
Edrea yang mendapat tatapan mengerikan dari ketiga laki-laki di depan dan sampingnya pun meringis menampilkan deretan gigi putih nan rapinya.
"Cerita sendiri atau Abang cari tau sendiri?" tanya Azlan dengan suara rendah dan dinginnya.
Edrea tampak terdiam lagi. Jika sampai Abangnya sudah bertindak dan mencari tahu semuanya sendiri maka sudah di pastikan jika semuanya sudah terkuak konsekuensi akan lebih mengerikan lagi.
"Oke, kalau gitu biar Azlan aja Dad yang cari tahu," tutur Azlan.
Edrea tampak gelagapan sembari menggelengkan kepalanya kearah Azlan.
"Jangan dong bang. Baiklah-baiklah Rea ngalah. Rea akan cerita semuanya dari awal," ucap Edrea dengan berat hati. Tapi ya sudah lah toh kalau keluarganya tau yang sebenarnya maka ia juga tak akan repot-repot untuk melindungi mereka dan juga ada satu ucapan Zico yang terus saja terngiang di dalam otaknya. Dan mungkin dengan dirinya yang menceritakan kronologi kejadiannya, dia juga punya kesempatan untuk bertanya ke orangtuanya masalah ucapan dari Zico itu.
Edrea tampak mengambil nafas dalam-dalam sebelum mulai angkat bicara.
"Jadi gini pada waktu itu saat bang Az dan bang Er diemin Rea karena Rea sempat membangkang perintah dari mereka berdua, pikiran Rea terus saja tertuju ke kalian berdua. Dan karena sekolah Rea hanya ada kegiatan remidian saja bukan pelajaran seperti biasa, maka Rea pada waktu itu milih buat pulang aja toh Rea juga gak remidi di mata pelajaran apapun. Awalnya Rea udah pesan taksi online tapi hampir 1 jam atau lebih, entah Rea lupa taksi itu gak datang-datang. Alhasil Rea telepon Mommy pada waktu itu. Mom pasti ingat kan?" Mommy Della tampak mengangguk.
"Nah sebelum Rea minta Mom buat jemput, ternyata taksi online itu udah sampai di depan Rea. Awalnya Rea juga sempat curiga sama sopir taksi itu. Tapi karena pikiran Edrea udah kalut ditambah terlalu bodoh buat percaya gitu aja sama orang lain jadi Rea tanpa pikir panjang masuk ke dalam mobil itu setelah menutup telepon dari Mommy." Edrea tampak berhenti sebentar untuk menghela nafasnya.
"Awalnya sih semuanya baik-baik aja sampai akhirnya Rea sadar jika rute yang di tempuh sopir taksi itu beda dengan rute yang mengarah ke rumah ini. Tapi lagi-lagi dengan bodohnya Rea berpikir jika sopir itu mau ambil pelanggan yang lainnya biar sekalian gitu. Dan saat mobil taksi itu berhenti, ada dua orang pria berbadan kekar yang masuk kedalam taksi dan duduk di sisi kanan dan kiri Rea. Edrea sih biasa aja hingga akhirnya Rea tertidur dan tanpa Rea tau salah satu dari mereka nyuntik Rea dengan obat bius." Ucapan Edrea harus terputus saat Erland menggeplak dahinya dengan cukup keras.
"Goblok, bodoh, stupid. Ngapain pakai tidur segala coba," geram Erland tak habis pikir dengan tingkah Edrea pada waktu itu.
Edrea mengerucutkan bibirnya sembari mengelus-elus dahinya yang terasa sakit itu.
"Ck namanya juga khilaf bang. Dan ini sakit!" rengek Edrea.
__ADS_1
"Sudah-sudah. Lanjutkan ceritanya!" perintah Daddy Aiden.
"Ck, marahin dulu dong bang Er, Dad," pinta Edrea.
Daddy Aiden menghela nafas.
"Nanti Rea. Bukan saatnya sekarang buat marahin Abang kamu itu. Cepat lanjut ceritanya!" geram Daddy Aiden.
"Ck, pilih kasih," tutur Edrea tak terima.
"Rea!"
"Iya-iya Rea sambung nih ceritanya. Dasar bapak-bapak yang gak sabaran," gerutu Edrea diakhir ucapannya tapi sayangnya gerutuan itu bisa didengar oleh orang-orang disana.
"Oke baik. Semuanya Daddy percayakan ke kamu, Azlan. Cari tahu sampai akar-akarnya setelah itu beritahu Daddy hasilnya," ucap Daddy Aiden yang sudah tak kuasa lagi menghadapi putrinya itu.
"Jangan gitu dong Dad. Rea minta maaf. Rea lanjutin ya ceritanya," bujuk Edrea.
