
Edrea memandangi wajah Leon yang sudah terlelap dalam tidurnya dengan tangan yang terus bergerak untuk mengelus kepala Leon.
"Aku tidak tau alasan kamu tidak mau memberi tahu masalah keluargamu itu. Yang jelas aku melihat raut wajah khawatir saat kita membicarakan tentang itu. Rasa khawatir dan sedikit trauma jika kejadian masa lalu itu akan terulang lagi. Tapi perlu kamu tau sayang, aku bukanlah Edrea yang dulu. Aku sekarang jauh lebih licik dari pada diriku yang dulu. Tapi setelah aku melihat reaksimu tadi pagi sepertinya aku memang diharuskan bersabar terlebih dahulu hingga kamu menginginkan sendiri hal itu terjadi. Dan kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan menuntut kamu untuk mengenalkanku kepada keluargamu lagi. Karena aku yakin cepat atau lambat aku pasti akan tau tentang keluargamu itu," ucap Edrea dengan usapan lembut di pipi Leon.
Beberapa detik setelahnya Edrea kini mengecup kening Leon sesaat, lalu setelahnya ia membisikan sesuatu tepat di telinga Leon.
"Good night sayang," bisik Edrea. Dan saat dirunya ingin menjauhkan wajahnya dari samping telinga Leon, pergerakannya terhenti saat ia melihat sesuatu yang membuat dirinya kini mengerutkan keningnya.
Dan karena rasa penasarannya semakin tinggi, Edrea perlahan melepaskan tangan Leon yang sedari tadi berada di pinggangnya dan setelahnya ia bergegas berpindah tempat disisi Leon yang lainnya.
"Ini apa?" gumam Edrea dengan memfokuskan penglihatannya di telinga Leon.
"Tanda lahir kah? Tapi setahuku dia gak punya tanda lahir di sekitar area telinga deh. Lagian ini kok samar-samar terlihat kayak tulisan," sambungnya. Bahkan untuk memperjelas penglihatannya, Edrea menyalakan senter di ponselnya.
"Ck, ini tuh tanda lahir apa tulisan sih. Ah elah bikin penasaran aja," gerutu Edrea dan saat dirinya ingin menyentuh tanda itu di area telinga Leon, aksinya itu ia urungkan saat Leon tiba-tiba membalikan badannya menghadap kearah Edrea.
"Yah yah yah malah ganti posisi. Ck, mana posisinya saat ini sulit banget buat lihat tanda itu lagi. Hasihhhh," ucap Edrea.
"Kamu juga kenapa banyak banget sih rahasia yang kamu tutupin dari aku. Entah itu dengan masa laluku sendiri, tentang dirimu sendiri sampai tentang keluargamu pun kamu tutupi sampai rapat, seakan-akan kamu tidak akan pernah mengizinkan orang lain untuk tau tentang kehidupanmu. Hasihhhh pusing aku, El, mikirin tentang kamu yang penuh dengan rahasia ini dan mending aku tidur saja sekarang dan untuk urusan tentang tanda itu, biar besok pagi aku memastikannya," tutur Edrea sembari turun dari ranjang tersebut. Dan dengan segera ia bergegas keluar dari kamar tersebut sebelum salah satu dari keluarganya memergoki dirinya baru keluar dari kamar kekasihnya itu di tengah malam. Jika keluarganya tau habislah mereka berdua nanti.
...****************...
Dan sesuai dengan apa yang ia katakan sebelumnya, Edrea yang sudah selesai bersiap pun dengan sengaja ia menemui Leon terlebih dahulu sebelum dirinya ke meja makan.
Tok tok tok!!!
Tiga kali Edrea mengetuk pintu tersebut, akhirnya pintu kamar tersebut terbuka.
"Morning sayang," sapa Edrea yang membuat Leon kini tersenyum kearahnya.
"Morning too sayang. Ada apa hmmm? Tumben pagi-pagi nyamperin ke kamar? Emang Callie gak rewel sama kamu?" tanya Leon sembari mengikuti langkah Edrea yang tanpa permisi sudah nyelonong masuk terlebih dahulu daripada si pemilik kamar tersebut.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa. Aku kesini hanya ingin melihat kondisi pacarku saja. Toh Callie hari ini gak rewel sama sekali sama aku tapi rewelnya sama Mommy, hehehe," ujar Edrea diakhir dengan kekehannya. Sedangkan Leon yang mendengar perkataan dari Edrea tadi, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu setelahnya ia kembali disibukkan dengan mengeringkan rambutnya.
Tapi baru saja ia ingin mengarahkan hairdryer ke kepalanya, hairdryer yang berada di tangannya tadi direbut paksa oleh Edrea.
"Biar aku saja . Kamu tinggal duduk disini," ucap Edrea sembari menepuk-nepuk kursi kecil di depan meja rias tersebut. Dan karena Edrea yang sudah tak sabar dan juga ia ingin segera mengetahui tanda di telinga kekasihnya tersebut, Edrea segara menyeret lengan Leon lalu setelahnya Edrea memaksa Leon untuk duduk di kursi tadi.
"Sayang biar aku sendiri yang melakukannya," tolak Leon dengan berusaha untuk meraih kembali hairdryer tadi.
