
"Sayang," panggil Edrea sembari melihat wajah Leon dengan posisi ia masih memeluk tubuh kekasihnya itu yang tengah terbaring.
"Hmmm?" jawab Leon sembari membuka matanya yang tadinya tertutup.
"Keluarga kamu kesini lho," ujar Edrea yang membuat Leon terlihat menghela nafas panjang.
"Ngapain mereka kesini? Mau misahin kita lagi? Jangan harap," ucap Leon yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Ish kata siapa mereka mau misahin kita lagi. Mereka kesini tuh buat lihat kondisi kamu tau. Dan aku belum cerita ke kamu kalau ayah kamu sudah meninggal," ujar Edrea yang membuat Leon kini melonggarkan pelukannya. Lalu ia menatap lekat wajah Edrea.
"Meninggal?" Edrea menganggukkan kepalanya.
"Kamu gak bohong sama aku kan?" Edrea berdecak saat Leon tak mempercayai dirinya.
"Memangnya aku pernah bohong sama kamu?" Leon menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa kamu kayak gak percaya sama ucapanku tadi?"
"Bukannya gak percaya sama ucapan kamu, sayang, tapi aku gak percaya orang seperti dia bisa mati juga. Aku kira dia akan kekal di dunia," ujar Leon.
"Dan apakah kamu yang membunuh dia?" tanya Leon penasaran.
Edrea menggelengkan kepalanya.
"Bukan, bukan aku yang membunuh ayah kamu. Tapi keluarga kamu sendiri. Awalnya memang aku yang berniat buat bunuh dia eh taunya saat aku sama ayah kamu lagi adu senjata tiba-tiba ada yang nembak dia dari arah luar. Aku kira awalnya Mommy karena Mommy juga bawa pistol waktu itu. Tapi ternyata orang itu adalah anggota keluarga kamu sendiri. Dan kamu mau tau siapa yang nembak ayah kamu?" ucap Edrea excited.
"Siapa?" tanya Leon.
"Kakak kamu," ujar Edrea yang membuat Leon mengerutkan keningnya.
"Azzo?" Edrea mengangguk dengan penuh semangat.
"Sejak kapan dia berani menjadi seorang pembangkang?" Edrea menggedikkan bahunya untuk menimpali ucapan dari Leon tadi.
"Tapi waktu itu ayah kamu tidak langsung meninggal gitu aja, dia masih sadar dan saat Kakak kamu mau benar-benar bunuh dia, tiba-tiba ada seseorang yang menggantikan Kakak kamu buat bunuh dia. Jadi bisa disimpulkan kalau nyawa ayah kamu melayang ditangan perempuan itu," ujar Edrea.
"Perempuan? Siapa? Apa kamu tau nama dia?" tanya Leon.
"Ya aku tau nama dia karena Kakak kamu waktu itu juga kelihatan syok dan memanggil nama dia. Kalau tidak salah nama dia Alice." Leon kini membelalakkan matanya.
"Alice?" Edrea menganggukkan kepalanya.
"Kamu gak salah dengar kan sayang waktu itu?" Edrea menggelengkan kepalanya.
"Aku yakin aku gak salah dengar dan perempuan itu sekarang juga ikut kesini," ujar Edrea.
__ADS_1
"Hah kesini? Sayang jangan bercanda please," ucap Leon.
"Ck, siapa yang bercanda sih sayang. Kalau kamu gak percaya biar aku panggil perempuan itu biar kamu percaya sama aku," tutur Edrea sembari melepaskan pelukannya dari tubuh Leon bahkan ia kini sudah turun dari brankar Leon. Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju pintu ruang ICU tersebut meninggalkan Leon yang tengah terbengong itu.
Dan beberapa saat setelah Edrea keluar dari ruangan tersebut, Leon di buat tersentak oleh kedatangan semua orang yang tadi tengah menunggu dirinya di depan ruang ICU karena mereka ingin membiarkan satu pasangan muda itu menyalurkan kerinduan mereka. Dan tatapan Leon langsung tertuju ke arah ketiga orang yang sudah lama tak ia jumpai itu. Hingga teriakan Callie mengalihkan perhatiannya.
