The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 321


__ADS_3

Sesuai dengan perjanjian kemarin, kini Azlan dan Zea menggelar pernikahan yang serba dadakan itu di rumah sakit karena kondisi Zea yang masih harus mendapat perawatan medis pun dengan terpaksa keduanya lebih tepatnya keluarga Daddy Aiden memutuskan melaksanakan pernikahan itu dengan sederhana tanpa mengundang tamu, pernikahan itu hanya benar-benar di hadiri oleh keluarga dari kedua mempelai saja.


Dan dengan jas hitam, Azlan kini duduk didepan ayah Zea dan penghulu. Dan tanpa gugup sedikitpun Azlan kini menyalami ayah Zea yang terlihat sangat santai itu. Sedangkan Zea yang tengah terduduk diatas brankar dengan baju rumah sakit, ia menatap kearah Azlan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ananda Azlan Delbert Abhivandya bin Aiden William Abhivandya dengan anak kandung saya Zeaquel Ataura Tamin binti Yudi Tamin dengan mas kawin satu set perhiasan berlian dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Zeaquel Ataura Tamin binti Yudi Tamin dengan mas kawin satu set perhiasan berlian dibayar tunai," ucap Azlan dengan satu tarikan nafasnya.


"Gimana para saksi sah?" Ucap penghulu dan dijawab teriakan sah oleh semua orang yang berada di sana.


Dan bertepatan dengan ucapan sah dari pada saksi itu pun air mata Zea jatuh begitu saja. Ia bukan menyesal karena sudah sah menjadi istri Azlan, melainkan ia malu karena sifat orangtuanya yang dengan gampangnya menyerahkan dirinya hanya karena uang. Tapi ia juga bersyukur setidaknya ia jatuh ke tangan yang tepat jika saja dirinya jatuh di tangan yang salah mungkin nasibnya akan lebih parah lagi saat dirinya masih bersama dengan kedua orangtuanya.


Mommy Della yang sedari tadi duduk di samping Zea yang tengah terduduk di atas brankar pun ia kini memeluk tubuh menantunya itu dengan elusan di kepalanya.


"Kamu mulai hari ini sudah bebas sayang. Jadi jangan menangis lagi. Kamu sekarang anak Mommy dan Daddy bukan anak mereka lagi. Jadi hapus air mata kamu karena Mommy tidak suka melihat kamu menangis seperti ini," ucap Mommy Della dengan menghapus air mata Zea.


"Mom, terimakasih karena sudah menerima Zea untuk bergabung dengan keluarga ini. Zea berhutang budi sama Mommy dan Daddy," ujar Zea yang langsung mendapat gelengan kepala dari perempuan yang ada disampingnya itu.


"Jangan anggap ini semua hutang budi Zea karena Mommy dan Daddy melakukan ini semua tanpa paksaan dan memang kita sudah menganggap kamu sebagai anak kita sendiri. Jadi stop jangan lagi berbicara yang aneh-aneh lagi. Sekarang waktunya bahagia, bahagia karena kamu sudah bebas dari mereka dan bahagia karena kamu sudah jadi menantu Mommy," tutur Mommy Della dengan memeluk tubuh Zea kembali. Bahkan Ia tak peduli dengan tatapan kedua orangtua menantunya itu yang tengah menatap sengit kearah keduanya atas keakraban yang terjalin diantara mereka berdua. Karena mereka pikir Zea akan bernasib malang seperti saat dirinya masih dengan mereka dulu tapi ternyata orang-orang keluarga Abhivandya justru menyukai Zea dan memperlakukan gadis itu seperti anak mereka sendiri. Dan itu benar-benar sangat menyebalkan bagi kedua orang itu.


...****************...


Saat penghulu yang memimpin acara akad nikah tadi telah menyelesaikan semua tugasnya dan sudah pergi dari kamar tersebut, kedua orangtua Zea langsung mendekati Daddy Aiden yang membuat laki-laki itu memutar bola matanya malas. Dan sebelum kedua orang itu angkat suara, Daddy Aiden lebih dulu berucap.


"Kita bicarakan di luar," ujar Daddy Aiden lalu setelahnya ia melangkahkan kakinya ke pintu keluar kamar tersebut diikuti oleh kedua orangtua Zea.


"Mom, Azlan ikut Daddy dulu," ucap Azlan sembari melepas jas yang tadi ia gunakan untuk melakukan acara sakral tadi dan meletakkannya jas tadi diatas sofa didalam ruangan tersebut. Mommy Della menganggukkan kepalanya untuk mensetujui ucapan dari putranya itu. Dan saat Azlan mulai melangkahkan kakinya, kedua saudara kembarnya itu juga ikut melangkah kakinya mengikuti langkahnya.