"Gak perlu," ucap Daddy Aiden merajuk dengan memeluk tubuh Mommy Della mesra didepan anak-anaknya.
"Ish Daddy kayak anak perawan ih. Gitu aja ngambek," tutur Edrea.
"Udah-udah kalau kayak gini kapan selesainya!" geram Mommy Della yang sedari tadi hanya diam sembari memperhatikan interaksi antara suami dan anak-anaknya itu.
"Lanjutkan Rea ceritanya!" perintah Mommy Della yang langsung diangguki oleh sang empu. Mereka tak ada yang berani jika Mommy Della sudah dalam mode marah seperti sekarang ini bahkan Daddy Aiden yang terkenal garang di luar rumah ataupun dengan anak-anaknya pun bisa di buat diam dan takut dengan Mommy Della. Emang Mommy Della ini gambaran dari the power of emak-emak yang sebenarnya.
__ADS_1
"Rea akan lanjut tapi jangan ada yang mutus cerita Rea ini." Mereka semua menganggukkan kepalanya kecuali Daddy Aiden yang tampak masih merajuk dengan putrinya itu.
"Saat Rea bangun ternyata Rea sudah ada di salah satu kamar yang serba hitam bahkan gak kalah hitamnya dengan kamar bang Az dan bang Er. Nah saat itu Rea udah panik dan coba buat kabur dengan cara ingin melompat dari balkon kamar itu. Tapi saat Rea tau ternyata kamar yang Rea tempati saat itu berada di lantai tiga, jadi mengurungkan niat Rea. Dan saat Rea lagi nyusun rencana untuk kabur, tiba-tiba Rea ada suara laki-laki dari arah belakang Rea dan laki-laki itu tampilannya sangat lucu. Pakai pakaian serba hitam, masker dan topeng yang menutup matanya," ucap Edrea.
"Kamu tau siapa orang itu?" tanya Azlan.
"Awalnya gak tau tapi paginya saat Rea udah nyusun rencana dan pada saat itu sepertinya laki-laki itu juga ingin merusak masa depan Edrea pada saat itu juga Rea lawan dia alhasil Rea tau siapa dalang dibalik itu semua." Edrea menghela nafas berat.
"Dan orang itu adalah..."
Drettt Drettt Drettt!!
Saat Edrea ingin mengungkap siapa pelakunya tiba-tiba saja ponsel Erland berbunyi dan sang empu segera meraih ponsel tadi yang berada di atas meja saat ia melihat nama salah satu anak buahnya di layar ponselnya itu.
"Maaf. Erland angkat telepon dulu," tutur Erland dan segera menjauh dari kumpulan keluarga tadi.
Sedangkan semua orang disana memilih untuk menunda cerita dari Edrea dan menunggu Erland menyelesaikan teleponnya. Dan hal itu mampu membuat Edrea bisa bernafas lega karena setidaknya ia bisa mengulur waktu pengungkapan pelaku itu dan waktu itu juga akan ia gunakan untuk menyiapkan mentalnya terlebih dahulu, siapa tau Daddynya langsung mengatakan atau mengerahkan anak buahnya untuk segera melenyapkan Zico dengan cara yang sangat mengerikan yang tak pernah terbayangkan di pikiran Edrea nantinya.
Erland kini sudah mengangkat telepon tersebut.
"Halo. Ada apa?" tanyanya.
📞 : "Halo tuan bos. Polisi sudah menemukan titik terang dari masalah yang bos temukan di mobil itu. Dan menurut pantauan juga penyelidikan dari kita sendiri tanpa campur tangan polisi bahwa pelaku dari penjualan organ manusia secara ilegal itu sama dengan pelaku yang menculik Nona bos. Dan mungkin besok kita akan mencari titik dimana Nona bos di sekap waktu itu untuk cari bukti lebih lanjut. Dan untuk pihak kepolisian sudah mulai mengintrogasi salah satu anak buah yang saya yakini itu anak buah dari pelaku yang sudah pihak polisi tangkap," ucap anak buah dari Erland yang tadi ia tugaskan untuk membantu pihak polisi dan tanpa ia duga ternyata mereka memiliki inisiatif sendiri untuk bertindak lebih dari apa yang ia perintahkan dan tindakan itu sangat Erland apresiasi.
"Bagus. Lanjutkan! dan untuk besok saya juga akan turun langsung dengan kalian," ucap Erland sebelum sambungan telepon dari keduanya diputus oleh Erland.
__ADS_1
Setelah itu Erland kembali berjalan menuju kearah kumpulan keluarganya yang tengah menatapnya sampai dirinya duduk kembali di tempatnya tadi.