
"Ma---maksud kamu apa, Jio?" tanya Vivian yang membutuhkan penjelasan lebih rinci lagi.
Zico yang hatinya sedari tadi sudah berdebar hebat pun kini ia menatap kearah Vivian dan dengan tangan yang bergetar, Zico meraih tangan Vivian dan menggenggamnya.
"Kak, maafin Jio yang selama ini menyimpan fakta bahwa Kakak adalah anak kandung dari Mommy sama Daddy," ucap Zico dengan wajah yang sudah menunduk.
"Hah sebentar, otak gue lagi ngelag," timpal Erland.
"Jadi maksud dan kesimpulan masalah kamu tadi itu tentang kedua orangtua kamu yang menyembunyikan fakta kalau Kak Vi adalah anak kandung Mommy sama Daddy gue? Lah kalau gitu Kak Vi anak nomor berapa? Kan anak Mommy sama Daddy yang pertama itu almarhum Kak Aila. Berarti sebelum ada kita bertiga Mommy hamil lagi dong?" Sambung Erland yang langsung mendapat cubitan dari Zea yang kebetulan duduk diantara dirinya dan juga Azlan.
"Awsss, sakit anjir. Az, istri lo nih. Kurang ajar banget sama adik ipar," geram Erland.
"As Az As Az, panggil gue dengan sebutan Abang sebelum gue kutuk lo jadi tikus got," ujar Azlan yang mendapat cebikkan dari Erland.
"Lagian lagi tegang-tegangnya lo tanya begituan. Diam dulu bisa kan?" timpal Zea.
"Ya kan gue kepo dan butuh jawaban atas pertanyaan yang dari tadi muter terus di otak gue. Dan daripada gue stress sendiri mikirnya lebih baik gue ungkapin aja deh," ucap Erland.
Mommy Della yang sedari tadi diam pun ia kini mengalihkan pandangannya yang sedari tadi menatap kearah Zico dan Vivian beralih kearah Erland. Dan sebelum dirinya menjawab pertanyaan dari anaknya itu, ia menghela nafas berat.
"Mommy cuma hamil dua kali. Yang pertama hamil Kakak kalian, Aila. Yang kedua hamil kalian bertiga," ujar Mommy Della yang langsung membuat triplets membelalakkan matanya dan dengan seketika mereka menatap kearah Vivian yang justru tengah menangis sesegukan.
"OMG! Kalau begitu Kak Vi itu adalah Kak Aila yang sebenarnya?" teriak Edrea heboh.
"Berarti Kak Aila belum mati dong!" kini giliran Azlan yang angkat suara tapi baru saja ia menyelesaikan ucapannya, bibirnya langsung kena tabok oleh Zea.
"Mati-mati, kamu kira hewan. Meninggal sayang. Omongannya gak boleh gitu ih," ralat Zea.
"Maaf-maaf keceplosan," ucap Azlan dengan cengiran di bibirnya dan hal tersebut membuat Zea langsung memutar bola matanya malas.
Sedangkan Erland, ia kini malah terbengong sekaligus tak percaya dengan fakta yang baru saja ia dengar itu.
"Kalau Kak Aila masih hidup berarti yang ada di makam siapa dong?" gumam Erland yang masih bisa didengar oleh semua orang disana.
Leon yang sudah jengah dengan orang-orang yang sebenarnya pintar tapi entah kenapa semuanya tiba-tiba menjadi bodoh pun, ia berdecak sebal.
"Kan tadi sudah di jelaskan sama dia. Kalau bayi alias anak kandung Mommy alias Kakak kalian atau yang kalian kenal sebagai Aila itu sudah di tukar dengan bayi perempuan lain yang saat itu kondisinya sudah meninggal dunia," jelas Leon yang berharap dengan penjelasannya tadi, mereka semua bisa paham termasuk Mommy Della dan Daddy Aiden yang sedari tadi hanya diam membisu. Mungkin mereka juga tengah shock dan tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar.
