
Erland yang mendengar petuah dari Kayla tadi tampak terdiam, mencerna semua kata-kata yang keluar dari bibir manis Kayla yang sayangnya belum pernah ia rasakan.
"Tunangan dulu bisa lah," tutur Erland yang masih gencar ingin menjadikan Kayla sebagai hak miliknya.
Kayla menghela nafas, susah memang menasehati Erland yang sangat bebal seperti ini, butuh kesabaran yang tinggi. Ia kini mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala Erland yang tak berubah tempat, masih saja nempel di bahunya.
"Kalau kita tunangan di usia yang segini apa kamu yakin hubungan itu benar-benar akan langgeng sampai pernikahan? Kalau tidak kan sama saja percuma. Bukan kitanya saja yang malu tapi juga keluarga kamu. Dan belum tentu juga aku di terima sama keluargamu," ucap Kayla dengan suara lirih diakhir kata.
"Besok kalau udah libur panjang, aku bawa kamu kerumah sekalian ngenalin kamu sama keluargaku," tutur Erland.
"Tak ada penolakan!" sambungnya saat melihat bibir Kayla ingin membuka suara.
Kayla hanya bisa pasrah dan menghela nafas berat. Bukannya ia tak mau, tapi dia sadar diri saja. Ia yakin keluarga Erland merupakan keluarga terpandang, pasti orangtua Erland akan melihat pasangan anaknya dari bebet, bibit, bobot yang sama. Belum apa-apa saja dia sudah insecure terlebih dahulu apalagi nanti saat dirinya bertemu dengan mereka. Hatinya belum siap jika harus mendengar penghinaan dari keluarga Erland yang mungkin akan mirip dengan adegan di sebuah novel yang sering ia baca. Dengan cara menjatuhkan harga dirinya, menjatuhkan mental dan menginjak-injak harga dirinya. Membayangkan saja membuat bulu kuduk Kayla merinding.
Erland yang melihat keterbengongan Kayla pun dengan licik mencium pipi wanita itu.
Kayla yang merasa benda kenyal menempel sesaat di pipinya, tersadar dan langsung memelototkan matanya kearah Erland.
"Kamu!" geram Kayla.
"Sekali-kali gak papa sayang. Pelit amat sama calon suami sendiri," ucap Erland yang berhasil membuat pipi Kayla memerah. Lemah sekali dirinya hanya dengan di panggil sayang dan secara tak langsung Erland sudah mengklaim dirinya sebagai calon istrinya membuat hatinya luluh seketika, yang tadinya ingin marah kini kemarahannya entah hilang kemana.
Erland terkekeh kecil saat melihat semburat semu di pipi Kayla dan dengan jahil ia mencolek dagu Kayla.
"Pipi kamu kok merah gitu? jadi lucu deh," goda Erland yang membuat Kayla langsung memalingkan wajahnya ke sembarang arah agar Erland tak bisa melihat wajahnya lagi.
"Ditanya tuh jawab sayang bukannya malah buang muka." Kayla berdecak sebal saat Erland terus saja menggodanya. Padahal ia sangat yakin jika laki-laki itu tau penyebab pipinya jadi merah seperti saat ini.
"Ck, tau ah. Lepasin ih." Kayla memberontak agar pelukan Erland bisa lepas dari tubuhnya.
"Gak mau. Ya udah, maafin aku ya sayang. Walaupun aku gak tau salah aku di mana yang penting minta maaf dulu lah biar gak ngambek lagi kamunya," tutur Erland.
"Emang siapa yang ngambek?" tanya Kayla dengan menoleh kearah Erland.
"Kamu lah masak aku."
__ADS_1
"Gak ada tuh. Aku biasa aja."
"Masak sih. Kalau gak marah dan ngambek kenapa tadi buang muka hmm?" Kayla terdiam tak bisa menjawab pertanyaan dari Erland.
"Tuh kan kamu gak bisa jawab. Jadi udah bisa aku simpulkan bahwa kamu tadi marah sama aku tapi entah marah karena apa. Yang penting aku udah minta maaf sama kamu. Gimana di maafin gak?" tanya Erland dengan menaik turunkan kedua alisnya.
"Gak ada yang marah Erland. Udah ih lepas, aku mau cuci piring ini."
"Tuh kan kamu marah," ucap Erland dengan mengerucutkan bibirnya.
"Ya Allah siapa yang marah sih. Lama-lama aku frustasi sendiri kalau kamu kayak gini," geram Kayla.
