The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 327


__ADS_3

Setelah ucapan dari Callie yang meminta Leon dan Edrea segera menikah pun beberapa saat setelahnya tak ada lagi percakapan dari mereka bahkan Callie, anak itu hanya bersandar di dada bidang Leon sembari memainkan kancing kemeja Leon. Hingga Edrea yang merasa situasinya sangat canggung itu pun ia kini berdehem sesaat sebelum dirinya kembali angkat suara.


"Callie, Mommy mau tanya lagi," ujar Edrea.


Callie yang dipanggil pun ia kini menegakkan kembali tubuhnya dan menatap kearah Edrea.


"Tanya apa lagi Mommy?"


"Kemana Appa, Eomma, Uncle Azlan, Uncle Erland sama aunty Zea? Kenapa Mommy tidak melihat mereka dari tadi?" tanya Edrea.


"Oh mereka lagi kerumah sakit," jawab Callie yang membuat Edrea dan Leon kini melebarkan matanya.


"Hah kerumah sakit? Ngapain? Dan Callie tau gak mereka ke rumah sakit mana?" tanya Leon.


"Callie juga tidak tau mereka ngapain ke rumah sakit, Callie juga tidak tau rumah sakitnya dimana," jawab Callie yang justru membuat Edrea panik sekaligus khawatir, takut jika salah satu dari anggota keluarganya itu tengah sakit saat ini dan membutuhkan perawatan medis secepatnya.


Leon yang melihat perubahan ekspresi dari kekasihnya itu pun tangannya kini bergerak untuk menggenggam tangan Edrea dan mengelus punggung tangan kekasihnya itu menggunakan jari jempolnya.


"Callie tadi lihat tidak salah satu dari mereka mukanya pucat? Atau terlihat seperti orang yang tengah sakit?" tanya Leon yang dijawab gelengan kepala oleh Callie.


"Mereka semua terlihat baik-baik saja Daddy. Mereka tidak sedang sakit sama sekali," ujarnya.


"Terus kalau mereka tidak sakit kenapa harus kerumah sakit segala?" gumam Leon yang tambah bingung.


Dan saat Edrea juga Leon tengah berpikir keras bahkan Edrea sekarang sudah memegang ponselnya berniat untuk menghubungi salah satu keluarganya, tiba-tiba saja pintu utama rumah tersebut terbuka lebar dan memperlihatkan Erland, Azlan dan Zea di balik pintu tersebut. Dan kini mereka bertiga tengah melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.


"Huh." Helaan nafas itu keluar dari bibir Erland dan bertepatan dengan itu ia juga merebahkan tubuhnya di salah satu sofa yang masih kosong di ruangan tersebut diikuti oleh Azlan dan Zea.


Edrea yang tadinya berniat untuk menghubungi mereka pun kini ia mengurungkan niatnya dan menatap lekat kearah ketiga orang yang sepertinya tengah kelelahan itu.


"Bang, Kak," panggil Edrea yang membuat ketiga orang yang tadinya menutup matanya kini membuat mata mereka kembali terbuka dengan lirikan mata yang tertuju kearah Edrea.


"Kalian habis kemana?" tanya Edrea penasaran.


"Lo mau tau kita kemana?" ucap Erland sembari menegakkan kembali tubuhnya. Dan pertanyaannya tadi diangguki oleh Edrea.


"Kita dari rumah sakit. Dan kamu tau kita kesana ngapain?" Edrea mengernyitkan dahinya.


"Ngapain emang?" tanya Edrea.


"Nunggu Puri lahiran, njir. Kurang kerjaan banget kan kita. Menyebalkan sekali," ucap Erland yang terlihat benar-benar sangat kesal.


Tapi ucapan dari Erland tadi membuat Edrea membelalakkan matanya. Sedangkan Leon, ia mendekap tubuh Callie dengan tangan yang berada di kedua telinga anak perempuan tersebut. Takut-takut jika Callie mendengar umpatan dari Erland dan berakhir anak itu akan menirunya.


"Hah Puri lahiran?" Erland menganggukkan kepalanya.


"Terus gimana?" tanya Edrea lagi.


"Gimana apanya? Kalau dia lahiran ya berarti anaknya udah brojol lah," ucap Erland ngegas.


"Ck, maksud Rea tuh gimana kondisi dia sama anaknya? Mereka baik-baik saja kan?" tanya Edrea tampak khawatir.

