The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 186


__ADS_3

Sesampainya Puri dan Mamanya di salah satu rumah sakit, Mama Puri langsung berteriak sekencang-kencangnya agar suster yang ada dirumah sakit tersebut segera mendekati dirinya.


"Suster! tolong bantu saya!" teriak Mama Puri dan benar saja beberapa saat setelahnya terlihat gerombolan suster mendekatinya.


"Ada apa Bu?" tanya salah satu suster tadi karena ia tak melihat ada seseorang yang membutuhkan pertolongan pertama di sekitar wanita berumur itu.


"Tolong anak saya pingsan di dalam mobil," ucapnya dengan tubuh bergetar saat melihat anaknya yang tadi sempat ia ajak untuk turun dari mobil justru tak bergerak sama sekali tapi untungnya masih ada denyut jantung juga masih bernafas.


Salah satu suster tersebut kini langsung bergerak mengambil brankar lalu setalahnya mereka semua mengikuti langkah Mama Puri yang menuju mobilnya.


Dan setelah Puri berhasil di pindahkan dari dalam mobil ke atas brankar tadi, suster-suster itu langsung mendorongnya menuju ruangan untuk penanganan pasien.


"Maaf ibu, harus tetap diluar. Kami sebisa mungkin akan menyelamatkan nona didalam," ucap salah satu suster tadi karena Mama Puri terus memberontak ingin ikut masuk kedalam ruangan tersebut.


Dan tanpa memperdulikan Mama Puri yang terus meraung-raung, suster tadi langsung menutup pintu tersebut agar dokter yang sudah standby di ruangan itu langsung menjalankan tugasnya.


Mama Puri kini terduduk lemas disalah satu kursi tunggu dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


"Ini semua gara-gara keluarga sialan itu. Jika mereka tidak memfitnah Puri seperti tadi, semua kejadian ini tidak akan pernah terjadi," gumam Mama Puri dengan tatapan lurus kedepan bahkan tangannya kini juga ikut terkepal.


"Aku harus segera bertindak melaporkan tindakan keluarga sialan itu ke pihak berwajib," sambungnya dan kini ia mulai merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya. Dan setalahnya, tangannya dengan lincah menari-nari dia atas ponsel tersebut. Kemudian tak berselang lama, ponsel tersebut ia tempelkan ke salah satu telinganya.


📞 : "Halo, selamat siang nyonya Handoko," sapa seseorang dari sebrang.


"Selamat siang. Bapak pasti tau niat saya menghubungi bapak karena apa?" ucap Mama Puri sembari mengusap kasar air matanya.


📞 : "Nyonya menelepon saya karena ada sesuatu yang menyangkut pelaporan ke pihak berwajib tentunya. Apakah ada seseorang yang mengusik keluarga Handoko?" tanya orang tersebut yang merupakan kuasa hukum dari keluarga besar Handoko.


"Ya, anda benar sekali. Dan ada beberapa orang yang telah mengusik keluarga saya lebih tepatnya ke anak semata wayang saya," ujar Mama Puri.


📞 : "Baiklah, tapi saya harus tau akar masalahnya terlebih dahulu," tutur kuasa hukum tersebut. Dan disitulah Mama Puri langsung menceritakan asal mula masalah itu terjadi yang tentunya cerita itu versi dirinya sendiri tanpa mengaitkan bukti yang telah ia lihat tadi.


📞 : "Siapa nama anak dari keluarga itu nyonya?" tanyanya.

__ADS_1


"Hmmm kalau gak salah Edrea. Ya nama anak itu Edrea. Tapi saya tidak tau nama panjangnya dia. Yang terpenting kamu harus segera membuat laporan ke kepolisian secepatnya agar keluarga itu kapok dan tidak berani lagi mengganggu keluarga saya lagi," ujar Mama Puri menggebu-gebu.


📞 : "Baik, saya akan secepatnya melaporkan masalah ini ke kepolisian," ucap kuasa hukum tersebut.


"Secepatnya kamu bilang? harusnya sekarang kamu sudah bisa melaporkan ke pihak berwajib bukan malah mengulur-ulur waktu lagi. Saya tidak mau jika masalah ini terlalu lama, anak saya juga butuh keadilan!" geram Mama Puri.


📞 : "Baiklah nyonya. Sekarang saya akan ke kantor polisi membuat laporan," ujar kuasa hukum tersebut.


"Gitu kek dari tadi. Ya sudah, saya tutup dulu. Dan saya tunggu kabar baiknya," ucap Mama Puri dan tanpa menunggu persetujuan dari sang penguasa hukum tadi, sang empu langsung mematikan sambungan telepon tersebut.


Disisi lain, sang kuasa hukum dari keluarga Handoko pun hanya bisa menghela nafas. Dan hanya dengan catatan juga rekaman cerita dari Mama Puri tadi, kuasa hukum tersebut bergerak menuju ke kantor polisi untuk melaporkan masalah yang tengah menimpa keluarga kliennya itu.


Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, kuasa hukum tersebut kini telah sampai di salah satu kantor polisi di kota itu dan dengan langkah tegapnya ia memasuki kantor polisi tersebut. Tapi baru beberapa langkah saja, matanya menyipit kala ia melihat beberapa orang yang ia kenal terutama dua orang di tengah-tengah gerombolan orang tadi.


Dan karena rasa keponya ia mendekati orang-orang yang ingin melangkahkan kakinya keluar dari kantor polisi tersebut.