Dan saat mereka telah keluar, mata mereka langsung tertuju kearah Daddy Aiden yang kini tengah berhadapan dengan kedua orangtua Zea.


"100 M kan?" tanya Daddy Aiden yang diangguki oleh kedua orang tadi.


Daddy Aiden mengangguk-anggukkan kepala kemudian tangannya bergerak untuk mengambil sesuatu di balik jas yang tengah ia kenakan itu. Lalu saat ia menemukan apa yang ia cari, ia langsung mengeluarkan secarik kertas yang bukan kertas biasa karena itu adalah sebuah cek yang akan diberikan kepada kedua orangtua Zea.


Tapi saat Papa Zea ingin mengambil cek tadi, Daddy Aiden langsung menjauhkan cek tadi dari kedua orang tersebut.


"Kalian mau ini bukan?" tanya Daddy Aiden yang lagi-lagi membuat kedua orang tadi menganggukkan kepalanya.


Dan setelah Daddy Aiden melihat anggukan kepala itu, Daddy Aiden menatap kesalah satu anak buahnya yang entah sejak kapan berdiri di belakang kedua orangtua Zea karena dua orang itu tak menyadari keberadaannya sama sekali.


Anak buah Daddy Aiden tadi langsung melangkahkan kakinya mendekati Daddy Aiden setelah ia mendapatkan kode dari tuannya. Dan setelah ia berdiri didepan tuannya ia langsung menyerahkan sebuah map coklat kearah Daddy Aiden lalu ia kembali mundur lagi.


Daddy Aiden yang sudah memegang map coklat itupun langsung membuka dan mengeluarkan isinya.


"Tanda tangan," ucap Daddy Aiden sembari menyerahkan isi dari map tadi kehadapan kedua orang tadi.

__ADS_1


"Ini apa?" tanya Mama Zea sembari menerima kertas tadi dari tangan Daddy Aiden.


"Anda bisa baca kan? Kalau bisa, jangan banyak tanya tinggal baca saja, nanti anda juga pasti tau itu apa," ucap Daddy Aiden yang berhasil membuat wajah Mama Zea tampak memerah menahan amarahnya yang tidak bisa ia luapkan karena lawannya itu tak sebanding dengan dirinya. Jika saja ia kelepasan marah sudah dipastikan uang 100 M akan hilang begitu saja ditambah pasti hidupnya akan di buat susah dengan orang didepannya itu. Dan lebih baik ia sekarang membaca isi surat tersebut dengan suaminya.


"Ini surat perjanjian? Kenapa harus buat begini segala? Isinya juga tidak masuk akal sama sekali. Di point nomer 5, masak kita tidak boleh mengakui didepan umum jika anak kita telah menikah dengan putra dari keluarga Abhivandya. Dan point nomer 10 ini yang lebih parah, masak iya kita tidak dibolehkan untuk meminta bantuan sama anak kita sendiri kalau kita kesusahan. Dan masih banyak lagi yang benar-benar tidak masuk diakal. Maksudnya apa coba ini?" geram Mama Zea.


"Saya tidak butuh ceramah anda. Jika tidak setuju tinggal sobek saja kertas itu dan saya juga akan menyobek cek ini tapi jika anda setuju silahkan tanda tangan dan cek ini akan saya serahkan ke kalian," ucap Daddy Aiden.


Mama Zea yang merasa tertantang pun tangannya ingin bergerak untuk merobek kertas tadi tapi sayangnya aksinya itu dengan cepat di cegah oleh suaminya.


"Jangan gila. Hanya karena kamu egois dan ingin menyombongkan diri kamu karena kita bisa menikahkan anak kita dengan salah satu putra dari keluarga Abhivandya kita jadi kehilangan uang itu. Ingat kalau Zea sudah sepenuhnya milik keluarga Abhivandya jika kamu merobek kertas itu maka kita tidak akan mendapat apapun. Hanya mendapat tumpangan nama saja yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Jadi tanda tangan sekarang," ucap Papa Zea yang membuat istri berdecak sebal tapi setelahnya tangannya kini bergerak untuk menandatangani perjanjian itu lalu setelah selesai kini giliran Papa Zea yang menandatanganinya.


Setelah selesai, Papa Zea langsung menyerahkan surat perjanjian itu kehadapan Daddy Aiden yang langsung di terima oleh Daddy Aiden.


"Sudah kan, jadi sekarang serahkan cek itu sekarang juga," ucap Papa Zea tak sabaran.


