
Proses interogasi calon ayah dari anak Puri itu baru saja selesai tepat pukul 9 malam karena saking banyaknya. Dan saat semua orang tadi telah pergi dari rumah tersebut, semua orang yang masih terduduk di sofa dengan serempak merebahkan tubuhnya bersandar di kepala sofa.
"Capek juga ternyata mengintrogasi puluhan orang itu. Sampai nih bibir kering banget," keluh Daddy Aiden sembari mengelus bibirnya dengan mata yang melirik kearah Mommy Della. Tau sediri lah, lirikan mata itu berarti apa.
Bahkan anak-anaknya yang tau pun kini mereka hanya memutar bola matanya malas.
"Jika Dad mau melakukan hal itu mending ajak Mommy ke kamar sekarang juga. Jangan sampai kalian melakukan itu disini, dihadapan kita semua. Ingat anak-anakmu ini masih jomblo semua, jika lihat kalian bermesraan kita semua tidak ada seseorang yang bisa melampiaskan keinginan kita atas pancingan kalian berdua nanti," ujar Adam yang membuat Mommy Della kini mengerutkan keningnya.
Sedangkan Daddy Aiden kini terkekeh saat melihat ekspresi wajah sebal dari anak-anaknya itu.
"Makanya cari pacar sana. Udah gede kok masih aja jomblo. Malu tuh sama anak tetangga yang masih duduk di sekolah dasar tapi sudah dapat pacar. Lah kalian terutama kamu, Dam, yang udah berumur belum juga bawa perempuan kesini buat di kenalin sama Mom dan Dad," ucap Daddy Aiden yang membuat Adam menghela nafas.
"Dad, umur Adam masih 26 tahun. Masih terlalu muda untuk berpacaran," alasan Adam.
"Heh, umur segitu tuh bukan lagi muda Adam tapi sudah matang untuk menjalin hubungan rumah tangga," timpal Mommy Della.
"Huh, oke begini saja, jika Adam sudah mendapatkan seorang perempuan yang tepat untuk menemani hidup Adam. Memangnya Dad dan Mom siap jadi nenek dan kakek?" tanya Adam yang berhasil membuat kedua orang tadi kini terdiam.
__ADS_1
"Nah kan, Dad sama Mom aja belum mau punya cucu dan belum mau di panggil nenek dan kakek. Jadi biarkan saja Adam menikmati masa-masa jomblo ini sampai saatnya Adam menemukan jodoh Adam dan menikahi dia," ujar Adam.
"Haish ya sudahlah kalau begitu terserah kamu saja," ucap Daddy Aiden pada akhirnya. Lalu setelahnya ia berdiri dari sofa tersebut sembari menggenggam tangan Mommy Della.
"Dad sama Mom ke kamar dulu. Kalian cepat tidur. Vi, kamar yang dulu kamu tempati sudah di bersihkan sama mbak tadi. Jangan nekat untuk pulang, ini sudah malam. Jangan bandel kalau di kasih tau sama Dad atau Mom," tutur Daddy Aiden ke pada Vivian.
Vivian yang mendapat omelan pun ia nyengir kuda sembari menganggukkan kepalanya.
"Dan untuk kalian berdua, jangan ada yang begadang. Ingat, besok pagi kalian sudah kembali sekolah. Kamu juga Dam, buruan tidur jangan kerja terus. Bisa stress kamu nanti kalau terlalu over kerja," ucap Daddy Aiden yang hanya dibalas anggukan oleh keempat anaknya itu.
Dan setalah mengatakan semua itu, Daddy Aiden dan Mommy Della mulai melangkahkan kakinya menuju kamar mereka.
Lalu saat dirinya berdiri tepat didepan Vivian, ia tersenyum manis kemudian ia mengecup sekilas pipi Vivian.
"Rea pergi ke kamar dulu. Kak Vi kalau gak betah di kamar tamu. Kakak bisa datang ke kamar Rea, kita bisa satu ranjang berdua nanti. Oke," ucap Edrea yang dijawab anggukan dan senyuman oleh Vivian.
