
Di dini harinya saat Edrea ingin merubah posisi tidurnya, ia merasa jika ranjang yang ia tempati saat ini benar-benar sangat sempit bahkan saat ia ingin bergerak saja sangat susah ditambah perutnya terasa seperti ada beban yang menimpa perutnya tersebut. Namun hal tersebut tak menghalangi dirinya untuk mencari posisi tidur ternyaman. Dan saat dirinya sudah membalikan badannya, dahinya tak sengaja membentur sesuatu yang berada di depannya. Dan hal tersebut membuat Edrea kini mengerjabkan matanya. Lalu sesaat setelahnya matanya terbelalak saat melihat tubuh Leon berada di hadapannya.
"Ahhhh!" teriak Edrea sembari mendorong tubuh Leon hingga laki-laki itu terjatuh dari ranjang tersebut. Dan hal tersebut membuat Leon kini mendesis kesakitan. Sedangkan Callie yang tadinya tertidur kini ia merengek karena tidurnya merasa terganggu.
"Astaga lupa kalau ada Callie di sini," gumam Edrea sembari menepuk keningnya sendiri. Bahkan niatnya untuk mengumpati Leon, ia urungkan begitu saja.
"Hiks, Mommy," rengek Callie.
"Stttt Mommy ada disini cantik. Cup cup cup jangan nangis ya. Kalau Callie nangis, nanti para monyet yang ada di atas gunung turun lho dan nyamperin Callie," ucap Edrea yang berusaha untuk menenangkan Callie dengan sesekali ia menepuk-nepuk paha anak perempuan itu.
Callie yang mendengar cerita dari Edrea pun ia kini menghentikan rengekannya dan sepertinya ia mulai tertarik dengan cerita tersebut.
"Oh ya?" tanya Callie penasaran.
"Iya. Dan kalau mereka sudah bertemu dengan Callie, mereka akan gigit kamu sampai berdarah. Memangnya kamu mau digigit sama para monyet itu?" tanya Edrea yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Callie.
"Callie tidak mau di gigit sama mereka Mom. Callie takut sama monyet. Callie tidak suka sama monyet. Callie tidak mau didekati sama mereka. Callie takut Mommy," ucap Callie sembari memeluk tubuh Edrea dengan sangat erat.
"Kalau Callie takut sama monyet, Callie tidak boleh nangis lagi, dan lebih baik Callie kembali tidur karena diluar masih gelap," timpal Leon yang sudah berdiri dari posisi jatuhnya tadi bahkan ia kini mengelus lembut kepala Callie.
"Callie tidak akan menangis lagi. Callie juga mau tidur lagi. Tapi Callie mau Mommy sama Daddy menemani Callie dan terus memeluk Callie sepanjang tidur Callie. Kita bertiga tidur disini bersama-sama seperti Mommy dan Daddynya teman Callie yang selalu menemani dia saat tidur," tutur Callie dengan menatap kedua orang di sampingnya secara bergantian.
__ADS_1
Sedangkan Edrea yang mendengar penuturan dari Callie tadi hatinya bergetar. Dan kini tatapan matanya beralih kearah Leon, hingga membuat keduanya saling pandang satu sama lain, seolah-olah tengah berdiskusi lewat tatapan mata itu.
"Baiklah Daddy sama Mommy akan menemani Callie tidur. Kita akan memeluk Callie sesuai dengan permintaanmu tadi," ujar Leon sembari berbaring di sisi kanan Callie setelah pandangan matanya terlepas dari pandangan mata Edrea.
Lalu setelahnya tangannya terulur untuk memeluk tubuh Callie sekaligus tubuh Edrea.
"Modus mode on," celetuk Edrea.
"Modus sama pacar sendiri mah gak papa kali daripada modus sama cewek lain," balas Leon yang langsung mendapat tatapan tajam dari Edrea.
"Bercanda sayang. Aku gak akan pernah berani bermain api di depan ataupun di belakang kamu kok. Jadi tenang aja, gak usah khawatir. Aku hanya untuk kamu saja bukan yang lainnya," ujar Leon dengan menaik turunkan alisnya, mencoba untuk menggoda Edrea. Tapi godaannya itu justru membuat Edrea memutar bola matanya malas. Bahkan perempuan itu tak membalas ucapannya tadi dan hanya terfokus kearah Callie berada hingga akhirnya anak perempuan itu kembali terlelap dalam tidurnya.
