
Setelah berganti pakaian dan menghubungi semua akses anak buahnya, Azlan dan Erland kini sudah kembali ke lantai bawah untuk menenangkan Mommy Della yang sudah mulai meneteskan air mata.
"Mom, tenang dulu ya. Teman-teman Azlan dan Erland udah bantu buat cari Rea," ucap Azlan yang masih mencoba menenangkan Mommy Della.
"Hiks Rea, Az. Hiks dia dimana sekarang?" tutur Mommy Della dengan tangis yang terdengar sangat memilukan. Azlan yang tak tega pun langsung merengkuh tubuh Mommy Della untuk ia peluk.
"Mom harus percaya kalau Rea baik-baik aja di luar sana. Rea nanti malam akan pulang Mom. Mom tenang oke," ucap Erland sembari mengelus punggung Mommynya. Tapi ucapan dari kedua anak laki-lakinya itu tak mampu membuat hati seorang ibu tenang dan berhenti untuk tak memikirkan keadaan anaknya yang entah sekarang ada dimana. Bahkan semakin kedua anaknya itu menenangkannya maka rasa khawatirnya semakin bertambah.
Saat mereka bertiga berada di pikiran mereka masing-masing, terdengar suara dering telepon Erland berbunyi.
Erland pun segera menyambar ponselnya kemudian segera ia menjauh dari Mommy Della dan Azlan. Setelah dirasa suaranya tak akan di dengar oleh keduanya, Erland segera mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Halo. Gimana? apa Rea sekarang lagi bersama dengan teman-teman sekolahnya?" tanya Erland to the point kepada Leon.
Terdengar helaan nafas dari sebrang yang Erland sudah tau pasti jawabannya tak memuaskan dirinya.
📞 : "Gue udah hubungi teman-teman Rea yang sekiranya dekat sama dia tapi tak ada satu pun yang tau keberadaan Rea sekarang. Dan gue tadi juga nyuruh mereka buat tanya yang lain dan hasilnya sama. Tak ada yang tau Rea dimana sekarang," jawab Leon.
"Arkhhhh, Lo sekarang ada dimana sih Rea!" geram Erland yang masih dapat di dengar oleh Leon dari sebrang.
📞 : "Lo tenang dulu. Kasihan Mommy kalau lihat lo lagi khawatir kayak gini."
"Gue khawatir Leon. Adik gue satu-satunya dia sekarang dimana? Sama siapa? apa dia baik-baik saja? Gue gak bisa tenang," tutur Erland dengan suara yang bergetar bahkan air mata yang sedari tadi ia tahan kini menetes juga. Jangan heran dibalik sifatnya yang dingin dan tak tersentuh itu masih ada sisi lemah lembutnya. Dan kalau urusan keluarga ia tak bisa untuk tetap kuat. Dia adalah orang prtama yang akan selalu lemah jika menyangkut keluarganya.
📞 : "Gue tau Er. Gue juga ngerasain apa yang lagi lo rasain sekarang. Tapi apa dengan kita khawatirin dia dengan berlebihan akan buat dia langsung balik gitu aja? gak Er, gak sama sekali. Jadi gue mohon demi Mommy dan Rea, Lo jangan lemah. Gue udah kerahin semua anak buah gue buat cari Rea. Dan gue harap lo kasih kabar tentang hilangnya Rea ke Daddy Aiden. Karena gue yakin lo pasti belum kasih kabar ke Daddy kan?"
Erland terdiam. Memang benar dia belum memberi tahu tentang hilangnya Edrea ke Daddynya. Karena saking khawatirnya ia sampai melupakan sang Daddy. Dan mungkin dengan bantuan Daddy nanti Edrea bisa segera ditemukan.
"Habis ini gue telepon Daddy. Thanks karena Lo udah bantuin cari Rea. Kalau nanti ada tanda-tanda Rea, gue mohon sama lo buat kabarin gue atau bang Az juga gak masalah," tutur Erland sembari menghapus air matanya.
__ADS_1
📞 : "Gak usah minta maaf karena Edrea juga merupakan tanggungjawab gue. Gue sebisa mungkin juga akan terjun langsung buat mantau anak buah gue buat cari Rea. Gue tutup dulu teleponnya. Jangan lupa telepon Daddy Aiden."
"Hmmm. Sekali lagi thanks."
Kini sambungan telepon keduanya terputus dan setelah itu Erland langsung mencari nomor telepon Daddy Aiden dan setelah menemukannya ia langsung menghubungi Daddy Aiden.
