The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 269


__ADS_3

Saat Edrea dan Leon baru saja memasuki basecamp yang dimaksud oleh Azlan sebelumnya, Leon langsung disambut dengan lemparan belati. Dan sudah bisa dipastikan pelaku pelemparan itu adalah salah satu dari kembaran Edrea. Tapi untungnya lemparan belati itu bisa Leon hindari dan berakhir belati tadi menancap di salah satu lukisan di belakang Leon.


Sedangkan Edrea yang sempat terperanjat kaget karena Leon tiba-tiba mendorongnya ke belakang, kini ia memelototkan matanya kearah kedua kembarannya itu. Tapi sayangnya pelototan mata itu diabaikan begitu saja oleh keduanya. Bahkan kedua laki-laki itu justru tengah duduk dengan santainya di sebuah sofa di ruangan tersebut.


"Abang apa-apaan sih!" geram Edrea dengan melangkahkan kakinya mendekati Azlan dan Erland.


"Abang tau gak sih kalau apa yang Abang lakukan tadi tuh bahaya banget. Jika tadi El tidak bisa menghindari belati itu, Rea jamin dia sekarang masuk rumah sakit," omel Edrea saat dirinya sudah berhadapan langsung dengan kedua abangnya itu.


"Apa dia terluka sekarang?" tanya Erland tanpa menatap kearah Leon ataupun Edrea.


"Ya gak sih," jawab Edrea yang membuat Erland kini menatap kearah dirinya.


"Jika dia tidak terluka maka diam saja," ujar Erland dengan ekspresi wajah yang sangat datar.


"Tapi itu tadi bahaya bang," kekeuh Edrea.


"Bahaya untuk orang lain. Tapi untuk dia, kita rasa tidak bahaya sama sekali. Kecuali dengan yang satu ini," ujar Azlan. Dan dengan cepat ia bergerak mengambil sebuah pistol yang sedari tadi ia sembunyikan di belakang tubuhnya dan tanpa aba-aba ia menembakan satu peluru kearah Leon.

__ADS_1


Dan karena Leon benar-benar belum siap menerima serangan dadakan dari Azlan pun dengan refleks ia mencoba menghindari tembakan itu walaupun pada akhirnya ia masih terkena peluru dari Azlan. Tapi setidaknya yang terkena bukan kepala atau dadanya melainkan lengan bagian kirinya.


"Arkhhhh," rintih Leon saat merasakan panasnya peluru yang sekarang tengah bersarang di lengannya itu.


"El!" teriak Edrea dan kemudian ia berlari mendekat Leon yang tengah memegangi lengannya tersebut.


Leon yang melihat raut wajah khawatir dari Edrea pun ia langsung memperlihatkan senyumannya.


"Tenang. Aku gak papa," ujar Leon.


"Oh katanya masih gak papa. Gimana kalau kita coba sekali lagi," ucap Erland yang sudah memegang sebuah pistol miliknya bahkan ia juga sudah mengarahkan pistol tadi kearah Leon berada.


"Tembak Rea sekalian bang," tantang Edrea yang justru membuat Erland tersenyum miring. Dan tanpa menurunkan pistolnya ia berjalan mendekati adik perempuannya itu.


"Lo menang Rea," ujar Erland saat berada di depan Edrea. Bahkan tangannya kini perlahan turun. Lalu setelahnya ia memeluk tubuh Edrea dengan sangat erat.


"Lo menang karena lo tau kelemahan kita. Dan jika kelemahan kita terluka atau sampai dia menghilang, maka kita berdua juga akan hilang entah itu raga atau jati diri kita. Dan sayangnya kelemahan kita berdua adalah lo. Kelemahan yang tidak bisa kita bawa kemana-mana dan tidak bisa kita awasi 24 jam," tutur Erland.

__ADS_1


"Tapi kelemahan kita yang selalu kita jaga agar tidak sampai terluka, justru sekarang dia menginginkan dirinya terluka hanya untuk melindungi seseorang yang bisa dikatakan baru di dalam hidupnya, dibandingkan dengan kita yang selalu menemani dia dari didalam kandungan sampai detik ini juga," sambung Erland dengan suara yang terdengar berat, seperti seseorang yang tengah menahan tangisnya.


