
Leon terus menatap genggaman tangan Edrea yang masih setia berada di lengannya bahkan bibirnya yang selalu datar pun kini melengkung, membuat senyuman manis di wajahnya.
Dan saat keduanya kini sudah berada di depan toilet wanita, Edrea baru menghentikan langkahnya.
"Huh, maaf soal teman-teman gue tadi. Emang mereka tuh gak ada yang jelas. Genit semua," ucap Edrea. Leon kini terkekeh kemudian mengacak rambut Edrea.
"Iya gak papa," tutur Leon.
"Ya udah kalau gitu pergi sana gih," usir Edrea. Tidak tau saja jika tangannya masih tak mau menjauh dari lengan Leon.
"Lo ngusir gue?" tanya Leon.
"Ya iya lah. Gue mau ganti baju dan mungkin sebentar lagi kelas gue bakalan tanding basket sama kelas lain. Udah ah buruan sana pergi," usirnya lagi.
"Lo beneran ngusir gue nih? yakin?" Edrea memutar bola matanya.
"Lo dari tadi nanya mulu. Kalau gue bilang pergi ya lo pergi sana!" geram Edrea.
"Gue sih emang mau pergi dari tadi tapi masalahnya lo yang gak mau gue tinggal pergi," tutur Leon.
"Cih, PD banget lo." Leon lagi-lagi terkekeh kemudian matanya kini menatap tangan Edrea yang berada di lengannya.
"Terus ini apa? Ini sama aja udah bisa dijadikan bukti kalau lo gak mau gue tinggal lho." Edrea kini membelalakkan matanya kemudian dengan cepat ia melepaskan tangannya dari lengan Leon.
"Gue tunggu disini deh sampai lo selesai ganti baju," ujar Leon.
"Si---siapa juga yang mau ditungguin lo? Pergi sana," ucap Edrea yang tiba-tiba merasa gugup. Bahkan wajahnya kini terasa panas dan jika dia tak menyembunyikan wajahnya, pasti Leon nanti akan tambah ke PD-an saat melihat wajah Edrea yang memerah. Dan mungkin laki-laki itu menganggap bahwa semburat merah itu gara-gara salah tingkah dengannya padahal Edrea tengah malu karena tingkahnya tadi.
Leon yang sebenarnya tadi sudah sempat melihat semburat merah itu diwajah Edrea pun kini ia semakin gencar menggoda Edrea.
__ADS_1
"Gue ikhlas kok nungguin lo disini. Bahkan nanti kalau lo tanding gue akan jadi supporter yang teriaknya paling kencang dari pada fanboy lo itu," ucap Leon. Edrea yang sudah geram dengan setiap goda dari Leon pun kini ia mendorong pelan tubuh laki-laki tersebut agar sedikit menjauh dari toilet tersebut. Dan setelah berhasil barulah ia berlari masuk kedalam toilet wanita tadi.
Sedangkan Leon yang melihat tingkah menggemaskan Edrea pun kini ia terkekeh kecil.
"Masih sama. Gak ada bedanya sama sekali," gumam Leon sebelum akhirnya ia memilih untuk pergi. Karena ia tak ingin membuat Edrea marah kepadanya jika ia masih berada disekitar toilet saat sang empu sudah keluar.
Edrea kini mengatur nafasnya yang memburu setelah ia memasuki salah satu bilik kamar mandi tadi.
"Aduh kenapa nih tangan bisa gandeng lengan dia sih? Arkhhhh malu banget," ucap Edrea dengan jeritan yang tertahan.
"Siapa sih yang nyuruh tangan ini buat gandeng dia tadi. Pasti semua ini gara-gara otak yang udah ngasih intrusi sama tangan. Arkhhhh tapi nih otak kenapa gak diskusi dulu sama kesadaran gue. Kalau tadi diskusi dulu pasti gak akan terjadi seperti tadi. Aaaaa Mommy, Rea malu," sambungnya sembari menutup wajahnya sendiri.
Tapi tak berselang lama dari gerutuannya tadi, terdengar suara ketukan pintu di baliknya.
"Apa didalam ada orang?" teriak seseorang yang berada dibalik pintu bilik kamar mandi yang ditempati Edrea sekarang.
Edrea kini perlahan menjauhkan tangannya dari wajahnya. Lalu ia mulai angkat suaranya untuk membalas pertanyaan dari seseorang di luar sana.
"Apa tadi yang teriak-teriak itu kamu? Apa ada sesuatu yang terjadi sama kamu didalam?" tanyanya dengan nada yang mulai panik.