"Aku pasti betah kok Re, jadi kamu tenang saja. Sudah sana ke kamar dan tidur. Besok pagi jangan sampai telat datang ke sekolah barunya. Good night too Rea. Mimpi indah," ujar Vivian dan kini ia membalas kecupan Edrea tadi di pipi sang empu.
__ADS_1
"Hehehe, siap. Bye semua," ucap Edrea lalu setalahnya ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya diikuti oleh ketiga abangnya itu. Sedangkan Vivian yang melihat semua orang mulai meninggalkannya satu persatu pun ia menghela nafas kemudian ia juga bergegas menuju kearah kamar yang telah disiapkan oleh keluarga Abhivandya itu untuknya.
...****************...
Paginya, semua orang telah bersiap untuk melakukan aktivitasnya kembali. Terutama dengan si triplets lebih tepatnya Azlan dan Erland yang harus merelakan waktu liburan mereka untuk mencari deretan orang-orang yang telah tidur dengan Puri tanpa diberi kesempatan sedetik pun untuk sekedar nongkrong atau setidaknya ya menemui pujaan hati mereka, yang sudah lama tak mereka temui dan hanya berkomunikasi lewat media sosial saja.
Jika kedua laki-laki itu disibukkan dengan kasus Puri, berbeda dengan Edrea yang justru tak memperdulikan sama sekali tentang kasus itu karena dia juga tak mendapatkan tugas khusus dari kedua orangtuanya. Maka dari itu waktu liburannya itu ia gunakan untuk mencari tahu masa kecilnya walaupun ia sama sekali tak mendapat tanda-tanda lainnya lagi selain gelang yang di berikan oleh kedua abangnya waktu lalu. Bahkan dia sempat melanggar semua perkataan dari Erland untuk tak mencari tahu kenang-kenangan mengenai masa kecilnya itu, dengan ia menyelinap masuk kedalam kamar orangtuanya dan disitulah ia mulai mencari sesuatu yang menurutnya mencurigakan.
Tapi sayangnya usahanya itu sia-sia karena ia tak menemukan sedikitpun bukti lainnya setalah ia mencari seisi kamar tersebut bahkan seisi rumah pun juga tak luput dari pencariannya.
Dan sekarang, Edrea tengah menggenggam erat ponselnya setelah ia lagi-lagi mencoba untuk menghubungi Leon maupun Mr. Misterius yang masih saja tak bisa ia hubungi.
"Bisa-bisa gue mati penasaran deh kalau begini caranya," gerutu Edrea diakhiri helaan nafasnya.
"Haish dahlah. Mungkin saat ini memang bukanlah waktu yang tepat buat gue tau dan mengingat semuanya kembali. Dan gue yakin cepat atau lambat gue akan dapat jawaban atas pertanyaan yang terus memutar di kepala gue ini. Jadi baik-baik saja ya otak, jangan sampai stress mikirin masa kecil gue dulu," ujar Edrea sembari mengelus lembut kepalanya. Dan sepertinya ia sudah mulai menyerah untuk mencari tahu sendiri tentang masa kecilnya itu. Jadi dia sudah menyerahkan semuanya kepada sang waktu yang nantinya akan membantunya untuk mendapatkan jawaban.
Dan setelahnya Edrea kini mulai berdiri dari duduknya lalu ia mengambil tasnya kemudian ia menatap dirinya dari pantulan cermin didepannya itu.
__ADS_1
"Huh, daripada mikirin hal yang belum jelas mending sekarang mikirin bagaimana bentuk sekolah baru gue dan bagaimana orang-orang disana. Ah satu lagi, mulai hari ini gue harus terus mengawasi gerak-gerik dari bang Az sama bang Er. Siapa tau foto perempuan yang waktu itu gue lihat di kamar bang Az juga sekolah disana. Kalau sampai gue nemuin tuh cewek hmmmm tau sendiri lah apa yang bakal gue lakuin," gumam Edrea sembari tersenyum licik. Lalu setelahnya ia mulai keluar dari kamarnya tanpa melunturkan senyumannya itu.