
Mobil Azlan telah terparkir, saat mereka telah sampai di area pantai. Zea dan juga Azlan kini keluar dari dalam mobil tersebut.
"Ikut gue," tutur Azlan sembari menarik tangan Zea menuju ke salah satu tempat favoritnya yaitu diatas bukit yang berada di sisi pantai tersebut.
"Masih kuat naiknya kan?" tanya Azlan saat mereka sudah berada di tengah-tengah bukit tersebut.
"Istirahat bentar ya," pinta Zea sembari duduk di salah satu batu di sampingnya.
Azlan menggelengkan kepalanya dan ikut duduk disamping Zea.
"Lo haus gak?" tanya Azlan.
"Kalau gue haus, emang lo punya air minum gitu?"
"Punya lah," tutur Azlan sembari mengambil dua botol air mineral dari dalam tasnya. Entah kapan Azlan membeli minuman itu untuk mereka berdua, pasalnya Zea saja yang sedari tadi dengan laki-laki itu tak mengetahui kapan dan dimana Azlan membeli air mineral tersebut.
"Nih." Azlan memberikan satu botol air mineral ke hadapan Zea dan langsung disambut dengan senang oleh Zea.
"Thanks," ucap Zea, kemudian ia membuka tutup botol tersebut dan menenggak minuman itu hingga habis setengah botol.
Untuk beberapa saat mereka masih duduk-duduk santai di tempat tadi.
"Udah bisa dilanjut kan naiknya?" tanya Azlan.
Zea mengangguk dan ia berdiri dari duduknya.
"Let's go!" teriak Zea penuh semangat yang membuat Azlan dibelakang tersenyum gemas melihat tingkah Zea.
Kini mereka berdua telah sampai di puncak bukit tersebut yang memperlihatkan pemandangan hamparan pantai tanpa ujung ditambah dengan sunset yang mulai terbenam.
"Wah," kagum Zea.
"Az, fotoin gue dong," minta Zea sembari mencari keberadaan ponselnya di setiap saku yang ia punya.
"Astaga, hp gue kayaknya di tas deh Az. Mana tuh tas di mobil lo lagi. Yah gak jadi foto-foto dong padahal pemandangannya bagus," sesal Zea dengan kerucutan di bibirnya.
"Gue foto lo pakai hp gue. Nanti kalau udah di bawah tinggal kirim ke hp lo," ucap Azlan yang sudah siap sedia dengan kamera ponselnya.
Zea tampak berbinar menatap Azlan bahkan dengan senyum mengembang yang menghiasi wajah cantiknya.
__ADS_1
"Kenapa malah lihatin gue. Buruan ambil posisi sana sebelum mataharinya benar-benar terbenam."
Zea mengangguk dan ia dengan segera mengambil beberapa pose untuk diambil oleh Azlan.
Setelah puas berpose, Zea menghampiri Azlan.
"Coba sini gue lihat hasilnya," minta Zea. Azlan langsung menyerahkan ponselnya ke arah Zea.
"Yang ini bagus gak kalau di upload di Instagram?" tanya Zea meminta pendapat ke Azlan.
Azlan melirik sekilas, sepertinya pilihan Zea sama dengan pilihannya tadi. Ia tadi sempat terkesima dengan hasil jepretannya sendiri yang didukung dengan proporsi tubuh Zea yang masuk dalam kategori ideal.
Namun bukan Azlan namanya kalau tak jaim untuk langsung berucap panjang lebar karena ia hanya menjawab pertanyaan dari Zea tadi dengan deheman saja. Menyebalkan bukan ketika tanya pendapat orang lain dan orang yang ditanya hanya menjawab hmmm saja tanpa ada embel-embel kata pendukung lainnya.
Zea menghela nafas.
"Az, gue tuh tanya pendapat lo dan bukan nyuruh lo buat nyanyi Deen assalam. Ham hmmm ham hmmm aja dari tadi," omel Zea.
"Ck, terus gue harus gimana?"
"Ya harus menyanggah pendapat lo lah."
Azlan memutar bola matanya malas.
"Hehehe gitu dong dari tadi. Lo gak mau foto juga?"
"Gak," jawab Azlan singkat.
"Ck sayang tau kalau lo gak foto. Buruan sana, tenang aja biar gue yang fotoin," ucap Zea sembari mendorong pelan tubuh Azlan.
"Gue gak mau Zea," geram Azlan.
"Harus mau. Gue maksa sekarang. Buruan ih, pose yang bagus!" perintah Zea.
