
Edrea kini mendekati Puri dan sebelum memulai aktingnya ia lebih dulu mengacak-acak rambut juga seragam sekolahnya. Lalu setelahnya ia menekan lengannya yang luka tadi agar darahnya semakin banyak keluar dan barulah ia memulai aktingnya.
"Sudah, tidak apa-apa Puri. Kamu tidak perlu takut. Aku yakin kamu tadi tidak sengaja melukai lenganku," ucap Edrea saat melirik semua orang yang sudah mengerubungi area taman tersebut.
"Ayo berdiri. Aku gak papa kok," sambungnya sembari mengulurkan tangannya.
Tapi tangannya tadi langsung ditepis oleh Puri dengan kasar.
"Jangan omong kosong. Lo yang mau nyelakain gue pakai pisau ini! hiks," teriak Puri dengan tangis histeris sedangkan Edrea ia hanya bersikap sok kaget dengan tuduhan dari Puri tersebut.
"Kamu kok gitu? padahal tadi kamu lho yang jelas-jelas mau ngelukain aku pakai pisau itu secara diam-diam dan untungnya aku tadi bisa menepis pisau itu sebelum mengenai leherku tapi ternyata pisau itu ngelukain lenganku. Aku awalnya mengira kamu tak sengaja jadi aku maafin kamu. Tapi kenapa kamu malah nuduh aku mau ngelukain kamu? Padahal disini jelas-jelas aku yang terluka dan pisau itu juga ada didekatmu," ucap Edrea dengan lembut.
Semua orang kini tengah berbisik-bisik juga ada yang terang-terangan mengumpati Puri saat ini. Karena didalam logika mereka, yang di katakan oleh Edrea ada benarnya, secara bukti nyata pun sudah ada didepan mata juga pisau yang digunakan untuk menyerang Edrea kini berada di samping Puri.
Sedangkan Leon yang baru sampai di area taman tersebut, ia langsung membelah orang-orang yang menghalangi penglihatannya dan setelah ia berhasil berada didepan. Matanya langsung terbuka lebar saat melihat lengan Edrea yang penuh dengan darah, bahkan saking banyaknya darah yang mengalir membuat seragam Edrea yang awalnya putih menjadi merah. Dan kini tangannya pun mulai terkepal kuat yang membuat otot-otot tangannya terlihat, bahkan jika bisa terlihat mungkin kepala Leon kini sudah mengeluarkan api emosi.
"Sialan," umpat Leon kemudian ia melangkahkan kakinya menuju kearah Edrea dan Puri berada.
Sedangkan untuk teman-teman Leon, mereka hanya menatap Puri dengan tatapan tak kalah tajam dari tatapan Leon.
__ADS_1
"Berani-beraninya tuh cewek ngelukain neng cantik. Gak tau aja dia berhadapan sama siapa sekarang," gumam Jojo yang diangguki setuju oleh teman Leon yang lainnya.
Edrea yang melihat Leon menuju kearahnya pun, semburat merah kembali terlihat. Padahal rencana awalnya tadi sebelum di gagalkan oleh Puri, ia sebisa mungkin akan menghindari Leon karena rasa malunya masih melekat didirinya. Tapi sekarang justru dengan kejadian ini memancing pertemuannya dengan Leon.
Tapi tunggu, Edrea merasakan hawa mencengkam saat Leon kini semakin mendekatinya sampai ia merinding apalagi saat melihat tatapan mematikan yang Leon pancarkan dan tatapan itu diarahkan ke Puri yang sekarang wajahnya tampak ketakutan. Dan hal itu membuat Edrea tersenyum dalam diamnya. Melihat Puri tertekan seperti saat ini adalah kesenangan tersendiri untuk Edrea.
Saat Leon telah sampai di dekat mereka berdua, ia menatap kearah Edrea sesaat dan setelahnya ia kembali menatap tajam kearah Puri.
"Apa yang udah lo lakuin sama Edrea?" tanya Leon dengan penuh penekanan yang membuat Puri langsung menggelengkan kepalanya.
"Bukan aku yang ngelakuin itu semua, justru dia sendiri yang melukai lengannya dan menuduh aku mencelakainya. Padahal dia yang berniat membunuh ku tadi. Hiks aku takut Leon hiks," ucap Puri dengan wajah memelas agar mendukung aktingnya dan menarik simpati semua orang disana terutama Leon.
"Hiks, Edrea mau bunuh aku. Hiks aku takut," ucap Puri dengan menunjuk Edrea yang hanya berdiri di depannya.