"Tuh kan." Bibir Erland semakin maju kedepan.
"Astaga. Oke-oke aku maafin kamu. Jadi lepasin dulu pelukan kamu ya. Bentar aja," ucap Kayla dengan lembut.
"Gak mau," kukuh Erland yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Please lah Er. Lepasin dulu." Kayla kembali frustasi. Ingin sekali dia menangis menghadapi laki-laki yang super manja kepadanya itu.
"Astaga apa lagi ini? Huh buruan katakan syaratnya apa?"
"Panggil aku dengan sebutan sayang dan ini." Erland menunjuk pipinya.
"Pipi kamu kenapa?" tanya Kayla yang tak paham.
"Cium."
"Enak aja. Gak," tolak Kayla
"Kalau kamu gak mau, ya udah aku bakal peluk kamu sampai nanti di sekolah," ucap Erland dengan sedikit ancaman.
"Ayolah Er. Jangan kayak gini."
"Oke berarti aku akan peluk kamu sampai sekolah." Kayla menghela nafas kemudian dengan terpaksa ia mencium pipi Erland sekilas yang membuat sang empu membeku, karena ia pikir wanita yang masih di dalam pelukannya itu akan tetap menolaknya tapi tanpa ia duga Kayla justru menuruti kemauannya. Rasanya Erland sekarang ingin berteriak sekencang-kencangnya dan mungkin juga akan melompat kesana kemari, roll depan, roll belakang, koprol dan lain sebagainya saking senangnya. Tapi tenang dia masih bisa menjaga sikap coolnya. Jadi itu semua tak akan Erland lakukan.
__ADS_1
"Sayang, lepasin dulu ya. Aku mau cuci piring sebentar," sambung Kayla setelah ia mencium pipi Erland tadi.
Erland mengedip-ngedipkan matanya dan perlahan ia melepaskan pelukannya tanpa bersuara sedikitpun.
Kayla yang mendapat kesempatan untuk bebas dari pelukan Erland pun segera berlari tak lupa ia membawa piring dan gelas yang ia gunakan tadi menuju dapur rumah tersebut.
Sedangkan Erland, ia sekarang tengah senyum-senyum sendiri sembari memegangi pipinya yang tadi di cium oleh Kayla. Sembari membayangkan jika ciuman tadi terulang kembali.
Kayla yang melirik sekilas kearah Erland hanya bergidik ngeri.
"Gila, stress dah gak tertolong tuh orang," gumam Kayla. Kemudian ia menggedikkan bahunya lalu melanjutkan aktivitasnya untuk mencuci piring, gelas dan perabot dapur lainnya disambung dengan membereskan sedikit kekacauan di dapurnya.
Setelah selesai ia menghampiri Erland yang masih setia nyengir sendiri.
"Mau berangkat belum?" tanya Kayla dengan menepuk bahu Erland supaya sang empu kembali tersadar.
"Emangnya udah jam berapa?" tanya Erland dengan senyum yang masih mengembang.
Kayla menoleh sebentar kearah jam dinding yang tertempel di dapurnya.
"Jam 6 lebih 40 menit. Masih 20 menit lagi bel bunyi," tutur Kayla.
"Hmmm kita berangkatnya nelat aja ya. Kan udah gak ada jadwal belajar mengajar," tutur Erland alasan, padahal ia masih ingin bermanja-manjaan dengan Kayla.
"Gak. Walaupun udah gak ada jadwal belajar mengajar tapi jadwal pagi ini remidian. Kalau kita telat, kita bisa ketinggalan remidi nanti." Erland berdecak.
"Ck, aku juga gak akan ikut remidian."
"Kok gitu?"
"Ya buat apa ikut begituan kalau nilai aku udah diatas KKM semua," sombong Erland.
"Ish, kepercayaan diri kamu sangat lah tinggi bapak Erland. Udah ah, berangkat sekarang yuk. Kalau kamu masih mau disini ya udah aku duluan." Tangan Erland mencegah Kayla yang akan mendahului dirinya beranjak dari ruang dapur tersebut.
"Kamu sekarang udah jadi tanggungjawabku. Jangan harap kamu bisa pergi sendiri. Kita pergi bareng. Ayok." Erland mengandeng tangan Kayla dan membawanya keluar dari rumah sederhana itu untuk memulai pagi mereka dengan kegiatan di sekolah.
__ADS_1