"Ihhh kalau begitu kasihan banget dong orangtua kandung Kak Aila kw. Lagian emak lo jahat banget sih. Kalau kayak gini kan gue jadi gak heran dimana sifat jahanam lo itu lo dapatkan, ternyata dari emak lo. Ck, pantes aja emak lo mati, harusnya lo juga nyusul dia dong biar gak nambahin beban semua orang. Orang-orang jahat kayak kalian itu memang pantasnya hilang dari muka bumi ini," ucap Azlan yang langsung membuat Zico menundukkan kepalanya.
"Maaf." Hanya kata itu yang terus saja keluar dari bibirnya. Ia juga merasa bersalah dengan semua orang yang berada di hadapannya saat ini. Ia juga tak mengelak dengan perkataan dari Azlan tadi karena kenyataannya memang begitu. Ibunya jahat pun ia akui, apalagi dirinya, walaupun saat itu dirinya tengah sakit tapi tak urung membuat dirinya terus menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah ia perbuat.
Sedangkan Vivian yang mendengar perkataan yang cukup menohok pun ia menatap Azlan dengan tajam.
"Az, jaga ucapan kamu. Dia memang salah, tapi tidak seharusnya kamu menghakimi dia dengan mengatakan hal seperti itu. Jio juga sudah meminta maaf dengan apa yang dia dulu lakukan, bahkan dia juga mewakili Mama dan Papa untuk meminta maaf ke kalian semua. Jadi jangan ungkit masalah yang harusnya sudah kita pendam dan dijadikan sebagai pelajaran itu. Bukan malah masalah dulu dijadikan senjata untuk memojokkan seseorang, seolah-olah kalian itu orang yang paling benar. Tapi perlu kalian tau jika apa yang Azlan tadi katakan justru tak ada bedanya dengan yang Jio dulu lakukan. Karena perkataan seseorang bisa membunuh orang lain dengan cara merusak mental yang sakitnya jauh lebih parah jika dibandingkan dengan sakit fisik pada umumnya. Dan kalian tau ucapan kalian itu bisa membuat orang yang kalian sudut kan bisa depresi dan berakhir orang itu akan mengakhiri hidupnya. Jadi cukup, jangan menyalakan dia lagi," geram Vivian tak terima.
"Udah Kak. Jio gak papa. Kakak jangan cari masalah ya. Dan Kakak perlu tau, jika Azlan, Erland, dan Edrea sekarang adik kandung Kakak. Dan apa yang di katakan Azlan tadi benar kok. Jadi tidak masalah buat Jio," ucap Zico dengan senyum yang ia paksakan.
"Tapi---" Zico menggelengkan kepalanya agar Vivian tak lagi menyalahkan Azlan lagi.
Lalu setelahnya, Zico kembali menatap kearah Mommy Della dan Daddy Aiden yang masih saja mematung di tempat.
__ADS_1
"Mom, Dad, sekali lagi Jio minta maaf karena sudah menyembunyikan fakta ini dari kalian. Dan semua dokumen ini adalah bukti jika Kak Vi adalah anak kandung kalian," ucap Zico dengan menyerahkan satu buah map di atas meja depan kedua orang tadi.
Daddy Aiden perlahan menggerakkan tangannya untuk mengambil map tadi dan mulai membuka juga membaca isi dari map tadi yang ternyata adalah hasil tes DNA yang sempat Zico lakukan dulu dan beberapa bukti foto yang berhasil Zico ambil di sebuah rumah sakit yang dulu dijadikan tempat untuk menangani Mommy Della saat kejadian itu terjadi. Ya walaupun sudah cukup lama, tapi jangan ragukan kepintaran Zico untuk mencari semua informasi yang memang sangat akurat tersebut bahkan rekaman CCTV di rumah sakit dulu yang sempat ibunya hapus pun berhasil ia kembalikan. Benar-benar definisi manusia tampan, pintar dan cerdik.
Mommy Della yang turut membaca seluruh isi map tadi pun ia tak kuasa lagi untuk menahan tangisnya.
"Dad, anak kita---" Daddy Aiden yang mengerti perasaan Mommy Della yang ia yakini tak jauh berbeda dengan apa yang ia rasakan saat ini pun, Daddy Aiden kini bergerak untuk memeluk erat tubuh sang istri. Bohong jika dirinya saat ini tak senang mendengar fakta yang sangat membahagiakan itu. Buktinya ia kini juga meneteskan air matanya.
