
Edrea yang sedari tadi bermain dengan Callie dengan pakaian yang sudah berganti pun ia kini terduduk di lantai tepat di ruang keluarga dengan badan yang penuh dengan keringat.
"Huh, capek juga lari-larian dari tadi," ujar Edrea dengan mengusap keringatnya.
Sedangkan Callie yang tadi sempat bersembunyi, kini ia keluar dari persembunyiannya saat ia sadar jika Edrea sudah tak mengejar dan mencarinya lagi.
Dan dengan kerucutan di bibirnya, Callie mendekati Edrea.
"Mommy, ayo main lagi," rengek Callie.
Edrea yang tadi sempat memejamkan matanya dengan nafas yang memburu, ia terpaksa membuka matanya tersebut dan tatapan matanya langsung tertuju kearah Callie berada.
"Tunggu sebentar sayang. Kita istirahat dulu ya," ucap Edrea yang sudah tak kuat lagi jika harus menuruti permintaan dari Callie tadi.
"Gak mau. Callie masih mau bermain Mommy," tutur Callie.
"Tapi sayang, Mommy capek butuh istirahat sebentar saja," ujar Edrea.
"Masak cuma bermain begitu saja Mommy sudah capek. Padahal Callie yang masih kecil aja belum ada rasa capek sama sekali lho," ucap Callie yang membuat Edrea ingin menangis saat itu juga.
"Begini sayang. Mommy sama kamu tuh beda sayang," ujar Edrea sembari menarik pelan tubuh Callie agar anak perempuan itu duduk di pangkuannya.
"Tidak. Kita berdua sama Mommy. Bahkan kata Daddy, Callie itu persisi banget sama Mommy apalagi kalau lagi ngambek, kita berdua tidak ada bedanya, 100% mirip," tutur Callie yang sudah berhasil duduk di pangkuan Edrea.
"Darimana kita mirip nak, mungkin kalau cara kita ngambek, memang iya sama. Tapi kalau dilihat dari segi wajah dan perilaku, kita berdua benar-benar berbeda. Jika kamu punya bola mata berwarna amber, aku justru berwarna biru. Rambut kamu pun lebih pirang dari rambutku. Bahkan kamu mempunyai darah orang Eropa asli, tapi aku punya darah campuran jadi aku tidak terlalu kentara seperti orang bule. Tapi kamu, terkenal di luaran sana dengan anak bule. Bahkan orang-orang pertama kali melihat kamu, aku yakin mereka langsung tau jika kamu bukan warga asli peri bumi. Sifat dan perilaku kita pun berbeda. Jika kamu terlihat anggun seperti seorang putri mahkota, aku justru bar-bar dengan semua orang. Ya walaupun kamu masih memiliki sifat bar-bar tapi sifat bar-barmu itu hanya berlaku kepada seseorang yang sudah kamu kenal lama. Dan kamu akan berubah saat kamu bertemu dengan orang baru, sifat bar-barmu itu akan hilang dan tergantikan dengan sifat anggunmu yang terkadang membuatku iri," batin Edrea.
Callie yang sedari tadi memandangi wajah Edrea dengan perasaan kesal karena ucapannya tadi tak mendapatkan respon apapun dari Mommy angkatnya itu, ia kini mulai menepuk-nepuk pelan pipi Edrea. Dan aksi dari Callie tadi membuat Edrea kini tersadar dari lamunannya.
"Mommy kenapa cuekin Callie?" protes Callie saat Edrea mengalihkan pandangannya kearahnya.
"Eh kok pertanyaan Callie seperti itu?" ujar Edrea.
"Memangnya pertanyaan Callie tadi ada yang salah? Callie rasa tidak. Karena apa yang Callie tanyakan tadi sesuai dengan yang Callie rasakan saat ini. Mommy tadi benar-benar cuek sama Callie bahkan saat Callie berkata, Mommy sama sekali tidak merespon ucapan Callie satu katapun," ucap Callie yang semakin mengerucutkan bibirnya bahkan kedua tangannya ia lipat tepat didepan dadanya.
Edrea yang menyadari jika anak perempuannya itu tengah merajuk, tangannya kini bergerak untuk mengelus kepala Callie.
