
Daddy Aiden mengerutkan keningnya melihat kedua jagoannya tengah menatap dirinya dengan tatapan tak seperti biasanya.
"Kenapa lihatin Daddy kayak gitu? Mau Dad colok pakai garpu?" ucap Daddy Aiden dengan garangnya.
"Ck, kita gak minta Dad buat nyolok mata kita. Tapi kita mau protes. Kenapa Rea harus pindah sekolah segala sih kan Rea sudah terbukti gak bersalah? Kalaupun keputusan Dad sama Mom udah bulat buat mindahin Rea kesekolah lain, kenapa harus di sekolah kita berdua. Bukannya sekolah di kota ini banyak banget. Dad sama Mom juga belum tanya pendapat Rea, dia mau sekolah dimana kan? Siapa tau dia mau pindah ke sekolah elit lainnya bukan disekolah kita berdua," protes Erland yang diangguki setuju oleh Azlan.
"Owh jadi kalian tadi natap Daddy kayak gitu cuma mau protes doang?" Azlan maupun Erland menganggukkan kepalanya.
"Tapi sayangnya Daddy sudah memutuskan dengan sangat matang-matang perpindahan Edrea ini dan lebih tepat memang Rea pindah disekolahan yang sama dengan sekolah yang kalian tempati saat ini. Dan keputusan Dad gak bisa kalian ganggu gugat, Rea juga bakal setuju kan sayang?" tanya Daddy Aiden yang membuat Edrea menghela nafas tak rela tapi beberapa detik setelahnya ia mengangguk pasrah.
Sedangkan Azlan dan Erland kini memelototkan matanya kearah sang adik.
"Tuh lihat sendiri kan. Anaknya aja mau kenapa kalian yang repot? Toh apa salahnya sih kalian bertiga satu sekolah, kan kalau kalian satu sekolah Daddy sama Mommy gak akan khawatir lagi dengan keselamatan Edrea. Udah sering Rea kena Bullyan di sekolah itu lho, kalau Dad sama Mom masih mempertahankan Rea untuk sekolah disana sama saja Dad sama Mom nyiksa batin anak sendiri lewat perantara orang lain," ucap Daddy Aiden.
"Lo kena bully di sekolah itu?" tanya Azlan yang baru mengetahui fakta tersebut.
Edrea lagi-lagi hanya bisa mengangguk pasrah, mau ia menyembunyikan serapat mungkin pasti ujung-ujungnya akan ketahuan juga apalagi kedua orangtuanya sudah mengetahui hal itu secara diam-diam.
Azlan dan Erland kini mengepalkan tangannya.
"Katakan siapa yang berani bully kamu?" tanya Erland.
"Puri," jawab Edrea singkat tanpa mau menatap mata kedua Abangnya itu yang sudah mulai terpancing api amarah lagi.
"Sialan," geram Azlan dan kini ia beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Tapi baru saja ia ingin melangkahkan kakinya, lengannya lebih dulu dicekal oleh Erland.
"Mau kemana?" tanya Erland yang sebenarnya ia sudah tau tujuan Azlan tersebut.
"Cari wanita sialan itu," jawab Azlan yang membuat semua orang tak terkecuali Edrea menghela nafas.
"Lo boleh marah tapi ya lihat-lihat situasi juga kali bang. Kalau mau cari wanita itu memangnya lo tau posisinya sekarang ada dimana atau setidaknya tau rumahnya lah? Jika lo gak tau, percuma aja. Lo cuma buang-buang waktu tanpa ada hasil," ujar Erland.
Azlan kini tampak terdiam sejenak, karena apa yang dikatakan oleh Erland tadi memang benar. Ia tak tau wanita itu sekarang dimana bahkan rumahnya saja ia tak tau. Jadi kalau dia masih nekat untuk mencari wanita itu, ia sudah pastikan jika niatnya itu tak akan berbuah apapun dan hanya akan membuang-buang waktunya.
Erland yang melihat Azlan masih berdiri mematung di tempat pun ia segera menarik tubuh Azlan agar sang empu kembali duduk di tempatnya semula.
"Jangan gegabah. Kontrol emosi lo. Kita akan bergerak setelah mencari tau alamat rumah dia besok," ucap Erland dengan suara lirih yang hanya bisa didengar oleh Azlan dan juga Edrea.
Dan tangan Azlan kini bergerak kearah tangan Edrea lalu ia menggenggam tangan tersebut yang membuat sang empu menatap wajah Azlan.
"Maafin Abang gak bisa jagain lo," ucap Azlan yang langsung membuat Edrea menggelengkan kepalanya.
