
Pagi harinya seperti biasa, Daddy Aiden akan beraktifitas kembali ke kantornya, triplets juga akan kembali bersekolah walaupun disekolah masih sesi remidian juga aktifitas diluar belajar mengajar, Vivian juga akan kembali ke kediamannya dan Mommy Della akan kembali ke aktivitas layaknya ibu rumah tangga pada umumnya.
Dan kini satu keluarga ditambah Vivian itu tengah melaksanakan sarapan pagi mereka. Dan disaat pertengahan makan, ponsel milik Daddy Aiden berbunyi dan mengalihkan atensi mereka semuanya yang ada disana. Tapi setelahnya mereka kembali ke acara makan mereka tanpa memperdulikan isi pesan yang belum sama sekali Daddy Aiden buka. Dan saat acara sarapan mereka selesai baru lah Daddy Aiden membuka pesan tersebut.
Ia mengerutkan keningnya saat melihat nomor yang tak dikenalnya terpampang di layar ponselnya itu.
"Siapa?" tanya Mommy Della penuh dengan curiga.
"Gak tau. Nomor baru," ujar Daddy Aiden sembari menaruh kembali ponselnya.
"Gak dibaca dulu Dad. Siapa tau kan penting," uajr Edrea.
Daddy Aiden tidak menjawab secara langsung ucapan dari Edrea tadi, melainkan dirinya mengkode dengan melirik kearah Mommy Della yang membuat ketiga anaknya langsung paham dengan apa yang ditakutkan Daddy Aiden.
"Mommy gak bakal cemburu kok Dad. Kan Daddy tadi bilang kalau gak tau nomor itu dari siapa. Kalau Mommy nanti cemburu dan berakhir ngambek, gampang tau cara bujuknya. Tinggal sogok aja doi pakai perhiasan atau transfer uang. Beres deh," usul Azlan dengan suara yang lirih agar Mommy Della tak mendengar ucapannya itu.
Daddy Aiden mengangguk-anggukkan kepalanya. Karena apa yang di usulkan oleh Azlan tadi hmmm boleh dicoba juga.
Dan sekarang tangan Daddy Aiden bergerak untuk kembali meraih ponselnya setelah itu ia membuka pesan tadi. Saat pesan dari nomor yang tak ia kenal terpampang di layar ponselnya dan setelah Daddy Aiden membacanya, mata Daddy Aiden langsung melebarkan matanya.
"Gila!" teriak Daddy Aiden dengan hebohnya yang berhasil membuat semua orang termasuk para art pun terkejut akan teriakan tadi.
"Astagfirullah, suaranya!" geram Mommy Della sembari memukul lengan Daddy Aiden.
"Hehehe maaf sayang refleks tadi saking kagetnya baca pesan ini," ujar Daddy Aiden.
Triplets yang kepo pun kini merapatkan tubuh mereka kearah Daddy Aiden bahkan Mommy Della pun kini berusaha mengintip isi pesan tersebut.
__ADS_1
"Ya ampun, kenapa malah jadi ngeroyok Daddy gini sih. Menjauh sana kalian, hus hus hus," usir Daddy Aiden sembari mendorong pelan keempat tubuh yang mengitarinya.
Keempat orang tadi berdecak sebal dan kembali ke posisi masing-masing.
"Dad, kasih tau dong, pesan itu dari siapa dan apa isinya," pinta Edrea dengan mata berbinar.
"Ini juga Dad mau kasih tau. Makanya kalian diam dulu di tempat masing-masing."
"Ini udah di tempat masing-masing kali Dad. Buruan lah kasih tau, kita kepo nih," ujar Erland yang mendapat anggukan dari dua saudara kembarnya juga Mommy Della sedangkan Vivian hanya tersenyum melihat keluarga tersebut saling bercengkrama.
"Oke-oke Dad kasih tau sekarang. Kalau nomor ini yang Dad gak tau nomor siapa, ngirim Daddy foto Zico yang lagi di sekap di suatu ruangan dan dia juga ngasih tau alamat Zico sekarang berada," uvap Daddy Aiden.
"Nomor gak dikenal? Siapa ya kira-kira orang yang tau masalah keluarga kita sama Zico? Dan kenapa dia mihak keluarga kita? aneh banget sih, siapa orang yang dengan berani bergerak melawan Zico dan berhasil melumpuhkan orang yang penuh kelicikan itu?" tutur Azlan penuh dengan pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh siapapun dirumah tersebut.