Terdengar sambungan telepon tapi tak segera diangkat oleh sang empu hingga sambung telepon tersebut terputus tanpa ada jawaban. Erland menghela nafas, jangan sampai Daddynya itu menambah emosi dirinya gara-gara teleponnya tak kunjung diangkat. Walaupun ia tau Daddynya hari ini sangat sibuk dengan berbagai meeting bersama kolega-koleganya hingga membuat dirinya hari ini telat untuk pulang ke rumah.
Erland mencoba menghubungi Daddy Aiden untuk kedua kalinya tapi masih sama, tak ada jawaban dari sang Daddy hingga membuat dirinya menjambak rambutnya frustrasi.
"Sekali lagi, kalau Daddy gak angkat telepon Erland. Lihat aja nanti apa yang akan Erland lakuin ke Daddy," gumam Erland kemudian ia kembali menghubungi Daddy Aiden untuk ketiga kalinya.
Dan untungnya, Daddy Aiden kini langsung mengangkat teleponnya.
📞 : "Halo, assalamualaikum. Ada apa telepon Daddy terus?" tanya Daddy Aiden dari sebrang.
📞 : "Erland. Kamu kenapa telepon Daddy?"
"Dad." Satu kata yang hanya bisa keluar dari bibir Erland.
📞 : "Apa sih gak jelas banget kamu ini? Kalau gak ada yang penting Daddy matiin teleponnya. Daddy mau meeting lagi soalnya. Dan mungkin 2 jam lagi Daddy baru pulang. Bilangin ke Mom sekalian. Kalau Mom mau nitip sesuatu suruh buat WA Daddy nanti. Udah dulu ya Daddy---" ucapan Daddy Aiden menggantung saat Erland akhirnya mengangkat suaranya.
"Bentar dulu Dad. Erland mau ngomong dan Erland mau ngasih tau Daddy kalau Rea sampai sekarang belum pulang," ucap Erland.
📞 : "Ck, kamu itu kayak gak tau Rea aja sih Er. Dia belum pulang paling juga lagi main sama temannya," tutur Daddy Aiden dengan suara yang terdengar masih tenang.
"Tapi masalahnya gak ada satu pun temannya yang sama dia dan tau keberadaan dia sekarang. Dan Erland yakin, kalau Rea sekarang lagi di culik."
📞 : "Oh diculik."
__ADS_1
Erland mengerutkan keningnya kenapa respon Daddynya itu sangat santai sekali. Apa dia sudah tau masalah ini?
Tapi sedetik kemudian suara melengking Daddy Aiden mengkagetkan dirinya.
📞 : "Hah apa? Rea diculik? Kok bisa?" teriak Daddy Aiden yang membuat Erland refleks menjauhkan ponselnya dan menggosok telinganya yang tengah berdengung itu.
"Ck, Kirain udah tau ternyata zonk," batin Erland.
📞 : "Erland!" teriak Daddy Aiden yang membuat Erland kembali mendekatkan ponselnya di telinganya.
"Please Dad jangan teriak-teriak. Erland belum budek," geram Erland.
📞 : "Ck, Dad gak peduli. Kasih tau sekarang gimana bisa Rea diculik?"
"Erland juga gak tau. Kata Mom, tadi pagi pukul 10 Rea WA Mommy kalau mau pulang tapi sampai sekarang itu anak belum juga nyampe dirumah," jelas Erland dan terdengar helaan kasar dari sebrang.
📞 : "Mommy kamu sekarang gimana?"
"Mom dari tadi nangis. Erland sama bang Az udah coba buat tenangin Mom tapi gak ada hasilnya malah tambah nangis."
📞 : "Ya udah kalau gitu kamu coba tenangin lagi Mommy kamu. Dad otw pulang sekarang," ucap Daddy Aiden setelah itu sambungan telepon tersebut diputus oleh Daddy Aiden tanpa menunggu persetujuan dari Erland terlebih dahulu.
"Haish kebiasaan," gumam Erland sembari menatap layar ponselnya setelah itu ia kembali menyimpan ponselnya kedalam saku celananya dan ia segera kembali ke ruang tamu.
Sedangkan Daddy Aiden kini dengan langkah lebarnya keluar dari ruang CEO.
Dan setelah keluar, ia langsung menuju ke ruangan sekertarisnya.
"Batalkan acara meeting sore ini!" suara tegas dan tak terbantahkan membuat sekertaris itu hanya bisa mengangguk walaupun nantinya dia akan pusing sendiri mencari alasan untuk menjelaskan ke kolega Aiden tersebut. Setelah itu Daddy Aiden dengan berlari kecil menuju lift khusus untuknya. Pikirannya sekarang mengarah ke tiga hal yaitu ia harus segera sampai dirumah dan mencari keberadaan putri satu-satunya itu yang entah dimana, di tambah ia harus menenangkan istrinya.
__ADS_1