__ADS_1


"Lho masih mikirin keadaan dia, setelah Lo di perlukan semena-mena sama dia dulu. Lo waras Re? Kalau gue jadi lo, gue doain dia biar mati sekalian," ujar Erland tak habis pikir dengan adiknya itu.


"Ish Abang gak boleh gitu. Sejahat-jahatnya dia kan setidaknya dia juga manusia. Rea kan juga---" belum sempat Edrea melanjutkan ucapannya, Erland lebih dulu memotongnya.


"Iya-iya terserah Lo lah Re. Mereka berdua selamat," ujar Erland yang membuat Edrea kini menghela nafas lega.


"Terus Mommy sama Daddy masih disana?" tanya Edrea kembali yang langsung disambut helaan nafas lelah dari Erland.


"Mereka masih ngurus keperluan dia dan anaknya. Juga mereka lagi manggil satu-persatu orang yang dulu di kumpulkan sama Daddy buat tes DNA. Benar-benar gue gak habis pikir sama Daddy. Bisa-bisanya dia ngeluarin banyak uang buat ngurusin orang yang gak ada hubungan darah sama sekali dengan dia bahkan orangnya dulu yang pernah melukai anaknya sendiri," ujar Erland tampak frustasi. Bahkan ia sempat insecure dengan keluarganya sendiri. Ia merasa orang yang paling penuh dosa di rumah itu karena kedua orangtuanya, kedua abangnya dan satu adiknya sangat-sangat baik ke semua orang walaupun orang itu sudah pernah menyakiti mereka. Sedangkan dirinya tipe orang pendendam seperti Leon.


"Terus gimana hasilnya? Sudah ditemukan ayah biologis anak Puri?" Erland mendengus kasar. Adiknya ini benar-benar tingkat kekepoannya sangat tinggi dan membuat dirinya lelah sendiri menjawab semua pertanyaan dari Edrea.


"Belum Rea. Baru juga beberapa orang yang di tes DNA-nya dan hasil tes itu juga tidak sehari jadi, kita harus nunggu beberapa hari dulu baru hasilnya keluar," ucap Erland.


Dan saat Edrea ingin bersuara kembali, Erland lebih dulu beranjak dari duduknya.


"Jangan tanya mulu. Kalau penasaran datang aja sendiri," tutur Erland sembari melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.


Sedangkan Edrea yang sebenarnya masih sangat penasaran pun ia kini mencebikkan bibirnya.


"Benci banget sih lo, bang sama Puri. Hati-hati katanya kalau bencinya kebangetan nanti bisa jatuh cinta," teriak Edrea agar Erland bisa mendengarkan ucapannya itu.


"Amit-amit nauzubillah," balas Erland.


"Amit-amit apa aamiin-aamiin tuh."


"Rea! Gue tukar sama sapi juga ya lo. Punya mulut di gunain yang benar bisa kan!" ucap Erland dengan garangnya.


"Sudah-sudah. Lo jangan mancing dia buat marah Rea. Kasihan dia pasti capek karena dari tadi dia mondar-mandir nangkap orang-orang yang bersangkutan sama Puri. Dan jaga ucapan kamu itu. Hati-hati ucapan adalah doa. Dan ingat gue gak akan pernah setuju kalau ucapan Lo itu benar-benar terkabul. Gue gak mau punya ipar bentukannya kayak Puri itu. Cukup sekali saja Erland salah memilih pasangan, tidak untuk kedua kalinya," ujar Azlan yang menolak mentah-mentah ucapan dari Edrea tadi. Lalu setelah mengucapkan hal tersebut ia berdiri dari duduknya dengan mata yang tertuju kearah Zea yang sedari tadi hanya memperhatikan percakapan yang terjadi di ruang tersebut.


"Ayo sayang kita bobok," ajak Azlan sembari mengulurkan tangannya kearah Zea yang langsung dibalas oleh istrinya itu.


Dan kemudian mereka berdua beranjak dari ruangan tersebut menuju ke lantai dua rumah tersebut. Leon yang melihat keduanya menuju ke arah yang sama pun ia mengerutkan keningnya. Bukannya kamar Zea ada di lantai bawah di sebelah kamar yang Leon tempati, tapi kenapa Azlan malah mengajak Zea untuk naik ke atas? pikir Leon. Dan baru saja kaki kedua orang tersebut naik ke anak tangga, teriakan Leon menghentikkan langkah mereka.


