
Semua kejadian di pinggir lapangan tadi tak lepas dari pandangan Puri yang semakin hari semakin benci dan iri dengan Edrea. Entah karena apa ia memiliki rasa itu, tak ada alasan pasti. Yang ia rasakan saat ia melihat Edrea pertama kali dulu, rasa bencinya langsung mencuat keluar bahkan tertanam dihatinya apalagi puncaknya saat ia mengetahui jika Edrea tengah dekat dengan Zico yang membuat dirinya semakin gencar untuk berniat melenyapkan Edrea.
Dan saat ia melihat Edrea berlari menjauhi kerumunan tadi, Puri ikut bergerak mengikuti langkah Edrea hingga akhirnya Edrea berhenti di taman belakang sekolah tersebut.
Sedangkan Edrea yang masih dilanda malu pun tak menyadari jika dirinya sedari tadi diikuti Puri. Dan kini ia mendudukkan tubuhnya dibawah pohon rindang yang selalu menjadi tempat favoritnya itu dengan kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya.
"Aduh nih jantung bisa diam gak sih. Maraton mulu dari tadi," gumam Edrea sembari sedikit memukul dadanya sendiri.
"Arkhhhh gak bisa, ini gak bisa dibiarkan. Gue harus periksa ke dokter nanti, takut kalau punya penyakit jantung," sambungnya dan beberapa detik kemudian ia kembali menutup wajahnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya saat bayang-bayang kejadian tadi memutar di kepalanya. Malu? jelas tapi lebih tepatnya ke salting tingkat dewa.
"Aduh tadi ada yang lihat gak ya saat Leon nyium gue?" tanyanya dengan dirinya sendiri bahkan ia sempat merutuki tubuhnya yang tadi tak melakukan tindakan apapun dan hanya pasrah saja.
"Arkhhhh Mommy, Rea bodoh banget. Malu banget ya Allah. Semoga aja gak ada yang lihat, kalau sampai ada, mau ditaruh dimana nih muka," ucapnya dengan jeritan yang tertahan.
"Leon juga sih, kenapa bisa-bisanya ambil kesempatan dalam kesempitan. Baru juga kenal beberapa minggu udah main nyosor aja, gak secara langsung maupun langsung. Tapi gue juga yang bodoh, kenapa tadi gak dorong tubuh dia sih. Astaga, gue ini kenapa sih!" tutur Edrea yang jantungnya semakin berdegup kencang.
Disaat Edrea masih sibuk dengan pikirannya yang mengembara kemana-mana, Puri yang sedari tadi bersembunyi tak jauh dari Edrea kini ia memberanikan dirinya mendekati sang empu, saat ia sudah memastikan disekitar taman itu tidak ada orang lain selain mereka berdua.
Dan dengan senyum miring, Puri kini mengambil sesuatu di saku celana olahraganya. Lalu setelah ia sampai tepat di belakang Edrea, ia mulai menjongkokan tubuhnya sepelan mungkin agar Edrea tak sadar jika dibelakangnya ada seseorang yang sedang mengincar nyawanya.
__ADS_1
Dan saat ini ia masih mendengar gumam kecil dari Edrea yang meyakinkan Puri jika sang empu tak menyadari kedatangannya.
"Say goodbye Edrea," batinnya. Dan dengan cepat tangannya yang memegang sebuah benda yang tak lain adalah pisau pun bergerak kearah leher Edrea.
Edrea yang masih dalam mode was-was pun dengan cepat menangkap pergelangan tangan Puri saat pisau itu hampir mengenai lehernya. Sebenarnya saat Puri tadi bergerak kearahnya, Edrea sudah sadar jika ada orang lain di taman tersebut sehingga ia memasang kuda-kuda untuk melindungi dirinya sendiri. Walaupun dari awal ia tak tau siapa orang yang mendekatinya tapi setidaknya dengan dirinya mengaktifkan mode perlindungan diri tak ada salahnya bukan, bahkan mode itu sekarang sangat bermanfaat baginya. Dan untungnya perhitungan Edrea tak meleset, orang yang mendekati dirinya memang berniat mencelakainya.
