The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 52


__ADS_3

"Hey kenapa ngalamun kayak gitu hmm?" tanya Zico dengan melambaikan tangan di depan wajah Edrea.


"Eh gak papa kok. Ya udah gue ke kelas dulu ya," pamit Edrea.


"Gue juga mau ke kelas lho ini. Bareng aja yuk," aja Zico dan tanpa izin dari Edrea, ia menggenggam tangan Edrea dengan erat.


Awalnya Edrea sempat tertegun walaupun ini bukan pertama kalinya tangannya digandeng oleh laki-laki lain selain kedua Abangnya tapi tetap saja kalau Zico yang menggenggam tangan tersebut, debaran jantungnya tak bisa ia kontrol. Dan sudah dipastikan bahwa dirinya masih memiliki rasa kepada Zico walaupun untuk sekarang ia tak akan terlena, ia takut jika hal seperti dulu terjadi lagi kepadanya dan akan berakhir sakit hati untuk kesekian kalinya. Dan biarkan saat ini ia akan melihat bagaimana cara Zico membuktikan ucapannya tadi.


Mereka berdua pun kini meninggalkan rooftop tersebut dan menuruni anak tangga satu persatu tanpa melepaskan genggaman tangan tadi. Hingga mereka sampai di depan kelas Zico.


"Masuk sana gih," ucap Edrea.


"Nanti aja lah toh belum bel masuk juga," tolak Zico.


"Tapi gue mau ke kelas Zic," tutur Edrea. Ia sekarang hanya ingin duduk di dalam kelasnya atau sekedar memejamkan matanya sebentar karena rasa kantuknya masih saja menyerangnya.


"Lumayan 5 menit buat tidur," sambungnya yang membuat Zico mengerutkan keningnya.


"Ck, gue ngantuk Zic ini juga gara-gara lo yang telepon gue terus tadi malam," gerutu Edrea seolah-olah ia tau tatapan dari Zico tadi.


"Maaf, gue gak bermaksud ganggu tidur lo tadi malam," tutur Zico merasa bersalah.


"Udah lah gak papa. Makanya gue mau ke kelas sekarang buat tidur bentar," ucap Edrea.


"Ya udah gue anterin lo sampai depan kelas," tutur Zico, lalu ia perlahan menarik tangan Edrea menuju kelas 11 IPA 2.


Saat sudah berada di depan kelas Edrea, genggaman tangan keduanya terlepas.


"Belajar yang benar. Jangan tidur saat pelajaran nanti," ucap Zico semberi mengacak rambut Edrea.


"Ck, perlu gue tekankan sekali lagi. Kalau gue sekarang kayak gini tuh karena lo. Jadi lo gak usah ngejek kayak gitu," tutur Edrea dengan bibir manyun.


"Jangan manyun-manyun kayak gitu. Gak bagus kalau dilihat cowok lain," ucap Zico, kemudian tangannya ia gunakan untuk merogoh sesuatu di dalam saku celananya.


Setelah menemukan apa yang ia cari, tangan Zico yang lainnya meraih tangan Edrea untuk menyerahkan barang yang ia dapatkan dari sakunya tadi.

__ADS_1


"Permen karet?" tanya Edrea sembari melihat satu permen karet yang di berikan oleh Zico tadi di tangannya.


Zico mendekatkan diri ke Edrea dan setelah mengikis jarak diantara ia dan juga Edrea, Zico membungkukkan tubuhnya.


"Itu senjata gue kalau ngantuk di kelas," bisik Zico.


"Dasar," ujar Edrea sembari tersenyum dan segera masuk kedalam kelas setelah tubuh Zico menjauh darinya tadi.


Saat Edrea sudah benar-benar masuk barulah Zico pergi dari depan kelas tersebut dan menuju kelasnya.


Edrea sekarang dengan loyo mendudukkan tubuhnya di kursinya, mengabaikan setiap tatapan dari teman-temannya.


"Rea," panggil Yesi heboh


"Re, woy elah molor mulu jadi orang," panggil Yesi lagi karena merasa diabaikan, Yesi mencium pipi Edrea yang membuat sang empu langsung menegakkan tubuhnya lagi.


"Anjir, lesbi ya lo. Jijik banget woy," geram Edrea sembari mengusap-usap pipinya tadi yang terkena kecupan dari Yesi.


"Enak aja, gue masih normal ya," tutur Yesi sembari duduk di samping Edrea.


"Ck gue masih normal Rea."


"Normal kok main cium wanita lain seenaknya," timpal Resti yang turut bergabung dengan mereka berdua.