"Iya sayang. Anak kita masih hidup. Aila adalah Vivian, Putri pertama kita," ujar Daddy Aiden dengan mengecup puncak kepala Mommy Della.
Edrea yang penasaran dengan isi map tadi pun ia kini meraih berkas-berkas yang tergeletak di atas meja tadi dan segera membacanya yang seketika membuat kedua matanya melebar.
"OMG, ini udah fiks kalau Kak Vivian adalah Kak Aila. Yessss, gue punya Kakak. Kakak gue belum meninggal. Yessss. Huwaaaaa Kak Vi!" teriak Edrea heboh sembari berlari kearah Vivian dan berhambur ke pelukan Vivian yang disambut hangat oleh perempuan tersebut.
"Huwaaaaa Rea gak nyangka kalau Kak Vi adalah Kakak kandung Rea. Rea seneng banget," ucap Edrea yang masih berada di dalam pelukan perempuan tersebut.
Sedangkan Erland yang tadi juga sempat membaca isi map tadi pun ia juga kini berjalan mendekati kedua perempuan yang masih berpelukan tadi.
"Pantas saja, saat gue mau nikahin Kak Vi, si kampret satu ini gak ngizinin. Orang dia satu darah sama gue. Ck, kenapa waktu itu lo gak langsung ngomong aja sih. Kan kalau lo dulu ngomong, gue jadi gak galau waktu itu," ucap Erland yang ia tujukan kepada Zico.
"Maaf."
"Maaf mulu dari tadi. Ini belum lebaran," tutur Erland yang sepertinya sudah bosan mendengar kata maaf dari Zico.
"Er, gak boleh gitu," tegur Vivian yang membuat Erland mencebikkan bibirnya tapi beberapa saat setelahnya ia ikut bergabung dengan dua perempuan tadi. Memeluk erat mereka berdua.
Azlan yang melihat ketiga saudaranya itu tengah berpelukan pun ia jadi iri hingga akhirnya dirinya beranjak dan bergabung dengan ketiganya. Hingga Zico yang tadinya duduk disamping Vivian kini bergeser tempat bahkan laki-laki itu sekarang sudah berdiri di samping sofa yang tadi ia tempati, untuk memberikan ruang kepada mereka semua yang akan melepas rindu kepada Vivian.
"Ehemmm. Kalian bertiga ini tidak sopan sekali. Disini emak sama bapaknya aja belum meluk dia, tapi sudah didahului oleh kalian bertiga. Awas-awas, minggir. Giliran kita berdua yang mau meluka anak kita, anak pungut minggir dulu," ucap Daddy Aiden dengan melepaskan satu-persatu Triplets dari tubuh Vivian.
"Njir giliran punya anak baru, anak yang dulu dianggap anak pungut dong. Punya bapak gak ada akhlak ya gini nih," gumam Erland yang lagi-lagi ia merasa dianak tirikan oleh orangtua kandungnya.
Vivian yang sempat mendengar gumaman dari Erland pun ia terkekeh sebelum ia kini berdiri dari duduknya dan segera memeluk tubuh Mommy Della disusul Daddy Aiden yang juga memeluknya.
Sedangkan Triplets yang melihat keromantisan yang tercipta dari anak dan orangtua yang sempat berpisah itu pun mereka mencebikkan bibirnya tapi tak urung senyum mereka bertiga terbit di wajahnya.
"Pelukan bertiga aja terus. Yang disini gak diajak?" ucap Erland yang berhasil mengalihkan perhatian ketiga orang tadi.
Mommy Della yang sedari tadi terharu pun ia kini menghapus air matanya dan dengan terkekeh ia angkat suara.
"Sini-sini. Kalian bertiga sini. Kita pelukan bareng," ucap Mommy Della dengan merentangkan kedua tangannya yang langsung disambut oleh triplets yang ikut bergabung kedalam pelukan itu. Sehingga satu keluarga yang berisi 6 anggota pun kini tengah berpelukan layaknya Teletubbies bahkan mereka tak menghiraukan orang-orang disekitarnya yang tengah menatap mereka dengan senyum bahagia tak terkecuali dengan Zico.
