
Edrea masih saja ngoceh, memarahi kedua Abangnya itu yang sekarang sudah muak dengan omongan Edrea dan menatap adik perempuan satu-satunya itu dengan tatapan jengah. Hingga Erland menyenggol lengan Azlan yang membuat sang empu mengalihkan pandangannya.
Erland menaikkan kedua alisnya untuk mengkode Azlan untuk bersama-sama bertindak menghentikan ocehan Edrea. Azlan yang paham dengan kode tersebut langsung mengangguk dan tanpa hitungan detik, mereka berdua dengan kompak menghampiri Edrea dan setelah mengikis jarak antara diri mereka dengan Edrea, mereka langsung menjalankan aksinya dengan mencium pipi kanan dan kiri Edrea cukup lama dengan tangan yang mereka tempelkan ke bibir Edrea. Tak lupa perlahan mereka mendorong tubuh Edrea kedalam rumah tanpa melepaskan ciuman dan tangan mereka hingga akhirnya mereka berhasil masuk kedalam rumah dan ciuman di pipi Edrea kini terlepas begitu juga dengan kedua tangan Azlan dan Erland yang sudah menjauh dari bibir Edrea. Setelah melakukan hal itu, keduanya langsung kabur melarikan diri menuju kamar masing-masing.
"ABANG!!!" teriak Edrea tak terima.
Namun sayang kedua saudara kembarnya itu mengabaikan teriakannya yang membuat Edrea sekarang semakin kesal.
"Awas aja nanti gue balas kalian!" teriaknya lagi dengan cemberut. Setelah itu ia beranjak menuju kamarnya dengan hentakan kaki yang cukup keras.
Saat sudah di dalam kamarnya, Edrea duduk di balkon kamar tersebut. Menghirup udara segar di malam hari dengan cukup dalam, semua kerjaan sekolahnya telah selesai ia kerjakan dan kini tinggal bersantai ria saja sembari menikmati pemandangan langit penuh bintang dan juga sosial medianya yang terus aktif tak lupa di temani dengan kopi dan makanan ringan kesukaannya.
Saat dirinya tengah scroll media sosialnya, tiba-tiba ia mendapat notif pesan dari nomor yang tak ia kenal. Karena rasa kekepoannya yang cukup tinggi, Edrea langsung membuka pesan tersebut.
📨 : 08xxxxxxxxxx
"Jauhi Zico jika kamu masih mau hidup di dunia ini lebih lama lagi!!!"
Edrea mengerutkan keningnya saat membaca pesan yang berupa ancaman dari nomor yang tak dikenalnya. Edrea yang merasa tertantang pun langsung membalas pesan tersebut.
To : 08xxxxxxxxxx
"Heh, lo pikir dengan mengancam gue kayak gini gue bakal takut gitu? toh gue juga udah menjauh dari Zico, kalau mau ya ambil aja sih gak usah pakai ngancam segala. Kek anak kecil aja lo, Tong."
__ADS_1
Setelah mengetik itu, Edrea langsung mengirim pesannya kepada nomor tadi. Lihat saja apa orang di balik nomor itu masih membalas pesannya atau malah mengabaikan balasan pesan dari Edrea tadi? Kita tunggu saja.
Edrea membaca ulang pesan tadi dan kini ia malah tertawa cukup keras.
"Hahaha, ada-ada aja orang ini. Gak ada kerjaan atau gimana sih. Kalau gak ada mending kerumah gue, itung-itung bantu art disini buat nguras air got di belakang rumah," ucap Edrea.
Sedangkan di sisi lain ada seseorang yang tampak geram dengan menggenggam ponselnya cukup erat bahkan urat ditangannya hampir kelihatan semua.
"Sial, dia ngatain gue anak kecil. Lo udah nantangin gue sekarang dan jangan harap gue bisa lepasin lo begitu saja walaupun lo atau keluarga lo nangis darah dan sujud di kaki gue, gak akan pernah gue lepasin lo. Mulai sekarang lo akan tau akibatnya," gumam seseorang tadi dengan emosi yang meluap-luap.
Kembali lagi dengan Edrea yang masih sabar menunggu balasan pesan dari orang itu. Ia sekarang merasa tertantang dan tak sabar melihat apa yang akan dilakukan orang di balik nomor tersebut kepada dirinya. Ah dasar Edrea suka sekali dengan hal yang menantang adrenalin.
