
Tembakan yang diluncurkan oleh orang tersebut berhasil mengenai tangan Zico yang membuat pistol yang berada di tangan sang empu jatuh ke lantai.
Orang tersebut tersenyum meremehkan sembari ia terus berjalan menghampiri Zico yang tengah meringis kesakitan. Luka diarea perut saja belum pulih sempurna kini sakit ditubuhnya ditambah dengan luka tembakan dari orang dihadapannya itu.
Saat orang tadi sudah berada tepat didepan Zico, orang tersebut menggerakkan pistolnya dan mengarahkan ujung pistolnya kearah dahi Zico.
"Apa alasan kamu nyulik Edrea pada waktu itu?" tanya orang tersebut penuh dengan tatapan intimidasi.
"Siapa kamu? sampai ingin berurusan dengan saya hanya untuk membela keluarga sialan itu?" bukannya langsung menjawab Zico malah bertanya balik ke orang tadi yang sangat membuatnya penasaran. Andai saja tangannya tak terluka dan mengeluarkan darah banyak, pasti ia sudah membuka penyamaran orang tersebut.
"Kamu tidak perlu tau hubungan saya dengan keluarga Abhivandya. Jawab saja alasan apa yang melandasi kamu untuk memusnahkan keluarga Abhivandya?" tanyanya lagi dengan suara tenang.
Zico tersenyum miring.
"Kamu juga tak perlu tau alasan saya ingin memusnahkan mereka. Toh mereka juga sudah mati sekarang jadi buat apa lagi kamu membela mereka, lebih baik kamu sekarang pulang ke Indonesia, temuin mereka di bawah gundukan tanah," tutur Zico penuh dengan percaya diri.
"Darimana kamu tau mereka sudah meninggal? oh saya tau pasti kamu mendapatkan informasi palsu itu dari Ali, salah satu anak buah kamu yang sayangnya dia telah berkhianat denganmu," ujarnya.
Zico tampak mengerutkan keningnya tapi setelahnya ia tertawa nyaring hingga memenuhi ruangan tersebut.
"Omong kosong macam apa ini? Dia anak buahku yang paling setia, mana mungkin berkhianat," tutur Zico.
Orang tadi menjauhkan tubuhnya dari Zico setelah memastikan bahwa laki-laki itu tak memiliki senjata lain di sekelilingnya.
__ADS_1
Setelah itu tangannya bergerak untuk mencari kontak nomor milik anak buah Zico yang ia maksud tadi lalu setelah mendapatkannya, ia langsung menghubungi nomor tersebut dan tak berselang lama sambungan telepon keduanya terhubung.
📞 : "Halo bos, ada apa?" tanyanya to the point.
"Tidak ada apa-apa Ali. Saya hanya ingin bertanya kondisi disana. Apakah baik-baik saja?" Orang tersebut melirik kearah Zico yang tampak mulai mengeraskan rahangnya.
📞 : "Semuanya aman bos. Tak ada serangan dadakan dari anak buah Zico. Dan sebentar lagi mereka semua terutama keluarga Abhivandya akan sampai di rumahnya," jawab Ali yang semakin membuat Zico marah karena orang-orang yang ia pikir telah mati dalam jebakannya tadi, ternyata orang-orang itu berhasil lolos dari maut dan informasi palsu itu hanya sebuah alibi dari anak buahnya agar ia tak menyerang lagi keluarga Abhivandya. Benar-benar licik siasat dari orang-orang yang sedang ia hadapi saat ini.
"Baiklah kalau begitu. Awasi terus mereka. Jangan sampai ada yang terluka. Jika ada yang mengusik ketenangan keluarga Abhivandya, kamu pastinya sudah tau apa yang harus kamu lakukan, bukan?"
📞 : "Tentu saja bos. Jika ada yang menganggu ketenangan keluarga Abhivandya, maka saya harus bantai mereka sampai tak tersisa. Apalagi dengan anak buah Zico," tuturnya.
"Bagus. Lanjutkan Ali, saya suka kinerja kamu," tuturnya sebelum ia memutus sambungan telepon tersebut yang langsung membuat Zico menggeram kesal.
