The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 326


__ADS_3

Waktu terus berputar dan kini tepat satu minggu Leon tersadar dari komanya dan kini rencananya Leon sudah diperbolehkan pulang kembali ke rumah.


"Udah semua?" tanya Leon sembari mendekati Edrea yang tengah sibuk mengemasi barang-barangnya yang tengah di masukkan ke koper kecil.


Edrea yang mendengar pertanyaan dari Leon tadi, ia kini menolehkan kepalanya kearah Leon.


"Sepertinya sih sudah semua. Coba aku cek sekali lagi siapa tau ada yang ketinggalan," ujar Edrea dan dengan pergerakan yang sangat cepat Edrea meneliti disetiap sudut ruangan tersebut. Dan setiap pergerakannya itu membuat Leon kini tersenyum lebar.


Hingga beberapa saat setelahnya Edrea kembali mendekati dirinya yang tengah terduduk di sofa di ruangan tersebut.


"Oke aman semua," ujar Edrea yang diangguki oleh Leon.


"Duduk sini dulu sayang," perintah Leon sembari menepuk-nepuk tempat duduk disampingnya itu. Edrea yang kebetulan tengah kelelahan pun ia langsung mendudukkan tubuhnya disamping Leon.


"Mau minum?" tawar Leon.


"Emang ada?" tanya Edrea pasalnya ia sama sekali tak melihat air mineral di ruangan tersebut sedari tadi.


"Hehehe gak ada sih. Tapi kalau kamu memang haus biar aku beliin dulu di kantin rumah sakit ini," ujar Leon dan saat dirinya berniat untuk berdiri. Edrea lebih dulu mencegahnya.


"Sudah, tidak usah. Aku bisa menahannya. Sekarang kita langsung pulang saja ya. Semua urusan administrasi juga sudah selesai kata bang Erland tadi," ucap Edrea sembari berdiri dari duduknya diikuti Leon.


"Erland juga kesini?" tanya Leon karena ia sedari tadi tak melihat Erland.


"Iya tadi. Tapi cuma ngurus administrasi saja terus sekarang udah pergi lagi," jawab Edrea sembari menyeret koper untuk ia bawa keluar.


Leon yang tak ingin Edrea tambah kelelahan pun ia segara merebut koper tersebut.


"Biar aku saja," ucap Leon saat Edrea ingin melontarkan perkataannya. Dan dengan satu tangan yang masih bergarak bebas Leon meraih tangan Edrea untuk ia genggam sebelum akhirnya mereka berdua melangkahkan kakinya meninggalkan kamar inap Leon tersebut. Hingga akhirnya mereka sampai di mobil Edrea.


"Siniin kuncinya," ucap Leon.


"Buat apa? Kan aku yang nyetir," tutur Edrea.


"Gak. Kamu udah capek ngurus persiapan buat aku pulang tadi. Jadi biar aku yang nyetir," ujar Leon.


"Gak, gak boleh. Kamu masih sakit tau, sayang. Udah ah jangan aneh-aneh kamu," tutur Edrea yang membuat Leon berdecak sebal. Lalu setelahnya tanpa ragu ia melangkahkan kakinya mendekati Edrea kemudian merebut kunci mobil tersebut dari tangan kekasihnya itu.


"El!" teriak Edrea.


"Stttt jangan berisik. Masuk sekarang juga," titah Leon sembari membukakan pintu mobil untuk Edrea.


"Masuk sayang. Apa mau aku cium dulu biar kamu mau masuk hmmm?" ucap Leon kembali saat Edrea masih saja berdiri ditempat tanpa menggerakkan kakinya untuk segara masuk kedalam mobil tersebut.


"Oh jadi beneran nih minta di cium dulu. Oke aku akan cium kamu." Leon kini bergerak menuju kearah Edrea. Tapi belum sempat ia mendekati kekasihnya itu, terdengar decakan dari bibir Edrea sebelum akhirnya ia masuk kedalam mobil dan karena sebal, Edrea sampai membanting pintu mobil tersebut yang membuat Leon hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Huh untung sayang," ucap Leon sembari menggelus dadanya. Lalu setelahnya ia segara masuk kedalam mobil tersebut dan segara menjalankannya, meninggalkan area rumah sakit tersebut.