"Daddy!" Callie yang tadinya berada di gendongan Azzo pun ia memberontak untuk diturunkan dari gendongan laki-laki tersebut. Dan setelah turun ia berlari kearah Leon yang langsung disambut senyuman oleh Leon.
"Hay sayang," ucap Leon saat Callie sudah berdiri di samping brankarnya.
"Callie rindu Daddy. Callie mau peluk Daddy," tutur Callie dengan berusaha naik keatas brankar tersebut. Hingga Edrea yang tadi mengikuti langkah Callie membantu anak itu untuk naik keatas brankar tersebut.
"Terimakasih Mommy," ucap Callie yang diangguki oleh Edrea. Lalu kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah Leon sebelum akhirnya anak perempuan itu memeluk tubuh Leon.
"Callie rindu Daddy, sangat-sangat rindu. Daddy kemarin kenapa tidurnya lama sekali padahal Callie mau main lagi sama Daddy. Callie kira Daddy sudah tidak sayang lagi sama Callie karena Daddy terus mengurung di tempat ini karena tidak mau ketemu sama Callie lagi. Daddy, Callie minta maaf karena sering buat Daddy kesal dan maafin Callie karena sering nakal dan tidak mendengarkan ucapan Daddy. Callie sayang sama Daddy, jangan marah lagi sama Callie, Daddy. Callie masih terlalu kecil kalau harus menahan rindu selama ini," ujar Callie yang membuat hati Leon langsung menghangat.
"Daddy juga minta maaf karena sudah membuat Callie rindu. Tapi Daddy mau tanya apa Callie nakal saat tidak ada Daddy yang mengawasi Callie?" tanya Leon yang membuat anak perempuan itu melepaskan pelukannya sembari menggelengkan kepalanya.
"Callie tidak nakal. Callie hanya sering buat Mommy pusing karena Callie sering menangis karena mau ketemu sama Daddy tapi selalu tidak dibolehin sama Uncle dokter," adu Callie dengan kerucutan di bibirnya yang membuat Leon dengan refleks mencubit pipi Callie.
"Jadi karena Callie tidak dibolehin Uncle dokter buat masuk jadi Callie nangis dan sampai buat Mommy pusing?" Callie menganggukkan kepalanya.
"Callie tau tidak, apa yang dilakukan oleh Uncel dokter itu benar lho. Karena tempat ini sebenarnya tidak boleh di masuki oleh anak kecil seperti Callie ini," ujar Leon.
"Memangnya kenapa anak kecil tidak boleh masuk, Dad?" tanya Callie.
"Jadi disini banyak badutnya?"
"Iya. Makanya Uncle dokter tidak mengizinkan anak kecil masuk kesini," jelas Leon berbohong.
"Ihhhh Callie takut Dad. Callie tidak mau lihat badut disini," ujar Callie dengan memejamkan matanya.
"Kalau Callie takut jangan nakal lagi dan jangan nangis lagi kalau Uncle dokter tidak mengizinkan Callie untuk masuk ke ruangan manapun di rumah sakit. Callie mengerti?" Callie tampak menganggukkan kepalanya.
Leon yang melihat hal tersebut pun ia tersenyum. Dan untungnya ia tau ketakutan terbesar anak perempuan tersebut yang berhasil ia jadikan sebagian umpan untuk memberikan penjelasan kepada Callie. Jika tidak, entahlah alasan apa yang akan Leon katakan kepada Callie yang selalu ingin mengetahui hal-hal baru disekitarnya. Karena otak Leon masih loading untuk memikirkan alasan lain untuk ia berikan kepada Callie.
"Tapi Callie tenang saja sekarang sudah ada Daddy disamping Callie jadi badut-badut itu tidak berani kesini dan menampakkan diri mereka jadi Callie sekarang bisa buka mata Callie dan jangan takut lagi ya," ucap Leon yang kasihan kepada anak perempuan tersebut yang benar-benar tengah ketakutan dengan kebohongan yang ia buat tadi.
"Beneran Dad? Mereka tidak akan muncul?" tanya Callie.
"Iya sayang," ujar Leon sembari mengelus rambut Callie. Dan karena ucapan dari Leon tadi membuat Callie perlahan membuka matanya kembali bahkan ia sekarang juga melepaskan pelukannya tadi dengan tatapan mata yang menyapu keseluruhan ruangan tersebut.