"Bajingan!" umpatnya. Ia benar-benar emosi dengan keteledorannya sendiri sampai-sampai ada penghianat yang masuk kedalam lingkungan hidupnya.
Zico hanya terdiam tapi kobaran api amarah terpancar dalam matanya hingga tak berselang lama masuk lah beberapa orang yang langsung mengelilingi Zico dan orang tersebut. Dan salah satu dari mereka mendekati bosnya.
"Bos, diluar sudah aman dan bisa kami lumpuhkan semua," lapornya.
"Bagus. Bawa orang-orang kita yang terluka kembali ke Indonesia. Obati luka mereka sampai sembuh dan yang sudah tak bernyawa antar ke rumah duka dan kasih kompensasi ke keluarga mereka," perintah orang tersebut yang langsung diangguki para anak buahnya dan setelahnya mereka semua keluar lagi dari ruangan tersebut dan hanya menyisakan orang-orang yang benar-benar kepercayaan bosnya itu.
"Oh ini orangnya? Hmmmm lemah," ejek salah satu dari tangan kanan orang tadi.
__ADS_1
"Bantai aja sekalian. Buang-buang waktu aja kalau mau interogasi dia. Karena sampai mulut kamu berbusa pun dia gak akan pernah jawab pertanyaan-pertanyaan kamu. Udah kebaca dari wajahnya," sambung anak buahnya yang lain.
"Diam!" tegas orang tersebut yang membuat para tangan kanan terdiam seketika.
"Saya kasih kesempatan ke kamu untuk jawab alasan kamu mengincar nyawa keluarga Abhivandya? Jawab!" gertak orang tersebut.
"Kamu tidak perlu tau alasan dibalik ini semua dan saya tidak punya urusan dengan kalian semua terutama kamu." Zico menunjuk kearah orang yang berdiri tepat didepannya.
Orang itu tampak diam tak membalas ucapan dari Zico tadi, tapi para tangan kanannya kini sudah mengeluarkan pistol mereka dan sudah bersiap menembak Zico saat itu juga. Tapi sayang, keinginan mereka harus terhalangi oleh perintah bos mereka.
"Kita tidak punya hak untuk membunuh dia. Jika kita punya hak, tanpa bantuan dari pistol kalian itu, sudah dari tadi saya musnahkan orang ini. Dan orang yang berhak untuk membunuh dia adalah keluarga Abhivandya langsung tanpa perantara," tuturnya yang membuat para anak buahnya itu berdecak sebal tapi perlahan pistol tadi kembali ke balik jaket mereka.
"Jika kamu tidak mau menjawab pertanyaan saya. Baiklah saya tak akan memaksa. Tapi biarkan keluarga Abhivandya nantinya yang akan menggantikan saya untuk mengintrogasi kamu," tutur orang tersebut.
"Seret dia sampai kedalam helikopter. Kita akan kembali ke Indonesia saat ini juga," sambungnya setelah itu ia lebih dulu keluar dari ruangan tadi.
Tangan kanan orang tersebut kini bergerak untuk mendekati Zico yang ingin kabur dari ruangan tersebut. Tapi untungnya dengan sigap mereka bisa mencegah aksi Zico tadi.
"Oh tidak semudah itu untuk kabur, Ferguson. Eh salah maksudnya, Zico," ucap salah satu dari mereka dan membuat gelak tawa pecah memenuhi ruangan tersebut. Zico yang tak terima akan ejekan tadi mulai berusaha untuk melepaskan diri dari cekalan tiga orang itu.
"Jangan banyak gerak!" geram satu orang yang tengah memborgol tangan Zico.
"Arkhhhh!" jerit Zico saat merasakan perih di telapak kakinya yang ternyata tengah disayat oleh dua orang disana.
__ADS_1
"Biar kamu gak bisa kabur nanti," ucapnya saat mendapati tatapan tajam dari Zico.
Dan setelah semuanya beres dan Zico dapat mereka lemahkan, tangan kanan orang tersebut segera menyeret tubuh Zico menuju ke helikopter yang di maksud oleh bosnya tadi dengan cara tak manusiawi bahkan mereka tak peduli dengan telapak kaki dan lengan tangan Zico yang sekarang tengah mengeluarkan darah segar yang begitu banyak.