
Leon kini menatap manik mata Edrea dengan tangan yang bergerak untuk menggenggam tangan Edrea.
"Lo masih mau kan jadi ibu angkat untuk Callie?" tanya Leon.
Edrea tampak terdiam, memikirkan apakah dia pantas untuk menjadi seorang ibu diusia yang masih labil seperti ini. Dan apakah dia juga siap untuk membimbing dan mendidik Callie? Tapi balik lagi di masa lalunya seperti yang dikatakan oleh Leon tadi, jika ia memutuskan untuk menjadikan Callie sebagai anaknya berarti saat ini juga ia harus tetap menjadi ibu angkat untuk anak perempuan tersebut, entah susahnya seperti apa, akan ia coba karena semua itu juga menjadi tanggungjawab setelah menjatuhkan pilihan tersebut.
"Edne," panggil Leon yang membuat Edrea tersadar dari lamunannya tadi.
"Hemmm?"
"Masih mau kan?" tanya Leon ulang.
Edrea menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Leon tadi dan pada saat itu juga Leon memberikan pelukan hangat untuk dirinya.
"Thanks," tutur Leon diakhiri dengan helaan nafas lega. Setidaknya Callie tidak akan pernah merasakan kesepian dan kekurangan kasih sayang dari sosok seorang ibu.
"Tapi gue masih punya banyak pertanyaan tentang Callie dan tentang masa lalu kita. Karena ingatan gue belum sepenuhnya kembali," ujar Edrea saat pelukan dari Leon terlepas.
Leon tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Gue akan jawab setiap pertanyaan lo, asalkan lo gak menjauh dari sisi gue," ucap Leon sembari mengacak rambut Edrea.
Edrea berdecak saat rambut yang awalnya sudah berantakan, ditambah berantakan lagi oleh Leon. Dan saat dirinya ingin kembali mengintrogasi Leon, pintu kamar mandi di ruangan tersebut terbuka dan menampilkan Callie dengan balutan handuk di tubuhnya.
"Nanti lagi kita bahasnya. Udah ada Callie soalnya. Dan lo harus ingat, jangan sampai Callie tau masalah ini sampai kapanpun," ujar Leon.
"Iya-iya. Mana gue tega kasih tau kebenaran ini sama dia. Gue juga masih punya perasaan kali El," ucap Edrea.
Leon tersenyum kemudian ia bengkit dari duduknya untuk menghampiri Callie yang tengah sibuk mencari baju gantinya.
"Baju Cal ada di sini," tutur Leon sembari mengangkat sebuah paper bag.
Dan suara dari Leon tadi membuat Callie kini mendekati Leon.
Lalu saat anak perempuan tersebut sudah berdiri didepan Leon, Leon langsung berjongkok dan mulai memakaikan baju untuk Callie.
__ADS_1
Dan semua aktivitas itu tak lepas dari pandangan Edrea. Hingga tanpa sadar Edrea tersenyum melihat kedua orang tersebut.
"Anak secantik dia sudah merasakan pahitnya hidup. Cobaannya benar-benar sangat berat," gumam Edrea.
Edrea terus menatap kedua orang tersebut hingga Leon selesai memakaikan baju kepada Callie.
"Mommy!" teriak Callie sembari berlari kearah Edrea.
Dan hal itu membuat Edrea mengerjakan matanya beberapa kali dan dengan sigap ia menangkap tubuh Callie, lalu dengan senyum lebarnya ia mengangkat tubuh Callie ke gendongannya sembari ia terus mencium pipi Callie.
"Hmmmm wangi banget sih anak gadisnya Mommy," ucap Edrea.
"Hehehe iya dong. Kan Cal udah mandi. Mommy sekarang yang bau karena Mommy belum mandi," ujar Callie dengan tangan menutup hidungnya.
Edrea menurunkan tubuh Callie tersebut.
"Masak sih?" tanya Edrea menggoda anak angkatnya itu.
"Iya tau. Jadi Mommy sekarang mandi dulu sana biar tidak bau lagi. Terus nanti kita sarapan bareng," ucap Callie dengan wajah yang begitu sumringah.
"Baiklah sayang, Mommy mandi dulu," ujar Edrea sembari mengacak rambut Callie yang masih basah itu.
