
Zea masih terdiam kaku ditempat, tubuhnya masih menegang hebat, gemuruh di dadanya semakin berdebar. Suara Azlan yang mengarah kepernyataan tadi terus saja terngiang-ngiang di pikiran dan kupingnya yang mulai memerah itu. Antara percaya dan tak percaya yang dia dengar tadi memang kenyataan atau hanya hayalannya saja. Arkh rasanya Zea sekarang ingin menghilang dan tiba-tiba ingin merasakan yang namanya amnesia saja agar tak bisa mengingat perkataan Azlan tadi.
Sedangkan Azlan yang sudah mulai menjalankan mobilnya kembali pun tersenyum lebar saat matanya sesekali melirik kearah Zea yang tampak masih syok.
"Jadi bagaimana?" tanya Azlan tiba-tiba. Zea yang tadinya masih terbengong kini mengerjabkan matanya beberapa kali agar kembali menjaga kesadarannya.
"Ah eh gimana?"
"Ck, dah lah lupakan saja," ucap Azlan.
Zea mendengus kesal saat melihat ekspresi wajah Azlan yang kembali berubah menjadi dingin.
"Lo tuh kalau tanya yang jelas dong. Pertanyaan Lo tuh harus mengarah kemana gitu? Huh, kalau pertanyaan itu mengarah ke pernyataan lo tadi akan gue jawab," tutur Zea menggantung.
Azlan mengalihkan pandangannya kearah Zea sesaat dengan kerutan di keningnya.
"Kalau pernyataan suka lo tadi tuh kurang romantis jadi gue belum terlalu yakin dan percaya sama lo. Secara kan lo ngomongnya tadi kayak gak serius gitu," tutur Zea.
Azlan mengangguk-anggukkan kepalanya. Sepertinya ia tahu maksud dan tujuan Zea berbicara seperti itu tadi. Kalau gadis itu menginginkan hal yang romantis maka jangan salahkan Azlan nanti kalau dia akan melakukan yang diluar ekspektasi gadis tersebut. Cuek-cuek gitu kalau masalah romantis dia jagonya. Tunggu saja tanggal mainnya.
Kini mobil tadi berhenti disalah satu mall terbesar di kota tersebut. Setelahnya mereka keluar dari mobil dan segera masuk kedalam mall tadi tak lupa kemanapun Zea beranjak, tangannya akan selalu berada digenggaman Azlan. Zea tak menolak sama sekali, ia justru merasa nyaman dan merasa bahwa dia dilindungi saat bersama dengan Azlan walaupun ia belum memberikan jawaban yang pasti atas perkataan dari Azlan tadi, tapi tak perlu menjawab pun semuanya juga sudah tau jawabannya bahwa dirinya juga menyukai pria dingin bak Kutub Utara itu yang mampu menyingkirkan nama Erland yang sudah sejak lama ia taksir kini lenyap dari hatinya.
"Lo mau apa?" tanya Zea karena kemarin ia sudah janji akan membelikan apapun yang Azlan inginkan.
"Bisa gak panggilan Lo gue diganti dengan aku kamu," pinta Azlan.
"Hah gimana? Gue panggil lo dengan sebutan kamu gitu?" Azlan mengangguk.
__ADS_1
"Hahahaha geli tau Az. Aneh juga karena biasanya kita satu sama lain saling panggil dengan kata lo gue terus tiba-tiba berubah kan jadi gimana gitu," tutur Zea dengan tawa.
"Tapi boleh juga di coba," sambungnya.
"Kalau sampai ada yang panggil dengan Lo gue lagi akan mendapat hukuman," ucap Azlan.
"Hukuman?" Azlan mengangguk.
"Hukumannya apa?"
"Entahlah belum kepikiran." Zea memutar bola matanya malas saat mendengar ucapan dari Azlan tadi. Ia kira pria itu sudah merencanakan hukuman itu tapi ternyata belum sama sekali, dasar menyebalkan.
...****************...
Disisi lain saat Azlan dan Zea tengah berkeliling mall dengan mereka yang sudah mengetahui perasaan mereka masing-masing. Berbeda dengan Erland dan juga Kayla yang belum tampak hilalnya.
