
Saat Edrea dan Leon telah pergi dari kerumunan orang-orang tersebut, kepala sekolah maupun guru-guru yang lainnya mencoba untuk membubarkan siswa-siswi yang masih menatap Puri dengan penuh kebencian. Dan setelah semuanya bubar, kini kepala sekolah kembali menatap Puri yang masih terisak dan terduduk di rerumputan.
"Berdiri dan ikut saya ke ruang kepala sekolah," ucap kepala sekolah tersebut sebelum beliau meninggalkan Puri.
Sedangkan beberapa guru membantu Puri untuk berdiri lalu mereka memapah wanita itu mengikuti kepala sekolah tadi sedangkan pisau yang digunakan untuk melakukan aksi tadi juga tak luput dari penglihatan guru disana yang kemudian pisau itu dibawa untuk dijadikan barang bukti nantinya.
"Lo hari ini gue pastiin di tendang dari sekolah ini. Tapi jika lo hari ini lolos gue pastiin Lo akan tetap mati ditangan gue dihari selanjutnya," batin Puri yang masih berpikir jika hari ini lah dia yang akan menang dan Edrea akan hancur lalu dicap jelek oleh semua orang kemudian Edrea di keluarkan dari sekolah.
Disisi lain lebih tepatnya di UKS sekolah tersebut, Edrea telah ditangani oleh seorang dokter dari salah satu teman Leon yang peka jika temannya itu pasti membutuhkan seorang dokter profesional untuk menangani luka Edrea. Dan tadi saat mereka baru sampai di UKS tersebut, dokter tersebut sudah datang lebih dahulu, jadi Edrea tak perlu menunggu lagi dan langsung ditangani. Sedangkan Leon yang tak tega melihat lengan Edrea yang mungkin sekarang tengah dijahit pun memilih keluar dan menunggu dokter selesai melakukan tugasnya.
"Gue yakin pasti orangtua Edrea juga Puri nanti dipanggil ke sini," celetuk Galuh yang tengah terduduk disamping Leon yang tengah menatap lurus kedepan tapi tatapan itu benar-benar tajam.
"Orangtua Edrea gak mungkin bisa kesini," timpal Leon yang membuat semua temannya yang juga tengah menunggu Edrea pun menatap kearahnya.
"Lah kenapa? Bukannya Edrea dari keluarga terpandang dan harmonis bukan dari keluarga broken home? Apa gara-gara mereka sibuk ngurusin kerjaan jadi gak bisa kesini? tapi gue rasa gak mungkin deh mereka mentingin pekerjaan dari pada anaknya sendiri," ucap Jojo.
"Karena mereka sekarang lagi di luar negeri dan kepergian kedua orangtua Edrea bukan karena perjalanan bisnis tapi ada alasan lain," tutur Leon.
"Terus gimana dong kalau sampai kedua orangtua Edrea gak kesini, pasti nantinya Edrea yang kalah dan keluar dari sekolah ini. Secara kan Puri pintar banget bersilat lidah ditambah dengar-dengar orangtua Puri juga merupakan orang terpandang dan salah satu donatur di sekolah ini," ujar Faisal.
__ADS_1
Leon kini menolehkan kepalanya kearah Faisal dengan kerutan didahinya juga salah satu alisnya terangkat ke atas.
"Donatur disekolah ini?" tanya Leon yang diangguki oleh Faisal.
"Tapi gue gak tau pastinya juga sih, cuma tadi sempat dengar para biang gosip ngomong gitu. Dan siswa-siswi disini kan juga gak tau status asli Edrea jadi mereka khawatir kalau Edrea akan di tindas keluarga Puri," ujar Faisal.
Leon menghela nafas, mungkin dari kejadian ini Edrea akan mengungkapkan keluarga dia yang sebenarnya. Jika memang itu terjadi, ia akan sangat bersyukur karena setidaknya tak ada yang berani nyelakain Edrea lagi saat mereka semua tau tentang seluk-beluk keluarga Edrea. Tapi perlu digarisbawahi kecuali orang-orang yang tak punya otak dan akal pikiran akan masa depan mereka jika masih berani mengganggu Edrea di masa depan.
Saat Leon ingin menimpali kembali perkataan dari Faisal tadi, teriakan dua gadis dari kejauhan membuat mulutnya yang tadi sudah siap meluncurkan kata-kata kembali terkatup.
"Edrea!" teriak mereka berdua sembari mendekati gerombolan Leon dan taman-tamannya itu.
"Keadaan Edrea sekarang gimana?" tanya Yesi dengan panik.
"Dia masih ditangani sama dokter didalam. Lo juga berdua katanya sahabat tapi saat Edrea terluka dan ditindas orang lain, kemana kalian berdua hmmm?" tanya Leon dengan tatapan dinginnya.
Yesi dan Resti kini terdiam bahkan mereka kini menundukkan kepalanya.
"Jawab! kalian kemana tadi hah?" sentak Leon yang membuat keduanya gelagapan.
__ADS_1
"Gimana Yes? kita harus jawab apa?" bisik Resti dengan nada suara yang mulai ketakutan.
"Ya mau gimana lagi, kita jawab jujur lah," balas Yesi dengan suara yang ia buat selirih mungkin agar orang-orang disana tak mendengarkan percakapan dirinya juga Resti.
"Kenapa bisik-bisik hah? Jawab!" bentak Leon kembali, ia paling tak suka melihat orang yang hanya terdiam saat ia tanyai apalagi ini pertanyaan yang menurutnya sangat penting.
Resti kini menyenggol lengan Yesi, supaya temannya itu yang menjawab pertanyaan dari Leon karena ia sendiri sudah benar-benar takut jika menghadapi Leon, menatap matanya saja ia sudah takut apalagi menjawab.
Yesi yang mengerti akan senggolan dari Resti tadi pun kini ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu perlahan membuangnya. Dan barulah ia memberanikan diri untuk menatap wajah Leon.
"It---itu kita tadi juga ada disekitar taman itu saat ke jadian tadi," jawab Resti.
"Kalau kalian di TKP saat kejadian tadi, kenapa kalian gak datangin Rea dan bantu dia buat mencegah Puri melukai dirinya?" tanya Leon.
"Bukannya kita gak mau nolong tapi Edrea sendiri yang mencegah kita untuk ikut campur dan satu lagi, sebenarnya saat Edrea tadi lari ke taman belakang kita berdua ngikutin dia. Tapi saat kita sampai di taman, ternyata ada Puri juga. Jadi kita berdua tadi bersembunyi dan melihat apa yang akan dilakukan Puri yang ternyata sangat mengerikan. Tapi tenang aja, kita berdua tadi sempat merekam aksi Puri dari awal kok," jawab Yesi dan dengan tangan bergetar ia mengulurkan ponselnya kearah Leon yang langsung diterima oleh laki-laki itu.
"Please kalau kalian mau ngasih tau bukti tentang video kejadian tadi tolong ponsel lo jangan di kunci seperti ini," geram Leon yang membuat Yesi dengan reflek menggaruk tengkuknya sembari nyengir kuda lalu ia mengambil ponselnya kembali dari tangan Leon dan dengan secepat mungkin ia membuka password ponselnya lalu mencarikan video tentang kejadian tadi dan barulah ia menyerahkan ponselnya tadi ke Leon kembali.
Leon kini memutar video tadi tak lupa para teman-teman yang kepo akan kronologi kejadian tadi pun merapatkan tubuh mereka kearah Leon. Dan kini Leon juga teman-temannya memperhatikan setiap adegan di video tersebut dengan senyum bangga mereka.
__ADS_1