"Baiklah saya akan kasih kalian cek ini tapi ingat setelah kalian menerima ini hubungan diantara kalian dan Zea ataupun dengan keluarga saya sudah tak ada lagi. Dan ingat jika kalian melanggar perjanjian yang sudah tertulis di surat ini maka jangan salah kan saya jika saya akan menghabisi nyawa kalian berdua," ujar Daddy Aiden dengan garangnya lalu kemudian ia menyerahkan cek tadi ke arah Papa Zea yang dengan cepat diterima oleh laki-laki itu.


Dan setelah mendapatkan apa yang mereka mau, kedua orangtua Zea itu langsung pergi dari hadapan Daddy Aiden tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dan hal tersebut membuat Daddy Aiden menggelengkan kepalanya.


"Dasar gila harta," gumam Daddy Aiden dengan mata yang masih menatap kearah dua orang tadi.


Sedangkan Triplets yang sedari tadi melihat diskusi yang dilakukan oleh ketiga orang tadi pun mereka juga menggelengkan kepalanya sama seperti reaksi Daddy Aiden sebelumnya.


"Tingkah mertua lo gitu amat bang. Mata duitan banget," ucap Edrea.


Dan hal tersebut membuat dua saudara kembarnya itu memutar bola matanya malas.


"Iya-iya percaya deh yang udah punya istri," ucap Edrea yang membuat Azlan tersenyum bangga.


"Cih mentang-mentang mertuanya gila dia jadi ikut-ikutan gila juga sekarang. Senyum-senyum sendiri, gak waras," timpal Erland.


"Bodoamat yang penting gue sekarang udah punya istri," pamer Azlan.


"Makan tuh istri," ucap Erland dengan wajah yang sedari tadi sudah tertekuk.


"Tenang aja, nanti malam gue juga akan makan dia," timpal Azlan yang bisa dipahami oleh Erland.


"Ck, serah lo, bang," ujar Erland dengan melangkahkan kakinya menjauh dari dua saudara kembarnya itu.


"Nanti malam gue mau sampai 10 ronde lho Er," teriak Azlan agar Erland mendengar ucapan itu.


"Diam bang! Berisik!" jawab Erland.


"Nanti malam gue---"

__ADS_1


"Bodoamat gue gak denger," ujar Erland yang semakin mempercepat langkahnya sembari tangannya ia gunakan untuk menutup kedua telinganya agar tak mendengar ucapan Azlan yang menurutnya sangat menyebalkan itu. Apa Azlan ini tidak menyadari jika dirinya saat ini tengah iri kepadanya yang telah resmi memiliki istri sedangkan dirinya, boro-boro mau nikah pasangan aja belum ada, mana dia juga harus menyembuhkan luka dihatinya yang diberikan oleh Kayla, wanita sialan itu lagi. Ck, benar-benar membuat Erland harus mengumpati wanita yang sudah tinggal nama itu didalam hatinya, bahkan saking sebalnya ia sampai mendoakan yang tidak-tidak kepada Kayla yang sudah beda alam itu.


Sedangkan Azlan dan Edrea yang melihat tingkah Erland itu pun mereka berdua dibuat terkekeh kecil.


"Nasib jomblo gitu amat sih. Kasihan," ucap Edrea dengan menghapus air mata yang berada disudut matanya karena kebanyakan tertawa.


"Maklumlah, dia jomblo udah 18 tahun giliran dapat pasangan eh pasangannya bentukannya begitu," timpal Azlan yang diangguki setuju oleh Edrea.


"Btw bang selamat ya atas pernikahannya," ucap Edrea yang membuat Azlan mengalihkan pandangannya kearah adik perempuan satu-satunya itu lalu dengan senyuman yang mengembang Azlan memeluk tubuh Edrea.


"Thank you, bontot. Walaupun Abang udah nikah Abang akan selalu jagain Rea seperti sebelumnya," ujar Azlan dengan memberikan kecupan singkat di puncak kepala Edrea.


"Tentu dong. Harus itu mah, kalau Rea gak dijagain sama Abang, Rea dijagain siapa lagi coba," tutur Edrea.


"Iya juga sih."


"Tuh kan, makanya jagain Rea terus ya bang sampai Rea udah punya suami bahkan sampai nenek-nenek nanti. Jangan lupain Rea gara-gara udah punya Kak Zea. Dan perlu Abang ingat, Rea akan tetap jadi adik kecil buat Abang. Abang ngerti kan," ujar Edrea dengan menengadahkan kepalanya untuk menatap wajah Azlan.


"Iya sayang. Abang ngerti walaupun gak Lo kasih tau juga tadi," tutur Azlan sembari mencubit gemas hidung Edrea.