Dan kini kedua orang tersebut masih berada dirumah Kayla setelah sepulang sekolah tadi bahkan Erland tak berniat beranjak dari rumah yang begitu nyaman itu.
"Lo lapar gak?" tanya Kayla setelah ia keluar dari dalam kamarnya dan seragam sekolahnya tadi sudah berganti dengan baju santainya tapi masih terbilang sopan.
"Kalau lo tanya gue lapar apa gak, ya jelas gue jawab lapar lah Kay," ucap Erland.
"Hehehehe iya juga ya. Ya udah gue masak dulu tapi cuma seadanya ya karena gue belum belanja bulanan," tutur Kayla.
"Tak masalah asal masakan lo masih bisa gue makan." Kini Kayla masuk kedalam dapur meninggalkan Erland yang masih duduk santai di sofa rumah tersebut.
"Kay," panggil Erland cukup keras.
__ADS_1
"Iya kenapa?" tanya Kayla sembari keluar dari dapur.
"Gue pinjam kamar lo bentar boleh? mau ganti baju soalnya. Atau kalau gak kamar lain juga boleh, yang penting bisa buat gue ganti sama sholat." Kayla yang mendengar kata sholat keluar dari mulut Erland tadi sempat tak percaya. Orang yang terkenal dengan nyawa dibalas dengan nyawa tanpa pandang bulu itu ternyata masih memiliki iman yang cukup kuat.
"Kay."
"Eh ah iya, pakai aja kamar gue. Sajadahnya yang baru ada di gantungan dekat kerudung." Erland menganggukkan kepalanya kemudian ia beranjak masuk kedalam kamar Kayla.
"Syukurlah itu anak masih ingat akan Tuhannya," gumam Kayla sembari tersenyum dan kembali masuk kedalam dapur.
Sedangkan Erland saat dirinya sudah masuk kedalam kamar Kayla untuk pertama kalinya, ia melihat-lihat setiap sudut kamar yang bernuansa ungu pastel itu hingga matanya tak sengaja melihat beberapa foto yang terpajang rapi di meja belajar Kayla. Dan karena rasa penasarannya ia menghampiri meja belajar tersebut dan segera meraih foto tersebut yang ternyata foto Kayla dengan kedua orangtua angkatnya yang masih bisa Kayla selamatkan dulu.
Setelahnya mata Erland kembali menatap foto yang lainnya yang terpajang disana dan bibirnya kini terangkat saat menatap salah satu foto Kayla yang sangat anggun dengan balutan hijabnya bahkan tingkat kecantikan wanita itu sangat jauh dibandingkan saat dia tak memakai hijab sama sekali. Entah kenapa ia lebih suka melihat gadis itu memakai hijab. Terasa indah kalau di pandang.
Kini ia mengeluarkan ponselnya dan dengan segera memotret foto dalam bingkai tersebut sebelum kembali menata foto-foto tadi di tempatnya semula setelah itu barulah dia mengganti pakaiannya, mengambil air wudhu dan segera melaksanakan kewajibannya.
Beberapa menit kemudian akhirnya Erland telah selesai dengan ibadahnya, lalu ia segera keluar dari kamar tersebut dan saat ia keluar, hidungnya menghirup aroma masakan Kayla dan tanpa sadar Erland kini berjalan menuju dapur tersebut sebelumnya ia sudah menaruh seragam sekolahnya di atas sofa dengan sembarangan.
"Masak apa?" tanya Erland yang sudah berada di belakang tubuh Kayla dan membuat sang empu terperanjat kaget.
"Astagfirullah, ngagetin banget sih," ucap Kayla sembari berputar arah yang membuat dirinya sekarang tepat berhadapan dengan tubuh Erland yang bergitu dekat dengannya.
"Lo aja yang kagetan. Masak apa sih? Dari baunya kelihatan enak banget," tutur Erland sembari mengintip kearah masakan Kayla.
Kayla yang sudah gugup pun kini mendorong pelan tubuh Erland agar dirinya bisa bernafas dengan leluasa.
"Kenapa sih lo?"
__ADS_1
"Eh gak, gak kenapa-napa kok. Lo balik ke sofa aja dulu tar kalau udah jadi gue panggil lo," ucap Kayla sembari mendorong-dorong tubuh Erland agar keluar dan menjauh dari dapur tersebut.