"Gak. Abang udah jagain Rea kok. Rea aja yang gak bisa jaga diri Rea sendiri. Dan sebenarnya Rea itu gak dibully sama dia, ya ada si beberapa kali tapi gak setiap hari kok dan kebanyakan Rea bantu anak-anak yang di bully sama Puri and the gengnya itu. Ya walaupun tubuh Rea sendiri yang Rea korbanin buat mereka tapi Rea benar-benar gak papa kok. Jadi Abang jangan merasa bersalah gitu dong. Bang Adam, bang Azlan maupun bang Erland udah jagain Rea dari Rea kecil. Kalian bertiga tuh Abang yang paling best buat Rea," tutur Edrea yang tak suka melihat tatapan penuh rasa bersalah dimata Azlan tadi.
Azlan kini tersenyum kearah Edrea tanpa melepaskan genggaman tangan mereka.
Lalu setalahnya tatapannya beralih kearah Daddy Aiden dan juga Mommy Della yang justru tengah bermesraan dengan bercanda gurau bersama tanpa melihat sekelilingnya yang tengah bermelow-melow ria.
"Dasar bucin," gumam Erland yang sudah mulai jengah melihat keromantisan kedua orangtuanya itu.
__ADS_1
"Dad, Mom," panggil Azlan yang sengaja bersuara dengan cukup keras hingga membuat kedua orangtuanya kini menghentikan aktivitas mereka berdua dan dengan cepat mereka berdua merubah ekspresi wajahnya menjadi serius kembali.
"Sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu Dad bicara kan. Jadi Adam ke kamar dulu, selamat malam," ucap Adam yang sebenarnya ia juga sudah mulai jengah lebih tepatnya ia juga pingin seperti itu juga tapi ia sadar jika dirinya masih jomblo. Alhasil dari pada dirinya tertekan, lebih baik ia ke kamarnya saja. Dan sebelum dirinya benar-benar pergi dari perkumpulan keluarga itu, tak lupa ia menyempatkan untuk mencium pipi Mommy Della juga Edrea dan barulah ia beranjak dari tempat tersebut.
"Selamat malam juga sayang," teriak Mommy Della saat Adam sudah mulai menajuh darinya.
"Terimakasih Mom," balas Adam dengan teriakan pula.
Dan setalah Adam pergi dari perkumpulan tadi, tatapan Daddy Aiden dan Mommy Della kembali tertuju kearah ketiga anaknya didepan sedangkan Vivian masih setia melihat drama keluarga tersebut tanpa mau ikut campur lebih dalam lagi.
"Kamu tadi panggil Mom sama Dad ada apa?" tanya Mommy Della.
"Azlan setuju dengan keputusan Mom dan Dad dengan kepindahan Rea ke sekolah kita berdua," ujar Azlan dengan mantap. Daddy Aiden dan Mommy Della hanya mengangguk sesaat kemudian mereka mengalihkan pandangannya kearah Erland yang justru membuat sang empu yang ditatap mengerutkan keningnya.
"Kanapa Mom sama Dad natap Erland begitu? Padahal Erland aja gak buat salah apapun lho. Tatapannya udah kayak mau bunuh orang aja," tutur Erland.
"Ck, kamu memang gak ada salah untuk sekarang dan kita berdua juga gak akan bunuh kamu. Kalaupun kamu bandelnya udah diatas rata-rata paling Mom jual kamu aja ke mucikari, lumayan buat tambah-tambah harta keluarga ini," celetuk Mommy Della.
"Ya Allah Mom, istighfar. Sama anak sendiri lho ini, astaga. Tega banget mau jual ke mucikari. Erland sejauh ini bandelnya juga masih standar kok gak melampaui batas," ujar Erland.
"Iya Mom juga tau. Kan Mom tadi cuma berandai-andai saja siapa tau kamu nakalnya di luar batas. Itu tadi juga cuma bercanda doang. Yang serius sekarang Mom mau tanya, kamu setuju gak dengan kepindahan Rea disekolah tempat kamu belajar itu?" tanya Mommy Della yang membuat Erland menghela nafas.
"Apakah kalau Erland menolak, Mom sama Dad mau batalin kepindahan Rea? Yang pastinya sih gak. Jadi kalau Mom sama Dad sudah membuat keputusan seperti itu, Erland bisa apa selain pasrah menerima semuanya," ujar Erland dengan dramatis.
Mommy Della dan Daddy Aiden kini saling tatap satu sama lain kemudian mereka saling melempar senyum kemenangan.
__ADS_1