
Daddy Aiden kini tampak menatap kearah Erland dengan tatapan yang sudah berubah yang awalnya tajam kini menjadi tatapan bersahabat.
"Mesti ada maunya nih si oppa-oppa KW," batin Erland yang sudah paham dengan tatapan yang jarang sekali Daddynya itu tunjukan kepadanya.
"Er," panggil Daddy Aiden membuat Erland yang sedari tadi menyembunyikan wajahnya di ketek sang Mommy pun langsung menatap kearah Daddy Aiden dengan malas.
"Dad mau ngomong sama kamu," sambung Daddy Aiden.
"Biasanya juga Daddy langsung ngomong gitu aja tanpa meminta izin dulu seperti sekarang," tutur Erland setelah itu ia kembali menyembunyikan wajahnya di ketek Mommy Della.
Daddy Aiden mengepalkan tangannya tak terima jika anaknya itu bermanja-manjaan dengan sang istri tercinta. Tapi untuk sekarang ia harus bersabar terlebih dahulu.
"Kamu duduk dulu yang benar bisa gak sih. Bikin sakit mata kalau tingkah kamu seperti itu," geram Daddy Aiden.
Lagi-lagi Erland hanya menyembulkan kepalanya.
"Haish, kalau mau ngomong ya tinggal ngomong aja kali Dad. Erland juga bakalan dengar kok. Kuping Erland masih aman sejahtera, belum bolot." Daddy Aiden berdecak sebal kemudian ia beranjak dari duduknya dan dengan entengnya ia menggeser tubuh Mommy Della hingga pelukan Erland terlepas dari tubuh wanita yang ia panggil Mommy itu.
Lalu dengan cepat Daddy Aiden duduk diantara putra keduanya dan istrinya.
"Ck, ganggu aja," kesal Erland.
__ADS_1
"Bodoamat. Dad gak peduli dan Dad mau kamu serahin kunci mobil Rea lagi, sekarang. Biarkan adik kamu pakai mobilnya kembali," ucap Daddy Aiden.
"Gak akan," jawab Erland singkat, padat dan jelas.
"Apa mobil dan motor yang kamu punya kurang? sampai-sampai kamu merebut mobil adik kamu sendiri? come on Er. Kalau kamu mau mobil sama seperti punya Rea tinggal bilang sama Dad biar Dad belikan untuk kamu. Asalkan kamu gak merebut milik orang lain," tutur Daddy Aiden dengan mode lembut.
"Dad. Erland gak ada niatan buat merebut mobil Rea. Erland hanya sita mobil itu untuk sementara waktu aja. Gak selamanya. Dan kalau Erland mau mobil kayak punya Rea, Erland bisa beli sendiri. Kecil buat Erland hanya sekedar beli mobil ecek-ecek kayak gitu doang. Apa Dad lupa kalau anak Dad yang paling tampan ini hartanya hampir sama dengan harta milik Dad?" Daddy Aiden hanya bisa memutar bola matanya malas ketika mendengar kesombongan dari sang anak keduanya itu. Apalagi saat membandingkan harta yang dia miliki dengan harta Erland, ya ampun masih kalah jauh. Kekayaan Erland belum ada seperempatnya. Tapi untung dia anaknya jadi dengan hati yang lapang Daddy Aiden akan memaafkannya. Kalau itu bukan anaknya sudah di pastikan orang itu akan ia tampar dengan beberapa gepok uangnya.
"Terserah kamu. Yang terpenting sekarang kembalikan kunci mobil Edrea berserta surat-surat mobil itu." Erland menggelengkan kepalanya.
"Gak akan. Ini juga udah kesepakatan antara Erland juga bang Az. Dan jika Dad menyuruh bang Az menyerahkan kunci mobil Rea, pasti jawaban dia akan sama seperti Erland," ucap Erland masih kukuh dengan pendiriannya.
Setelah itu ia berlari terbirit-birit saat melihat Daddy Aiden sudah mengangkat vas bunga yang tadinya berada di atas meja sudah berpindah tempat ke tangan Daddy Aiden.