"Kok kamu nuduh aku lagi? Padahal kamu lho yang mau ngelukain aku. Dan luka ini rasanya sakit tau Puri, tapi demi kamu agar tak dituduh yang tidak-tidak sama mereka, aku rela berbohong kalau kamu tadi hanya tak sengaja melukai aku walaupun aku tau jika itu semua kamu sengaja. Aku tau sejak kita bertemu, kamu tidak pernah menyukaiku yang entah alasannya karena apa? jika gara-gara aku lebih populer dari kamu, aku minta maaf karena itu semua bukan kehendak ku untuk menarik semua perhatian siswa dan siswi disini. Jika diberi pilihan pun aku sebenarnya gak mau terlalu di damba-dambakan oleh semua orang," ucap Edrea dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Cukup Edrea, jangan membalikan fakta seperti itu hiks. Jelas-jelas kamu yang tadi mau ngelukain aku yang untungnya aku bisa melarikan diri dan jika aku tadi gak teriak minta tolong, nyawa aku bakal melayang. Hiks kenapa kamu tega ngelakuin itu semua Edrea, semua kesalahan yang sebenarnya itu kesalahan kamu sendiri malah kamu lempar ke orang lain. Salahku apa Edrea? katakan!" teriak Puri seperti orang kesetanan.
Edrea menggelengkan kepalanya dengan air matanya yang mulai membasahi pipinya.
__ADS_1
"Hiks. Aku tau kamu benci sama aku tapi tolong jangan menuduhku seperti ini, Puri. Jika aku punya salah aku minta maaf. Dan tolong jangan sakiti aku lagi," ujar Edrea.
Leon yang sedari tadi menyimak percakapan keduanya kini lebih mendekatkan tubuhnya kearah Edrea saat melihat gadis itu telah mengeluarkan air matanya dan tanpa siapapun duga, Leon langsung memeluk tubuh Edrea.
Edrea yang mendapat pelukan secara tiba-tiba pun tubuhnya sempat terkejut, ingin sekali ia memberontak tapi jika dipikir-pikir lagi bukan saatnya ia melakukan hal itu dan kini ia membalas pelukan Leon dengan tangan yang ia buat bergetar.
"Duh mencari kesempatan dalam kesempitan nih orang. Tapi gak papa, lumayan lah pelukannya hangat," batin Edrea.
"Hiks, bukan aku yang mau bunuh dia, Leon. Tapi dia yang mau nyelakain aku. Aku tadi hanya duduk di bawah pohon itu tapi dia tiba-tiba mau menerkam aku dari belakang dan untungnya aku bisa menghidari pisau itu agar tidak mengenai leherku walaupun akhirnya aku harus merelakan lenganku yang terluka. Tapi kenapa? Kenapa dia malah memutar balikkan fakta yang sebenarnya dan membuat drama seperti ini? Padahal awalnya aku ingin memaafkan semua perlakuan dia tadi, tapi niat baikku malah di tolak mentah-mentah oleh dia. Dan kini dia malah seperti itu. Aku salah apa Leon, salah apa?" ucap Edrea. Leon kini mengelus punggung Edrea agar gadis itu sedikit tenang tapi tatapannya tak pernah lepas dari Puri yang masih saja melakukan sandiwaranya padahal jika dilihat-lihat sudah banyak yang memihak Edrea sekarang.
"Ada apa ini?" tanya seseorang yang tak lain adalah kepala sekolah dari SMA tersebut. Dan kini ia sekarang sudah mulai mendekati objek tontonan warga sekolah tersebut bersama dengan beberapa guru lainnya.
Dan berkat suara tadi, Leon melepaskan pelukannya lalu mengalihkan pandangannya kearah beberapa guru tersebut yang sudah berjejer rapi memperlihatkan mereka bertiga.
"Astaga, lengan kamu kenapa Edrea?" panik salah seorang guru wanita kemudian mendekati Edrea.
"Ya ampun darahnya banyak banget. Leon, bawa Edrea ke UKS sekarang. Jangan sampai dia kehabisan darah," ucap guru wanita yang lain.
Leon pun menganggukkan kepalanya dan sebelum dirinya pergi, ia sempat berucap kepada semua guru disana.
__ADS_1
"Jangan ada yang bertanya kepada wanita ini selama Edrea di UKS. Karena wanita itu sangat pintar bersilat lidah," ujar Leon sembari menujuk kearah Puri. Dan anehnya semua guru disana termasuk kepala sekolah mengiyakan ucapan dari Leon tadi. Dan barulah Leon membawa Edrea ke UKS di sekolah tersebut.