The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 283


__ADS_3

"Ck, gue gak minta pendapat lo. Lo mau setuju atau gak kalau Kak Vivian mau mah langsung gas aja," ujar Erland yang masih kekeuh dengan pendiriannya.


πŸ“ž : "Gue gak peduli yang terpenting gue gak akan pernah kasih restu ke kalian jika hal itu terjadi," ucap Zico.


"Gak dapat restu dari lo, gak masalah," tutur Erland.


πŸ“ž : "Gue adik dia, Er. Restu gue penting. Walaupun pada ujungnya gue tetap kasih restu ke hubungan kalian, dunia dan seisinya tidak akan pernah merestui hubungan kalian, bahkan Tuhan sekalipun," ujar Zico dengan nada tinggi.


Erland yang penasaran dengan alasan Zico sampai berucap seperti itu, ia kini menatap laki-laki tersebut dengan tatapan intimidasinya.


"Alasan lo ngomong gitu apa? Kita berdua bukan saudara kandung, bukan juga saudara sepersusuan, kita sama-sama jomblo, belum beristri ataupun bersuami, bahkan agama kita juga sama. Kalau masalah umur Kak Vi lebih dewasa dari gue, ya apa masalahnya? toh banyak pasangan di luar sana ceweknya lebih berumur dari lakinya, hubungan mereka juga awet-awet saja sampai kakek nenek. Lagian tuhan juga bakal restuin kita berdua karena niat kita baik sekaligus untuk melengkapi ibadah kita di dunia. Jadi dimana masalahnya sampai alam semesta gak kasih restu untuk hubungan kita berdua? Kasih alasan yang spesifik!" tutur Erland.


Zico tampak terdiam, bahkan ia tampak memikirkan sesuatu dan itu terlihat jelas di mata Erland.


"Zic, lo masih bisa ngomong kan? Kalau masih bisa cepat katakan alasan yang logis kenapa tuhan juga menentang hubungan gue sama Kakak lo!" ujar Erland tak sabaran.


πŸ“ž : "Banyak alasan yang gak bisa gue sebutin sekarang. Alasan yang jauh dari pikiran kalian dan alasan yang berada di luar nalar kalian," ucap Zico.


"Ck, gak jelas lo! Pokoknya niatan gue tadi gak akan gue batalkan titik," tutur Erland tanpa pikir panjang.


Sedangkan Vivian yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik dari Zico kini ia mengerutkan keningnya. Tampaknya ia mencurigai jika Zico tengah menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Tapi karena ia tak ingin membahas hal tersebut saat Erland masih ada di kamarnya, Vivian dengan terpaksa harus menahan semua pertanyaan yang ada di dalam pikirannya saat ini. Dan untuk mengalihkan semua pikiran tersebut, Vivian mulai angkat suara kembali.


"Sudah cukup! Erland, kamu keluar sekarang," usir Vivian.


"Gak mau. Gue masih mau disini nemenin calon bini," ujar Erland yang justru kembali merebahkan tubuhnya.


"Memangnya aku sudah mensetujui ajakan kamu tadi?"


"Oh tentu saja setuju lah. Perempuan mana coba yang gak mau nikah sama laki-laki modelnya seperti gue ini. Udah tampan, pintar, mapan lagi. Kurangnya dimana coba?" ucap Erland yang membuat Vivian menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Aku gak akan terima ajakan kamu tadi. Jadi sekarang pergi dari sini. Dan apa kamu tidak sadar jika kamu saat ini sudah telat masuk sekolah?" ujar Vivian yang membuat Erland langsung mendudukkan tubuhnya.


"Serius lo? Sekarang jam berapa? kasih tau gue!" tutur Erland panik.


"Tuh, lihat sendiri." Vivian menunjuk kearah jam dinding yang menempel di kamarnya. Dan Erland kini mengikuti arah tunjuk Vivian.


"Astaga! Sudah jam setengah 8. Kenapa gak bilang dari tadi sih kalau gue udah telat ke sekolah. Ck, ngalamat kena omel ibu negara nanti," ujar Erland dan cepat ia kini bergegas keluar dari kamar tersebut. Tanpa memperdulikan perkata Vivian yang menolaknya tadi.


Sedangkan Vivian yang melihat hal tersebut pun kini ia tertawa terbahak-bahak.


πŸ“ž : "Kak," panggil Zico yang berhasil membuat Vivian mengehentikan tawanya.


"Iya, kenapa sayang?" tanya Vivian sembari menyeka air matanya yang keluar akibat kebanyakan tertawa.


πŸ“ž : "Kakak suka sama Erland?" tanya Zico penuh dengan kewaspadaan.


"Hah? Gimana? Kakak suka sama anak bau kencur itu? Yang benar saja. Bukannya kamu sudah hafal kriteria pasangan Kakak seperti apa?" tanya Vivian yang tampak di balas anggukan kepala oleh Zico.


Sedangkan Vivian, ia kini menatap lekat saat pertanyaan yang sempat terpendam tadi kembali muncul di otaknya.


"Tapi sayang, Kakak mau tanya sesuatu sama kamu. Boleh kan?" tanya Vivian lembut.


πŸ“ž : "Silahkan Kak, mau tanya apa?" ucap Zico.


"Tapi sebelumnya, kamu tatapan mata Kakak," ujar Vivian yang langsung di turuti oleh Zico. Dan setelah tatapan keduanya bertemu, tatapan Vivian yang tadinya soft kini berubah menjadi tatapan mengintimidasi.


