
Saat Handoko masih menatap remeh kedua wanita yang duduk di lantai, kedua bodyguard yang ia suruh untuk memeriksa isi koper kedua wanita tersebut menyela aksinya.
"Maaf Tuan menyela sebentar," ucap salah satu bodyguard tersebut yang membuat semua orang disana mengalihkan pandangannya kearah bodyguard tersebut.
"Silahkan," tutur Handoko.
"Kita berdua telah selesai mengeledah isi koper Nyonya juga Nona dan kita menemukan dua box yang berisi perhiasan, kunci apartemen, kunci mobil berserta surat-suratnya, dan beberapa logam mulia," ujar bodyguard tersebut sembari menaruh barang-barang yang ia sebutkan tadi diatas meja.
Handoko kini terkekeh atas barang-barang yang ia lihat itu.
"Ternyata selain pandai berbohong juga pandai mencuri," sindir Handoko.
"Siapa yang kamu maksud pencuri hah? Itu semua milikku! Aku membeli barang-barang itu sendiri!" tutur Tiwi sembari berdiri dari duduknya lalu ia berlari kearah barang-barang tadi, berusaha untuk mengambilnya kembali. Tapi sayangnya ia tak bisa merebutnya, menyentuhnya saja tidak bisa karena kedua bodyguard tadi sudah mencegah dirinya.
"Lepas!" teriak Tiwi dengan terus memberontak agar dirinya terlepas dari cekalan kedua bodyguard Handoko tersebut.
Sedangkan Handoko yang tadi masih berdiri ditempat sebelumnya pun kini mulai melangkahkan kakinya menuju kearah Tiwi. Lalu setelah ia berhadapan langsung dengan sang empu, tangannya langsung ia gerakkan untuk mencengkeram rahang Tiwi dengan kuat.
"Memang benar kamu membeli barang-barang itu sendiri tapi apa kamu sadar jika barang-barang itu kamu beli dengan uang jerih payahku selama ini hah?" tanya Handoko sembari melepaskan cengkeramannya tadi dengan sangat kasar. Lalu setelahnya tangannya beralih untuk merebut sebuah tas yang masih bertengger di pundak Tiwi.
"Mau apa kamu? kembalikan!" teriak Tiwi yang masih berada di cekalan kedua bodyguard tadi.
Handoko tak memperdulikan teriakan dari Tiwi tersebut, tangannya pun terus mengeluarkan semua isi didalam tas itu hingga tas itu benar-benar kosong.
"Tas kamu sudah aku kembalikan," ujar Handoko sembari mengalungkan tas tadi di leher Tiwi. Setelahnya ia beranjak menuju Puri yang masih terbengong di lantai.
__ADS_1
"Apakah kamu tidak mau bermain dengan saya Puri?" ucap Handoko sembari mengambil tas kecil yang berada di pangkuan Puri.
Puri yang mendengar pertanyaan dari ayah tirinya itu pun menolehkan kepalanya.
"Tapi sayangnya, saya masih perjaka sedangkan kamu sudah tidak perawan lagi. Dan mungkin kamu juga sudah terkena penyakit kelamin gara-gara sering bergonta-ganti pasangan, sama persis seperti Mamamu itu. Untung saja selama ini saya bisa mengontrol napsu saya sehingga tidak pernah tidur dengan Mama kamu. Jika saja hal itu terjadi, pasti aku sudah terinfeksi penyakit kelamin itu. Hih amit-amit," ujar Handoko dengan tangan yang sudah mengambil semua isi didalam tas Puri tadi.
"Memang benar ya peri bahasa buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Mamanya wanita malam eh anaknya wanita murahan," sambung Handoko sembari berdiri dari posisi jongkoknya tadi.
"Tutup mulutmu Handoko! Kamu tidak berhak mengatai kita dengan sebutan itu!" geram Tiwi.
"Aku tidak bermaksud mengatai kalian seperti itu, tapi aku tadi hanya berucap sesuai fakta saja. Kalau kamu merasa tidak pantas mendapat sebutan itu ya terserah tapi aku ataupun orang awam sudah tau dan mau menyebut kamu juga anak kamu ini dengan sebutan itu," ujar Handoko lalu kemudian ia kembali duduk di sofa tempatnya tadi.
"Ris, Am, seret kedua wanita itu dan usir dia keluar dari rumah ini," tutur Handoko setelah memastikan jika kedua wanita itu sudah tak membawa barang apapun dari rumah tersebut kecuali pakaian mereka.
