
Butuh waktu beberapa menit saja, para pasukan emak-emak tersebut berhasil melumpuhkan lawan bahkan keempat laki-laki tersebut kini diikat dengan sebuah tali tepat di tiang listrik di samping jalan.
Dan sesaat setelahnya terlihat mobil polisi mendekati mereka. Kemudian saat polisi tersebut keluar, mereka langsung bergerak untuk meringkus keempat laki-laki tersebut yang terkulai lemas dengan wajah yang babak belur, bahkan mereka sudah pasrah dengan penangkapan tersebut. Sedangkan salah satu polisi kini mendekati Mommy Della.
"Terimakasih atas kerjasamanya dan laporan yang kita terima. Kasus yang tercantum dalam laporan, akan kita periksa dan tindak lanjuti hingga tuntas," ucap polisi tersebut saat dirinya sudah berada di dekat Mommy Della.
Mommy Della kini tersenyum kearah polisi tersebut.
"Saya juga berterimakasih kepada bapak kepolisian semua yang sudah bergerak cepat untuk membantu kita. Dan saya mohon, usut kasus ini sampai akar-akarnya," tutur Mommy Della yang diangguki oleh polisi tersebut.
"Baik, sebisa mungkin kita akan melakukannya. Kalau begitu, kita pamit undur diri. Selamat siang," pamit polisi tersebut.
"Selamat siang dan selamat bertugas," ujar Mommy Della.
Dan setelah mobil polisi tersebut satu-persatu meninggalkan lokasi kejadian, Mommy Della kini mengalihkan pandangannya kearah pasukannya tadi.
"Terimakasih girls, tanpa kalian gue tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendiri," tutur Mommy Della.
"Tidak perlu berterimakasih, Del. Kita kan kawan yang solid. Jika salah satu anggota dari the girls butuh bantuan, sebisa mungkin kita akan bergerak membantu anggota itu. Tidak peduli jika kita tengah sibuk, kita akan tetap bergerak untuk membantu kawan kita. Bukan begitu girls?" ucap salah satu emak-emak disana.
"Betul itu!" teriak semua emak-emak dengan kompak dan hal tersebut membuat Mommy Della tersenyum kearah mereka.
"Uhhhh gue gak salah emang punya teman seperti kalian. Jadi tambah sayang sama kalian. Unchhh sini-sini kita pelukan bersama atas kemenangan kita tadi," ujar Mommy Della yang langsung membuat para emak-emak tadi merapatkan barisan mereka dan saling berpelukan secara bersama-sama.
Hingga pelukan tersebut terlepas saat suara yang Mommy Della kenal terdengar begitu nyaring di telinga semua orang disekitarnya.
"Mommy!" teriak Edrea yang ternyata sudah keluar dari persembunyiannya. Dan kini gadis itu tengah berlari menuju kearah Mommy Della dengan tangan yang sudah ia rentangkan.
"Rea bangga sama Mommy," ucap Edrea saat tubuhnya sudah mendarat di pelukan Mommy Della.
"Rea juga bangga dengan tante-tante semua," sambung Edrea sembari melepaskan pelukannya tadi. Dan ucapannya tadi dibalas dengan senyuman oleh semua emak-emak disana. Bahkan Zea yang berdiri di belakang Edrea pun ikut tersenyum bangga kepada geng Mommy Della tersebut.
"Ya memang harus bangga dong. Kalau bukan kita mana ada yang bisa mengalahkan keempat penjahat sialan itu," ucap Mommy Della dengan sombongnya.
"Iya-iya deh Rea percaya. Tapi Mom," tutur Edrea yang sengaja ia gantung.
"Tapi apa?" tanya Mommy Della.
"Hmmmm Rea boleh gak minta bantuan Mommy and the gang buat kawal Rea sampai ke sekolah?" tanya Edrea.
"Ck, kamu mah dibantuin sekali mintanya dua kali," ucap Mommy Della.
"Ayolah Mom, masak sama anak sendiri perhitungan. Tante-tante juga mau kan bantuin Rea?" tanya Edrea.
"Setujui aja kali Del. Kita juga tidak tau kan situasi perjalanan anak lo nantinya seperti apa? Kita juga tidak tau jika ada orang lain yang masih mengintai dia. Lagian kita juga siap membantu dia kok," ucap salah satu emak-emak tadi yang kemudian disetujui oleh seluruh anggotanya.
"Tuh Mom dengar. Tante-tante aja peduli dan mau bantu Rea, masak Mommy yang notabenenya ibu kandung Rea tega sama anaknya sendiri sih," tutur Edrea.
"Haish ya sudah Mommy setuju dengan permintaan kamu," ujar Mommy Della pada akhirnya.
