
Setelah kepergian Edrea dari tempat tersebut, Azlan dan Erland beserta beberapa anak buah Erland kini tengah sibuk untuk menghilangkan sidik jari Edrea yang kemungkinan menempel pada pintu depan dan setir mobil tersebut dengan berbagai cara yang pernah mereka pelajari tentunya. Lalu setelah dipastikan sidik jari itu hilang Erland baru menelepon pihak polisi untuk menangani kasus dari penemuannya.
1 jam lebih setelah menghubungi pihak berwajib, akhirnya para polisi kini sampai di TKP dan segera melakukan pengecekan disana. Bahkan Erland yang sebagian penemu, ia sudah menceritakan secara detail dari awal hingga akhir penemunya dengan sedikit berbohong kalau dia melihat mobil itu bukan karena Edrea yang membawanya tapi mobil itu sebelum dirinya sampai di tempat tersebut sudah terparkir di sana.
Ia masih punya akal jika dia menceritakan bahwa Edrea lah yang membawa mobil itu, akan tambah kacau nanti apalagi Edrea paling benci berurusan dengan pihak polisi. Jadi lebih baik mereka melakukan alibi sedikit tak apa lah. Polisi kan pintar jadi akan sangat mudah menemukan pelaku dari masalah itu. Tanpa harus melibatkan Edrea dalam masalah ini.
Polisi itu tampak menerima penjelasan Erland yang telah ia tanyai dari A sampai Z yang berakhir jawaban dari sang empu sangat masuk akal dan bisa dinalar. Alhasil dari Azlan dan Erland tak ada yang dicurigai oleh polisi disana.
"Saya harap bapak polisi bisa segera menemukan pelakunya. Karena jika dibiarkan begitu saja sangat-sangat meresahkan bagi masyarakat sekitar. Dan sebisa saya akan membantu proses pencarian pelaku jika bapak polisi mengizinkan," tutur Erland.
"Terimakasih atas kesaksian yang anda berikan. Kasus ini akan segera kami proses dan jika pihak anda ingin membantu pihak polisi, kami dengan tangan terbuka mempersilahkan dan memberi izin kepada pihak anda untuk bekerjasama sama dengan pihak polisi untuk segera menemukan pelaku dari kasus ini," ucap polisi tersebut.
"Siap laksanakan Pak. Kalau begitu kami permisi dulu dan mungkin ada beberapa teman saya yang masih tinggal disini untuk membantu bapak nantinya. Dan kami ucapkan selamat bertugas dan selamat siang." Erland mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh salah satu polisi yang sedari tadi mewawancarainya.
"Sekali lagi kami ucapkan terimakasih karena anda sudah melaporkan hal ini kepada kami. Selamat siang dan hati-hati dijalan," tuturnya yang diangguki Erland.
Setelah itu Azlan, Erland dan beberapa anak buah yang tak mereka tunjuk untuk tetap tinggal, akhirnya bisa pergi dari tempat tersebut. Jika ditanya kenapa Erland mengusulkan untuk memberi bantuan kepada pihak polisi? Karena Erland ingin tau bagaimana cara polisi-polisi itu menjalankan tugasnya. Secara baik atau tidak? kemakan dengan sogokan atau tidak? dan Erland juga ingin tau pelaku dari kasus kali ini yang ia yakini pelaku tersebut masih berhubungan dengan pelaku penculikan Edrea atau justru pelaku keduanya memang orang yang sama? entahlah Erland masih menunggu titik terang dari kasus tersebut agar ia juga tau pelaku penculikan adiknya. Licik namun pintar juga. Memanfaatkan sesuatu untuk memecahkan permasalahan dalam 2 kasus sekaligus.
Azlan, Erland dan beberapa anak buahnya kini sudah meninggalkan tempat tersebut menuju ke markas milik Azlan yang kebetulan tak jauh dari lokasi tadi.
Dan hanya membutuhkan waktu 30 menit, mereka akhirnya sampai di rumah mewah yang dijadikan markas Azlan. Setelah memarkir motor, mereka segera masuk kedalam markas tersebut.
__ADS_1
"Edrea mana?" tanya Azlan setelah masuk dan mendapati anak buahnya yang tengah bercanda di suatu ruangan di rumah tersebut.
"Lagi di dapur bos. Katanya lapar jadi nona bos lagi masak," jawab Jafra yang langsung diangguki oleh Azlan dan setelahnya ia ikut duduk di sofa yang masih kosong untuk mengistirahatkan tubuhnya yang baru ia rasakan kelelahannya.
