The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 322


__ADS_3

Saat di depan ruang ICU Edrea tengah mendapat kabar bahagia seperti yang di katakan oleh Azlan sebelumnya, berbeda dengan Azlan yang sedari tadi melebarkan senyumnya, senyum itu sekarang seketika tergantikan dengan bibir yang maju beberapa senti kedepan.


"Mom, Dad. Jangan gitu lah. Masak tega sama Azlan. Kan kita berdua juga sudah sah jadi suami istri. Jadi gak masalah lah kalau Azlan minta jatah sama Zea. Zea kan istri Azlan," ucap Azlan memelas karena sesampainya dirinya di kamar inap Zea, ia justru di beritahu lebih tepatnya mendapat larangan dari kedua orangtuanya agar tidak melakukan hubungan suami-istri terlebih dahulu. Dan hal tersebut membuat mood Azlan langsung down seketika.


Pletakkk!


Satu sentilan keras mendarat di keningnya yang membuat Azlan langsung meringis kesakitan.


"Pikiran kamu itu apa tidak ada positif-positifnya sih Az. Memang kalian sudah sah jadi suami-istri tapi setidaknya kalau nahan biar kalian gak buat anak dulu bisa kan. Jangan egois Az, kalian berdua masih sekolah. Apa kamu gak kasihan sama Zea kalau kalian berhubungan badan dan jadi bayi saat kalian masih sekolah dan di ketahui semua orang, Zea nanti yang di kira gak bener. Umur dia juga masih terlalu muda jika harus mengandung Az. Tolonglah jangan mikirin diri kamu sendiri tapi pikirin juga perasaan Zea. Karena Mommy yakin dia juga masih ingin sekolah seperti teman-teman seusianya sampai kuliah nanti dan meraih cita-citanya. Dan kamu yang sebagai suaminya harus dukung dia, jangan hancurin masa depannya. Tapi kalau Zea mau dan sudah siap punya baby di usia muda ya terserah kalian berdua. Tapi ingat harus lulus sekolah menengah yang tengah kalian tempuh ini. Jangan sampai kalian ngebet punya baby, kalian jadi didepak dari sekolah," tutur Mommy Della.


Zea yang mengerti dan sebenarnya ia juga belum mau memiliki baby secepatnya karena keadaannya yang belum memungkinkan dari fisik ataupun umur yang belum memenuhi, Zea kini menatap kearah Azlan yang berada di sampingnya lalu tangannya kini bergerak untuk mengelus lengan suaminya itu.


"Benar apa yang dikatakan Mommy. Bukannya aku tidak mau memenuhi kewajibanku sebagai istri tapi mengingat segala kesiapan mengenai mental kita jika menjadi orangtua dan banyak lagi yang sama sekali belum kita kantongi ilmunya. Lebih baik memang kita menunda dulu memiliki baby sebelum semuanya nanti terlanjur dan berakibat fatal ke diri kita sendiri ataupun ke baby kita nantinya," timpal Zea dengan suara yang lembut agar Azlan yang ia yakini tengah merajuk itu bisa memahami ucapannya dan mensetujui apa yang dikatakan oleh kedua orangtua Azlan itu.


Azlan tampak terdiam, memikirkan semua yang telah mereka bicarakan tadi sebelum akhirnya ia menghela nafas kasar.


"Ya udah iya. Azlan akan tahan biar gak buat anak," ucap Azlan yang masih dalam mode ngambek. Sedangkan Mommy Della dan Daddy Aiden kini saling pandang satu sama lain lalu setelahnya dengan serempak kedua orang itu mencubit pipi anak laki-lakinya itu.


"Nah gitu dong dari tadi," ucap Daddy Aiden sembari menggoyang-goyangkan cubitannya tadi yang semakin memberikan rasa sakit kepada Azlan.


"Ish Dad, Mom. Sakit tau." Azlan kini melepaskan dua tangan kedua orangtuanya itu untuk menjauh dari pipinya.


Sedangkan Daddy Aiden dan Mommy Della, mereka justru terkekeh kecil. Azlan yang melihat kekehan itu ia justru semakin dibuat sebal sehingga ia mendorong pelan tubuh kedua orangtuanya.


"Udah-udah jangan ngetawain Azlan mulu. Mending Mom sama Dad sekarang keluar dari sini."


"Eh eh eh kamu ngusir orangtua kamu sendiri?" ucap Mommy Della saat ketiga orang itu sudah berada di depan pintu kamar Zea.


"Iya. Azlan ngusir kalian. Menjauh sana, jangan ganggu Azlan sama Zea lagi," ujar Azlan dan saat Daddy Aiden ingin menimpali ucapan dari putranya itu, pintu kamar tersebut lebih dulu di tutup dengan keras oleh Azlan yang membuat kedua orangtuanya itu tampak terperanjat kaget.


Dan hal tersebut membuat Daddy Aiden geram dan dengan sengaja ia menendang pintu kamar tersebut.


"Anak kurang ajar. Awas aja ya kalau Daddy ketemu sama kamu, Daddy akan sunat lagi kamu biar tau rasa," teriak Daddy Aiden yang tak melihat situasi disekitarnya yang sekarang tengah menatap kearah dirinya.