"Yessss. Thank you Mom," ucap Edrea diakhiri dengan mencium pipi Mommynya tersebut.
Dan setelah permintaannya tadi disetujui oleh para emak-emak tersebut, Edrea dan Zea bergegas mengambil mobilnya kemudian dengan segera mobil itu ia jalankan.
Tapi perjalanan mereka saat ini tidak mulus sama sekali pasalnya ada gerombolan orang asing yang tiba-tiba memblok jalan meraka semua menuju ke arah sekolah Edrea.
"Benar kan firasat gue sebelumnya. Huh, banyak kerjaan sekali hari ini, melelahkan sekali," ucap Edrea.
Tapi baru saja dirinya dan juga Zea ingin turun dari dalam mobil, para pasukan emak-emak sudah menghadang didepan mobilnya.
"Tetap didalam," ucap Mommy Della yang hanya bisa diangguki oleh Edrea maupun Zea. Kemudian setelahnya pandangan Mommy Della tertuju ke gerombolan orang-orang tadi.
"Apakah kalian tidak punya pekerjaan hah? Main hadang orang lain saja. Apa kalian pikir ini jalanan milik kalian!" tutur Mommy Della dengan berkacak pinggang.
__ADS_1
"Anda jangan ikut campur. Kita tidak punya urusan dengan anda semua. Dan sebelum kita melukai kalian, lebih baik kalian minggir dan biarkan kita menyelesaikan tugas kita," ucap salah satu orang tersebut.
"Ada hak apa lo nyuruh kita minggir hah? Kita juga tidak takut dengan kalian. Dan perlu kalian tau ras kita lebih kuat daripada kalian," ujar kawanan Mommy Della.
"Wahhhhh tidak bisa di biarkan. Mereka terlalu meremehkan kita," gumam salah satu laki-laki disana.
"Benar. Gue tidak terima jika kita di katakan lemah sama emak-emak peyot itu. Dan biar mereka tau rasa, lebih baik kita berikan pelajaran untuk mereka semua. Lagian kalau kita cuma adu mulut seperti ini, urusan kita nanti tidak akan kelar," usul laki-laki lainnya.
"Baik kalau gitu kita kasih sedikit pelajaran buat mereka. Tapi ingat kita menyerangnya jangan pakai senjata apapun. Kasihan mereka kalau harus ngerasain sakitnya tersayat senjata ditambah mereka nanti harus ngerasain encok akibat melawan kita," ujar pimpinan gerombolan tersebut sekaligus menyindir para pasukan emak-emak tadi.
"Wahhhhh kalian terlalu meremehkan kita. Girls serang!" terik Mommy Della yang membuat semua emak-emak langsung berlari kearah target mereka tak lupa dengan membawa senjata andalan mereka masing-masing yang sedari tadi mereka sembunyikan dibalik badan mereka.
"Ze, lo tadi beli cemilan kan?" tanya Edrea tiba-tiba.
"Iya. Emang kenapa?" tanya balik Zea penasaran.
"Gue minta. Kayaknya seru kalau kita lihat mereka lagi bertarung ditemani cemilan," ujar Edrea yang membuat Zea menggelengkan kepalanya.
Namun tak urung, tangan Zea kini bergerak untuk meraih satu kantong plastik yang berisi makanan ringan lalu kemudian ia menyerahkannya kepada Edrea yang langsung membuat gadis tersebut tersenyum cerah. Dan tanpa mengalihkan pandangannya, ia menikmati makanan ringan tersebut dengan sesekali berteriak untuk menyemangati pasukan emak-emak tadi.
...****************...
Dengan nafas ngos-ngosan, para emak-emak tersebut mundur dari aksinya setelah memastikan lawan mereka kalah dalam pertempuran. Bahkan ada beberapa yang tak sadarkan diri dan memilih pergi daripada tubuh mereka hancur karena ulah emak-emak jagoan itu.
"Huuuuu. Cemen!" teriak semua wanita tersebut saat mobil lawan satu-persatu bergerak meninggalkan lokasi kejadian.
"The girls!" teriak Mommy Della sembari mengulurkan tangannya untuk memulai ritual selebrasi. Dan uluran tangan tadi langsung di sambut oleh teman-temannya.
"One power the best!" balas pasukan emak-emak tadi dengan sorakan mereka.
Sedangkan Edrea dan Zea yang melihat kembali kemenangan pasukan Mommy Della pun mereka bertepuk tangan bangga atas pencapaian emak-emak tadi.
"Emak-emak dilawan yang ada mereka kalah sebelum mengeluarkan tenaga. Karena emak-emak itu merupakan penguasa dunia yang sesungguhnya. Tidak takut dengan apapun dan tidak mau kalah dengan siapapun," tutur Edrea dengan sesekali memberikan jempol ke emak-emak yang menatap dirinya.
