
Dengan laju mobil yang begitu cepat, Azlan kini telah sampai di apartemen yang di tinggali Zea sembari sesekali memeriksa sambungan telepon yang sedari tadi masih terhubung.
"Aku sudah sampai di apartemen. Kalau kamu masih di sana kasih kode dengan apapun yang sekiranya tidak menimbulkan suara," ujar Azlan dan beberapa saat setelahnya terdengar suara hembusan nafas yang ia yakini jika itu adalah kode dari Zea.
Dan setelahnya ia dengan cepat bergegas menuju ke ruang apartemen Zea dengan melihat situasi di gedung apartemen tersebut yang tampak sepi, tak ada satupun orang di apartemen itu yang membuat kebisingan dan hal tersebut membuat Azlan curiga jika semua penghuni apartemen sedang tidak baik-baik saja sekarang.
Tapi untuk saat ini Azlan harus memfokuskan dirinya ke Zea terlebih dahulu. Dan baru saja dirinya keluar dari lift tepat di lantai 5 apartemen tersebut terdengar teriakan seseorang yang sangat Azlan kenali.
"Zea," ucap Azlan sembari berlari kearah sumber suara.
Dan saat dirinya sudah sampai di ruang apartemen Zea, tangannya kini terkepal kuat saat melihat tubuh Zea sudah berada di bawah tubuh seorang laki-laki.
"Brengsek!" geram Azlan dengan bergegas mendekati laki-laki tersebut yang berniat macam-macam dengan Zea, dan dengan cepat Azlan menarik tubuh orang tadi lalu tanpa menunggu lama lagi, ia langsung melayangkan bogeman hingga membuat laki-laki tersebut tersungkur ke lantai.
"Sialan!" ucap Azlan lagi sembari menindih tubuh laki-laki itu dengan tangan yang aktif membogem tanpa ampun di wajah laki-laki tersebut.
"Brengsek, bajingan, sialan! berani-beraninya lo nyentuh gadis gue!" bentak Azlan yang benar-benar murka atas aksi laki-laki tadi. Lalu setelah dirasa ia puas dengan meninju wajah laki-laki itu, tangan Azlan berpindah menuju ke leher orang tersebut dan dengan kuat Azlan mencekiknya.
"Gue gak pernah mengizinkan laki-laki manapun untuk menyentuh tubuh gadis gue. Dan jika hal itu terjadi maka orang itu harus mendapat pelajaran yang setimpal. Dan pelajaran yang pas untuk memperingati orang yang sudah lancang pegang tubuh gadis gue adalah dengan nyawanya," ujar Azlan dengan tatapan dan aura membunuhnya yang begitu tajam hingga membuat Zea yang baru kali ini melihat kemurkaan sang kekasih pun tampak ketakutan sendiri melihatnya.
Tapi ucapan dari Azlan tadi tak membuat laki-laki tersebut takut dengannya dan justru dengan diam-diam tangannya bergerak untuk mengambil pisau yang tergeletak tak jauh dari jangkauannya. Dan setelah ia mendapatkan pisau tadi, ia langsung mengayunkan pisau itu kearah perut Azlan. Namun pergerakan dari laki-laki tadi mampu di baca oleh Azlan sehingga saat pisau itu mengarah ke dirinya dengan cepat Azlan cegah menggunakan lengannya. Ia tak peduli jika lengannya sekarang terkena beda tajam itu.
__ADS_1
Dan dengan tatapan yang masih menusuk manik mata laki-laki di bawah kunciannya itu, Azlan bergerak cepat untuk menarik pisau tadi dari tangan laki-laki itu lalu setelah berhasil, pisau itu berbalik arah yang tadinya ingin digunakan untuk mencelakai Azlan justru sekarang pisau itu tertancap tepat di ulu hati laki-laki tadi. Dan hal tersebut berhasil membuat orang tadi berdesis kesakitan sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
Setelah Azlan memastikan jika orang tadi benar-benar sudah tak berdaya, ia kini bergegas mendekati Zea yang tengah menangis di pojok sofa di ruangan tersebut.
Azlan yang melihat penampilan Zea yang sudah tak karuan dengan rambut acak-acakan dan dengan pakaian yang sudah compang-camping pun ia menghela nafas sebelum akhirnya ia menjongkokan tubuhnya lalu memeluk tubuh Zea.
Tapi saat tubuhnya itu memeluk tubuh Zea, Zea justru memberontak dengan memukul-mukul dada Azlan.
