kamu sehingga kamu bisa memenuhi kebutuhan anak sialan itu dan akan membeli harga diri saya dan suami saya?" ucap Mama Zea yang sepertinya menantang Azlan.
"Saya memang bukan orang kaya seperti kalian berdua. Tapi saya masih punya otak untuk berpikir jernih sebelum melontarkan perkataan untuk seseorang apalagi dengan anak sendiri," sindir Azlan.
"Dan harga diri kalian berdua hanya bisa saya tukar dengan sebuah permen seharga 200 rupiah karena saya rasa harga diri kalian tidak jauh lebih mahal dari harga satu permen itu atau mungkin kalian tidak mempunyai harga diri?" ujar Azlan yang sudah tak memperlihatkan sopan santunnya lagi. Karena menurut dirinya percuma menggunakan sopan santun jika menghadapai seseorang seperti kedua orang yang berada dihadapannya itu. Yang ada mereka nantinya akan semakin merendahkan dirinya ataupun Zea jika dia masih mengunakan sopan santunnya.
"Kurang ajar!" geram Mama Zea dan dengan tangannya kini berhasil menampar pipi Azlan yang tak siap untuk mencegahnya sebelumnya.
"Berani sekali kamu merendah kita! Memangnya kamu siapa hah? Kamu hanya seorang anak kecil yang tidak mempunyai apapun untuk menebus semua kesalahan Zea. Dan jika kamu menginginkan anak sialan itu, ambil saja kita tidak butuh anak tidak tau diri itu. Tapi kita berdua tidak akan membiarkan kamu mengambilnya begitu saja sebelum kamu membayar semua biaya hidup dia dari kecil sampai dia besar, kamu harus mengganti biaya yang kita keluarkan untuk dia," tutur perempuan tersebut yang membuat Azlan kini mengepalkan tangannya.
"Mama! Zea bukan barang Ma!" teriak Zea yang tak tahan lagi saat dirinya seperti tengah di perjual belikan seperti saat ini.
"Diam kamu anak sialan! tidak ada yang mengizinkan kamu untuk bicara!" bentak Papa Zea.
"Bagaimana? kamu tidak bisa membayarnya kan? Kamu tidak bisa memenuhi permintaan kita berdua kan? Makanya jadi orang itu tau diri sedikit. Jangan sok mempunyai segalanya jika tidak bisa memenuhi apa yang kita ucapkan tadi. Dan perlu kamu tau, anak itu masih hak milik kita, mau kita perlakukan seperti apa terserah kita. Kamu orang luar jangan ikut campur urusan kita. Dan mulai sekarang jauhin anak sialan itu jika kamu belum bisa mengganti biaya hidup dia selama ini ke kita," ujar Papa Zea. Lalu setelah mengucapkan hal tersebut ia menatap kearah istrinya dan hanya dengan tatapan mata saja perempuan itu tau apa yang di mau suaminya. Hingga sekarang kedua orang tersebut beranjak dari depan Azlan menuju ke arah Zea berada.
Azlan yang melihat hal tersebut pun ia hanya bisa mengepalkan tangannya. Sebenarnya ia bisa saja mengiyakan ucapan dari kedua orangtua Zea, bahkan sebisa mungkin ia akan mengusahakan untuk memenuhi persyaratan dari dua orang gila itu. Tapi jika dia mengiyakan dan menyanggupinya, ia tak ingin membuat Zea bersedih dan menganggap dirinya telah membeli dirinya dari kedua orangtua Zea. Ia tak ingin membuat Zea merasa direndahkan dengan apa yang akan ia lakukan tadi. Hingga akhirnya ia hanya bisa terdiam dengan perasaan dilema yang melanda dirinya. Dalam satu sisi ia tak ingin melihat Zea bersedih karena dirinya, tapi disisi lain ia juga tak ingin berjauhan dengan Zea terlebih ia juga tidak ingin melihat mental Zea kembali berantakan seperti dulu, ia juga tak akan tega jika Zea harus disiksa oleh kedua orangtuanya seperti apa yang dulu kekasihnya itu dapatkan sebelum kekasihnya itu pergi dari rumahnya.
__ADS_1
...****************...
Author baru ingat kalau permasalahan Zea belum selesai, jadi sekarang kita selesaikan dulu permasalahan ini... Eps ini juga 2000 kata lebih lho, yok ah 350 sebelum jam 6 sore. Kalian bisa, author pun juga bisa double up seperti ini. Dan yang sudah meninggal jejak author ucapakan terimakasih 🤗