"Dad udah ih. Jangan teriak-teriak ingat disini tuh rumah sakit. Dan perlu kamu tau karena kamu tadi teriak semua orang sekarang lagi lihatin kita," ucap Mommy Della dengan meraih lengan suaminya dan segera menarik tubuh suaminya itu menjauh dari pusat perhatian semua orang di sana.


Dan langkah mereka berdua terhenti ketika sudah berada di depan ruang ICU dimana didepan ruangan tersebut sudah ada Adam dan Edrea yang tengah menatap penasaran dengan tingkah keduanya. Terlebih mereka ditambah penasaran dengan gerutuan yang terus keluar dari bibir Daddy Aiden.


"Mom, Dad kalian ngapain sih?" tanya Edrea penasaran sembari menggeser tubuh kedua orangtuanya hingga akhirnya kepalanya muncul diantara kedua tubuh orangtuanya itu yang kini tengah menundukkan kepalanya untuk melihat wajah Edrea yang tengah menatap kearah mereka berdua secara bergantian.

__ADS_1


"Ck, biasalah Abang kamu bikin Daddy badmood," ucap Mommy Della sembari mencari kursi kosong untuk ia duduki diikuti oleh Daddy Aiden.


"Dia itu benar-benar menyebalkan tau sayang. Mentang-mentang dia udah punya istri sekarang jadi main ngusir kita seenak jidatnya," tutur Daddy Aiden.


"Iya aku juga tau, tapi bisa gak sih kamu tuh jangan ngedumel mulu dari tadi mana di lihatin semua orang lagi."


"Kok kamu malah marahin aku. Kamu bela Azlan yang jelas-jelas salah itu, iya?"


"Aku gak marahin kamu dan aku juga gak belain Azlan," ucap Mommy Della.


"Terus apa kalau gak belain dia? Kamu tuh pilih kasih tau, kalau aku yang salah gak kamu belain dan selalu kamu omelin tapi kalau anak sendiri yang salah kamu bela-belain terus dan ujung-ujungnya aku yang disalah. Arkhhhh menyebalkan, menyebalkan, sungguh menyebalkan," ucap Daddy Aiden sembari menghentak-hentakkan kakinya seperti seorang anak kecil yang tengah merajuk kepada orangtuanya.


Mommy Della yang melihat hal tersebut pun ia menghela nafas panjang.


"Tapi ujung-ujungnya juga aku yang minta maaf," ujar Mommy Della yang langsung membuat Daddy Aiden mengalihkan pandangan kearah Mommy Della.


"Tuh kan. Ish udahlah aku mau pergi," ucap Daddy Aiden merajuk. Tapi baru saja dirinya beranjak dari duduknya, tangan Mommy Della bergerak cepat untuk mencekal lengan suaminya itu dan menariknya hingga Daddy Aiden terduduk lagi dan sebelum Daddy Aiden kembali mengomel, Mommy Della langsung memeluk tubuh suaminya itu.


"Oke-oke aku gak ngomel lagi. Jadi jangan ngambek lagi oke," ucap Mommy Della sembari mengelus rambut suaminya itu dengan lembut.


"Janji jangan ngomel lagi," ujar Daddy Aiden dengan suara yang super duper manja.


...****************...


Waktu terus berputar hingga saat ini sudah satu bulan Leon koma dan berbaring di ruang ICU, memang keadaan dia semakin membaik tapi nyatanya ia tak kunjung juga membuka matanya. Bahkan Zea yang juga menjadi korban atas kejadian itu, kini sudah sembuh total dengan kaki yang sudah kembali bisa ia gunakan untuk berjalan lagi seperti sedia kala. Dan tepat dihari itu juga keluarga Leon baru bisa menepati janji mereka untuk melihat kondisi Leon secara langsung karena sebelumnya mereka hanya memantau kondisi Leon dengan perantaraan Daddy Aiden yang selalu memberikan update perkembangan Leon melalui sebuah pesan. Tapi hari ini akhirnya mereka bisa melihatnya secara langsung setelah segala sesuatu mengenai kejadian waktu itu berhasil mereka selesaikan dengan bersih, tak ada yang mencurigai mereka sedikitpun atas meninggalnya tuan Grissham waktu itu.


"Bagaimana keadaan El?" tanya Mommy Elia yang merupakan ibu Leon yang kini baru bergabung dengan keluarga Abhivandya di ruang tunggu.


Dan saat Edrea ingin menjawab pertanyaan dari perempuan paruh baya itu pun dengan cepat Mommy Elia bersuara kembali.


"Jangan berbicara formal ke saya," tutur Mommy Elia dengan senyuman di bibirnya.


Dan hal tersebut membuat Edrea menganggukkan kepalanya.


"Keadaan El semakin membaik, hanya saja dia masih koma," ujar Edrea yang membuat Mommy Elia menghela nafas panjang.


"Kalau begitu saya boleh masuk kan? Mau lihat tidur panjangnya El," pinta Mommy Elia yang langsung di persilahkan oleh keluarga Abhivandya.


