The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 46


__ADS_3

Di dalam perjalanan mengantar Zea pulang kerumah, Azlan tak membuka suara sedikitpun begitu juga dengan Zea yang ingin sekali membuat obrolan tapi ia takut jika Azlan masih marah dengannya.


"Gak enak juga di dalam mobil berdua tapi gak saling bicara," batin Zea. Lalu ia pun menghela nafas dan dengan membaca basmalah akhirnya Zea memberanikan dirinya untuk membuka suara.


"Az," panggil Zea.


"Hmmm," jawab Azlan hanya dengan deheman dan matanya masih saja fokus kearah jalan di depannya.


"Pinjam hp lo bentar boleh?" Izin Zea.


"Buat apa?" tanya Azlan dingin.


Zea mengigit bibir bawahnya, jika dia berkata ingin menghapus foto dirinya dan juga Azlan tadi takutnya Azlan semakin murka. Tapi jika foto itu tak dihapus olehnya, Azlan nanti akan membencinya. Arkh Zea sekarang dilanda dengan dilema.


Sesaat Zea berfikir dan setelah mendapatkan alasan yang masuk akal, ia kemudian menimpali ucapan Azlan tadi.


"Mau ngirim foto gue tadi," ucap Zea.


Azlan terdiam tak menjawab ucapan dari Zea.


"Az," panggil Zea yang tak mendapatkan respon dari Azlan.


"Azlan!!!" teriaknya sebal.


"Sampai," ucap Azlan tiba-tiba berhenti di salah satu restauran.


Zea mengatupkan mulutnya, ia tak berani berteriak lagi saat mobil Azlan terlah berhenti.


"Lah kenapa kita kesini?" tanya Zea.


"Makan," jawab Azlan dengan cuek setelah itu ia melepas seat beltnya dan keluar dari mobilnya. Kemudian ia melenggang masuk kedalam restauran tersebut meninggalkan Zea yang masih di dalam mobil.


"Woy elah gue ditinggalin," geram Zea sembari menyusul langkah Azlan tadi.


Saat keduanya sudah masuk kedalam restauran tersebut, nampak mata mereka mencari kursi kosong disana.


"Disini penuh Az. Gak ada kursi yang kosong. Apa kita lesehan aja? kayaknya enak juga tuh lesehan sambil makan pecel lele," ucap Zea yang malah membayangkan makanan di pinggir jalan.


"Pindah aja yuk Az ke warung pinggir jalan langganan gue. Gue jamin rasanya gak kalah sama masakan koki internasional. Gue juga rindu udah lama gak makan disana. Lo mau kan? dari pada disini udah penuh makanannya juga dikit, mahal pula," sambung Zea.

__ADS_1


Azlan menghela nafas dan tanpa menimpali ucapan dari Zea, ia beranjak kembali ke luar restauran dan segera masuk kedalam mobil yang terparkir di depan restauran tersebut.


"Tuh orang hobi banget ninggalin gue," tutur Zea dengan kerucutan di bibirnya dan juga hentakkan kakinya seperti anak kecil yang tengah merajuk sebelum ia menyusul Azlan yang untungnya belum meninggalkan dirinya.


Saat Zea telah masuk ke dalam mobil, Azlan langsung tancap gas.


Lagi-lagi hanya ada kesunyian di dalam mobil tersebut dan juga sesekali terdengar gerutuan Zea karena ulah Azlan tadi.


Azlan melirik sekilas kearah Zea, ingin sekali ia tertawa melihat Zea yang tengah komat-kamit dengan bibir yang mengerucut. Tapi ia memilih untuk menahan tawanya dan tetap mempertahankan wajah datarnya.


"Dimana warung lesehan yang lo sebut tadi?" tanya Azlan tiba-tiba yang membuat Zea berhenti menggerutu dan menatap Azlan dengan mata berbinar.


"Lo serius mau makan di emperan jalan?" bukannya menjawab, Zea malah bertanya balik.


"Jangan banyak tanya. Kasih tau sekarang sebelum gue berubah pikiran," ucap Azlan.


Zea menutup mulutnya dan berganti dengan senyum manis beserta anggukan kepala.