Azlan menghela nafas dan segera berdiri kaku di tempat Zea tadi berfoto.
"Az, Lo mau foto atau mau cosplay jadi patung. Kaku amat kayak kanebo," tutur Zea.
"Gue gak bisa gaya Zea."
__ADS_1
"Ish ganteng-ganteng kok gak bisa gaya, mubasir sudah kegantengan lo itu. Padahal kalau gue lihat-lihat lo cocok juga kalau jadi model lho Az."
"Bodoamat Ze. Gue gak tertarik dengan dunia modeling," ujar Azlan sembari beranjak dari tempatnya tadi dan menghampiri Zea.
"Kenapa malah balik lagi kesini? Lo belum foto Azlan. Gue arahin gaya lo deh. Gini-gini gue dulu juga pernah jadi model," sombong Zea.
"Gak. Lo sendiri aja sana yang foto. Gue tungguin disini," tutur Azlan sembari mendudukkan tubuhnya di kursi yang memang di peruntukan untuk para pengunjung bukit tersebut.
"Gak seru lo," gerutu Zea menghampiri Azlan dan duduk disebelahnya.
"Btw kalau lo gak mau foto sendiri, gimana kalau kita foto berdua?" Ide Zea yang tak ada habisnya untuk memaksa Azlan untuk berfoto di tempat itu.
Dan baru juga Azlan ingin menolak ucapan dari Zea tadi, sang empu malah sudah bergaya di sampingnya dengan memakai kamera depan ponsel tersebut, bahkan wajahnya juga sudah terlihat di layar ponsel itu.
"Say cheese!" ucap Zea memberi aba-aba kepada Azlan. Tapi namanya juga Azlan, ia melengoskan wajahnya kearah lain sehingga foto yang diambil oleh Zea tadi hanya memperlihatkan wajahnya dan juga kepala bagian belakang Azlan.
"Yang benar dong Az," protes Azlan. Azlan masih saja enggan untuk mengalihkan pandangannya kearah Zea lagi dan membuat sang empu geram, akhirnya dengan terpaksa Zea berpindah tempat dimana Azlan mengalihkan pandangannya tadi. Tapi saat dirinya sudah duduk, wajah Azlan kembali berpaling ke sisi yang sebelumnya.
"Azlan! lihat sini lah," sebal Zea.
"Gak akan."
Zea berdecak sembari menghentakkan kakinya. Ia benar-benar sebal dengan Azlan sekarang hingga ide cemerlangnya tiba-tiba muncul yang membuat Zea langsung tersenyum dan berpindah tempat, berdiri di belakang Azlan. Saat dirinya sudah berdiri di belakang tubuh tegap itu, tangannya ia gunakan untuk menahan sisi kiri wajah Azlan dan dengan sigap pipi Zea, ia dekatkan untuk menahan sisi kanan wajah Azlan. Hal itu membuat pipi Azlan dan Zea saling beradu.
Azlan tampak tertegun. Baru kali ini wajahnya menempel dengan wajah perempuan lain selain Mommy Della dan juga Edrea.
"Satu dua tiga say cheese," aba-aba Zea lagi. Dan tanpa peduli akan ekspresi wajah Azlan, ia memotret beberapa kali dengan pose yang berbeda tapi itu hanya dirinya karena Azlan tetap dengan ekspresi datar tanpa senyuman.
"Ze, udah!" geram Azlan dan menjauhkan tangan Zea dari pipinya.
Zea yang tadinya tersenyum kini meredup saat melihat wajah murka dari Azlan.
"Ma---maaf," tutur Zea merasa bersalah sembari terduduk kembali disamping Azlan.
"Az, gue minta maaf," ulangnya saat tak ada sahutan dari sang empu.
"Azlan," panggilnya sembari memegang lengan Azlan. Tapi tangan yang menempel di lengan tersebut langsung di tepis oleh Azlan.
"Az, gue benar-benar minta maaf. Gue akan hapus kok foto ini. Bentar ya," tutur Zea, namun saat tangannya ingin memencet ikon bergambar sampah untuk menghapus foto-foto dirinya bersama dengan Azlan tadi, tiba-tiba saja ponsel tersebut langsung disambar oleh Azlan.
__ADS_1
"Eh Az, fotonya belum ke delete," ucap Zea sedikit takut.
"Kita pulang sekarang," tutur Azlan dan bergegas pergi dari tempat tersebut, meninggalkan Zea yang masih bingung dengan sikap Azlan.