The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 94


__ADS_3

Sudah hampir 30 menit wanita tersebut menunggu Puri di depan gerbang sekolah tersebut.


"Neng gak masuk aja? Di luar panas lho. Nunggu di pos satpam aja neng," ucap satpam tadi yang tak tega dengan wanita tersebut yang wajahnya terlihat sudah mulai memerah.


Wanita tersebut tampak berpikir sejenak kemudian ia mengangguk dan masuk ke lingkungan sekolah tersebut dengan digiring satpam tadi menuju pos satpam di sekolah itu.


"Saya duduk di depan sini saja Pak. Kalau saya duduk di dalam takutnya nanti saya gak lihat Puri keluar dari sekolah ini," tolak wanita itu ketika satpam tadi menyuruhnya untuk masuk kedalam.


"Baiklah kalau gitu neng. Paling sebentar lagi neng Puri juga keluar," ucap satpam tadi dan benar saja, kini tubuh Puri terlihat keluar dari lobby sekolah tersebut dan berjalan menuju parkiran sekolah yang kebetulan parkiran tersebut harus melewati pos satpam tadi.


"Nah itu dia neng Purinya," tutur satpam tadi dengan menunjuk sopan kearah Puri.


Wanita tersebut kini menoleh, mengikuti arah pandang dari satpam tadi dan ketika ia melihat Puri, ia langsung berdiri dari tempat duduknya tadi.


"Iya Pak itu orangnya. Saya ucapkan terimakasih untuk bantuannya tadi Pak. Saya permisi dulu," ucap wanita tersebut dengan ramah. Satpam pun mengangguk kemudian, wanita itu bergegas menghampiri Puri yang tengah jalan bersama teman-temannya.


Wanita itu kini berdiri di depan Puri serta teman-temannya yang langsung menatap dirinya dengan angkuh.


"Kamu Puri bukan?" tanya wanita itu to the point.


Puri mengerutkan keningnya sembari menatap wanita tersebut dari atas sampai bawah. Siapa wanita ini? Kenapa dia tau namanya?


"Siapa ya? perasaan kita gak pernah saling kenal sebelumnya." Wanita tersebut tersenyum kemudian ia mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Puri.


"Saya Vivian." Puri tak membalas uluran tangan tersebut hingga wanita tersebut menarik kembali tangannya.


"Oh ya saya bisa bicara sebentar dengan kamu?"


"Gue sibuk. Gak ada waktu buat bicara hal yang gak penting sama lo," tutur Puri dengan angkuh. Tapi justru suaranya itu tak membuat wanita didepannya emosi, melainkan Vivian justru tersenyum kearahnya.


"Apakah kamu yakin hal yang akan saya bicarakan dengan kamu bukanlah hal yang penting? sedangkan kamu saja belum tau saya mau membahas soal apa," tutur Vivian.

__ADS_1


"Gue gak peduli dan gue yakin pembicaraan Lo memang tidak penting. Dan lebih baik lo pergi dari hadapan gue sekarang deh. Buang-buang waktu gue aja lo." Vivian terus tersenyum kemudian ia melangkahkan kakinya lebih mendekat ke arah Puri bahkan tubuhnya dan tubuh Puri sekarang hanya berjarak beberapa jengkal saja. Setelah itu, Viviana mencondongkan tubuhnya sedikit hingga wajahnya berada di samping wajah Puri.


"Saya akan membahas masalah Edrea. Saya tau kamu sangat membencinya bukan?" bisik Vivian kemudian ia kembali menjauhkan wajahnya dari samping wajah Puri.


"Baiklah kalau menurut kamu pembicaraan saya nanti tak penting bagi kamu. Saya permisi," ucap Vivian kemudian ia memutar tubuhnya dan mulai melangkahkan kakinya. Tapi baru beberapa langkah saja, kakinya harus terhenti saat mendengar teriakkan dari Puri.


"Tunggu!" teriak Puri. Vivian memutar tubuhnya menghadap kearah Puri yang sekarang berjalan menghampirinya.


"Kita akan bicara di GRC cafe. Lo tau kan tempat itu?" Vivian memincingkan satu alisnya kemudian mengangguk.