Tak lama, akhirnya mereka berdua sampai di salah satu warung lesehan pinggir jalan yang dimaksud oleh Zea tadi. Dengan antusias Zea keluar lebih dulu dari pada Azlan dan segera menghampiri penjual di warung tersebut.


Azlan yang melihat ke antusiasan Zea pun tersenyum dan menyusul Zea yang masih asik antri untuk pesan makanan.


"Lo duduk aja Az biar gue yang antri. Lo mau makan apa? Biar gue yang pesanin nanti," ucap Zea.


Sembari menunggu Zea kembali dengan pesanan mereka berdua, Azlan dengan sengaja melihat galeri foto di ponselnya. Sudut bibirnya kini terangkat saat mendapati salah satu foto dirinya dengan Zea.


"Lo ngapain senyum-senyum sendiri, kesambet lo?" tanya Zea yang tiba-tiba muncul di hadapan Azlan dan membuat sang empu langsung menyembunyikan ponselnya.


"Mana makanannya?" tanya Azlan mengalihkan perhatian dari Zea.


"Masih di buatin bentar lagi juga datang," jawab Zea yang sudah duduk berhadapan dengan Azlan.


"Oh iya Az, pinjam hp lo bentar dong," sambung Zea yang masih berusaha untuk menghapus foto mereka tadi.


"Buat?"


"Kan udah gue bilang tadi di mobil kalau gue mau kirim foto gue."


"Nomor WA lo." Zea mengerutkan keningnya tak paham dengan ucapan Azlan tadi.

__ADS_1


"Maksud lo?"


"Gue kirim foto lo lewat WA," jawab Azlan.


"Ya udah siniin hp lo biar gue tulis nomornya."


"Hp lo aja siniin." Zea menghela nafas, susah emang kalau berurusan dengan Azlan kalau mau jujur ia takut tapi kalau gak jujur ribet.


Dan dengan terpaksa, Zea menyerahkan ponselnya kearah Azlan yang langsung diterima oleh sang empu.


"Sandi?" tanya Azlan saat tak bisa membuka ponsel Zea.


"Ultah gue," jawab Zea.


"Gue gak tau ultah lo."


Zea tampak berdecak.


"Ck, makannya cari tau. 14 Februari 2004. Tulis aja pakai angka semua kecuali tahunnya hanya di tulis dua angka akhir," tutur Zea.


"Gue tau," ucap Azlan. Zea mencebikkan bibirnya, kalau tau kenapa tanya? batinnya.


Saat Azlan tengah sibuk dengan ponsel milik Zea, saat itu pula pesanan mereka telah jadi dan di antarkan ke meja mereka.


"Gebetan baru nih kayaknya," ucap pelayan yang masih terbilang muda dan juga sudah akrab dengan Zea.


"Cuma teman. Gebetan skip aja lah, karena gue maunya yang langsung nikah, pacarannya habis nikah pasti seru tuh," jawab Zea dengan gurauan.


"Wah boleh nih. Gimana kalau gue yang nikahin lo tapi nunggu lo lulus dulu?" tuturnya bercanda.


"Boleh juga tuh. Gas aja lah ke KUA," jawab Zea dengan candaan juga.


Azlan yang tadinya diam, sibuk dengan kedua ponsel dihadapannya tiba-tiba mendengar persetujuan dari Zea tadi, wajahnya yang tadinya menunduk kini menatap Zea dan juga pelayan tadi secara bergantian bahkan tatapan tajamnya ia layangkan ke arah pelayan laki-laki tersebut yang masih tertawa dengan Zea.


Pria tadi menghentikan tawanya saat matanya tak sengaja saling pandang dengan tatapan mematikan dari Azlan.


"Ze, gue balik kerja dulu lah. Dan masalah tadi cuma candaan aja jangan di pikir serius," ucap pria itu yang sebenarnya ia tujukan kepada Azlan.


"Iya-iya gue tau itu bercanda. Ya udah sana gih balik kerja tar di marahin bos lo lagi," tutur Zea.

__ADS_1


Pria tadi mengangguk dan segera beranjak dari meja Azlan dan Zea.


"Semangat!!!" teriak Zea. Pria tadi sempat menoleh dan tersenyum sebagai balasan atas semangat dari Zea tadi.


__ADS_2