"Maafkan Mommy sayang. Mommy tidak ada niatan buat cuekin Callie tadi," tutur Edrea dengan lembut.
"Kalau tidak ada niatan buat cuekin Callie, kenapa Mommy tadi diam saja sambil ngalamun. Padahal kata Daddy, ngalamun itu tidak baik tau dan bisa berakibat fatal jika keseringan melakukan hal itu," ucap Callie sekaligus menasehati Edrea.
"Iya sayang iya. Mommy janji tidak akan mengulangi kesalahan yang Mommy lakukan tadi. Dan Mommy tadi diam karena Mommy benar-benar capek sayang jadinya tidak bisa fokus dengan sesuatu yang berada di sekitar Mommy, entah itu suara kamu ataupun orang lain. Makanya Mommy minta sama Callie untuk istirahat sebentar biar Mommy bisa fokus kembali. Apa Callie mau menuruti ucapan dari Mommy ini?" jelas Edrea dengan sedikit kebohongannya.
Callie yang tadinya cemberut, kini tatapan matanya justru mengisyaratkan kekhawatiran saat mendengar keluh kesah dari Edrea tadi.
"Mommy beneran capek?" tanya Callie memastikan dan hal tersebut dijawab anggukkan kepala oleh Edrea.
__ADS_1
Dan tanpa Edrea duga, Callie saat ini justru membalikan badannya kemudian anak perempuan tersebut memeluk tubuh Edrea dengan sangat erat. Dan tak berselang lama terdengar suara isak tangis Callie.
"Lho lho lho kenapa Callie menangis? Apa Mommy tadi salah bicara sehingga membuat Callie sakit hati? Atau tubuh Callie ada yang sakit karena bermain tadi? Katakan sama Mommy sayang. Jangan bikin Mommy khawatir karena tidak tahu penyebab Callie menangis seperti ini," ujar Edrea yang mulai panik sendiri.
"Hiks perkataan Mommy tadi tidak ada yang salah. Tubuh Callie juga baik-baik saja. Tapi hati Callie yang sedang tidak baik-baik saja sekarang, hiks," ucap Callie dengan memegang dadanya.
"Hah? Hati? memangnya hati Callie kenapa? Callie ada riwayat penyakit hati kah?" tanya Edrea yang belum paham dengan maksud ucapan dari Callie tadi.
"Hiks, bukan itu Mommy. Hati Callie sakit itu bukan karena penyakit melainkan hati Callie sakit saat melihat wajah Mommy penuh keringat seperti ini ditambah dengan keluh kesah Mommy tadi. Hiks Mommy, maafin Callie yang sudah bikin Mommy kecapekan seperti ini, huwaaaaa!" tangis Callie semakin kencang hingga membuat Edrea menutup kedua telinganya itu.
"Sudah-sudah sayang. Jangan nangis lagi ya, Mommy maafin Callie. Tapi izinkan Mommy buat istirahat dulu ya dan kalau Mommy sudah tidak capek lagi, kita lanjut bermain lagi," ujar Edrea penuh dengan permohonan.
"Callie tidak mau bermain seperti tadi lagi karena dengan permainan tadi, Mommy jadi kelelahan seperti ini," tutur Callie.
"Baiklah kalau Callie sudah tidak mau bermain seperti tadi, Mommy ngikut aja. Terserah lah Callie mau bermain apa yang terpenting saat Mommy ataupun Callie merasa lelah, kita harus istirahat dulu. Callie setuju kan?" ucap Edrea diakhiri dengan ia mengulurkan jari kelingkingnya disamping tubuh Callie yang masih bergelayut manja di tubuhnya.
Dan uluran tangan dari Edrea tadi langsung disambar oleh Callie yang sekarang melingkarkan jari kelingkingnya di jari kelingking milik sang Mommy.
"Callie janji. Jika Callie melihat Mommy sudah kecapekan seperti saat ini, Callie akan menghentikan permainan yang kita lakukan itu dan tidak akan memaksakan Mommy untuk terus bermain jika Mommy sudah lelah seperti yang Callie lakukan tadi," ucap Callie yang membuat Edrea kini menampilkan senyumannya.