"Mau Lo ajak kemana tuh Zea?" tanya Leon sembari menatap kearah kedua orang tadi. Sedangkan Edrea, ia justru mengigit bibir bawahnya. Perasaannya tiba-tiba saja tak enak saat ini.


"Ya ke kamar lah. Please lah Leon, kalau orang mau tidur tuh ya ke kamar masak ke atas loteng. Lagian kita semalam juga tidak bisa tidur gara-gara anak lo nangis mulu," ujar Azlan yang membuat Leon kini menundukkan kepalanya untuk menatap wajah Callie yang ternyata sudah tertidur di pangkuannya.


Tapi sesaat setelahnya, ia menatap ke arah dua orang tersebut yang ingin melanjutkan langkahnya.


"Eh eh eh tunggu!" Azlan mendengus kesal. Ia benar-benar sangat lelah saat ini dan ingin segera merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Tapi calon adik iparnya itu benar-benar menguji kesabarannya. Bahkan ia ingin sekali menyumpal mulut Leon menggunakan kaos kaki busuk mang ujang biar orang itu bungkam dan tak cerewet lagi.


"Apa lagi sih?" geram Azlan yang langsung mendapat elusan di lengannya dari Zea agar ia segera meredam emosinya.


"Kamar Zea di bawah. Di kamar tamu. Jadi ngapain dia ke atas?"


"Zea tidurnya udah sama gue," jawab Azlan penuh dengan emosi.


"Astagfirullah, berdosa sekali lo, Az. Heh ingat dosa lo," ujar Leon.


"Gue gak bakal dapat dosa tapi justru dapat pahala," tutur Azlan.

__ADS_1


"Pahala pala lo benjol. Dosa woy dosa. Kalian belum sah nanti kalau ada setan yang bisikin kalian untuk berbuat yang tidak-tidak, tau rasa kalian," ucap Leon.


"Ck, dia udah jadi istri gue, Leon! Nih buta mata Lo, di tangan kita udah ada cincin kawin!" Azlan menunjukan cincin yang melingkar di jari manisnya dan di jari manis milik Zea.


"Kalau lo masih gak percaya gue kasih lihat buku nikah kita," sambung Azlan dan tanpa menunggu lama lagi ia berlari cepat menaiki tangga rumah tersebut menuju ke kamarnya untuk mencari buku nikah miliknya.


Dan tak berselang lama, ia kini telah kembali dengan membawa dua buah buku kecil di tangannya.


"Nih lihat baik-baik. Kalau masih gak percaya periksa sendiri di kantor urusan agama," sambung Azlan. Lalu setelah itu langsung menarik tangan Zea untuk segara menuju ke kamar mereka.


Leon yang masih melongo tak percaya dengan apa yang baru ia lihat tadi, ia kini mengalihkan pandangannya kearah Edrea yang tengah menatap kearah lain dengan meminum sebuah jus yang baru saja di bawakan oleh salah satu mbak art.


"Re," panggil Leon yang hanya diabaikan begitu saja oleh Edrea.


"Edrea!" panggilnya lagi yang masih saja tak mendapat respon dari kekasihnya itu. Bahkan Edrea kini meminum cepat jus yang ada di tangannya hingga tuntas. Dan saat tangannya baru saja menaruh gelas bekas jusnya tadi, lengannya langsung di cekal oleh Leon dan untung saja gelas itu tak jatuh karena Edrea terkejut atas aksi Leon tadi.


"Kamu jangan pura-pura gak dengar ya," kesal Leon yang membuat Edrea mengerjabkan matanya berkali-kali.


"I---Iya kenapa?" tanya Edrea yang tiba-tiba takut sendiri saat melihat wajah Leon. Bahkan saking takutnya Edrea kini mengalihkan pandangannya kearah lain selain wajah Leon yang pastinya.


Leon yang merasa diacuhkan pun ia berdecak sebal sebelum dirinya merebut gelas yang ada di genggaman Edrea secara paksa. Dan saat gelas itu sudah berada di tangan Leon, laki-laki itu menaruh gelas tersebut dengan suara yang begitu nyaring yang membuat Edrea terperanjat kaget.


"Kalau ada orang bicara tuh lihat orangnya. Jangan matanya jelalatan kemana-mana," marah Leon.


"Maaf," ucap Edrea sembari menundukkan kepalanya.


"Haishhhhh terserah lah," ujar Leon sembari berdiri dari duduknya dan dengan membawa Callie didalam gendongannya, Leon beranjak dari ruangan tersebut.