Selama perjalanan ke rumah keluarga Abhivandya tak ada percakapan dari kedua orang tersebut karena Edrea ternyata tertidur sedangkan Leon, ia fokus ke jalanan di depannya. Hingga mobil itu kini sudah memasuki halaman rumah keluarga Abhivandya.


"Sayang, bangun," ucap Leon setelah mobil yang ia jalankan tadi berhenti. Tapi ucapan dari Leon tadi tak mampu membuat Edrea membuka matanya.


"Sayang, udah sampai. Bangun dulu yuk," ucap Leon sembari mengelus pipi Edrea. Sebenarnya ia tak ingin mengganggu tidur kekasihnya itu tapi tak mungkin kan kalau ia membiarkan Edrea tetap di dalam mobil dan melanjutkan tidurnya. Dan kalau dia ingin membopong tubuh kekasihnya itu, tubuhnya belum pulih sepenuhnya dan jika ia tetap melakukan hal tersebut ia takut nantinya akan merepotkan keluarga kekasihnya itu karena luka ditubuhnya akan kembali terbuka.

__ADS_1


"Sayang," panggil Leon yang terus mengelus pipi Edrea dan kali ini terlihat Edrea menggerakkan tubuhnya berserta gumamannya sebelum akhirnya perlahan matanya itu terbuka.


Ia mengerjab-ngerjabkan matanya, memfokuskan penglihatannya. Hingga mata itu terbuka lebar.


"Eh udah sampai ya," ucap Edrea kepada Leon yang diangguki oleh laki-laki tersebut.


"Yahhhh, maaf ya aku ketiduran tadi," ujar Edrea yang tampak menyesal.


"Tidak apa-apa sayang. Kamu juga pasti capek kan setiap hari setelah kamu pulang sekolah langsung pergi ke rumah sakit buat ngurus aku." Leon mengacak rambut Edrea sebelum dirinya melepaskan sabuk pengamannya.


"Keluar sekarang yuk. Kasihan kamunya pasti masih ngantuk. Tidurnya dilanjut saat udah di kamar," ucap Leon yang diangguki oleh Edrea.


Dan setelah mengucapkan hal tersebut Leon kini keluar dari mobilnya dikuti Edrea. Dan kepulangan dari kedua orang tadi disambut hangat oleh para bodyguard keluarga Abhivandya dan para art disana. Tapi ada salah satu bodyguard yang membuat Leon kini menghentikkan langkahnya tepat di depan bodyguard tersebut.


"Kamu," ucap Leon sembari menunjuk bodyguard tadi.


"Saya tuan?" Leon menganggukkan kepalanya.


"Bukannya kamu anak buahnya Kayla? Kenapa ada disini? Jangan coba-coba jadi penyusup ya kamu," ucap Leon dengan tatapan tajamnya. Dan sebelum Leon nanti berbuat yang macam-macam, Edrea kini mengelus lengan Leon sebelum ia angkat suara.


"Tenang dulu sayang. Dia dulu memang anak buahnya Kayla tapi itu dulu dan sekarang dia jadi pengawal pribadi Mommy. Dia juga yang menyelamatkan Mommy. Bukannya kamu waktu itu juga melihat aksi dia buat melindungi Mommy?" Leon tampak berpikir sejenak hingga seklibat bayangan di kejadian itu kembali memutar di otaknya.


"Dan kamu tau sebenarnya dia ikut Kayla itu karena terpaksa. Dia ingin keluar tapi Kayla selalu mengancam untuk melukai adiknya jika dia berniat meninggalkan pekerjaan itu. Dan saat kejadian itu dia sama sekali tidak membantu Kayla atau tuan Grissham menghabisi keluarga kita tapi dia justru menyelamatkan Mommy dan semua para pekerja disini. Dan perlu kamu tau Kayla juga sudah mati saat kejadian itu. Jadi jangan curiga apapun lagi sama dia. Dia orang baik yang dituntut untuk jahat waktu itu. Iya kan, bang," ucap Edrea diakhir dengan ia memanggil bodyguard tadi dengan sebutan Abang karena menurutnya panggilan itu cocok dengan bodyguard tadi yang umurnya tak jauh atau mungkin sama dengannya.


Bodyguard tersebut menganggukkan kepalanya untuk menimpali ucapan Edrea tadi.