"Tuan Aiden," ucap kuasa hukum keluarga Handoko yang membuat semua orang disana langsung menghentikan langkahnya kemudian berputar arah menghadap ke sumber suara tadi.


Daddy Aiden tersenyum saat melihat salah satu orang yang ia kenal itu. Dan tanpa mengurangi rasa hormatnya Daddy Aiden mengulurkan tangannya kearah orang tersebut yang langsung disambut hangat oleh sang empu.


"Selamat siang juga tuan Aiden. Senang bertemu dengan anda kembali. Kabar saya, Alhamdulillah sangat baik," jawab kuasa hukum dari keluarga Handoko yang bernama Iyas tersebut.


"Syukurlah kalau begitu. Senang juga bisa bertemu dengan anda lagi," tutur Daddy Aiden sembari menepuk-nepuk bahu Iyas.


Iyas kini tersenyum kearah Daddy Aiden tapi setelahnya rasa keponya kembali hadir.


"Maaf sebelumnya, apa tuan terkena masalah hingga membuat tuan juga nyonya datang ke sini?" tanya Iyas.


"Sebenarnya bukan kita berdua yang mendapat masalah tapi putri kita. Oh ya anda sendiri juga kesini pasti ada sesuatu yang ingin anda laporkan bukan? tapi apakah kali ini yang mendapat kasus anda sendiri? kalau pun ini kasus klien anda, kenapa klien anda tidak disini?" tanya Daddy Aiden sembari melihat ke sekitarnya.


Iyas kini menghela nafas.


"Bukan saya yang mendapat masalah tuan tapi salah satu klien saya. Dan ya klien saya yang satu ini memang agak gimana gitu orangnya," ujar Iyas yang hanya diangguki oleh Daddy Aiden.

__ADS_1


"Apakah klien yang anda maksud itu adalah keluarga Handoko?" bukan Daddy Aiden atau Mommy Della yang bertanya, melainkan salah satu kuasa hukum keluarga Abhivandya lah yang mengucapakannya.


Iyas pun kini menganggukkan kepalanya dengan raut wajah yang sulit ditebak.


"Sudah bisa saya tebak. Keluarga itu memang aneh dan untungnya saja saya dulu berhasil keluar dari jerat keluarga itu. Jika tidak dosa saya akan semakin bertambah," ujar orang tadi.


"Sebentar, sepertinya saya pernah dengar nama Handoko," sela Daddy Aiden yang sepertinya lupa-lupa ingat akan kejadian tadi.


"Itu lho sayang. Papanya wanita yang kita laporkan tadi," ucap Mommy Della yang membuat Iyas mengerutkan keningnya.


"Maksud Nyonya?" tanya Iyas.


"Itu lho, anaknya klien kamu itu yang bernama Anindya Puri Sifeli tadi sudah mencari gara-gara dengan anak saya yang paling kecil. Bahkan sampai membuat lengan anak saya itu terluka," ucap Mommy Della.


Iyas kini tertegun, berarti keluarga yang dimaksud oleh Mama Puri tadi adalah keluarga Abhivandya, batin Iyas.


"Apakah putri anda bernama Edrea?" tanya Iyas yang mendapat anggukan dari Mommy Della.


Tubuh Iyas kini seakan-akan melemas, bisa-bisa dia akan menghadapi keluarga terpandang itu. Belum apa-apa saja sudah dipastikan ia akan kalah terlebih lawannya itu akan mengorek lebih dalam lagi masalah yang menghadapinya hingga membuat lawan mereka terpojok dan kalah.


Daddy Aiden yang melihat perubahan ekspresi dari Iyas pun kini ia mengerutkan keningnya.


"Sebentar, apakah kasus yang akan kamu laporkan ini juga menyangkut anak saya?" tanya Daddy Aiden yang membuat Iyas menatap wajahnya kemudian ia mengangguk dengan lemas.


Daddy Aiden kini tersenyum lalu ia menepuk-nepuk pundak Iyas.


"Tidak apa-apa. Lakukan saja sesuai perintah klien anda jangan sampai mengecewakan mereka. Dan saya juga istri saya pamit dulu karena masih ada urusan yang akan kita urus," ujar Daddy Aiden tanpa melunturkan senyumannya.


"Oh ya satu lagi. Sampai ketemu di meja hijau Iyas. Semangat," sambungnya sembari memberikan kepalan tangan yang melayang ke udara untuk orang yang ia kenal tersebut lalu setelahnya Daddy Aiden juga Mommy Della melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut.


Sedangkan para kuasa hukum keluarga Abhivandya kini menatap iba kearah Iyas. Dan salah satu dari mereka kini mendekati Iyas lalu memeluknya.


"Yang kuat ya bro. Tapi kalau boleh saya sarankan, lebih baik kamu mundur dari masalah ini karena tuan Aiden sudah mengantongi banyak bukti. Dan juga lebih baik kamu mengundurkan diri dari kuasa hukum keluarga itu. Karena saya sendiri yang sudah menjadi korban dari kelakuan keluarga itu karena saya dulu pernah menjadi kuasa hukum mereka. Jadi sebelum semuanya berpengaruh ke hidup kamu, mending kamu mengundurkan diri sekarang," ucap orang tersebut sembari melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Tapi itu semua juga kembali lagi ke kamu. Tetap semangat aja jika masih ingin melawan keluarga Abhivandya," sambungannya dan diakhiri dengan tepukan di pundak Iyas sebelum semua orang benar-benar pergi dari hadapan laki-laki yang masih lemas itu.


__ADS_2