
Edrea mengeluarkan semua perhiasan yang ia ambil kemarin dan langsung menaruhnya begitu saja di atas meja yang masih kosong.
"Tadaaaaa, banyak kan," ucap Edrea diakhiri ia bertepuk tangan.
Sedangkan semua orang yang ada disana di buat melongo tak percaya bahkan art yang tadinya hanya berniat untuk lewat saja kini berhenti dan melihat barang-barang yang berada di atas meja itu pun ekspresinya juga tak kalah syok dengan 4 orang lainnya di ruangan tersebut.
Edrea yang melihat art tersebut langsung berseru.
"Mbak Nini sini," ucap Edrea kepada art tersebut dengan senyum manisnya.
Art tadi tampak bingung dan menunjuk dirinya sendiri.
"Saya nona?" tanyanya untuk memastikan.
Edrea menganggukkan kepalanya mantap.
"Iya lah. Kan di rumah ini yang punya nama Nini cuma mbak aja kan gak ada yang lain?" Mbak Nini pun mengangguk dan segera mendekati nona mudanya.
"Ada apa ya non? perlu bantuan atau non mau makan, minum sesuatu? mbak langsung buatin buat non. Oh ya nona gak kenapa-napa kan? gak ada yang luka kan non?" tanya art tersebut yang saat hilangnya Edrea ikut merasakan kehilangan bahkan biasanya rumah tersebut yang selalu ramai dengan tingkah Edrea yang hanya berteriak-teriak tak jelas, tiba-tiba konser dadakan dengan suara yang sangat mengacaukan pendengaran atau hanya sekedar bercengkrama dengan para art dan yang paling sering diajak curhat salah satunya ya mbak Nini ini. Salah satu art yang paling lama bekerja dirumah tersebut walaupun umurnya mungkin seumuran dengan Mommy Della atau bahkan triplets belum lahir dia sudah bekerja bersama keluarganya. Entahlah yang ia tahu saat dirinya bisa bicara dan melihat mbak Nini sudah bekerja di rumah itu.
Edrea masih tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan mbak Nini tadi.
"Rea gak mau makan ataupun minum mbak. Dan Rea juga gak kenapa-napa. Alhamdulillah masih sehat sentosa. Oh ya Rea punya sedikit rezeki buat mbak. Bentar." Tangan Edrea terulur untuk mengambil 2 gepok uang dan di berikan ke tangan mbak Nini.
__ADS_1
"Ya Allah non, apa ini?" Edrea memutar bola matanya.
"Ya uang lah mbak masak ada daun bentukan begitu," tutur Edrea.
"Iya non mbak tau. Tapi uang segini banyaknya buat siapa?" Edrea mendengus sebal. Padahal tadi ia sudah bilang kalau uang tadj buat artnya itu tapi juga harus di bagi rata dengan orang-orang lain yang bekerja di rumah itu juga tentunya.
"Mbak mau buat Rea frustasi ya. Rea kan tadi udah bilang kalau uang ini buat mbak dan juga para orang-orang yang berkerja di rumah ini. Anggap saja sebagai bonus karena mbak dan yang lainnya sudah bekerja keras setiap hari dan sebagai ucapan terimakasih karena udah sabar ngadepin Rea yang sering jail sama mbak dan yang lainnya," tutur Edrea dengan cengiran di bibirnya.
"Tapi non, ini banyak banget," ucap mbak Nini bahkan tangannya sekarang bergetar. Ia tak pernah memegang uang sebanyak itu sebelumnya.
"Uang itu gak sebanding sama kerja keras mbak dan yang lainnya. Jadi terima aja ya mbak. Jarang-jarang lho Rea ngelakuin ini. Maklum lagi ketimpa rezeki jadi bagi-bagi dikit buat yang lainnya," tutur Edrea dengan kekehan kecil.
"Ini beneran non?"
"Gak ada kan? Maka dari itu mbak terima ini dan bagi-bagi sana sama yang lainnya. Tapi ingat harus di bagi rata ya," ucap Edrea.