"Kamu yakin sayang, dia tidak akan jadi penghianat suatu saat nanti?" Edrea memutar bola matanya malas. Kekasihnya itu memang sangat waspadaan orangnya.


"Nanti kalau dia jadi penghianat sunat aja lagi burungnya sampai habis." Ucapan dari Edrea tersebut membuat bodyguard itu langsung menutup aset pribadinya.


"Kalau sampai kamu berani berkhianat, kamu berhadapan langsung dengan saya. Paham." Bodyguard itu tampak mengangguk-anggukkan kepalanya dengan takut.


Setelah mengatakan hal tersebut, dengan menggandeng tangan kekasihnya, ia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah mewah tersebut. Dan saat mereka baru menginjakkan kakinya di dalam rumah tersebut. Teriakan Callie menggema.


"Daddy, Mommy!" Callie berlari menuju kearah kedua orang tadi yang disambut rentangan tangan dari Leon. Hingga tubuh Callie kini mendarat di pelukan Leon.


"Callie kangen sama Daddy," ucap Callie padahal baru kemarin anak itu bertemu dengan Leon tapi masih saja dia rindu dengan ayah angkatnya yang merupakan pamannya sendiri.


"Daddy juga rindu sama Callie," balas Leon sembari melepaskan pelukannya dan menghujani Callie dengan ciuman di seluruh wajah anak perempuan tersebut yang membuatnya Callie terkekeh geli.


"Udah-udah masuk dulu. Nanti lagi kangen-kangenannya," ujar Edrea yang membuat aksi Leon terhenti. Dan kini laki-laki itu membawa tubuh Callie kedalam gendongannya. Tenang saja, ia menggendong Callie lukanya tidak akan terbuka lagi.


Hingga akhirnya mereka bertiga kini duduk di ruang tamu. Dan beberapa detik setelahnya Edrea baru sadar jika anggota keluarganya tidak ada yang menampakkan batang hidungnya saat mereka berdua tadi tiba. Tidak mungkin kan mereka sibuk karena biasanya dihari weekend seperti ini keluarganya itu memilih untuk menghabiskan waktu mereka di rumah apalagi akhir-akhir ini permasalahan terus menimpa keluarga itu dan pastinya itu sangat melelahkan.


Dan dari pada Edrea menebak-nebak sendiri, Edrea kini menatap Callie yang tengah bercanda gurau dengan Leon di pangkuan laki-laki tersebut.


"Callie," panggil Edrea yang membuat dua orang tadi mengalihkan pandangannya kearah Edrea.


"Iya Mommy."


"Mommy boleh tanya kan?" Tanpa ragu Callie menganggukkan kepalanya.


"Callie di rumah sama siapa?" tanya Edrea.

__ADS_1


"Callie di rumah sama aunty baik, Uncle bodyguard, Mama sama Papa," ucap Callie dan yang dimaksud oleh aunty baik adalah art di rumah tersebut sedang yang dimaksud Mama dan Papa adalah orangtua kandung Callie. Walaupun Callie belum tau jika Alice dan Azzo adalah orangtuanya yang asli tapi Callie sudah di biasakan untuk memanggil keduanya dengan sebutan tersebut bahkan anak itu perlahan sudah mau menerima kehadiran mereka berdua.


"Terus dimana Mama, Papa kamu sekarang?" tanya Leon penasaran pasalnya ia tak melihat batang hidung kedua Kakaknya itu.


"Tadi sebelum ninggalin Callie, Papa bilang kalau mau buatin adik untuk Callie dan Callie tidak boleh mengganggu mereka," ucap Callie yang membuat Leon kini melebarkan matanya.


"Sialan mereka berdua malah ninggalin anaknya buat enak-enak. Awas saja kalian berdua," batin Leon yang terus mengumpati kedua kakak laknatnya itu.


Tapi ia juga bersyukur setidaknya mereka berdua tidak saling menaruh dendam dan bisa bersama lagi tanpa ada orang yang akan menggangu hubungan mereka lagi.


"Daddy, Mommy," panggil Callie yang membuat kedua orang tersebut yang pikirannya tengah traveling itu pun buyar seketika dan kini mereka berdua langsung menatap Callie yang juga tengah menatap kearah mereka berdua.