"Ya siapa suruh di panggil-panggil gak nyaut malah molor ya udah gue cium aja. Lumayan juga kan gue cium primadona sekolah ini." Edrea dan Resti saling pandang dan bergidik ngeri.


"Emang udah gak normal ini orang, perlu di rehabilitasi ini biar balik lagi ke jalan yang benar gak belok kayak gini," tutur Resti.


"Gue setuju. Biar gue nanti cariin tempat buat rehabilitasi orang yang berperilaku menyimpang kayak Yesi," ucap Edrea.


"Canda elah. Kalian tuh gak bisa kalau di ajak bercanda," gerutu Yesi.


"Udah lah lupakan kejadian tadi. Gue mau tanya hal serius ke lo, Rea," sambung Yesi.


"Apaan? buruan!"

__ADS_1


"Lo udah jadian sama Zico?" tanya Yesi sembari mendekati tubuh Edrea.


"Astagfirullah, bisa jauhan dikit gak muka lo ini," ucap Edrea sembari mendorong wajah Yesi menaruh dari hadapannya.


"***** banget sih lo sama Rea," tutur Resti.


Yesi mencebikkan bibirnya dan membenarkan posisi duduknya.


"Jawab pertanyaan gue tadi Rea, gue penasaran nih dari tadi. Apa lagi saat Zico dengan lantangnya berucap kata-kata yang bikin hati perempuan mana saja leleh dan kata-kata itu hanya buat lo seorang lagi. Mana itu di dengar siswa-siswi di lobby tadi dan sudah menyebar luas, mungkin guru-guru juga udah tau sekarang dan gimana perasaan lo tadi. Berbunga-bunga kah atau perut lo tadi ngerasa kayak ada kupu-kupunya? Cepat katakan," tanya Yesi penuh antusias.


Tuk!!!


Edrea menyentil kening Yesi dengan cukup keras.


"Kayak wartawan aja lo. Keponya nauzubillah," tutur Edrea.


"Bukan cuma wartawan aja yang kepo Rea tapi tetangga di sekitar rumah gue juga sama keponya dan rempong dengan kehidupan keluarga gue," ucap Resti.


"Ya ampun curhat lo neng?" Saat Resti ingin menjawab ucapan dari Edrea tadi, teriakan lantang dari Yesi menghentikan dan sekaligus mengkagetkan semua orang yang berada dikelas tersebut.


"STOP!" teriak Yesi kesal.


"Woy tuh mulut bisa di kondisinya gak sih. Berisik banget," cibir salah satu orang yang merasa terganggu dengan teriakan Yesi tadi.


"Bodoamat. Mau apa lo hah? Mulut-mulut gue juga lo yang susah. Kalau lo merasa terganggu keluar sana. Ribet banget hidup lo," semprot Yesi.


"Cih, kelas ini juga bukan milik nenek moyang lo kali. Kita disini juga bayar jadi kita juga punya hak buat protes apa yang gak kita suka dan merasa jika hal itu menganggu kita semua," protes perempuan yang berada di dekat laki-laki tadi.


"Kalau kelas ini punya nenek moyang gue. Gue gak akan izinin kalian menginjakkan kaki disini walaupun itu cuma sejengkal. Dan lo pikir gue sekolah disini gak bayar seperti kalian hah? Lo pikir gue ngutang gitu? Gue juga sama kayak orangtua kalian yang bayar biaya untuk sekolah disini. Dan perlu kalian garis bawahi kalau gue biayain sekolah gue dengan uang hasil jerih payah gue sendiri bukan dari keringat orangtau seperti kalian," tutur Yesi pedas walaupun terdengar sombong tapi dia berkata yang sebenarnya. Ya, siapa juga yang tak tau seorang Yesi si pemilik salah satu brand kecantikan diusia yang begitu muda. Bahkan brand tersebut cukup terkenal dan banyak peminatnya. Jadi salah jika orang akan membanggakan diri mengenai materi apalagi materi itu milik orangtua mereka di depan Yesi yang akan langsung mendapat semprotan ganas dari sang empu nantinya.


Orang-orang tersebut sekarang tampak terdiam tapi matanya masih menatap Yesi.


"Apa? kalian juga mau protes hah," tantang Yesi sembari menatap setiap orang yang juga menatapnya.


Sedangkan Edrea dan juga Resti hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia sudah sangat hafal dengan sifat Yesi yang lebih bar-bar dari mereka berdua apalagi kalau soal berdebat, sudah dipastikan dia jagonya. Terbukti saat dia diprotes dengan beberapa kata tadi, ia akan membalas protesan tersebut dua atau tiga kali lebih panjang dari kata-kata atau cibiran yang ia dapatkan.

__ADS_1


__ADS_2