Berbeda dengan Azlan, Erland justru kini melangkahkan kakinya menuju dapur di rumah tersebut dan setelah sampai disana, matanya bisa menangkap Edrea yang tengah sibuk meracik dan memasak sesuatu yang baunya sudah tercium di hidung mancung Erland.
Erland mendekati adiknya itu dan memeluk tubuh Edrea dari belakang, kalau seperti ini mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih tapi sayangnya mereka adalah sepasang kakak beradik.
Edrea yang merasakan ada tangan kekar yang melingkar di perutnya pun sempat terperanjat kaget dan siap-siap untuk menyerang orang tersebut yang sudah lancang memeluknya tapi setelah ia membolehkan kepalanya, wajah Erland lah yang ia lihat. Dan hal itu membuat niatnya untuk menyerang tadi tak jadi ia lakukan.
"Masak apa hmm?" tanya Erland dengan kepalanya yang menyender di bahu Edrea.
"Huh ngagetin aja. Kirain teman-teman Abang tadi. Untung belum Rea hajar. Gimana udah beres masalah tadi?" Erland berdecak saat Edrea tak menjawab pertanyaannya tadi.
"Ish Abang sakit tau, bau jigong pula ih." Edrea mengusap kasar pipinya yang tadi di gigit oleh Erland.
"Rea masak sup ayam karena disini cuma tersedia bahan makanan buat itu aja," sambungnya.
"Emang di kulkas persediaannya udah habis?" Edrea menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Erland tadi.
Erland yang penasaran pun melepaskan pelukannya dan berpindah mendekati kulkas untuk melihat isi didalam benda tersebut. Dan saat dibuka, benar saja apa yang dikatakan oleh Edrea tadi bahwa tak ada satu pun bahan makanan disana, hanya ada beberapa botol air mineral dan minuman bersoda.
__ADS_1
"Cih markasnya sih mewah tapi stok makanannya bikin miris," ucap Erland. Lalu ia kembali ke arah Edrea.
"Iya ya bang kasihan banget padahal teman-temannya bang Az banyak banget dan paling ada yang tinggal disini kan?" Erland menganggukkan kepalanya.
"Ck, bang Az emang keterlaluan. Biar nanti Rea omelin dia, biar langsung belanja bahan makanan yang banyak buat stok disini. Dan kalau bang Az gak punya uang, biar Rea yang kasih nanti," sombongnya. Uang hasil curian aja bangga.
Erland hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja tanpa berniat menimpali ucapan dari Edrea dan ia hanya terus menatap adiknya itu yang masih sibuk dengan aktivitasnya dari meja makan.
"Selesai," ucap Edrea sembari mematikan kompor.
"Bang, tolong panggil yang lain dong buat ikut makan. Rea yakin mereka belum makan semua." Erland yang juga sudah dilanda rasa lapar pun kini bergegas untuk memanggil Azlan berserta anak buahnya yang lain.
"Makan dulu. Rea udah selesai masak tuh," ajak Erland setelah sampai di perkumpulan anak buah Azlan.
Semua orang disana tampak berbinar dan dengan cepat mereka berbondong-bondong menuju meja makan tak terkecuali dengan Azlan dan Erland yang juga mengikuti arah jalan mereka.
"Oh ya bang lain kali beliin stok makanan yang banyak buat anak buah lo. Kasihan kalau cuma di stok air mineral doang. Yang ada mereka gak kenyang tapi kembung tuh perut," ucap Erland.
Azlan mengernyitkan keningnya, perasaan dia selalu berbelanja buat kebutuhan anak buahnya tapi sejak kapan dia melalaikan tugas itu. Bahkan jika ia sempat lupa, Fredi pasti akan memberitahunya.
"Emang udah habis? kosong semua?" Erland mengangguk.
__ADS_1
"Kok gak ada yang ngasih tau gue sih. Huh biar gue nanti suruh salah satu dari mereka buat belanja," tutur Azlan dan setelah itu tak ada lagi percakapan dari keduanya hingga mereka sampai di meja makan yang sudah penuh dengan anak buah dari Azlan yang tengah mengantri mendapat makanan dari masakan Edrea itu.
Sedangkan Azlan dan Erland memilih untuk duduk terlebih dahulu. Biarkan anak buah mereka terlebih dahulu yang mendapatkannya, kalau mereka mah santai saja. Jika tak kebagian mereka bisa mampir ke restauran saat pulang nanti. Dan jika mereka ingin makan masakan Edrea, kapan saja mereka bisa mendapatkannya dengan memaksa Edrea untuk memasak tentunya.