Edrea yang melihat Leon meninggalkan dirinya sendirian diruangan tersebut dengan ekspresi yang terlihat sebal pun dengan gesit Edrea menyusul langkah laki-laki tersebut yang kini telah masuk ke kamar Leon.


Dengan perlahan Edrea membuka pintu kamar tersebut yang untungnya tak di kunci oleh sang pemilik kamar. Hingga saat dirinya masuk, matanya langsung bisa menangkap tubuh Callie yang sudah terbaring di kasur ruangan tersebut. Sedangkan Leon, ia tengah berdiri di depan jendela kamar itu dengan memegang sebuah kotak kecil dan tangan Leon sudah bergerak mengambil isi di dalam kotak tersebut yang ternyata adalah sebuah kotak rokok, Edrea langsung mendelikkan matanya. Dan saat laki-laki itu ingin menyalakan korek api, Edrea langsung berlari kearah Leon dan merebut rokok yang berada di tangan Leon.


Leon yang tadinya tampak terkejut dengan aksi Edrea itu pun ia kini menetralkan kembali ekspresi wajahnya hingga menjadi datar kembali. Bahkan tatapan tajamnya kini menghunus ke titik bola mata Edrea. Tapi kekasihnya itu bukannya takut kepadanya, perempuan itu justru dengan beraninya menghancurkan sebatang rokok tersebut tepat di hadapan Leon.


Leon yang melihat hal tersebut tampak acuh dan ia segara mengambil kotak rokok tadi. Tapi sebelum dirinya mengambil isinya, Edrea langsung merebut kotak tersebut dan segera mengeluarkan semua isinya lalu menghancurkannya. Tapi lagi-lagi Leon tak memberikan respon apapun dan itu benar-benar membuat Edrea sebal sendiri. Bahkan Leon kini justru berjalan menuju nakas di sebelah tempat tidurnya dan mengeluarkan satu bungkus rokok lagi disana. Dan hal tersebut membuat Edrea benar-benar geram.


"El, kamu apa-apaan sih," geram Edrea dengan merebut kembali satu bungkus rokok tadi dari tangan Leon.


"Lo yang apa-apaan!" sentak Leon yang membuat Edrea dengan seketika mematung di tempatnya. Baru kali ini ia di sentak oleh Leon bahkan laki-laki itu kini memanggilnya dengan sebutan Lo-Gue lagi. Dan itu tandanya jika laki-laki itu benar-benar marah dengannya.


Tapi beberapa saat setelahnya Edrea justru tersenyum miring kearah Leon. Dan perlahan kakinya mendekati Leon.


"Lo kalau mau marah, marah aja sialan! Gak usah pakai bentak gue segala! Lo mau ini kan!" Leon tampak terdiam tak menimpali ucapan dari Edrea tadi.


Sedangkan Edrea, ia justru mengambil satu batang rokok dari dalam bungkus tersebut sebelum dirinya menyerahkan satu bungkus rokok tadi di tangan Leon. Dan setelah menyerahkannya kembali, tangan Edrea justru bergerak untuk merebut korek api di tangan Leon. Lalu setelahnya menjauh dari hadapan laki-laki tersebut.


Dan tanpa Leon duga, Edrea menyelipkan sebatang rokok tadi ke bibirnya dan segera menyalakan korek api tadi. Leon yang melihat hal tersebut pun ia mengeram kesal bahkan saking kesalnya, satu bungkus rokok tadi ia genggam erat sampai semua isinya hancur. Lalu setelahnya dengan langkah besar ia mendekati Edrea kemudian ia merebut rokok tadi yang sudah menyala dan tanpa peduli jika telapak tangannya nanti akan terluka, Leon menghancurkan rokok yang sudah menyala tadi didalam genggamannya. Lalu setelahnya ia membawa tubuh Edrea kedalam pelukannya.


Sedangkan Edrea yang sudah berada di pelukan Leon, ia memeletkan lidahnya.


"Anjir pahit juga ternyata. Huwekkk," batin Edrea saat merasakan pahitnya rokok tadi.

__ADS_1


Tapi sepertinya usahanya untuk berakting tadi tak sia-sia, karena Leon yang tadinya marah tanpa alasan kepadanya terlihat laki-laki itu kembali melunak lagi. Tapi setelahnya pasti laki-laki itu akan merengek kepadanya karena perasaan Edrea mengatakan hal tersebut akan terjadi setelahnya.


__ADS_2