The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 107


__ADS_3

Tak jauh berbeda dengan Erland dan Kayla yang terlihat romantis satu sama lain, Azlan dan Zea pun sama halnya tapi kedua orang itu tengah bermesraan bukan berada di rumah Zea melainkan di rooftop sekolahan tersebut. Karena tadi Azlan tak bisa menjemput Zea seperti yang dilakukan Erland tapi ia sudah memberikan pesan singkat ke gadis pujaannya itu sehingga kini kedua anak manusia itu tengah berada di atas rooftop dengan posisi Azlan tiduran diatas sofa yang sudah lumayan lusuh tapi masih bisa digunakan dengan paha Zea yang ia jadikan bantalannya.


Azlan menutup matanya sembari menikmati usapan lembut dari tangan Zea. Jika mereka saat ini bukan di sekolah mungkin Azlan sudah terlelap karena belaian itu.


Sedangkan Zea yang sedari tadi memandangi wajah tampan Azlan dari atas pun tersenyum. Ia jadi membayangkan saat dirinya sudah menikah dengan anak pertama Daddy Aiden itu, pasti saat bangun tidur objek pertama yang ia lihat adalah wajah tampan dan damai Azlan. Ahhhh membayangnya saja membuat pipi Zea memunculkan semburat merah.


Azlan yang sedari tadi tak bersuara dengan Zea sampai saat ini pun ia segera membuka matanya, menatap Zea dari bawah.


"Ngapain senyum-senyum gitu hmm?" tanya Azlan sembari menarik hidung mancung milik Zea.


Zea yang tadi sempat asik dengan pikirannya sendiri pun terperanjat kaget saat merasakan tarikan di hidungnya.


"Ish sakit tau," ujar Zea sembari memukul lengan Azlan.


"Siapa suruh senyum-senyum sendiri tadi. Kenapa? apa yang kamu pikirkan hmm?" Tak jauh berbeda dengan pasangan Erland dan Kayla yang mengubah panggil mereka, Azlan dan Zea pun tak mau kalah. Jadi mereka berdua juga mengganti panggilan menjadi aku kamu. Biar makin sweet katanya babang Azlan.


"Gak, aku gak pikirin apa-apa tuh." Azlan tak percaya dengan penuturan dari Zea tadi, sehingga ia berniat untuk menggoda sang empu.


"Masak sih?" Zea dengan mantap menganggukkan kepalanya.


"Oh ya aku mau tanya sesuatu," ucap Zea yang berusaha mengalihkan tema percakapan diantara mereka berdua.


Azlan mengerutkan keningnya.


"Mau tanya apa hmm? tanya aja apa yang mau kamu tanyakan," ujarnya sembari memiringkan tubuhnya sehingga wajahnya kini menghadap ke arah perut Zea yang terbungkus baju seragam sekolah gadis itu.


"Kamu belakangan ini kemana aja?" tanya Zea penasaran. Aslinya ia sangat mempertimbangkan untuk bertanya hal seperti itu dengan Azlan karena ia takut jika Azlan nanti akan marah, ditambah juga ia sadar bukan haknya untuk bertanya seperti itu dengan Azlan. Dia bukan siapa-siapa jadi apa dia punya hak untuk bertanya atau tidak? entahlah dia juga tidak tau. Tapi ya sudahlah dengan tekat yang kuat akhirnya pertanyaan yang beberapa hari ini selalu menghantui pikiran akhirnya keluar juga dari mulutnya.


Bukannya langsung menjawab pertanyaan dari Zea, Azlan sekarang malah semakin mendekatkan wajahnya di perut Zea dan tanpa permisi ia memeluk tubuh gadis itu dan menyembunyikan wajahnya di perut datar Zea.


Zea tersentak dengan perbuatan Azlan tadi.

__ADS_1


"Az."


"Izinin aku peluk kamu kayak gini. Cuma sebentar aja kok gak lama. Kalau nanti aku ketagihan, tenang aja nanti pulang sekolah kita ke apartemen," ucap Azlan dengan suara yang sedikit lirih karena tertahan oleh perut Zea.


Zea yang merasakan hembusan nafas Azlan sampai menembus kulitnya pun hanya bisa bergidik geli tapi sebisa mungkin dia menahan geliannya itu.


"Ma---mau ngapain ke apartemen?" tanya Zea.


"Tidur bareng," jawab Azlan dengan enteng.


Plakkk!!


