
Kini mobil yang ditumpangi oleh Erland juga Edrea telah sampai di TKP kejadian tadi malam begitu juga dengan mobil milik Azlan yang sedari tadi mengikuti mereka berdua.
Kini mereka bertiga secara bersamaan keluar dari mobil masing-masing.
"Tunjukkan dimana jatuhnya mobil yang mau celakain lo tadi malam," ucap Erland.
Edrea menganggukkan kepalanya kemudian ia langsung melangkahkan kakinya menyebrang jalanan dan menunjukkan lokasi persisi dimana ia lihat mobil penjahat itu terjun bebas di jurang tersebut.
"Disini bang," tunjuk Edrea saat sudah berada disisi jurang. Erland juga Azlan menatap kearah yang di tunjuk oleh Edrea tadi.
Jika dilihat dari segi kasat mata, tak ada keanehan dari jalanan itu bahkan biasanya jika terjadi kecelakaan disengaja ataupun tidak pasti akan meninggalkan bekas atau tanda sekecil pun. Tapi ini tak ada bekas sama sekali bahkan disisi jurang yang di tunjuk oleh Edrea tadi, di samping jalannya masih ada pembatas yang terlihat baik-baik saja.
"Lo yang benar dong kalau kasih kita arahan tuh," tutur Azlan karena ia merasa dibohongi oleh Edrea.
"Ya ampun bang, Rea udah kasih arahan yang benar lho," ucap Edrea.
"Kalau emang benar ini tempat mobil itu terjun bebas kenapa pembatas jalannya gak rusak sama sekali?" Edrea terdiam, benar juga apa yang dikatakan oleh Azlan tadi. Tapi jika dilihat-lihat lagi memang itu lokasi kejadian tadi malam kok.
"Rea juga gak tau. Tapi Rea yakin, bahkan sangat yakin malah karena Rea ingat disaat mobil itu terjun bebas masuk jurang, Rea lihat di sebrang jalan yang tersorot lampu mobil bang Er kemarin ada plakat penunjuk jalan itu." Edrea menunjukkan plakat yang ia maksud.
Erland yang sedari tadi terdiam sembari mencari bukti akhirnya ia bisa menemukan satu titik bukti itu.
"Udah jangan bertengkar. Apa yang di katakan Rea benar. Disinilah titik dimana mobil itu terjun kebawah," tutur Erland menghentikan percakapan kedua saudara kembarnya.
"Coba kalian lihat ke bawah jurang ini." Azlan dan Edrea kini mendekati Erland yang sudah berdiri di samping pembatasan jalan dengan arah pandang ke jurang tersebut. Setelah mereka sampai di samping Erland, keduanya sama-sama menatap ke bawah jurang yang sama seperti arah pandang Erland.
"Mungkin dijalan ini kita tidak bisa melihat adanya bukti kecelakaan tapi kita bisa lihat dari sisi jurang ini. Jika dilihat banyak ranting pohon yang patah juga batu di ambang jurang ada yang bergeser dari tempat ditambah dengan tanah yang memiliki bekas goresan lurus kebawah yang mungkin itu adalah bekas untuk merosot mobil itu," jelas Erland.
Azlan menganggukkan kepalanya paham.
"Berarti kenapa tadi pagi gak ada berita tentang hal ini karena semua bukti dari jalan udah di lenyapkan gitu?" tanya Edrea yang sangat penasaran.
__ADS_1
"Tepat sekali. Makanya para wartawan atau orang lain yang lewat jalan ini setelah lo kemarin, mereka gak curiga sama sekali karena semua bukti sudah di lenyapkan," ujar Erland.
"Tapi siapa yang melenyapkan bukti itu?" tanya Edrea.
"Kemungkinan ada dua. Pertama, orang yang melenyapkan bukti itu mungkin teman dari penjahat yang ngikutin lo atau bisa juga bos dia. Yang kedua adalah orang yang bantu lo tadi malam," jawab Erland sembari menatap Edrea yang sedari tadi menatapnya dari samping.
"Hmmm bisa jadi sih bang. Tapi kemungkinan besar sih Rea rasa temannya penjahat itu. Kalau orang yang nolong Rea kan gak mungkin," tutur Edrea.
"Kenapa gak mungkin? jika dia punya anak buah. Apapun yang dia mau tinggal perintah, jadi. Semuanya akan beres dalam sekejap," timpal Azlan sembari melangkahkan kaki menuju mobilnya tak lupa ia juga mengotak-atik ponselnya.
Erland yang ditatap Edrea pun hanya menggedikkan bahunya kemudian menyusul Azlan ke arah mobil mereka yang terparkir di sebrang jalan.
Sedangkan Edrea, ia berdecak dan menatap sekilas kearah jurang tadi setelahnya ia berlari mengikuti kedua Abangnya.