"Sayang Abang banyak-banyak. Sekali lagi selamat atas pernikahannya Abang. Jangan lupa buat kasih ponakan yang lucu ya. Rea tunggu saat-saat itu tiba," ujar Edrea yang langsung mendapat hormat dari Azlan.


"Siap princessnya Abang," ucap Azlan yang membuat Edrea terkekeh.


"Ya udah kalau gitu Rea ke ruang ICU dulu ya. Salam buat Kak Zea. Kasih tau dia jangan nangis lagi, kalau nangis cantiknya buat Rea semua. Bye Abang, love you," tutur Edrea dan sebelum ia pergi, ia mengecup pipi Azlan lalu barulah ia pergi dari hadapan Azlan.


"Love you too, sayang. Abang doain saat lo sampai di ruangan ICU langsung dapat kabar baik dari bang Adam mengenai keadaan Leon!" teriak Azlan yang membuat Edrea menolehkan kepalanya dan tersenyum sembari menganggukkan kepalanya kearah Azlan. Dan kemudian ia melanjutkan langkahnya hingga dirinya benar-benar tak terlihat oleh Azlan yang sedari tadi menatap kepergiannya.


Edrea menghela nafas saat ruangan ICU sudah bisa ia lihat dari kejauhan. Dan dengan menundukkan kepalanya ia semakin mendekati ruangan tersebut. Hingga saat dirinya baru sampai dan ingin mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu, Adam keluar dari ruangan tersebut. Dan yang membuat Edrea khawatir adalah saat Adam keluar, laki-laki itu langsung memeluk tubuhnya. Sumpah demi apapun ia benar-benar trauma jika Adam langsung memeluk tubuhnya tanpa mengucapakan sepatah katapun seperti ini. Ia takut ada kabar yang kurang mengenakan yang akan membuat dirinya hancur setelah mendengarnya nanti.


"Bang," panggil Edrea yang sama sekali tak mendapat respon apapun dari Adam. Laki-laki itu terus saja memeluk tubuhnya dengan sangat erat.


"Abang kenapa? Ada masalah? Apa jangan-jangan ada sesuatu yang tengah terjadi dengan Leon? Bang jangan gini dong, jangan buat Rea tambah khawatir gini. Abang jawab pertanyaan Rea, Leon gak papa kan bang?" tanya Edrea membabi buta.


Dan hal tersebut membuat Adam berdecak sebelum dirinya melepaskan pelukannya tadi lalu menatap kearah adiknya itu.


"Ck, kamu ini bawel banget tau Re. Abang belum juga jawab pertanyaan kamu yang satu eh kamu udah nambah pertanyaan yang lain tanpa mengizinkan Abang jawab dulu," ucap Adam.


"Ya maaf, Rea kan lagi khawatir bang. Trauma tau kalau Abang tiba-tiba meluk kayak tadi, takut kalau terjadi apa-apa sama Leon," ujar Edrea.


"Haish Leon mulu ya yang ada di pikiran kamu sekarang. Padahal Leon baik-baik aja Rea, dia bahkan sekarang sudah melewati masa kritisnya tapi belum juga sadar," tutur Adam yang membuat mata Edrea dengan seketika berbinar bahagia.


"Beneran bang? Dia sudah melewati masa kritisnya?" Adam menganggukkan kepalanya yang langsung membuat Edrea berjingkrak kesenangan sebelum akhirnya ia memeluk tubuh Adam.


"Terimakasih bang, karena penangan dan perawat yang Abang berikan, Leon berhasil melewati masa kritisnya. Ihhh Rea senang banget bang. Makasih banyak Abangku yang paling tampan," ucap Edrea yang berhasil membuat Adam ikut tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Ini semua juga berkat doa kamu, Rea. Abang hanya menjadi perantara saja dari Allah untuk menyembuhkan Leon walaupun belum 100% sembuh total karena Abang belum bisa dianggap berhasil sebelum Leon sadar dari komanya. Tapi dengan keadaan Leon yang semakin membaik, Abang jadi semakin yakin bahwa doa itu adalah kekuatan yang paling besar untuk setiap manusia. Jadi jika Rea ingin Leon segera sadar, doanya semakin di perbanyak ya," tutur Adam yang diangguki oleh Edrea yang masih didalam pelukannya itu. Adam yang melihat anggukan dan kebahagiaan dari Edrea pun ia kini mengelus dan sesekali mengecup puncak kepala adiknya itu sehingga ia lupa dengan masalahnya sendiri yang sedari tadi membuat pikirannya menjadi tak tenang dan selalu dilanda kegelisahan.


__ADS_2