"Tenang sayang. Ini aku," ucap Azlan tanpa melepaskan pelukannya.
Zea yang mendengar penuturan dari Azlan kini dengan tangan yang bergetar ia memberanikan dirinya untuk menatap wajah Azlan.
"Azlan," ucap Zea sembari membalas pelukan dari Azlan dengan sangat erat.
"Tolong aku. Bawa aku pergi dari sini. Aku takut, hiks," tutur Zea.
"Iya sayang kita pergi dari sini sekarang ya. Dan kamu tidak perlu khawatir lagi, semuanya sudah aman. Tidak akan ada orang yang bisa mencelakai kamu lagi karena ada aku disampingmu saat ini," tutur Azlan yang mencoba menenangkan Zea dengan sesekali ia memberikan kecupan di kepala Zea.
Dan ucapan dari Azlan tadi tampaknya sangat berpengaruh untuk Zea, buktinya perempuan butuh kini perlahan tenang lagi. Tapi baru beberapa saat saja Azlan merasakan sedikit ketenangan di hatinya, tiba-tiba tubuh Zea menegang kembali.
"Tidak, jangan lagi," gumam Zea penuh dengan nada ketakutan.
__ADS_1
"Sepertinya keberuntungan tengah berpihak ke kita. Yang awalnya disuruh untuk melenyapkan perempuan itu lalu baru ketiga anak tengil itu, justru sekarang salah satu dari tiga target selanjutnya tengah disini. Ya sudah lah untuk menyingkat pekerjaan kita, lebih baik kita bunuh mereka berdua secara bersamaan saja," tutur salah satu orang yang tengah mengepung mereka berdua. Dan setelah mengucapkan hal tersebut, orang tadi langsung memberikan kode kepada semua teman-temannya untuk segera melakukan aksinya. Hingga kini semua orang di sana tengah memegang pistol mereka dan secara bersamaan mereka mengisi peluru. Lalu setelahnya pistol itu mereka arahkan ke target mereka.
Tapi sebelum suara tembakan terdengar, Azlan langsung membalikan badannya menghadap orang-orang yang telah mengepungnya dengan badan yang ia jadikan tameng untuk Zea.
"Saya tidak tau orang yang menyuruh kalian itu siapa, ada masalah apa dengan saya dan juga orang-orang yang menjadi target kalian. Tapi saya rasa bos kalian hanya menginginkan nyawa saya saja. Karena saya yakin kalian melakukan rencana ini hanya untuk memancing saya keluar. Dan lihatlah apa yang kalian rencanakan telah berhasil. Saya keluar sendiri tanpa ada seorangpun yang mengikuti saya. Jadi silahkan bunuh saya saja jangan bunuh dia karena saya rasa di tidak salah apapun dengan bos kalian," ujar Azlan. Kemudian ia kini merentangkan kedua tangannya.
"Tembak saya sesuka hati kalian," sambung Azlan.
"Tidak. Jangan lakukan itu!" teriak Zea sembari berdiri tepat di depan tubuh Azlan.
"Bukankah target awal kalian ingin membunuhku. Maka lakukan saja dan lepaskan dia," ujar Zea tak peduli dengan penampilannya sekarang yang justru mengundang orang-orang tadi mengalihkan pandangannya ke tubuhnya.
Azlan yang melihat tatapan orang-orang itu dengan cepat ia memeluk tubuh Zea dari depan.
"Kalau disuruh bos kalian untuk bunuh saya, ya kalian harus fokus ke tujuan utama kalian bukan yang lainnya, terutama melihat tubuh gadis saya. Mau bunuh orang apa mau mesum kalian. Colok juga nih," omel Azlan yang berhasil membuat orang-orang tadi kini mengerjabkan matanya dan malah terlihat salah tingkah sendiri.
"Kamu juga, kenapa gak lihat kondisi kamu dulu sih sebelum berdiri tadi," geram Azlan.
"Maaf sayang. Aku tadi refleks," ujar Zea dengan menampilkan cengiran di bibirnya. Dan hal tersebut membuat Azlan mendengus sebal. Lalu setelahnya ia menolehkan kepalanya kearah orang-orang yang masih berdiri tegak di belakangnya.
"Kalian tuh jadi bunuh saya tidak sih. Kalau tidak jadi, pulang sana. Buang-buang waktu saja!" ucap Azlan yang membuat orang-orang yang tadinya masih sibuk dengan pikiran masing-masing kini mereka kembali tersadar dan langsung menodongkan pistol mereka kearah sepasang kekasih tadi.
__ADS_1