Dan setelah ia berhasil mencengkram pergelangan tangan seseorang di belakangnya itu, Edrea dengan cepat memutar tangan tersebut yang membuat pisau di tangan Puri terjatuh dan setalahnya baru Edrea memutar tubuhnya. Ia kini menatap kearah Puri yang tengah meringis merasakan sakit di tangannya.
"Cih, kirain tadi siapa, ternyata lo lagi. Tapi maaf ya say, niat lo buat nyelakain gue gagal lagi," tutur Edrea sembari memelintir tangan Puri lebih kencang lagi dan ia menekuk tangan tadi ke belakang tubuh Puri. Ia tak peduli jika tangan wanita sialan itu akan patah nantinya.
"Stttt. Lepasin gak!" teriak Puri dengan tatapan tajamnya.
"Katakan! Gue harus tanda tangan dimana?" tanya Edrea sembari mengacungkan pisau tadi tepat di wajah Puri.
Puri yang melihat hal itu pun ia mulai memberontak agar terlepas dari kuncian Edrea.
"Lo mau ngeluarin tenaga sebesar apapun atau bahkan tenaga dalam gak bakal bisa lepas dari gue," ujar Edrea yang semakin memperkuat kuncinya.
"Aws, lepasin gue sialan!" teriak Puri.
__ADS_1
"Haish, suara lo cempreng banget sih. Sakit nih telinga gue dengar teriakan lo tadi," ucap Edrea dengan tangan yang mengelus satu telinganya.
"Lepasin!" teriak Puri kembali. Ia tak peduli jika semua orang nanti akan berbondong-bondong menghampiri mereka. Malah menurutnya itu sangat bagus karena ia bisa memanfaatkan situasi itu untuk membuat Edrea dibenci satu sekolah atau lebih bagusnya lagi Edrea akan dikeluarkan dari sekolah karena tindakannya yang menganiaya teman sekolah.
"Tolong!" teriak Puri untuk memancing orang-orang agar mendekatinya.
Dan benar saja teriakan menggema tadi membuat warga sekolah berbondong-bondong datang ke taman belakang.
"Cih, permainan lo saat ini kampungan banget," ucap Edrea sembari melepaskan kuncian tangannya di tubuh Puri sebelum ada orang lain yang melihat aksinya tadi.
Sedangkan Puri, wanita itu sudah memulai aktingnya dengan ia berpindah tempat tanpa berjalan, lebih tepatnya seperti suster ngesot agar seragam olahraganya itu terlihat lusuh, ditambah sekarang wanita itu mengeluarkan air mata buayanya.
Edrea yang melihat itu semua, terkekeh geli tapi setelahnya tanpa Puri duga, Edrea kini melukai lengannya sendiri dengan pisau yang ia pegang tadi setelahnya ia melempar pisau tadi kearah Puri. Yang untungnya pisau tajam tadi mendarat di samping Puri bukan di tubuh wanita itu. Jika saja sampai mengenai tubuh Puri, sudah pasti adegan selanjutnya akan tambah seru lagi.
"Kita lihat siapa yang akan menang hari ini," ucap Edrea diakhiri dengan seringai di bibirnya.
Dan kini Edrea bergerak mendekati Puri saat dirasa para warga sekolah sebentar lagi sampai di taman tersebut.
"Mari kita mulai berakting," batin Edrea. Ia tampak senang saat akan beradu akting dengan rival bebuyutannya itu. Dan tentunya ia tak sabar dengan hukuman apa yang akan diterima Puri nantinya. Karena sudah bisa ia pastikan jika dirinya lah yang akan menang hari ini. Tak tau saja Puri ini jika Edrea adalah queen dalam segala sandiwara di luar rumah apalagi saat dirumahnya. Yang pastinya ia melakukan hal itu untuk kepentingan dirinya, apalagi saat dirumah dan ditindas kedua saudara kembarnya itu, maka ia akan melakukan sandiwara agar kedua orangtuanya memihak kepadanya. Licik memang, tapi itulah kelebihan dia. Memanipulasi seseorang untuk melindungi dirinya sendiri.
__ADS_1