"Memangnya buat adik itu bagaimana? Susah ya dan harus berkonsentrasi tinggi jadi saat proses pembuatan tidak ada yang boleh mengganggunya?" tanya Callie yang seketika membuat kedua orang itu tercekat bahkan mereka bingung ingin menjawabnya bagaimana.


"Mommy, Daddy kenapa diam saja? Callie tadi kan bertanya. Kenapa tidak dijawab?" ucap Callie yang membuat dua orang itu kelimpungan sendiri.


Bahkan kini Edrea menyenggol lengan Leon.


"Kasih tau gih. Aku takut salah ngasih edukasi soalnya," bisik Edrea.


"Aku pun juga sama. Aku takut salah ngomong dan berakhir menyesatkan dia nantinya," balas Leon.


"Mommy, Daddy. Jawab ih," kesal Callie.


"Begini sayang. Aduh gimana ya. Hmmmm gini aja nanti kamu tanya sama Mama dan Papa kamu saja ya. Karena kalau kamu tanya Daddy sama Mommy kita juga bingung jawabnya gimana karena kita aja belum pernah buat adik sama sekali," ucap Leon yang langsung mendapat geplakan di lengannya.


"El, ucapmu kelewat jujur," ujar Edrea.


"Lah salah ya? Haduhhhh ya maaf, keceplosan," tutur Leon.


Sedangkan Callie, anak itu justru mengerutkan keningnya.


"Kenapa Mommy sama Daddy tidak membuat adik?" tanya Callie yang membuat Edrea tersedak salivanya sendiri. Sedangkan Leon, ia kini menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari merutuki mulutnya yang keceplosan tadi. Jika saja ia tak keceplosan pasti Callie tidak bertanya seperti itu.


"Itu sayang. Hmmmm karena Daddy sama Mommy belum menikah," jawab Leon.


"Menikah? Menikah itu apa?" tanya Callie yang selalu saja ingin mengetahui hal yang baru di hidupnya.


"Menikah itu adalah salah satu ibadah dengan bersatunya dua manusia berjenis kelamin perempuan dan laki-laki dengan mengucapakan janji di hadapan Allah untuk saling bersama selamanya, saling melindungi satu sama lain dan saling menyayangi satu sama lain dalam sisa hidup kedua orang itu," jelas Leon sebisanya saja.


Dan ucapan dari Leon tadi membuat Callie ber-oh riya.


"Jadi membuat adik itu harus menikah dulu?" Leon menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu kapan Daddy sama Mommy menikah? Callie kan sekarang lagi di buatkan adik sama Papa dan Mama, Callie juga mau dong di buatkan adik sama Mommy dan Daddy. Biar nanti Callie langsung punya adik dua," ucap Callie excited.


Dan hal tersebut justru membuat Leon kini melirik kearah Edrea yang tengah menatapnya. Sepertinya kekasihnya itu ingin mendengarkan jawabannya.


"Doakan saja ya sayang. Kalau bisa setelah Daddy sama Mommy lulus sekolah," ujar Leon dengan menatap manik mata Callie.


"Daddy sama Mommy lulus sekolahnya kapan?" tanya Callie yang sepertinya tak sabaran ingin melihat kedua orang itu segera menikah dan membuatkan dirinya adik.


"Hmmm sekitar 3 bulan lagi," jawab Leon.

__ADS_1


"Oke, kalau gitu Callie akan mendoakan supaya Mommy dan Daddy segera lulus dan menikah biar Callie punya adik dari Mommy sama Daddy," ucap Callie yang membuat Leon tersenyum dan mengacak rambut anak perempuan itu. Sedangkan Edrea, ia tersenyum canggung kearah Callie. Bahkan ia sempat berpikir jika Leon tau kalau Azlan dan Zea sudah menikah satu bulan yang lalu, ia pastikan bahwa kekasihnya itu akan meneror dirinya untuk terus mengajaknya menikah dan ia juga yakin Leon akan merengek untuk dinikahkan kepada Daddy Aiden, Mommy Della dan Mommy Elia secepatnya bahkan mungkin Leon akan menuntut hari itu juga dirinya dan Edrea harus menggelar acara pernikahan. Membayangkannya saja sudah membuat Edrea pusing apalagi bayangannya itu benar-benar terjadi, sudah dipastikan dia akan pusing tujuh keliling dibuatnya.


__ADS_2