"Baik. Saya akan menunggu kamu disana," tutur Vivian kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju mobil yang sudah menunggunya di depan gerbang tersebut.


Saat Vivian sudah masuk kedalam mobil dan mobil tersebut perlahan hilang dari pandangannya, Puri segera menghampiri teman-temannya yang masih berdiri di tempatnya sebelumnya.


"Gue cabut dulu. Bye," pamit Puri dan setelahnya ia berlari menuju parkiran mobil di sekolah tersebut dan setelah menemukan mobilnya, ia langsung tancap gas menuju ke sebuah cafe yang telah ia katakan kepada wanita tadi.


Dan hanya butuh waktu 10 menit, Puri telah sampai di cafe yang terbilang cukup sepi hanya ada beberapa pelanggan di dalam cafe tersebut dan salah satunya adalah wanita yang menemuinya tadi.


"Katakan apa yang mau lo katakan," tutur Puri yang masih mode sombong.


Vivian menyesap minuman di depannya sebelum mulai angkat bicara.


"Kamu mengenal Edrea kan?"


"Tidak usah basa-basi, to the point please!"


"Oke kalau itu mau kamu. Saya mencari kamu karena masalah kita sama," ucap Vivian.


"Masalah kita sama? maksud lo?"


"Kamu sangat benci Edrea bukan?" Puri mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Lo gak perlu tau itu."


"Ck, sayangnya saya sudah tau hal itu. Tapi tenang saja, tak perlu takut dengan saya karena saya juga benci dengan wanita itu." Puri membelalakkan matanya tak percaya. Ternyata diluar sana selain dirinya masih ada banyak orang yang membenci wanita yang menurutnya sok cantik itu.


"Terus?" tanya Puri masih dengan muka sombongnya.


"Apa kamu tidak punya rencana untuk menghancurkan wanita itu? kalau kamu punya rencana kita bisa berkerjasama untuk melenyapkan Edrea," ucap Vivian.


"Apa Lo beneran benci sama wanita murahan itu? dan berniat ingin melenyapkannya?" Vivian mengangguk tanpa ragu sedikitpun.


"Maka dari itu saya mencari keberadaan kamu untuk membahas masalah ini. Karena saya benar-benar muak melihat wajah yang sok polos, sok cantik dan murahan itu. Dan perlu kamu tau, Edrea juga telah merebut calon suami saya," curhat Vivian.


"Jadi Lo beneran ingin melenyapkan Edrea?" tanya Puri memastikan.


"Saya sudah bilang tadi kalau saya benar-benar muak dan benci dengan dia. Apa kamu masih tak percaya dengan saya? Kalau kamu masih tak percaya baiklah, saya akan pergi dari sini dan akan bertindak sendiri untuk melenyapkan Edrea," tutur Vivian dan saat dirinya ingin berdiri. Tangannya dicekal oleh Puri.


"Duduk kembali. Gue tadi tanya begitu karena gue hanya mau memastikan saja apa Lo benar-benar ingin berniat seperti itu. Dan setelah dilihat dari jawaban dan ekspresi wajah lo, gue bisa simpulkan kalau lo benar-benar ingin melakukannya bukan hanya sekedar menjebak gue agar gue bisa membocorkan rahasia gue ke lo," tutur Puri.


Vivian kini duduk kembali.


"Rahasia apa itu? Apa rahasia itu bersangkutan dengan rencana kamu untuk melenyapkan Edrea?" Puri tampak mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ya, rahasia itu mengenai rencana pembunuhan Edrea," jawab Puri dengan seringai di bibirnya.


"Apa kamu sudah mulai bergerak melakukan tindakan kejahatan itu?"


"Ya. Tapi untuk percobaan yang pertama, gagal total. Orang yang gue suruh untuk membunuh Edrea pada malam itu entah kemana dia berada sekarang. Tak ada kabar sama sekali dari dia," tutur Puri sembari mengepalkan tangannya. Vivian tampak mengangguk mengerti.


"Jadi apa yang akan kamu lakukan untuk rencana selanjutnya?" tanya Vivian dengan mengaduk-aduk minumannya tadi.


"Gue baru menyusun rencana untuk yang kedua," ucap Puri dengan senyum miringnya.

__ADS_1


__ADS_2