"Siap non. Terimakasih banyak ya non. Kalau begitu saya kumpulkan yang lainnya dulu. Sekali lagi terimakasih non, tuan, nyonya, duo tuan muda." Semua orang disana hanya menganggukkan kepalanya setelah itu mbak Nini dengan gembira meninggalkan tempat tersebut. Jekpot sekali dirinya hari ini, dia tadinya hanya berniat untuk melihat sekilas saja tapi dengan baik hati nona muda di rumah itu malah secara cuma-cuma berbagi dengan dirinya dan orang lain. Duh kalau kayak gini dia akan semakin betah kerja dengan orang-orang yang sangat baik hati seperti keluarga ini. Bahkan tak ada yang memandang rendah para pekerja di rumah itu. Mereka dianggap sama derajatnya dengan para majikannya. Bahkan triplets sangat sopan kepada mereka semua. Bukan angkuh dan seenak mereka menyuruh para art, mereka justru bisa di bilang mandiri karena kebanyakan mereka jika ingin apa-apa pasti buat sendiri kecuali mereka benar-benar tak bisa membuatnya atau sedang sibuk. Selebihnya mereka sendiri yang mengerjakan. Bahkan kadang-kadang mereka juga membantu para art untuk membersikan kamar atau lingkungan rumah. Dan itu semua sangat di dukung oleh Daddy Aiden maupun Mommy Della.
Back to topik.
Setelah kepergian mbak Nini dari hadapan mereka, mommy Della kini angkat bicara.
"Perhiasan-perhiasan ini kamu dapat darimana Rea?" tanyanya tak habis pikir.
__ADS_1
"Hehehehe masih sama Mom. Dari rumah si penculik," jawab Edrea yang langsung mendapat tepuk tangan dari Daddy Aiden.
"Daddy bangga sama kamu. Tapi sayangnya kenapa cuma ini aja yang kamu gasak? gak sekalian sama surat tanah, surat perusahaan kalau ada, atau surat-surat lainnya yang bisa di cairkan menjadi uang. Atau black card dia, kan lumayan." Mommy Della kini menatap tajam kearah suaminya.
"Daddy!" geram Mommy Della.
"Apa sih sayang?"
"Kamu itu ya. Oh astaga ya Allah, kenapa aku punya keluarga bentukannya gak ada yang benar sih," keluh Mommy Della sembari memijit pangkal hidungnya dan tubuhnya ia rebahkan disandaran sofa.
"Mom, kedua jagoan Mommy masih waras lho ini," tutur Erland dan Azlan secara serempak.
"Wah kompak banget kita bang. Tos dulu dong," ucap Erland dan mereka berdua pun kini bertos ria dengan kekehan.
Mommy Della hanya bisa menghela nafas lelah. Baru juga mereka berdua bicara jika keduanya waras tapi lihat sekarang malah tengah asik tertawa berdua entah apa yang lucu, Mommy Della tak tau dan tak mau tau.
"Oh ya Mom. Ini buat Mom. Rea udah pilihin yang paling cakep buat Mommy," ucap Edrea sembari menyodorkan sebuah gelang yang menurutnya sangat indah dan cocok jika dipakai oleh Mommynya itu.
Dan karena sebal Mommy Della tak segera menerima pemberinya dan hanya menatap gelang itu pun alhasil Edrea kini meraih tangan Mommy Della dan segera memakaikan gelang tadi di pergelangan tangan Mommy Della.
"Nah tangan Mommy jadi cantik kan sekarang," ucap Edrea yang tak di sanggah oleh Mommy Della. Ia sebenarnya juga sangat suka model gelang tersebut tapi jika mengingat darimana gelang itu di peroleh, Mommy Della jadi enggan untuk memakainya. Tapi jika tak di pakai, juga mubazir. Ah ya sudahlah Mommy Della akan memakai dan menerima gelang itu. Anggap saja itu pemberian Edrea dari uang anaknya sendiri bukan hasil curian.
__ADS_1