"Iya Dad, mereka tidak berani muncul," ucap Callie sembari menatap kearah Leon yang tengah tersenyum sembari menganggukkan kepalanya untuk menimpali ucapan Callie.
Dan saat Leon tengah menatap wajah Callie, tiba-tiba ia merasakan jika rambutnya tengah di elus oleh seorang. Karena penasaran, Leon kini menolehkan kepalanya kearah samping brankar yang ternyata sudah berdiri seorang perempuan yang sudah tak asing untuknya. Tapi bukannya Leon bahagia melihat orang itu, ia justru langsung menampik tangan perempuan tersebut agar menjauh dari kepalanya.
__ADS_1
"Mau apa anda kesini?" tanya Leon dengan wajah dinginnya.
Edrea yang melihat nada suara Leon yang begitu ketus. Bahkan saat dirinya mengatakan hal tersebut, mata laki-laki itu tak melihat kearah perempuan tersebut. Dan hal itu membuat Edrea merasa tak enak hati. Hingga tangannya kini bergerak untuk mencubit kaki Leon karena kebetulan dirinya berada di ujung brankar tersebut.
Leon yang merasakan cubitan maut itupun ia meringis kesakitan dan tatapan matanya langsung tertuju ke arah pelaku yang tengah menatapnya dengan garang. Dan dengan tatapan itu membuat Leon tampak kesusahan menelan salivanya sendiri, nyalinya benar-benar menciut saat melihat Edrea dalam mode garang seperti ini.
Edrea yang sudah bertatapan dengan mata amber milik Leon, ia langsung memberikan kode kepada laki-laki tersebut untuk bertingkat laku baik kepada perempuan yang merupakan ibu kandung kekasihnya itu.
Leon yang sepertinya mengerti dengan kode mata dari Edrea itu pun ia menghela nafas kasar.
"El," panggil Mommy Elia yang mengalihkan perhatian Leon dari Edrea.
"Hmm," balas Leon hanya dengan deheman saja. Dan hal tersebut membuat Edrea kembali mencubit kaki Leon.
"Aws, sakit tau sayang," protes Leon yang membuat semua orang di ruangan tersebut mengalihkan pandangannya kearah Edrea. Sedangkan Edrea yang tengah di tatap oleh orang-orang itupun ia kini menyunggingkan senyumannya sebelum ia mendelikkan matanya kearah Leon dengan bibir yang bergerak memberikan peringatan kedua untuk kekasihnya itu.
"Bersikap lah baik." Kira-kira itulah kata-kata yang keluar dari bibir Edrea tanpa bisa didengar oleh semua orang disana kecuali Leon yang mendapat ancaman dari singa betinanya itu.
Dan setelah memberikan ancaman itu untuk Leon, Edrea kembali menatap kearah semua orang disana dengan senyum canggungnya yang hanya dibalas dengan gelengan kepala oleh orang-orang di sana kecuali Mommy Elia yang sedari tadi menatap wajah Leon.
"El, maafin Mommy nak," ucap Mommy Elia yang kembali terdengar membuat Leon menghela nafas.
"Maaf untuk kesalahan yang mana? Kesalahan anda sudah cukup banyak untuk bisa saya maafkan," ujar Leon yang masih saja ketus dan sepertinya ia tak mempedulikan ancaman dari Edrea tapi pasalnya Leon adalah orang yang akan bersikap acuh dengan seseorang yang telah melukai perasaannya.
"Maaf sayang. Mommy akui Mommy punya banyak salah dengan kamu. Bahkan Mommy juga merasa jika Mommy tidak pantas mendapatkan maaf dari kamu mengingat semua yang telah Mommy dulu lakukan ke kamu. Tapi yang perlu kamu tau sayang, itu semua bukan kemauan Mommy tapi kemauan Daddy kamu," ucap Mommy Elia dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya.
"Jika memang bukan kemauan anda, bukan kah anda bisa menolak permintaan si bajingan itu?" tutur Leon tapi sebelum mengatakan perkataan kotor itu tangannya lebih dulu bergerak untuk menutup telinga Callie. Hingga anak itu tak mendengarkan ucapannya tadi.
