
Puri dan juga Mamanya yang melihat laki-laki itu sudah terduduk di lantai dengan tatapan kosong pun, mereka mulai mendekatinya.
"Pa, Papa kenapa?" tanya Puri yang sudah menjongkokan tubuhnya lalu mengelus lengan sang ayah dengan lembut. Tapi hanya beberapa detik saja, tangan Puri tadi langsung di hempasan oleh Papanya dari lengan sang empu.
Bahkan tatapan matanya yang tadinya selalu memancarkan kelembutan kini berubah menjadi tajam menatap kearah Puri yang belum tau penyebab sang ayah berubah kasar seperti saat ini.
"Ini semua gara-gara kamu!" sentak Handoko sembari menunjuk wajah Puri.
Mama Puri yang melihat hal itu pun memelototkan matanya kemudian ia menampik jari telunjuk Handoko agar menjauh dari depan wajah Puri.
"Kamu apa-apa sih pakai nunjuk-nunjuk gitu segala. Dan apa kamu tadi bilang? ini semua gara-gara Puri? Apakah pikiran kamu sudah tidak waras lagi? padahal sudah jelas-jelas anak kita yang di fitnah habis-habisan dan kamu bukannya dukung dan cari cara buat hancurin keluarga sialan itu malah sekarang nuduh Puri," tutur Mama Puri dengan suara yang lantang.
Kini Handoko yang sudah mengeluarkan urat-urat emosinya pun mengalihkan pandangannya kearah sang istri dengan tatapan yang sama seperti yang ia berikan ke Puri sebelumnya.
"Cari cara buat hancurin keluarga mereka? Apa kamu tau, yang hancur sekarang justru keluarga kita. Dan itu semua gara-gara anak sialan ini yang selalu bikin masalah sama orang lain tanpa lihat dulu siapa tandingannya," geram Handoko.
"Omong kosong! jangan percaya sama ancaman mereka!"
"Omong kosong kamu bilang? Lihat sendiri dengan mata kepala kamu!" Handoko kini melempar ponselnya kearah sang istri yang untungnya dapat di tangkap oleh Mama Puri.
"Baca baik-baik laporan itu dan buka semua artikel berita yang ada di ponsel kalian." Mama Puri kini membuka sebuah email dari perusahaan milik sang suami dan betapa terkejutnya dia saat melihat nominal kerugian yang telah melanda perusahaan tersebut. Dan setelah membaca email tadi, Mama Puri kini langsung meluncur ke berita yang tengah panas di sosial media sesuai dengan apa yang dikatakan oleh sang suami tadi.
__ADS_1
Saat ia sudah melihat semua berita panas itu, tubuh Mama Puri tak kalah lemas dari suaminya tadi. Berbeda dengan Puri yang sekarang justru menggenggam kuat ponselnya.
"Tidak, ini tidak mungkin!" teriak Mama Puri histeris.
"Apanya yang tidak mungkin? Ini semua sudah terjadi dan semua itu gara-gara anak kamu itu! Jika dia tidak mencari masalah dengan keluarga Abhivandya perusahaan kita masih berdiri sampai sekarang tanpa mengalami kerugian yang begitu besar," geram Handoko.
"Hiks kenapa Papa menyalahkan Puri? Padahal jelas-jelas Puri itu hanya di fitnah Papa dan mereka semua benar-benar licik, mereka menindas orang yang benar agar anaknya aman dari laporan kita di kepolisian," ujar Puri.
"Jangan mengelak lagi anak sialan! bukti semua sudah jelas. Bahkan pemilik sekolah disini tadi punya video kamu sama anak itu. Dan kalau bukan kamu yang disalahkan, siapa lagi hah? Yang cari masalah tadi kamu dan harus berujung ke perusahaan. Kalau kita bangkrut gini, kita mau makan apa hah? mau tinggal dimana? kemungkinan rumah juga akan terjual untuk melunasi semua kerugian itu yang lagi-lagi disebabkan oleh kamu. Dasar anak tak diuntung. Jika saja kamu tadi langsung minta maaf pasti semuanya gak akan jadi seperti ini. Arkhhhh!" ucap Handoko sembari menjambak rambutnya frustasi.
Saat Puri ingin menimpali ucapan dan tuduhan dari sang ayah, tiba-tiba saja ponselnya berdering, menandakan jika ada sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dan dengan cepat Puri membuka pesan tadi. Matanya kini terbelalak saat melihat beberapa foto-foto dirinya sedang bercinta dengan beberapa pria yang berbeda-beda terpampang jelas di sebuah grup kelasnya.
"Gak, gak mungkin," gumamnya kemudian jarinya dengan lentik langsung menuju ke grup sekolah dan ternyata foto-fotonya tadi juga sudah tersebar di grup yang isinya seluruh siswa sekolah tersebut. Bahkan disana juga ada sebuah video kronologi masalah tadi.