"Kak, Jio tau Jio salah karena sudah menyembunyikan fakta ini beberapa tahun yang lalu hingga akhirnya Jio punya keberanian untuk mengatakan ini semua dengan Kakak dan keluarga Kakak. Jio harap Kakak bisa memaafkan Jio atas semua kesalahan yang Jio perbuatan entah dengan Kakak ataupun dengan keluarga Kakak. Jio menyesal telah menyembunyikan ini semua Kak. Tapi Jio sekarang sudah lega karena sudah mengungkapkannya. Walaupun Jio takut Kakak akan meninggalkan dan melupakan Jio, tapi setelah Jio lihat Kakak bahagia, Jio ikhlas jika Kakak melupakan Jio dan meninggalkan Jio. Asalkan Jio bisa melihat Kakak bahagia, Jio juga akan ikut bahagia. Kak, terimakasih karena Kakak sudah menyayangi Jio seperti adik kandung Kakak sendiri. Terimakasih karena Kakak selalu ada untuk Jio. Dan terimakasih karena Kakak selalu melindungi Jio dan menjadi orangtua pengganti untuk Jio saat Mama sama Papa sudah tidak ada. Kak, mungkin Jio tidak bisa membalas semua kebaikan yang selama ini Kakak lakukan untuk Jio. Maafkan Jio yang sudah banyak merepotkan Kakak. Tapi perlu Kakak tau jika Jio akan terus sayang sama Kakak walaupun Kakak sudah tidak menyayangi Jio lagi seperti dulu. Kak, Jio berharap Kakak selalu bahagia dengan keluarga kandung Kakak. Maaf dan terimakasih untuk Kakak dari Jio. Love you kak. Bahagia selalu. Jio sayang banget sama Kakak," batin Zico dengan menatap kearah Vivian yang tenggelam dalam pelukan keluarganya.
Dan setelah mengucapkan semua kata-katanya yang hanya tertahan didalam hatinya tanpa mampu ia ucapkan, Zico perlahan memundurkan tubuhnya agar semua orang tidak tau kepergian dirinya. Dan dirasa semuanya larut dalam kebahagiaan dan tak menyadari keberadaannya lagi, Zico kini mulai beranjak dari ruang keluarga tersebut dengan kepala yang tertunduk menyembunyikan air mata yang terus membasahi pipinya. Hingga saat dirinya sudah berhasil keluar dari rumah tersebut, ia kini menghela nafas berat dan sebelum dirinya meninggalkan rumah itu, ia menatap lekat kearah pintu utama rumah tersebut.
"Tugas Jio sudah selesai. Mengantarkan Kakak ke keluarga asli Kakak. Berbahagialah Kak, walaupun bukan Jio yang menjadi alasan Kakak bahagia. Love you and always love you," batin Zico.
Ia memejamkan matanya sesaat sebelum dirinya melanjutkan langkahnya menuju kearah mobil yang akan mengantarkan dirinya entah kemana, ia pun juga tidak tau. Karena sekarang dirinya merasa tak memiliki arah, bahkan ia juga merasa tak memiliki rumah lagi untuk tempatnya berteduh dan mengadu semua keluh kesahnya. Ia sekarang benar-benar sendiri, tak ada lagi yang akan memperhatikan dirinya seperti dulu, tak ada lagi yang mengomel jika dirinya membuat kesalahan dan tak ada lagi canda tawa yang selalu membuat hidupnya yang dulu kelam menjadi berwarna kembali. Ia sekarang sudah kehilangan semua orang yang ia sayangi. Tapi ia juga harus sadar diri, dia tidak boleh egois yang mementingkan kebahagiaannya sendiri tanpa memikirkan orang lain yang lebih pantas untuk bahagia daripada dirinya. Dan biarkan lah dirinya ditemani oleh kesunyian, karena ini merupakan takdir yang sebenarnya sudah lama harus ia hadapi. Hidup dalam kesendirian dan kesunyian tanpa ada seseorang yang akan ia jadikan sandaran.
...~Tamat~...
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tapi boong😋
__ADS_1
Canda, cerita ini masih next kok, belum tamat. Maka dari itu perbanyak LIKE, VOTE, KOMEN, KASIH KOIN dan HADIAH ya. See you next eps bye. Love you! gak jawab dosa!!!