"Sayang," panggil Leon yang membuat Edrea mengalihkan pandangannya ke arah Leon.
"Nikah yuk," ajak Leon.
"Ayo, tapi minta restu dulu sama orangtua kamu. Berani tidak?" tantang Edrea yang berhasil membuat Leon mengatupkan bibirnya.
"Heleh, bisanya ngajak anak orang nikah aja terus, tapi giliran disuruh minta restu sama orangtuanya sendiri justru gak berani," cibir Edrea.
"Aku bukannya tidak berani tapi belum saatnya saja," ujar Leon.
__ADS_1
"Belum saatnya apa? Belum saatnya kamu minta restu ke mereka. Terus ngapain ngajakin nikah mulu dari hari-hari sebelumnya?" ucap Edrea.
"Kalau kamu masih ragu dan tidak mau mengenalkanku ke keluargamu maka hentikan omong kosongmu itu. Dan jangan ngajakin nikah mulu. Fokus ke hubungan kita yang sekarang dulu, masalah kita tidak berjodoh ya itu sudah menjadi konsekuensi kita menjalin hubungan. Dan perlu kamu tau, jika suatu saat aku akan menikah nanti, hal pertama yang harus aku pegang adalah restu dari orangtua pasanganku karena restu dari orangtua itu sangat penting untuk kita memulai hidup baru sebagai keluarga," sambung Edrea yang membuat Leon kini menghela nafas berat.
"Andaikan orangtuaku sama dengan orangtua pada umumnya, pasti dari awal aku kenalkan kamu ke mereka. Tapi mereka itu sangat berbeda, Edne," ucap Leon.
"Semua orangtua tuh berbeda El, gak ada yang sama. Jadi aku bisa maklumi perbedaan itu," tutur Edrea yang masih kekeuh ingin bertemu dengan keluarga Leon.
"Itu jika orangtua yang masih normal, perbedaannya masih bisa di tolerir. Tapi orangtuaku sangat jauh berbeda Edne. Sebenarnya aku bisa mengenalkanmu dengan mereka tapi aku tidak bisa menjamin kejadian selanjutnya akan bagaimana. Aku takut kejadian yang menimpa Kakakku harus aku alami juga. Aku benar-benar tidak akan pernah siap untuk kehilangan kamu, Edne," ujar Leon.
"Semua kejadian yang menimpa Kakakmu itu, aku jamin tidak akan pernah bisa menimpa ke kita. Tapi jika hal itu masih saja terjadi, aku masih punya Daddy dan 3 Abangku yang bisa membalas perbuatan mereka," tutur Edrea.
"Ini bukan masalah yang gampang Edne. Mereka tidak akan pernah bisa melawan orangtuaku. Jika Daddy bisa membalas perbuatan mereka, dari dulu Daddy pasti sudah membunuhnya. Tapi nyatanya saat dulu kamu disakiti sama mereka Daddy justru diam seribu bahasa dan memilih menjauhkan kamu dariku. Orangtuaku sangat berbeda Edne, sangat jauh dari karakter orangtua pada umumnya," ujar Leon yang sudah terduduk kembali.
"Oh ya, memangnya siapa orangtuamu itu sampai Daddy sepertinya sangat segan kepada mereka? Dan sekuat apa sih mereka sampai berlagak seenaknya saja?" ucap Edrea.
"Suatu saat kamu akan tau siapa mereka dan juga akan tau alasan kenapa semua orang terlihat segan kepada mereka," tutur Leon sembari bangkit dari duduknya dan berniat untuk keluar dari kamar Callie untuk menenangkan dirinya.
"Baiklah jika kamu tidak mau memberitahuku siapa orangtuamu yang sebenarnya, aku akan cari tau sendiri siapa mereka, tidak peduli jika nyawaku menjadi taruhannya," ucap Edrea dengan tatapan yang mengarah ke tubuh Leon yang semakin menjauh darinya.
Sedangkan Leon yang mendengar penuturan dari Edrea pun langkah kakinya langsung terhenti dan kemudian ia menolehkan kepalanya hingga ia bisa melihat keberadaan Edrea yang seolah-olah tengah menantang dirinya.
__ADS_1
"Jika kamu berani melakukan hal itu maka kamu harus siap kehilangan diriku," ujar Leon. Dan setelahnya ia melanjutkan langkahnya hingga tubuhnya kini menghilang di balik pintu kamar tersebut.