"Kerahkan semuanya. Selidiki sampai tuntas masalah ini!" perintah Azlan lewat teleponnya, setelah itu ia menutup sambungan telepon tersebut.
"Disini ada Cctv kan?" tanya Azlan sembari menatap ke sekelilingnya.
"Sepertinya ada," jawab Erland. Azlan pun mengangguk.
Kedua mobil tersebut berjalan beriringan hingga sampai di sekolah Edrea.
"Rea masuk dulu bang. Thanks udah anterin Rea," ucap Edrea setelah melepas seat beltnya dan sebelum turun ia mencium pipi Erland.
"Jangan pulang sebelum gue jemput," tutur Erland yang diangguki oleh Edrea.
Setalah Edrea keluar dari mobil yang di tumpanginya bersama Erland, ia beranjak ke mobil Azlan dan mengetuk kaca di samping kemudi.
"Rea masuk dulu. Abang hati-hati dijalan," ucap Edrea saat kaca mobil tadi terbuka. Tak lupa setelah berkata seperti tadi Edrea langsung mencium pipi Azlan.
"Lo juga harus hati-hati mulai sekarang. Abang gak bisa ngawasin lo 24 jam. Apalagi saat Lo di dalam sekolah, walaupun Abang nyuruh anak buah Abang untuk mantau lo, juga akan percuma karena sekolah lo sangat ketat pengawasannya. Jadi Abang harap lo terus waspada karena kita gak tau musuh kita sekarang ada dimana. Bisa aja orang yang lo anggap teman akan jadi lawan. Lo paham?" Edrea mengangguk sembari tersenyum.
__ADS_1
"Rea paham bang. Ya udah Rea masuk dulu. Bye," ucap Edrea kemudian ia beranjak dari samping mobil Azlan juga mobil Erland sembari melambaikan tangannya sesaat sebelum sang empu menghilang dari balik gerbang sekolahnya dan kedua mobil yang mengantarnya tadi telah pergi dari depan sekolah tersebut.
Saat Edrea sudah masuk kedalam sekolah tadi, ia dapat melihat banyak siswa/siswi yang sudah bersiap untuk melihat acara yang akan di selenggarakan hari ini. Bahkan salam pembuka saja sudah terdengar nyaring mengiringi langkah Edrea menuju ke ruang musik karena hari ini adalah hari dimana dirinya akan tampil untuk pertama kalinya.
"Selamat pagi semua. Gue gak telat kan?" tanya Edrea yang telah masuk kedalam ruang musik yang kebetulan tempat itu berada di belakang panggung.
Semua orang yang tadinya tengah fokus dengan alat musiknya masing-masing kini menatap kearah Edrea dengan senyum yang mengembang.
"Huh gue kira lo gak masuk hari ini. Udah buat kita dag dig dug aja," ucap Galuh.
"Iya gue kira lo juga lupa hari ini kita akan tampil," ujar Jojo.
Edrea tersenyum kemudian ia meletakkan tasnya di meja di ruangan tersebut.
"Tenang guys gue gak akan lupa kok. Hanya saja tadi ada sedikit urusan yang harus gue selesaikan terlebih dahulu," ucap Edrea sembari membuka tasnya.
"Oh ya nih gue bawa coklat buat lo semua. Lumayan kan buat ngilangin gerogi. Hehehe." Semua anak band yang berada diruangan tersebut kini menuju kearah Edrea dan mengambil coklat yang ada di tangan Edrea.
"Leon belum sampai?" tanya Edrea karena coklat yang ada ditangannya tersisa satu buah.
"Lo cariin gue?" ucap Leon yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan tersebut.
Edrea tersenyum kemudian ia mendekati Leon.
"Nih buat lo. Buat ngilangin gerogi," ucap Edrea. Leon memincingkan alisnya sembari menatap kearah Edrea kemudian ia mengambil coklat tadi dari tangan sang empu.
Setelah coklatnya diterima, Edrea berjalan dan duduk di salah satu kursi disusul dengan Leon.
"Lo belum jawab pertanyaan gue tadi," tutur Leon sembari menggigit coklat yang di berikan Edrea tadi tak lupa ia juga sudah duduk disamping Edrea.
"Iya gue nyariin lo. Kalau lo sampai gak datang hari ini gue gak akan mau tampil. Karena perlu lo tau ini tuh pertama kali gue nyanyi dihadapan orang lain. Bisa mati berdiri gue kalau harus nyanyi sendiri," ucap Edrea yang membuat Leon tersenyum geli.
__ADS_1
"Mana ada Lo mati gara-gara nyanyi sendiri. Lo ada-ada aja."
"Kan gak ada yang tau Leon. Itu juga perumpamaan aja," tutur Edrea yang membuat Leon menggelengkan kepalanya sembari menatap wajah Edrea dari samping tak lupa juga senyum manisnya yang selalu terukir di wajah tampannya itu.