Callie pun menganggukkan kepalanya. Dan setelah itu Edrea mulai melangkahkan kakinya mendekati Leon yang sedari tadi memandangi mereka berdua.
"El," panggil Edrea.
"Kenapa?"
"Lo beliin gue baju ganti gak?" tanya Edrea.
Leon memutar tubuhnya untuk mencari satu paper bag lagi dan setelah ia menemukannya ia langsung memberikannya kepada Edrea.
"Nih."
"Thanks Daddy," goda Edrea dengan mengedipkan sebelah matanya sebelum dirinya berlari menjauhi Leon.
__ADS_1
"Lo berani goda gue berarti lo juga berani menerima konsekuensinya!" teriak Leon karena Edrea sudah masuk ke dalam kamar mandi.
"PD banget pak. Gak ada yang goda lo. Udah jangan heboh masak cuma di kasih kedipan mata aja udah klepek-klepek, dasar lemah," tutur Edrea yang membuat Leon kini mendekati pintu kamar mandi tersebut. Dan saat dia sampai, ia menggedor pintu tersebut.
"Buka!" teriak Leon.
"Heh enak aja. Gak ada. Udah jangan heboh Dad. Urusin tuh Callie, keringin rambut dia sebelum dia nanti masuk angin. Jangan ganggu gue mandi," ujar Edrea diakhiri dengan ia terkekeh kecil.
Leon yang sebenarnya suka dengan panggilan baru dari Edrea itu pun kini ia tersenyum sebelum akhirnya ia berputar arah dan melakukan apa yang di perintahkan oleh Edrea tadi.
Dan beberapa saat setelahnya, Edrea telah keluar dari kamar mandi tersebut dengan wajah yang kembali fresh.
Dan saat dirinya mendekati Leon, ia langsung melemparkan sebuah handuk kearah laki-laki tersebut yang untungnya dengan sigap Leon tangkap.
"Mandi sana," ujar Edrea.
"Hmmm," dehem Leon dan tanpa bantahan sama sekali ia bangkit dari duduknya dan kini giliran dirinya membersihkan dirinya.
Dan saat Leon membersihkan diri, Edrea mendekati Callie yang tengah sibuk menatap video di layar laptop milik Leon.
"Cal, kita keluar dulu yuk. Jalan-jalan pagi. Cal mau kan?" tanya Edrea yang membuat Callie mengalihkan pandangannya dan dengan penuh antusias ia menjawab ucapan Edrea tadi dengan anggukan kepala.
"Callie mau Mom. Ayok sekarang aja jalan-jalannya," ujar Callie dengan bangkit dari duduknya dan dengan cepat ia menggandeng tangan Edrea.
"Ayo Mom," ucap Callie tak sabaran.
"Iya sayang," tutur Edrea sembari bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Callie.
Saat dua orang itu baru turun dari lantai khusus untuk ruangan Leon, semua karyawan yang berkerja disana langsung menatap kearah Edrea dengan tatapan berbeda-beda. Bahkan bisik-bisik pun tak luput mereka lakukan. Tapi bukan hanya karyawan saja yang melakukan hal tersebut melainkan beberapa pengunjung yang setiap hari selalu mengunjungi restoran tersebut, hanya untuk mencari simpati kepada Leon pun tak jauh berbeda dengan karyawan-karyawan tadi.
Tapi yang semua orang lakukan tersebut sama sekali tak mendapat respon apapun dari Edrea, karena dirinya tidak peduli dengan gosip yang sama sekali tak benar itu. Dan biarkan mereka menilai dirinya seperti apa yang terpenting apa yang mereka tuduhkan kepada dirinya, sama sekali tak benar. Dan daripada dirinya harus membungkam satu-persatu mulut orang-orang itu, lebih baik ia menutup kedua telinganya tersebut.
Disisi lain, saat Edrea dan Callie sudah jalan-jalan. Leon yang baru keluar dari kamar mandi pun mulai panik saat ia mengetahui tak ada dua orang kesayangannya itu di ruangan tersebut.
"Tolong, jangan lagi," ujar Leon dengan perasaan yang mulai resah. Dan dengan cepat ia berlari keluar dari ruangan tersebut untuk mencari keberadaan Edrea dan Callie tanpa memperdulikan tampilnya saat ini yang terpenting ia sudah berpakaian lengkap yang menutupi tubuhnya.
__ADS_1