"Katakan sama Kakak, alasan kamu benar-benar menolak lamaran Erland untuk Kakak tadi? Dan maksud dari ucapan kamu tadi tentang, jika kita berdua tetap bersama, alam semesta dan tuhan tidak merestui kita?" ujar Vivian.


Zico yang mendapat pertanyaan tersebut, terlihat wajahnya mulai menegang dan sebisa mungkin ia mengalihkan pandangannya dari Vivian.

__ADS_1


"Jio, katakan," tutur Vivian yang menuntut kejelasan.


πŸ“ž : "Hufttt, baiklah Jio akan kasih tau alasan kenapa Jio menolak lamaran Erland untuk Kakak tadi. Yang pertama, Jio adalah adik Kakak, keluarga Kakak satu-satunya dan jika Kakak menikah nanti yang akan menjadi walinya adalah Jio sendiri. Dan restu dari Jio itu sangat penting untuk hubungan Kakak. Yang kedua, Jio sebenarnya membantu Kakak untuk menolak ajakan Erland tadi karena Jio tau Erland bukan tipe Kakak sama sekali. Jadi daripada Kakak nanti repot-repot nolak dia dan mencari alasan untuk menolak dia, lebih baik Jio yang bergerak. Dan untuk maksud dari perkataan Jio tentang restu tuhan dan sebagainya, itu sebenarnya hanya untuk mendukung perkataan dari Jio sebelumnya," ujar Zico.


"Kamu yakin hanya itu saja alasannya? Tidak ada suatu hal yang kamu sembunyikan dari Kakak?" tanya Vivian yang masih mencurigai Zico.


πŸ“ž : "Y---ya tentu saja. Memangnya alasan apa lagi yang harus Jio katakan? Hanya itu saja yang ada di benak Jio dari tadi. Dan apa Kakak tidak percaya dengan apa yang aku katakan itu? Padahal Jio jujur lho, tapi masih saja Kakak curigai. Ck, menyebalkan sekali," ucap Zico diakhiri dengan ia mengerutkan bibirnya. Dan hal tersebut membuat Vivian mengusap wajahnya dengan kasar.


"Baiklah Kakak percaya sama kamu. Tapi Kakak ingatkan sekali lagi, jika Jio ketahuan berbohong bahkan sampai menyembunyikan sesuatu dari Kakak, Kakak akan marah sama Jio dan tidak akan pernah memaafkan jika Jio meminta maaf dengan Kakak. Jio mengerti kan?" tutur Vivian.


πŸ“ž : "Iya Kak, Jio mengerti," ujar Zico.


"Ya sudah kalau gitu, teleponnya Kakak tutup dulu ya. Kakak masih ada sedikit pekerjaan soalnya. Dan kalau pekerjaan Kakak sudah selesai, Kakak hubungi kamu lagi nanti. Baik-baik disana sayang. Jaga pola istirahatnya. Dan Kakak tunggu kepulanganmu. Miss you little boy," ucap Vivian yang membuat Zico tersenyum.


πŸ“ž : "Miss you too Kak. Semangat kerjanya. Jangan lupa istirahat juga. Bye," ucap Zico sembari melambaikan tangannya ke depan layar. Sebelum akhirnya sambungan telepon dari keduanya kini terputus.


Dan setelah putusnya sambungan telepon tadi, Vivian langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


"Kakak tau kamu tengah menyembunyikan sesuatu dari Kakak, Jio. Tapi Kakak juga tidak bisa memaksa kamu untuk mengatakan hal itu. Dan Kakak harap suatu saat nanti kamu bisa mengatakan sesuatu yang kamu sembunyikan itu tanpa paksaan siapapun," gumam Vivian dengan tatapan lurus kearah langit-langit kamarnya.


Sedangkan Zico yang berada di negara berbeda dengan Vivian, ia kini mengusap wajahnya dengan kasar.


"Maafkan Jio Kak. Jio terlalu takut untuk mengungkapkan kebenaran yang Jio tau sekarang. Jio takut saat Kakak mengetahui hal itu, Kakak akan meninggalkan Jio sendirian. Jio tidak mau hidup sendiri Kak. Jio masih membutuhkan Kakak di hidup Jio untuk selamanya," gumam Zico dengan air mata yang mengalir saat dirinya membayangkan dirinya hidup sendiri dalam kesunyian dan hanya bisa melihat kehidupan keluarga yang penuh dengan kehangatan tanpa ia merasakan hal itu terjadi padanya.


...****************...


Ehemmm tes tes satu dua... Author mau tanya dong, misteri yang belum terungkap tuh apa aja? Maklum authornya lagi ngelag soalnya 🀭 Dan aku bakal kasih spoiler dikit tentang rahasia yang Zico sembunyikan. Rahasia itu kemungkinan akan terungkap di akhir eps cerita ini. Maka dari itu aku mau menyelesaikan misteri lain yang belum terselesaikan, entah tentang Edrea, Azlan, Erland, Leon, Kayla, Puri atau apapun yang masih menjadi misteri 🀭Tolong di maklumi ya guysπŸ€—


Jangan lupa LIKE, KOMEN, KASIH HADIAH dan VOTE yang banyak ya. Dan kalau bisa eps ini likenya sampai 500 sebelum buka puasa. Kalau sampai target besok aku kasih double up lagi.

__ADS_1


See you next eps bye πŸ‘‹


__ADS_2