Azlan yang sebenarnya juga merasakan apa yang tengah dirasakan oleh Erland pun dengan cepat ia bergabung kedalam pelukan Edrea.


Edrea yang sepertinya paham atas aksi kedua abangnya tadi pun ia kini mengusap punggung Azlan dan Erland.


"Apa Abang sekarang tengah cemburu dengan kedekatan Rea dan El?" tanya Edrea untuk memastikan tebakannya.


"Jika kita jawab iya. Lo bisa ngelakuin apa? Mau mutusin Leon dan ninggalin dia?" Tanya Azlan yang membuat Edrea terdiam seketika.


"Gue rasa lo gak akan bisa ngelakuin itu, right?" sambung Azlan yang membuat Edrea perlahan menganggukkan kepalanya.


"Sudah bisa kita tebak Re. Lo gak bisa milih dalam satu pilihan yang sulit diantara Leon dan kita berdua. Jika kita boleh jujur menang kita cemburu melihat kedekatan kalian berdua apalagi lo adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga kita. Perempuan yang selalu kita lindungi dari kita kecil, selalu kita jadikan queen tanpa mengizinkan seorang pun yang menyentuh tubuh lo. Tapi tiba-tiba saja sekarang ada orang asing yang ingin menggantikan kita berdua di hidup lo, menggantikan seluruh tugas kita yang dari dulu kita jalankan bahkan mungkin di suatu saat nanti dia juga akan mengambil lo dari sisi kita berdua. Kita benar-benar belum siap jika melepaskan lo ke tangan orang lain, Re. Gue dan Erland masih ingin melindungi lo, menyayangi lo, dan jadikan lo queen di hidup kita selamanya," ujar Azlan dengan mata yang berkaca-kaca.


Edrea yang mendengar ucapan dari Azlan tadi pun kini ia tak bisa menahan air matanya lagi, hingga kini air matanya itu menetes membasahi pipinya. Dan saking terharunya, ia sampai tak bisa menimpali ucapan dari Azlan tadi, dan yang bisa ia lakukan hanya terus mengelus punggung Azlan dan Erland.


"Kalian tenang saja, gue gak akan pernah rebut Edne dari hidup kalian karena sampai kapanpun kalian akan tetap bersama seperti saat kalian di dalam kandungan. Ya walaupun suatu saat nanti kalian harus terpisah untuk sesaat tapi yakinlah hati kalian akan tetap saling terikat satu sama lain. Dan untuk tugas kalian, memang seharusnya sudah berpindah tangan karena gue sekarang yang bertanggungjawab lebih atas keamanan hidup Edne. Tapi itu semua tak menutup kemungkinan jika kalian tetap ingin menjaga Edne seperti saat ini, gue persilahkan. Tapi ingat suatu saat nanti kalian juga akan mendapatkan pasangan hidup kalian yang hidupnya harus lebih kalian prioritaskan daripada Edne," timpal Leon yang membuat Azlan dan Erland yang sedari tadi menundukkan kepalanya, dengan serempak keduanya kini menengadahkan kepalanya dengan tatapan tajam kearah Leon.

__ADS_1


Leon yang mendapat tatapan tajam itu pun hanya menggedikkan bahunya sebelum matanya melebar saat ia melihat Azlan dan Erland kini tengah menodongkan pistol kearah dirinya.


Dan tanpa hitungan detik keduanya secara bersamaan menarik pelatuk pistol itu kembali sehingga menimbulkan suara tembakan yang membuat tubuh Edrea yang masih didalam pelukan kedua abangnya itu dengan seketika menegang. Dan setelahnya tubuhnya itu terasa lemas saat membayangkan kondisi Leon saat ini yang kemungkinan tengah sekarat karena dua tembakan tadi. Pikirannya sekarang benar-benar tak tenang terlebih, Azlan dan Erland justru semakin mengeratkan pelukan itu tanpa mengizinkan Edrea melepaskan pelukan tersebut dan melihat kondisi Leon yang sebenarnya.


__ADS_2