"Mommy tidak mempunyai hak untuk menolak perintah dia, El. Jika Mommy menolak apa yang diperintahkan dia, Mommy akan mendapat hukuman sayang," ujar Mommy Elia yang justru membuat Leon kini tersenyum miring.
"Anda tidak menginginkan hukuman dari dia makanya anda membuat anak-anak anda yang mendapat hukuman dari dia. Kalau cara anda begitu, apa anda masih pantas di anggap seorang ibu?" ucap Leon sembari melirik tajam kearah Mommy Elia yang kini semakin sesegukan. Ia benar-benar menyesali apa yang dulu ia lakukan hingga berakhir dia menanamkan sebuah dendam di hati anaknya sendiri. Sakit memang tapi itulah hukuman yang harus ia terima.
Dan ucapan dari Leon tersebut membuat Edrea membelalakkan matanya.
"Jaga ucapan kamu, El!" ucap Azzo yang tak terima. Bahkan laki-laki itu kini berjalan mendekati Leon.
Erland yang sedari tadi terdiam tak ingin ikut campur dengan permasalahan keluarga orang lain pun kini ia bergerak cepat menuju kearah Callie yang masih duduk di brankar yang di tempati Leon saat dirinya merasa jika kondisi di ruangan itu semakin tak kondusif dan jika mereka membiarkan Callie masih di ruangan tersebut, ia takut Callie nantinya akan takut dengan orang-orang yang ingin berdebat itu.
"Callie sama Uncle yuk. Kita beli es krim," ucap Erland dengan suara yang lirih dan tanpa menunggu persetujuan dari anak perempuan itu, Erland lebih dulu menggendong tubuh Callie dan segera meninggalkan ruangan tersebut.
Edrea yang melihat Callie sudah aman pun ia kini menghela nafas, setidaknya Callie tidak akan melihat kekacauan yang akan terjadi selanjutnya. Dan tugas Edrea kini untuk menenangkan Leon yang terlihat sudah mulai terpancing emosi.
Leon yang mendengar ucapan dari Azzo pun ia menatap kearah Kakaknya itu dengan senyuman di bibirnya.
"Kenapa? kamu mau membela dia setelah semua yang kamu terima dulu? Cih, tidak usah munafik jadi orang Kak. Aku tau Kakak juga tidak bisa memaafkan semua kejadian di masa lalu itu, bukan. Didalam lubuk hati kamu yang paling dalam kamu masih memendam amarahmu tapi karena kamu sangat pintar menyembunyikan itu semua jadi kamu hanya mengabaikannya begitu saja. Tapi tidak denganku, sekali aku benci seseorang maka kesalahan sekecil apapun yang telah dia lakukan tidak akan pernah mendapat maaf dariku," ujar Leon dan apa yang dikatakan oleh Leon itu membuat Azzo terdiam karena semua ucapan dari Leon tadi memang benar adanya. Ia sangat pintar menyembunyikan segala sesuatu yang benar-benar menyesakan di hatinya itu.
__ADS_1
"Aku tidak sepintar kamu untuk berpura-pura baik-baik saja padahal di hati banyak sekali hal yang perlu di luapkan. Apalagi saat kejadian dimana kamu dipisahkan dengan seseorang yang sangat kamu sayangi. Aku tau rasa sakit yang Kakak alami saat itu karena aku juga mengalami hal itu juga. Tapi aku langsung memberontak hingga berhasil keluar dari jeratan para iblis itu dan dengan sekuat tenaga mencari kembali keberadaan orang yang sangat aku cintai dengan berniat untuk melindungi dirinya. Tapi kamu justru pasrah begitu saja dengan berbagai tekanan yang mereka berikan tanpa bisa melindungi seseorang yang sangat berarti di hidup Kakak hingga akhirnya kalian terpisahkan dengan percuma," ucap Leon sembari menatap kearah Azzo yang terlihat tengah mengepalkan tangannya kemudian tatapan matanya itu beralih kearah seorang perempuan yang tengah berdiri tak jauh dari brankar Leon yang kini tengah mendudukkan kepalanya.