Kedua bodyguard tadi menganggukkan kepalanya dan setelahnya ia melakukan apa yang di tugaskan oleh tuan mereka.
"Awas saja kamu Handoko! Akan aku balas semua perlakuanmu ini di kemudian hari!" teriak Tiwi.
"Akan aku tunggu pembalasan kamu," balas Handoko tanpa takut sedikitpun.
Tiwi semakin geram akan jawaban dari Handoko tersebut dan kini ia menatap wajah bodyguard yang terus memegangi lengannya itu.
"Lepaskan tangan kamu dari saya! Saya bisa keluar sendiri dari rumah terkutuk ini!" ujar Tiwi sembari menghentakkan tangannya.
"Lepaskan saja mereka Ris, Am dan biarkan mereka keluar sendiri. Tapi jika mereka masih berlama-lama disini seret dan bunuh mereka sekalian," tutur Handoko yang membuat kedua bodyguard langsung melepaskan tangannya dari lengan Tiwi dan Puri.
__ADS_1
Tiwi yang sudah terbebas dari kuncian bodyguard Handoko pun segera menghampiri Puri yang seperti orang linglung itu tanpa membalas perkataan Handoko tadi. Biarkan saja laki-laki itu berucap sepuasnya sebelum dia tidak bisa lagi berbicara dan tunggu saja pembalasan yang akan Tiwi lakukan, batin Tiwi diakhiri dengan senyum miringnya.
"Ayo sayang kita pergi dari sini," ucap Tiwi sembari memapah tubuh anaknya dengan salah satu tangannya membawa koper miliknya juga milik Puri.
Dan saat mereka berdua baru membuka pintu rumah tersebut ternyata bertepatan dengan itu pula di luar rumah tersebut sudah ada beberapa polisi yang siap mengetuk pintu tadi.
Tiwi dan Puri tampak kaget melihat deretan polisi tersebut.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi? Apakah ini semua ulah Handoko?" tanya Tiwi dan Puri di dalam hatinya. Tak tau saja dia jika Handoko juga tak kalah terkejutnya dengan kedua wanita tersebut hingga membuat dirinya kini beranjak dari duduknya dan ikut bergabung dengan Tiwi dan Puri yang kini menatap dirinya dengan tatapan permusuhan.
"Maaf Pak sebelumnya, ada masalah apa ya hingga membuat bapak polisi datang ke kediaman saya?" tanya Handoko dengan jantung yang berdegup kencang.
Sedangkan Puri dan Tiwi kini saling pandang satu sama lain saat Handoko bertanya seperti tadi. Jika Handoko juga bingung akan kedatangan polisi dirumahnya berarti bukan dia yang memanggil polisi ke rumah itu? Tapi kalau bukan Handoko, siapa orang di balik semua ini? Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja berputar di otak Puri maupun Tiwi.
"Apakah benar ini rumah tuan Handoko?" tanya polisi tersebut yang membuat Puri juga Tiwi bernafas lega, berarti bukan mereka yang dicari polisi tersebut, pikir mereka berdua. Bahkan keduanya kini saling melempar senyum mengejeknya kearah Handoko karena mereka pikir polisi tersebut akan menangkap laki-laki tersebut. Sedangkan Handoko, laki-laki itu kini sudah berkeringat dingin.
"Be---benar. Handoko, saya sendiri, ada apa ya Pak?" tanya Handoko.
"Begini, kedatangan kami kesini untuk membawa putri bapak yang bernama Puri untuk kami mintai keterangan atas beberapa kasus yang menyeret namanya. Apakah putri bapak ada disini?" tanya salah satu polisi tersebut dengan sopan namun tegas.
Handoko mengerutkan keningnya, mencoba berpikir apa yang telah Puri perbuatan hingga wanita itu harus berurusan dengan pihak kepolisian? Handoko terus bertanya-tanya dengan dirinya sendiri, hingga ia mengingat cerita dari Iyas tempo hari yang lalu. Dan hal itu membuat Handoko yang tadinya cemas kini bisa bernafas lega.
Sedangkan kedua wanita itu yang sekarang sudah waspada terlebih lagi dengan Puri yang namanya tadi disebut oleh salah satu polisi tadi hingga membuat dirinya gelisah bukan main.
Tiwi yang juga merasakan kegelisahan itu pun, ia langsung mengkode sang anak untuk segera lari dari tempat tersebut.
__ADS_1
Puri yang paham akan kode tersebut pun langsung mencari celah untuk pergi dan setelah menemukan celah tersebut baru lah ia berlari sekencang mungkin menjauh dari gerombolan polisi tersebut.