"Good girl. Kalau kayak gini kan baru anaknya Mommy Edrea. Dan jika Callie sudah berjanji sama Mommy, Callie tidak boleh menangis lagi," tutur Edrea dengan melepaskan pelukan Callie tersebut dari tubuhnya dan setelahnya tangannya bergerak untuk menghapus air mata anak perempuannya itu.
"Sudah ya jangan menangis lagi. Kalau Callie menangis, nanti kecantikan Callie akan hilang lho. Memangnya Callie mau jadi jelek?" ujar Edrea yang langsung membuat Callie menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Callie tidak mau jadi jelek," ucap Callie dengan mengusap matanya dengan kasar.
Dan disaat sepasang ibu dan anak itu tengah menyalurkan kehangatan dan kekuatan satu sama lain, berbeda dengan Leon yang sekarang justru tengah mengeluarkan aura mengerikan di dalam ruang kerjanya dengan pikiran yang terus melayang kemana-mana.
Dan pikirannya itu buyar saat telinganya menangkap suara ketukan yang timbul dari pintu ruang kerjanya tersebut.
"Masuk!" perintah Leon dari dalam. Dan beberapa saat setelahnya pintu itu terbuka dan memperlihatkan dua orang berbadan tegap mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan tersebut.
"Ada yang bisa kita bantu tuan?" tanya salah satu bodyguard yang sudah tegap berdiri dihadapan Leon.
Leon yang mendapat pertanyaan itu pun kini ia berdiri dari duduknya lalu setelahnya ia berjalan hingga ia sampai di depan dua orang tersebut.
"Apa anggota kalian bisa mengikuti seseorang tanpa orang itu sendiri mengetahui keberadaan kalian?" tanya Leon sembari menyenderkan tubuhnya di ujung meja kerjanya.
"Untuk masalah itu, kita bisa melakukannya tuan," jawab salah satu bodyguard tersebut dengan penuh keyakinan.
"Baiklah kalau begitu saya langsung bisa memberikan tugas untuk kalian juga anggota kalian. Tapi tugas kali ini usahakan jangan sampai ada yang teledor. Jika kalian teledor dan mengakibatkan seseorang yang akan kalian jaga ini terluka, kalian akan berurusan langsung dengan saya. Mengerti!" ucap Leon.
"Siap, mengerti tuan!" tutur mereka berdua dengan tegas.
"Bagus. Dan tugas kalian mulai dari besok adalah menjaga perempuan yang sangat saya cintai," ujar Leon.
__ADS_1
"Maksud tuan, kita harus menjaga nona Callie? tapi bukannya nona Callie sudah memiliki bodyguard pribadi yang jumlahnya puluhan? Kenapa harus di tambah lagi? Apa kinerja dari para bodyguard itu tidak begitu baik dan tidak memberikan kepuasan kepada tuan?" tanya bodyguard satunya lagi.
"Bukan, bukan Callie yang saya maksud tapi Edrea. Kalian tau kan Edrea itu siapa?" tanya Leon untuk memastikan jika kedua bodyguardnya itu tau siapa Edrea dan jika mereka melakukan tugasnya yang dia berika tadi, mereka tidak akan salah orang.
"Oh nyonya muda Edrea. Tentu saja kita tau dong tuan. Perempuan muda yang merupakan Mommy dari nona Callie sekaligus kekasih dari tuan yang sekarang tengah bermain dengan nona Callie di ruang keluarga," tutur bodyguard tersebut yang langsung mendapat acungan jempol dari Leon.
"Tepat sekali. Nah kalian saya tugaskan untuk menjaga dia. Pastikan jika dia selalu aman dimanapun dia berada. Dan kalian jangan lupa saat kalian menjalankan tugas kalian nanti, selalu beri laporan ke saya. Apalagi jika kalian tengah mencurigai seseorang yang berniat jahat kepadanya, saya harap salah satu dari kalian langsung menghubungi saya dan kita akan bersama-sama menangkap orang tadi," ucap Leon.
"Baik tuan, apapun yang tuan perintahkan ke kita, kita akan melakukannya dengan sebaik mungkin," tutur bodyguard itu.
"Kalau kalian sudah paham dengan tugas kalian, kalian bisa langsung pergi dari sini," ujar Leon. Dan tanpa basa-basi ataupun menunggu Leon mengucapkan perkataan yang sama, kedua bodyguard tersebut segara keluar dari ruang kerja Leon.