"Stttt, diam! jangan bergerak," perintah Edrea.
"Tapi sa---"
"Stttt disuruh diam tuh ya langsung diam dong, jangan bawel mulu," omel Edrea yang membuat Leon dengan seketika mengatupkan bibirnya.
"Nah gini kek dari tadi, jadinya kan gak terlalu banyak menyita waktu. Huh untung sayang kalau gak udah aku gampar dari tadi," ucap Edrea dengan tangan yang sudah mulai melakukan tugasnya.
Dan selama ia mengeringkan rambut Leon, sesekali Edrea menelisik ke kedua telinga Leon.
"Lho kok tanda semalam yang ada di area telinga Leon kok sekarang gak ada?" batin Edrea yang semakin menajamkan penglihatannya. Hingga tanpa ia sadari hairdryer yang ia pegang kini mengarah tepat di wajah Leon.
"Astaga, maaf sayang," ujar Edrea sembari menjauhkan tangannya dari wajah Leon.
"Kamu ini kenapa sih? Kok kayak gak fokus gitu? Lagi ada masalah?" tanya Leon yang sudah memutar tubuhnya menghadap kearah Edrea.
"Ah gak kok. Aku gak ada masalah sama sekali. Tadi hanya ada nyamuk yang gigit kakiku. Jadinya saat aku mau menggaruk bekas gigitan itu, eh gak taunya tangan yang satunya malah bergerak kemana-mana," ucap Edrea beralasan.
"Dan karena rambut kamu sudah kering. Aku keluar dulu. Kalau sudah selesai langsung ke meja makan," sambung Edrea.
"Bye sayang, aku tunggu di meja makan," pamit Edrea sembari berlari keluar dari kamar tersebut.
Sedangkan Leon yang melihat perlakuan dari Edrea pun hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan senyum gemas.
__ADS_1
Disisi lain, Edrea yang sekarang sudah berhasil keluar dari kamar kekasihnya itu ia kini tengah mengatur pernafasannya.
"Huh, setidaknya masih aman dan sepertinya El juga tidak curiga denganku," gumam Edrea dengan sesekali menengguk air minumnya.
"Tapi anehnya kenapa tanda yang aku lihat tadi malam, hari ini tanda itu benar-benar hilang tak berbekas. Apa jangan-jangan tadi malam itu hanya halusinasiku saja karena sudah saking ngantuknya? Ah tapi aku rasa, aku gak salah lihat. Tanda itu tadi malam benar-benar ada lho. Mata aku gak mungkin salah lihat," geram Edrea yang merasa gemas sendiri dengan apa yang tengah ia alami saat ini.
Dan saat Edrea tengah menggerutu tak jelas, Erland yang juga sudah siap pergi ke sekolah pun menghampiri ruang makan. Tapi saat dirinya sampai di ruangan tersebut, ia langsung mengerutkan keningnya saat melihat Edrea tengah mengusap wajahnya berkali-kali.
"Kalau sudah merasa gila mending langsung ke RSJ saja karena di rumah ini gak menerima orang gila," sindir Erland yang berhasil mengalihkan perhatian Edrea.
"Siapa yang gila bang? Perasaan dirumah ini orangnya normal semua ya walaupun sedikit miring otaknya," timpal Edrea.
"Kalau lo tanya siapa orang gilanya, mending lo berkaca diri sana. Nanti lo juga tau siapa orang gila yang gue maksud tadi," ucap Leon.
Edrea seperti tengah paham siapa yang disindir oleh saudara kembarnya itu, ia kini memutar bola matanya malas.
"Cantik gini kok di bilang gila. Keterlaluan banget jadi orang," tutur Edrea sembari berpindah tempat duduk menjadi di samping Erland.
Sedangkan Erland yang mendengar penuturan dari Edrea tadi ia mencebikkan bibirnya dengan mata yang terus fokus ke ponselnya, tak peduli dengan apa yang tengah Edrea lakukan setelahnya.
"Bang bang bang," panggil Edrea yang dibalas dengan deheman oleh Erland.
"Abang tau gak---"
"Gak, gue gak tau dan gue juga gak peduli," potong Erland seenaknya saja.
"Ya elah, Rea belum selesai bicaranya Abang, dengerin dulu baru jawab," geram Edrea.
"Owh," beo Erland yang membuat mood Edrea hancur seketika.
"Dah lah Abang gak seru. Rea ngambek sama Abang, titik!" ucap Edrea dengan ancamannya.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau gitu. Berarti beban hidup gue berkurang satu," ujar Erland.
"Abang ishhh. Menyebalkan!" teriak Edrea yang sudah jengkel dengan kelakuan Erland. Dan setelah mengatakan hal tersebut, Edrea dengan cepat beranjak dari duduknya menuju ke kulkas khusus untuk menyediakan coklat, makanan favorit sang Mommy. Dan tanpa berpikir akan di omelin sang ibu negara nantinya, Edrea sekarang justru langsung memakan coklat disana untuk mengembalikan moodnya yang sudah berantakan itu sekaligus untuk menyalurkan kekesalannya terhadap Erland tadi.