"Urus anak kamu itu," ujar Handoko kepada sang istri yang masih terbengong. Dan setelah mengatakan hal itu, Handoko melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan tersebut. Saat tangannya sudah membuka pintu ruangan tadi, bertepatan dengan itu pula seorang guru BK masuk kedalam ruangan tadi. Guru BK itu tampak melihat tampilan laki-laki didepannya itu dari atas sampai bawah dengan cebikan di bibirnya.
"Rasain. Orang sombong emang gak akan bertahan lama. Huh," batinnya. Kemudian guru itu langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam tanpa bertegur sapa dengan Handoko. Sedangkan Handoko, ia sudah tak peduli lagi dengan sekelilingnya. Yang ia pikirkan sekarang adalah ia butuh menenangkan dirinya dan menjauh dari Puri yang akan membuat dirinya kembali emosi saat ia melihat anak itu.
Saat Handoko sudah keluar dari ruangan tadi, guru BK baru sampai didepan Puri juga Mamanya yang sudah mulai bangkit dari duduknya dibantu oleh Puri tentunya.
"Ini surat resmi yang menyatakan bahwa kamu mulai sekarang sudah tidak menjadi siswa disekolah ini," ucap guru BK tadi sembari menyerahkan surat yang ia bawa.
__ADS_1
Dan dengan lemah Mama Puri langsung menerima surat tersebut. Lalu tanpa berkata-kata lagi, mereka berdua melangkahkan kakinya menuju pintu keluar ruangan tersebut.
Sedangkan kepala sekolah yang sedari tadi hanya diam sembari memperhatikan tingkah keluarga Puri pun kini bisa bernafas lega. Awalnya ia ingin sekali murka saat Puri masih saja mengelak atas perlakuannya kepada Edrea tadi padahal sudah jelas-jelas pemilik sekolah sendiri yang memberikan bukti itu. Ditambah emosinya kembali meradang saat melihat foto-foto tak senonoh Puri yang masuk kedalam grup guru miliknya. Tapi untungnya ia masih bisa mengontrol dirinya sendiri agar tak menimbulkan keributan lagi.
Dan kini matanya menatap kesalah satu guru yang sedari tadi membela Puri habis-habisan.
"Bu Erni, silahkan anda kesini," ucap kepala sekolah tersebut. Bu Erni yang dipanggil pun dengan kepala yang menunduk ia menghampiri kepala sekolah tersebut.
"Apakah Bu Erni juga ingin keluar dari sekolah ini?" tanya kepala sekolah tersebut.
"Tidak Pak," ucap Bu Erin yang sangat bertolak belakang dengan pernyataannya tadi.
"Kenapa? bukankan anda tadi ngotot kalau Puri di keluarkan dari sekolah ini berarti Bu Erni juga akan mengundurkan diri?" Bu Erni kini menggelengkan kepalanya.
"Bapak mungkin salah dengar. Saya tidak pernah berbicara seperti itu," elak Bu Erni.
"Benarkah?" Bu Erni menganggukkan kepalanya.
"Tapi sayangnya, saat Bu Erni dengan lantang menyatakan jika akan keluar, bukan hanya saya saja yang mendengarkan hal itu melainkan ada banyak guru yang turut mendengar juga. Jadi untuk membuktikan kalau saya salah dengar maka saya akan bertanya kepada rekan-rekan semuanya. Apakah tadi kalian semua juga mendengar seperti apa yang saya dengar?" tanya kepala sekolah yang langsung diangguki oleh semua guru disana.
"Apa-apaan ini? Kalian semua jangan bohong dong!" tutur Bu Erni.
__ADS_1
"Sudah jangan mengelak lagi Bu Erni. Dan sebelum anda susah payah harus menulis surat pengunduran diri anda, pihak sekolah sudah membuatkan surat itu untuk Bu Erni," ucap kepala sekolah yang membuat guru BK tadi langsung menghampiri Bu Erni kemudian ia memberikan surat pemecatan dari pemilik sekolah kepada Bu Erni.
"Dalam surat tersebut, mulai besok Bu Erni tak perlu datang ke sekolah ini lagi. Dan ini pesan dari Pak Galang, kalau beliau menyatakan mulai hari ini Bu Erni melapas jabatannya sebagai wakil kepala sekolah juga mulai hari ini Bu Erni resmi di pecat secara tak terhormat dari sekolah ini," tegas kepala sekolah yang langsung membuat tubuh Bu Erni bergetar hebat dan seakan-akan tubuhnya sekarang sudah tak punya tulang lagi. Hilang sudah pekerjaan yang selama ini ia emban gara-gara ia membela orang yang salah karena orangtua Puri sering mengirimkan uang tutup mulut untuk menghentikan kasus yang menimpa Puri saat disekolah tersebut agar kasus-kasus itu tak sampai di telinga kepala sekolah ataupun pemilik sekolah karena dua orang itu sangat sulit mereka suap agar melindungi reputasi Puri di sekolah tersebut. Sedangkan dirinya, selalu menerima dengan senang hati.