"Ah tidak. Saya baik-baik saja Kak. Tadi teriak karena ada kecoa disini. Tapi sekarang kecoanya udah masuk kembali ke habitatnya. Jadi Kakak gak perlu khawatir karena saya jauh dari kata baik-baik saja. Dan saya minta maaf karena sudah menganggu orang lain didalam toilet ini," ucap Edrea.
"Benarkah?" tanya orang tersebut yang sepertinya untuk memastikan Edrea memang dalam keadaan baik-baik saja.
"Benar kok Kak," jawab Edrea.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Aku sekarang pergi dulu. Kalau ada apa-apa sama kamu langsung telepon orang terdekat kamu buat bantuin," ujar orang tadi.
"Siap Kak. Terimakasih karena mengkhawatirkan saya. Dan sekalian lagi maaf karena sudah menunggu ketenangan Kakak dan yang lainnya."
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Ya sudah kamu lanjutan apa yang kamu ingin lakukan aku keluar dulu," ucapnya.
"Siap Kak," balas Edrea dan perlahan kini terdengar suara langkah kaki yang menjauh dari depan bilik kamar mandi tersebut. Dan hal itu membuat Edrea menghela nafas lega kemudian tanpa banyak bicara lagi ia langsung mengganti pakaiannya.
Lalu tak berselang lama, Edrea kelaur dari bilik kamar mandi tersebut bahkan kini ia sudah melangkah kakinya keluar dari kamar mandi tadi dengan seragam olahraga yang melekat ditubuhnya.
Saat dirinya sudah benar-benar keluar, Edrea menoleh ke kanan dan kirinya. Memastikan jika Leon memang sudah pergi.
"Huh aman," gumamnya dan baru saja dua langkah ia ingin meninggalkan depan kamar mandi tersebut, panggilan nyaring dari para sahabat Edrea membuat sang empu mau tak mau menghentikan langkahnya.
"Rea! Lo diam disitu jangan bergerak!" teriak Yesi yang dituruti oleh Edrea. Karena ia juga tak berniat untuk mengindari mereka berdua.
"Udah gue bilang berulang kali. Jangan teriak-teriak gak jelas gitu. Disini bukan hutan yang saat lo teriak gak ada yang bakalan dengar, tapi kita tuh sekarang lagi disekolah yang hanya bicara sedikit keras saja sudah mengalihkan perhatian warga sekolah apalagi sampai teriak kayak tadi mana sambil lari-lari lagi. Duh benar-benar kalian sangatlah berhasil mengalihkan pandangan semua orang disekolah ini," omel Edrea saat kedua sahabatnya itu sudah berhadapan dengannya sembari ia menatap ke sekelilingnya.
"Hehehe maaf maaf kelepasan," ucap Yesi dengan cengiran khasnya.
"Oh ya btw dimana si ganteng?" tanya Yesi sembari celingukan kesana kemari.
Edrea mengerutkan keningnya.
"Si ganteng?" tanya Edrea.
"Iya si ganteng. Ck itu lho si babang Leon." Edrea kini memejamkan matanya sesaat dan setalah matanya terbuka kembali ia langsung menyentil kening kedua sahabatnya itu dengan cukup keras yang membuat sang empu meringis kesakitan.
"Si ganteng, si ganteng apaan sih. Alay banget jadi orang. Dah ah bodoamat," ujar Edrea kemudian ia langsung pergi meninggalkan Yesi dan Resti untuk kedua kalinya.
"Dia kenapa sih Yes? perasaan kita gak punya salah sama dia. Ya ada sih tapikan dia udah maafin kita tadi, ya kali masih marah," ucap Resti sembari menatap punggung Edrea yang semakin menjauh.
"Gue juga gak tau. Hari ini tuh anak sensitif banget. Mungkin karena dia lagi PMS kali. Tapi baru kali ini dia marah gara-gara kita manggil laki-laki dengan sebutan si ganteng. Biasanya dia fine-fine aja tuh," ujar Yesi dengan otak yang terus menebak-nebak dengan sendirinya.
__ADS_1
"Atau jangan-jangan?" heboh mereka berdua sembari saling tatap satu sama lain dan tanpa melanjutkan ucapnya tadi, mereka berdua malah saling melempar senyum kemudian mereka beranjak dari tempat tadi dengan saling berpegangan tangan bahkan senyuman mereka masih terukir indah di wajahnya.