"Aws, kenapa di pukul sih?" protes Azlan karena lengannya tadi kena gebukan maut dari Zea. Bahkan wajahnya kini sudah menjauh dari perut sang empu.


"Makanya kalau ngomong itu jangan sembarangan," tutur Zea.


"Emang aku tadi ngomong apa hmm?" Zea melongo tak percaya. Masak iya Azlan sudah melupakan ucapannya tadi atau jangan-jangan dirinya salah dengar? kalau iya duh sungguh memalukan.


"Tuh kan kamu aja gak tau aku ngomong apa tadi. Kok bisa-bisanya bilang omonganku tadi sembarangan," sambung Azlan saat tak mendengar suara Zea menimpali ucapannya tadi.


"Yang mana? aku dari tadi ngomong lho." Zea mengigit bibir bawahnya. Mau mengulangi ucapan dari Azlan tadi, ia sangat malu. Tapi kalau tidak ia bisa mati penasaran.


Zea berdehem sebentar.


"Itu, aku kan tadi tanya. Mau apa kita ke apartemen? terus kamu jawabannya gimana?"


Azlan tampak mengangguk-anggukan kepalanya.


"Tidur bareng," jawab ulang Azlan dan sialnya ia lagi-lagi mendapat geplakan tangan dari Zea.


"Sakit sayang," rengek Azlan.

__ADS_1


"Tuh kan yang aku dengar tadi memang gak salah. Ucapan kamu itu lho ih," geram Zea.


"Emang kenapa sih. Kan gak papa. Cuma tidur bareng bukan main yang lebih. Tapi kalau kamu mau sih ya ayo aja aku mah." Zea memelototkan matanya dan dengan ringan tangan ia menepuk bibir Azlan.


"Astagfirullah, lama-lama tubuh aku hancur karena dikit-dikit kamu pukul terus."


"Biar tau rasa. Otak kamu itu lho pengen aku cuci biar bersih lagi. Mesum mulu jadi orang," tutur Zea.


"Mesumnya juga sama kamu." Kini Azlan kembali menyembunyikan wajahnya di perut Zea.


"Gak boleh." Azlan menengadahkan kepalanya menatap wajah Zea.


"Kok gak boleh?"


"Ya gak boleh lah. Kita aja gak punya hubungan apa-apa ya kali kamu mau seenak jidat jadiin aku sebagai bahan permesuman kamu itu. Dan kalau mau mesum tuh nikah dulu biar halal kalau terjadi apa-apa nantinya." Azlan kini tersenyum miring kemudian dia bangkit dari tidurannya.


"Ngomong aja kalau mau dinikahi," goda Azlan dengan mencolek dagu Zea.


"Eh kata siapa?"


"Kata kamu lah." Zea menggeleng dengan cepat.


"Gak. Aku gak pernah ngomong seperti itu."


"Mau kamu ngomong atau tidak. Aku nantinya juga akan jadi suami kamu. Jadi kamu mau aku seriusin sekarang atau nanti? kalau menurutku sih sekarang aja, gimana?" Azlan menarik turunkan alisnya.


"Heh ingat masih sekolah," tutur Zea.


"Sekolah sambil nikah, gasss aja lah. Yang penting kita tunda dulu punya baby-nya," ucap Azlan sembari mengelus perut Zea bahkan senyumnya mengembang saat menatap telapak tangannya menempel di perut gadis itu. Tenang masih di lapisi baju kok bukan kulit to kulit.


Zea bergidik ngeri dan dengan cepat ia memukul lagi dan lagi tangan Azlan.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih hari ini? kesurupan apa gimana? kalau iya, tolong siapapun itu keluarlah dari tubuh laki-laki ini," ucap Zea.


"Aku dalam keadaan sadar Ze. Dan apa yang aku katakan tadi memanglah keinginanku. Aku mau nikah sama kamu. Jika kamu tanya alasan kenapa aku sangat mantap ingin menikah diusia muda ini, aku hanya gak mau kehilangan kamu, aku juga gak mau kita menambah dosa dengan cara pacaran. Kalau sudah menikah kan kita mau ngapain aja halal malah jadi pahala. Ditambah rasa nyaman yang semakin lama semakin dalam buat aku sangat susah untuk sekedar menjauh dari kamu sebentar saja," tutur Azlan dengan tatapan yang sangat tulus dan tak ada kebohongan dari setiap ucapannya tadi.


__ADS_2