"Lama sekali sih," geram Edrea. Karena ia sudah tak sabar lagi Edrea kembali mengirim pesan ke nomor tersebut.
To : 08xxxxxxxxxx
Tak berselang lama setelah pesannya terkirim, notif ponselnya berbunyi dan dengan antusias Edrea langsung melihat notif tersebut yang ternyata dari orang yang mengancamnya tadi.
📨 : 08xxxxxxxxxx
"Tunggu saja tanggal mainnya!!!"
Isi pesan tersebut membuat Edrea semakin tertawa kencang tapi tangannya dengan lentik mengetik setiap huruf untuk membalas pesan tersebut.
__ADS_1
To : 08xxxxxxxxxx
"Gue udah gak sabar lihat lo beraksi. Gue tungguin tanggal main lo kapan aja, tapi gue cuma mau ngingetin jangan main jauh-jauh tar emak bapak lo nyariin bocilnya dimana lagi kan jadi repot tar. Oh ya btw kalau lo mau dapetin hati Zico harus good looking, smart girl, funny girl dan sexy girl say, kalau modal lo cuma wajah kayak remahan rengginang, otak cuma sebiji kacang hijau, muka lo murung mulu dan body lo kek molen, gak bakal di lirik sama Zico. Dan gue mau ngingetin dari pada lo sakit hati nantinya mending lo ngaca dan wake up sayang, bangun dari mimpi halu lo itu." Send.
Mulut pedas Edrea rupanya telah singkron dengan otak dan tangannya saat ini. Biarkan saja orang itu tersinggung dan semakin membenci Edrea toh tadi yang pertama cari gara-gara bukan Edrea melainkan orang itu sendiri dan perlu di garis bawahi jika ia tak takut dengan ancaman apapun yang ia terima.
"Seru juga nih orang. Lumayan kan udah balikin mood gue yang sempat rusak gara-gara dua cecunguk itu," gumam Edrea dan setelah dipastikan tak ada lagi pesan yang akan ia terima, Edrea langsung membereskan meja yang berada di balkonnya, setelah itu ia masuk kedalam kamar tersebut untuk merebahkan dirinya di atas kasur king size tersebut.
Baru saja ia memejamkan matanya, ponselnya kembali berdering nyaring dan membuat dirinya dengan malas mengangkat telepon tersebut tanpa melihat siapa gerangan yang menganggu ketenangannya.
"Assalamualaikum," salam Edrea.
📞 : "Waalaikumsalam," jawab seseorang dari sebrang.
Edrea menajamkan telinganya, sepertinya ia tak asing dengan suara itu. Ia kemudian membuka matanya kembali dan melihat siapa nama yang tertera di ponselnya namun bukan nama yang ia lihat melainkan lagi-lagi nomor baru dan tak ia kenal sebelumnya.
"Ini dengan siapa ya?" tanya Edrea penasaran.
📞 : "Rea, ini gue Zico," jawab orang tersebut yang ternyata adalah laki-laki yang dahulu pernah Edrea perjuangankan.
Edrea tampak terdiam dan sesaat setelahnya ia berdehem untuk merilekskan pikirannya sendiri.
"Ehem. Ada perlu apa ya telepon gue jam segini? kalau gak ada hal yang penting mending gue tutup telepon ini," tutur Edrea malas.
__ADS_1
📞 : "Re, gue benar-benar sayang sama lo. Gue nyesel Re pernah memperlakukan lo dengan semena-mena. Gue---" belum selesai Zico berbicara, Edrea sudah menimpali ucapan tadi.
"Basi Zic. Semua juga udah berubah. Edrea yang dulu ngejar-ngejar lo sekarang udah berubah jadi Edrea yang gak akan pernah peduli lagi dengan apapun yang terjadi sama lo dan apapun yang lo lakuin. Sekali gue bilang mundur, itu berarti gue gak akan maju lagi untuk dapatin diri lo. Semua udah terlambat Zic untuk gue dan lo menjalin hubungan. Udah ya gue mau tidur dulu, assalamualaikum," pamit Edrea setelah itu ia memutus sambungan telepon dari Zico tadi dan menaruh kembali ponselnya diatas nakas di samping tempat tidurnya, kemudian ia meringkuk di bawah selimut tebalnya. Bisa gila dia jika Zico terus-menerus menyatakan cinta kepadanya.