Dan saat mobil-mobil yang mengawal Edrea dan Zea telah sampai didepan SMA Balerix, tatapan semua orang di sana langsung tertuju kearah mobil-mobil tersebut.
"Pasukan emak-emak mau demo kemana tuh?" ucap Erland saat melihat satu-persatu kawanan Mommy Della keluar dari mobil mereka masing-masing.
"Lah Mommy juga ada," timpal Azlan.
"Edrea sama Zea juga," ujar Leon.
"Eh eh eh mereka jalan kesini. Kalau kayak gini gue jadi takut sama mereka takut di culik soalnya," tutur Odi yang juga tengah dalam pengawasan pihak kepolisian.
"Ck, mereka kalau mau nyulik orang lihat-lihat kualitas dan kuantitas dulu. Mana mau mereka nyulik orang yang modelannya kayak lo ini. Yang ada mereka gak dapat untung tapi malah dapat rugi," ujar Brian salah satu sahabat Erland.
"Kurang ajar lo. Gini-gini gue pintar kali bisa membanggakan orang-orang disekeliling gue. Contohnya Erland nih yang selalu bangga sama gue, iya kan Er?" ucap Odi.
"Iyain aja biar cepat," timpal Erland yang tak mau perhatiannya terganggu dan hal tersebut justru membuat Odi tersenyum kearah Erland.
"Emang the best sahabat gue yang satu ini," ujar Odi dengan senangnya.
...****************...
Disisi lain Mommy Della yang baru sadar jika situasi di area sekolah tersebut sangat tak wajar pun ia kini mulai bertanya kepada Edrea yang berada di sampingnya.
"Ini kenapa banyak banget polisi? Apa ada satu hal yang Mommy lewatkan?" tanya Mommy Della penasaran.
"Eh ini kan sekolahan yang tadi pagi masuk berita," ucap salah satu kawan Mommy Della yang berhasil mengalihkan perhatian ibu 3 anak tersebut.
"Maksudnya masuk berita?" tanya Mommy Della.
"Jadi gini tadi pagi tuh ada berita tentang sekolah ini, katanya ada komplotan bersenjata yang menyerang secara tiba-tiba disekolah ini. Makanya kenapa banyak polisi yang sekarang berada di sini," ujar teman Mommy Della.
__ADS_1
Dan hal tersebut membuat Mommy Della kini membelalakkan matanya. Lalu setelahnya ia mengalihkan pandangannya kearah Edrea dan Zea yang sekarang tengah nyengir kepadanya.
"Kenapa kalian tidak kasih tau Mommy kalau disekolah ini tadi dalam bahaya?" tutur Mommy Della.
"Rea sih sebenarnya tadi sudah mencoba menghubungi nomor Mommy. Tapi ya seperti biasa, Mommy sibuk mempercantik diri jadinya gak dengar saat Rea telepon tadi," ujar Edrea.
"Masak sih?" tanya Mommy Della tak percaya pasalnya ia hanya mendengar satu panggilan masuk atas nama Edrea saat gadisnya itu di cafe tadi.
"Kalau Mommy gak percaya cek aja sendiri di riwayat panggilan," ujar Edrea yang membuat tangan Mommy Della bergerak membuka ponselnya. Dan setelah ia mengetahui jika ucapan dari Edrea tadi benar, ia hanya bisa menampilkan senyumannya.
"Hehehe ya maaf, Mommy gak dengar tadi. Tapi kalian berdua tidak kenapa-napa kan?" tanya Mommy Della khawatir.
"Tidak Mom, kita berdua baik-baik saja. Tapi entahlah dengan jagoan Mommy. Pasalnya kita berdua tadi pergi buat jemput Daddy, situasi disini masih mencekam," ujar Edrea.
"Daddy juga ada di sini?" tanya Mommy Della sembari mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan suaminya.
"Tadi sih iya. Tapi kalau sekarang Rea juga tidak tau dimana suami Mommy itu berada," ucap Edrea.
"Astaga. Ya sudah abaikan Daddy, karena Mommy yakin dia bisa jaga diri dia sendiri. Tapi Mommy masih penasaran kenapa ketiga jagoan Mommy seperti lagi dalam pengawasan polisi?" tutur Mommy Della.
"Kalau Mommy tanya sama kita, kita juga tidak tau Mom penyebabnya apa. Dan supaya pertanyaan Mommy tadi mendapat jawaban, mending Mommy tanya langsung sama mereka bertiga atau sama salah satu polisi disini. Siapa tau mereka mau bantu jawab," ujar Edrea.
Mommy Della yang mendengar penuturan dari Edrea tadi, ia menganggukkan kepalanya sebelum dirinya melangkahkan kaki mendekati ketiga jagoannya itu.