Saat tubuh Erland sudah tak terlihat lagi di mata mereka, Daddy Aiden kini menatap tajam kearah Mommy Della kemudian ia memajukan wajahnya.
"Kamu akan dapat hukuman nanti malam. Dan aku pastikan paginya kamu gak akan bisa jalan," bisik Daddy Aiden yang membuat mata Mommy Della terbuka lebar. Ia tak percaya bahwa suaminya itu sangat pencemburu padahal yang melakukan hal tadi anaknya sendiri. Huh, tak bisa Mommy Della bayangkan jika yang menciumnya tadi bukanlah anaknya melainkan laki-laki lain, sudah ia pastikan dunia akan hancur karena amukan Daddy Aiden.
Daddy Aiden kini menjauhkan kembali wajahnya dan menongolkan wajahnya agar ia bisa melihat Edrea yang kebetulan berada di belakang Mommy Della. Terlihat anak gadisnya itu sedari tadi mengerucutkan bibirnya.
"Kamu sudah dengar sendiri kan tadi?" Edrea tak menanggapi ucapan sang Daddy, ia justru semakin mengerucut bibirnya.
__ADS_1
"Huh, nikmatin aja lah Rea. Toh Daddy yakin kedua Abang kamu itu ngelakuin hal ini karena punya alasan yang kuat," sambungnya. Edrea menatap kearah Daddy dan Mommynya dengan wajah yang tertekuk kemudian ia berdiri dari duduknya lalu ia menghentakkan kakinya sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Meninggalkan kedua orangtuanya yang hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah dengan tingkah laku anak-anaknya itu.
...****************...
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam dan kini Vivian baru tiba disebuah rumah mewah yang sayangnya terletak jauh dari keramaian. Disekitar rumah itu hanya terdapat hutan disisi kanan, kiri dan belakangnya. Jika dilihat-lihat rumah itu mamang sangat menyeramkan untuk orang yang belum pernah kesana tapi berbeda dengan orang yang sering mengunjungi tempat ini, mereka akan bersikap biasa saja walaupun dari luar, rumah tersebut sudah memancarkan aura mencekam disana.
Dengan langkah anggun Vivian pelahan masuk kedalam. Banyak orang yang menunduk hormat kepadanya. Ia terus berjalan hingga langkahnya terhenti disebuah pintu berwarna hitam didepannya. Bodyguard yang berada disisi pintu tersebut langsung membukakan pintu untuk Vivian.
"Terimakasih," ucap Vivian ramah dan tersenyum kearah bodyguard tersebut. Lalu ia segera melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan tersebut.
Saat sudah berada didalam ruangan dengan tema serba hitam itu ia mengedarkan pandangannya dan saat dirinya menemukan sosok yang ia cari yang tengah duduk membelakanginya, ia segera menghampiri orang tersebut.
"Ehemmm," dehem Vivian setelah ia berada di belakang kursi yang terhalang meja itu sembari melipat kedua tangannya didepan dadanya.
Orang yang berada di kursi tadi kini memutar kursinya tanpa beranjak dari duduknya hingga tubuh orang tersebut berhadapan langsung dengan Vivian yang sekarang tengah berdecak sebelum dirinya duduk di kursi yang berada di samping tubuhnya.
"Apa yang kamu dapat dari wanita yang bernama Puri itu?" tanya orang tersebut dengan dingin.
Vivian memutar bola matanya malas kemudian ia mencari sesuatu didalam tas kecil yang ia bawa tadi. Setelah menemukan apa yang ia cari, Vivian langsung menyodorkan benda yang berupa jepit rambut ke hadapan orang tersebut.
"Semuanya terekam jelas di situ," ucap Vivian. Yap jepit rambut yang Vivian pakai saat bertemu dengan Puri tadi bukanlah jepit rambut biasa melainkan jepit rambut yang telah didesain sedemikian rupa agar memudahkan mereka untuk merekam suara orang yang mereka curigai tanpa sepengetahuan orang tersebut.
__ADS_1