Dan saat pintu tersebut kembali tertutup, Leon langsung menuju kearah ponselnya dan dengan gesit ia mencari nomor seseorang.
📞 : "Yuhuuuuuu, ada babang Jojo disini. Ada yang bisa babang bantu? tapi kalau bisa jangan minta bantuan untuk hari ini, tenaga babang belum pulih sepenuhnya soalnya," ujar Jojo yang tadi juga turut terlibat dalam kejadian sebelumnya.
"Bacot lo! Lo mau bantu gue atau tidak. Gue gak peduli, yang penting saat gue minat kejelasan tentang masalah ini, lo bisa jawab dengan detail," ucap Leon yang langsung bisa mendengar helaan nafas dari sebrang.
📞 : "Ck, ya udah ya udah gue merubah ucapan gue tadi yang penting ada imbalannya," ujar Jojo.
"Memangnya kalau gue minta bantuan sama lo, gue gak kasih uang jajan gitu sama lo?" tanya Leon.
📞 : "Hehehehe gak juga sih. Lo selalu kasih uang buat imbalannya."
"Nah itu tau," ujar Leon.
📞 : "Iya-iya maaf, dari tadi perasaan gue salah terus dimata lo," keluh Jojo.
"Bodoamat. Dan perlu lo tau, gue telepon lo ini bukan untuk haha hihi aja. Tapi gue minat tolong sama lo untuk mencari tau siapa dalang dari kejadian yang menimpa Edrea dan Zea tadi," ucap Leon.
📞 : "Lah lo belum tau dalangnya?" tanya Jojo tak percaya.
"Memangnya lo udah tau?" tanya balik Leon.
📞 : "Enggak juga sih. Tapi gue pikir lo udah tau dalangnya. Ternyata belum tho. Tapi maaf-maaf nih ya El, menurut insting gue nih ya, kejadian yang menimpa Edrea dan Zea tadi memiliki dalang yang sama dengan dalang dalam penyerangan disekolah tadi. Dan kemungkinan dalang itu adalah orang terdekat lo, ya lo paham lah ya siapa yang gue maksud ini," ucap Jojo.
"Rea sih juga menganggap kalau dalangnya itu satu orang yang sama. Bahkan bukan cuma lo aja yang curiga sama mereka, melainkan gue sendiri juga menebak jika semua kejadian tadi karena ulah mereka. Dan perlu lo tau Jo, penyerangan disekolahan tadi itu memang ulah dia," ujar Leon yang tampak frustasi.
📞 : "Nah kan, gue tadi juga menebak seperti itu. Ditambah gue tadi lihat helikopter yang mereka gunakan tadi tidak asing dan sangat familiar banget sama gue. Makanya gak heran kalau gue langsung curiga sama oknum-oknum menyebalkan itu. Maaf ya El, gue nyebut mereka menyebalkan karena yang gue ucapkan tadi memang kenyataannya," tutur Jojo.
"Gue gak peduli lo menyebut mereka dengan apapun Jo. Karena gue bukan siapa-siapa mereka lagi. Tapi untuk memastikan tuduhan kita itu benar, lo sekarang cari tau tentang dibalik kejadian yang melibatkan Edrea dan Zea," ucap Leon.
📞 : "Baiklah gue akan mencoba cari tau tentang kejadian itu. Tapi jangan terlalu berharap sama gue karena lo tau sendiri kan, bagaimana susahnya menebus pertahanan mereka jika benar mereka adalah pelakunya," tutur Jojo yang sebenarnya ragu untuk menjalankan tugas dari Leon tadi.
"Iya gue juga paham itu. Yang penting lo selalu kasih kabar ke gue untuk update perkembangan dari investigasi lo," ujar Leon.
__ADS_1
📞 : "Iya, gue akan usahakan."
"Ya sudah kalau begitu gue tutup dulu. Thanks karena lo sudah mau bantuin gue," ucap Leon yang hanya mendapat deheman dari Jojo. Dan setelahnya Leon kini menutup sambungan telepon tersebut saat tak ada lagi hal yang perlu ia sampai kepada temannya itu.