"Coba Daddy hubungi nomor itu deh. Takutnya saat kita bergerak ke lokasi Zico nanti, taunya malah jebakan dari kutu kupret itu," usul Erland yang langsung dilakukan oleh Daddy Aiden.
Untuk beberapa saat mereka semua terdiam saat Daddy Aiden mulai menelepon nomor tadi.
"Lah terus gimana dong. Er takutnya ini cuma jebakan aja dan hanya buang-buang waktu kita. Udah lah gak usah ditanggapi dulu deh. Kita lihat gimana kedepannya kalau pihak kita gak ngerespon pesan itu," ujar Erland yang disetujui oleh orang-orang disana termasuk Vivian tapi tidak dengan Edrea yang malah terdiam membisu dengan pikiran yang terus berkelana.
"Dad, Rea boleh lihat nomor yang ngirim pesan ke Daddy tadi gak?" Daddy Aiden mengerutkan keningnya.
"Buat apa?"
"Cuma buat memastikan aja, Dad. Apa nomor itu Rea kenal atau gak." Daddy Aiden kini menyerahkan ponselnya tadi kearah Edrea dan dengan sigap Edrea langsung meraih ponsel tadi dan melihat setiap digit nomor tersebut.
"Kayak kenal," gumamnya kemudian ia meraih ponselnya dan mencari nomor seseorang yang berada di kontak teleponnya setalah itu ia mencocokan dua nomor tersebut.
__ADS_1
"Kan benar!" teriak Edrea.
"Apanya yang benar?" tanya Azlan.
"Ini lho, nomor yang ngirim pesan ke Daddy tadi sama dengan nomor yang ada di kontak Edrea. Tapi Rea juga gak tau siapa orang itu. Dan kayaknya apa yang di kirim ke pesan ini tuh memang benar. Karena orang yang punya nomor itu sering nolongin Edrea, tapi ya memang dengan cara misterius. Bahkan Rea pernah minta tolong ke anak buah Daddy dan mereka gak bisa melacak nomor itu," tutur Edrea.
"Aneh. Sebegitu misteriuskah orang itu sampai-sampai dia gak mau nunjukin mukanya ke kamu, Rea," ucap Daddy Aiden penasaran.
"Memang Dad. Dia benar-benar orang yang sangat misterius."
"Hmmm jadi pengen ketemu sama dia. Dan pengen lihat seberapa kuat benteng dia dalam bertarung," ujar Daddy Aiden dengan seringai mengerikannya.
"Jadi ini gimana Dad. Kita bergerak atau gak?" tanya Erland.
"Ya bergerak lah. Kata Rea kan orang itu sering nolongin dia. Jadi gak mungkin kalau orang itu mau jebak kita. Kalau iya, ya udah nanti salahin aja Rea, gampang kan," tutur Daddy Aiden yang langsung membuat Edrea melayangkan protes.
"Kok gitu? Kan Rea tadi cuma bilang kalau orang itu sering nolongin Rea. Bukan ngajakin kalian buat bergerak ke lokasi itu."
"Sama aja. Sudah jangan bawel. Mending kamu ganti baju atau kalau gak kamu berangkat sekolah sana kalau gak mau ikut," ujar Daddy Aiden.
"Ck, Rea ikut lah. Kalau gak ikut Rea nanti di coret dari kartu keluarga," ucap Edrea.
"Pintar sekali anak Daddy ini. Jadi buruan ganti baju sana. Bawel mulu tuh bibir, lama-lama Dad jahit baru tau rasa kamu." Edrea berdecak dan segera pergi menuju kamarnya kembali, diikuti oleh kedua saudara kembarnya.
Saat ketiganya sudah tak terlihat, antensi kedua orangtua itu beralih kearah Vivian.
"Kamu mau ikut gak?" tanya Daddy Aiden.
__ADS_1
"Ikut Dad. Vivi mau ketemu Zico untuk terakhir kalinya sebelum dia mendapat balasan atas kelakuannya itu," jawab Vivian yang langsung diangguki Daddy Aiden.
"Ya sudah kalau gitu kamu siap-siap sama Mom dulu yuk," ajak Mommy Della dan tanpa mau mendengarkan bantahan dari perempuan itu, Mommy Della lebih dulu mengandeng tangan Vivian menuju ke kamar tamu yang digunakan Vivian semalam. Sedangkan Daddy Aiden memilih untuk kembali ke kamar.