Tapi belum sempat ia berhadapan langsung dengan mereka bertiga, langkah Mommy Della terhadang oleh salah satu polisi disana.
"Maaf, ibu tidak di perbolehkan mendekati mereka," ucap polisi tersebut.
"Memangnya kenapa saya tidak diperbolehkan mendekati anak saya sendiri?" tanya Mommy Della tanpa rasa takut sedikitpun.
"Karena mereka sekarang tengah menjadi tersangka sementara dalam kejadian yang terjadi di sekolah ini," jawab polisi tersebut.
"Hah? Kok bisa? Bapak sepertinya salah paham deh. Mana mungkin anak saya yang juga merupakan murid disekolah ini adalah penyebab dari permasalahan yang tidak bisa dianggap remeh itu. Kalau pun mereka bandel, palingan mereka cuma adu jotos saja sama murid lain dan tidak mungkin mereka melakukan hal yang jauh lebih dari itu," ujar Mommy Della yang berusaha untuk membela anaknya.
"Bener tuh pak apa yang di katakan Mommy saya. Kita tuh bandelnya masih dibilang wajar. Lagian cuma bawa senjata doang udah di tetapkan sebagai tersangka sementara, mana gak ada bukti yang memberatkan kita semua lagi. Kalau kayak gini kan gak adil buat kita," timpal Erland.
"Setuju!" teriak semua orang yang ikut menjadi tersangka sementara itu.
"Diam kalian!" ucap polisi tersebut dengan tegas.
"Pihak kita sekarang juga tengah melakukan investigasi dan mencari bukti tentang permasalahan ini. Jadi dimohon kerjasamanya," sambungnya.
"Kerjasama sih kerjasama tapi jangan terlalu mengekang kita dong pak. Pakai ponsel kita di sita pula. Mana gak dikasih makanan lagi, udah lapar juga nih perut," keluh Odi.
Dan saat polisi tadi ingin menimpali ucapan dari Odi, terdengar suara berat yang mengintruksinya.
"Bebaskan mereka!" ucap komandan kepolisi yang sudah kembali setelah melihat bukti dari CCTV di cafe sebrang sekolah.
"Mereka tidak bersalah dalam kejadian hari ini," sambungnya. Dan setelah perintah dari komandan tersebut terdengar, para polisi yang bertugas untuk menjaga Erland, Azlan, Leon dan teman-temannya, mereka kini menjauh dari mereka semua.
"Huwahhh akhirnya," teriak mereka semua dengan suara yang terdengar lega.
"Tuh kan pak. Apa yang saya bilang tadi benar kan, kalau kita itu tidak bersalah. Lain kali kalau mau menuduh seseorang tuh harus lihat buktinya dulu. Jangan asal nuduh sembarangan," ujar Erland.
"Saya selaku perwakilan dari pihak kepolisian meminta maaf kepada kalian yang sudah merasa kita rugikan. Entah rugi waktu ataupun tenaga. Dan saya juga ucapkan terimakasih karena niat kalian tadi sudah sangat baik untuk membantu kita dalam menyelesaikan masalah yang terjadi. Sekali lagi saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian," ucap komandan kepolisi tersebut.
"Hari ini kita maafkan. Tapi kalau bapak mengulangi kesalahan yang sama, sepertinya saya harus bertindak untuk mengusulkan bapak-bapak sekalian di ganti dengan orang yang lebih profesional. Dan satu lagi, kita mau minta ponsel kita kembali," ujar Azlan yang langsung membuat salah satu polisi yang tadi menyita ponsel kompolotan anak muda itu pun dengan cepat ia menyerahkan ponsel tersebut ke sang pemilik. Lalu setelah selesai membagikan ponsel tersebut, polisi tadi kembali berdiri ke tempat semula.
"Sekali lagi kita meminta maaf atas kesalahan tadi. Dan untuk tuan Aiden, seperti yang saya katakan sebelumnya. Jika saya akan mengawal permasalahan ini hingga selesai. Dan terimakasih atas bantuan dari bapak tadi," ujar komandan tersebut sembari mengulurkan tangannya kearah Daddy Aiden yang langsung disambut oleh sang empu dengan senyum dan anggukan kepala.
"Baiklah kalau begitu kami pamit undur diri. Selamat siang," ucap komandan polisi tersebut.
"Selamat siang," balas Daddy Aiden. Dan setelah komandan tersebut berpamitan, semua pihak kepolisian tampak perlahan meninggalkan lokasi kejadian tersebut, meninggalkan sebagian anak muda yang tengah menggerutu karena kesalahan yang terjadi tadi, terlebih dengan tuduhan tanpa bukti yang menimpa mereka sebelumnya.
__ADS_1