Dan saat perempuan paruh baya itu telah memasuki ruangan yang ditempati oleh Leon, dengan pakaian khusus ia kini mendekati brankar yang berisi Leon diatasnya.

__ADS_1


Dengan senyum yang terpatri di bibirnya, Mommy Elia mengelus surai Leon.


"Hay Prince-nya Mommy. Apa kabar sayang? Lama ya kita tidak bertemu. Dan kita dipertemukan lagi saat kamu dalam kondisi seperti ini, nak. Apa kamu tidak capek hmmm tidur terus seperti ini? Apa kamu tidak mau melihat Mommy lagi? Dan apa kamu juga tidak mau melihat Edrea lagi? Jangan biarkan kekasihmu itu bersedih terlalu lama. Memangnya kamu mau lihat Edrea terus menangis karena rindu kamu? Mommy rasa kamu tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jadi untuk itu Mommy harap kamu bangun ya sayang, buka mata kamu lagi. Istirahatnya sudah cukup satu bulan saja jangan lebih. Mommy sayang kamu nak, maafkan segala kesalahan Mommy dulu. I Miss you, prince," ucap Mommy Elia tepat di samping telinga Leon dan setelah mengucapkan hal tersebut, ia mengecup kening putra keduanya itu sebelum akhirnya ia beranjak untuk keluar dari ruangan tersebut karena batas waktu yang sudah di tentukan sudah habis.


Dan saat dirinya baru keluar dan menutup pintu ruangan tersebut, bertepatan dengan itu pula, suara teriakan anak kecil membuat semua orang yang tengah berada di depan ruang ICU itu mengalihkan pandangan mereka kearah gadis kecil tersebut.


"Mommy!" teriaknya sembari berlari kearah Edrea.


Edrea yang melihat Callie pun ia kini tersenyum sembari merentangkan tangannya untuk menyambut pelukan hangat yang akan Callie berikan kepadanya.


"Mommy, Callie kangen," ucap Callie saat sudah berada di pelukan Edrea.


"Mommy juga kangen sama kamu sayang," balas Edrea sembari melepaskan pelukannya tadi lalu menciumi wajah Callie dengan gemas. Dan hal tersebut membuat Callie terkekeh geli.


Semua interaksi dari kedua orang tadi tak luput dari perhatian semua orang disana terutama dengan Mommy Elia, Azzo dan juga Alice yang kini tengah menebak-nebak siapa anak perempuan yang bersama dengan Edrea saat ini? Kenapa dia memanggil Edrea dengan sebutan Mommy? Ada hubungan apa mereka berdua? Apa jangan-jangan anak itu adalah anak Edrea dan Leon? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang memutar di otak ketiga orang itu. Hingga lamunan mereka pecah saat para dokter dan suster tiba-tiba berlarian untuk masuk kedalam ruang ICU. Bahkan Edrea yang tadi tengah bercanda dengan Callie pun ia langsung menghentikan aktivitasnya itu dan dengan perasaan tak tenang Edrea membawa Callie kedalam gendongannya. Agar anak tersebut tak tertabrak oleh para dokter dan suster yang terlihat tengah tergesa-gesa itu.


"Mom, Dad, ini ada apa?" tanya Edrea saat kedua orangtuanya telah berdiri di samping kanan dan kirinya.


"Tidak ada apa-apa sayang. Mereka lari-larian gitu mungkin ada pasien lain yang harus memakai ruangan yang sama dengan Leon dan mereka tengah mempersiapkan segala keperluan pasien baru mereka itu. Jadi kamu tenang saja, semuanya baik-baik saja," ujar Mommy Della dengan mengelus surai rambut Edrea.


"Benar yang dikatakan Mommy kamu, Re. Jangan overthinking dulu. Sekali-kali kamu itu juga harus berpikir positif juga biar diri kamu nantinya tidak tertekan," timpal Daddy Aiden.


"Tapi mereka kelihatannya terburu-buru gitu Dad jadi, gak salah kan kalau Rea berpikir yang macam-macam. Rea takut Dad, Mom kalau Leon benaran harus ninggalin Rea sendiri. Rea gak akan bisa jauh dari dia Mom, Dad. Kalau dia pergi aku nanti gimana? Aku nanti ngurus Callie sama siapa?" ucap Edrea dengan berbagai macam ketakutannya jika ditinggal oleh Leon untuk selamanya.


"Kamu tenang dulu sayang. Leon tidak akan kenapa-napa. Percaya deh sesama Daddy," ucap Daddy Aiden yang terus mencoba untuk menenangkan Edrea.


"Tapi---" Jari telunjuk Daddy Aiden kini menempel di bibir Edrea saat bibir itu ingin kembali bersuara.


"Jangan bawel Re. Daripada kamu bawel kayak tadi mending Callie kasih ke Daddy sini, biar anak ini Daddy ajak main sebentar," ujar Daddy Aiden sembari merebut tubuh Callie dari dari gendong Edrea.


"Huwaaaaa Callie tidak mau Appa. Callie maunya sama Mommy. Huwaaaaa Mommy," tangis Callie saat dirinya terpisah dengan badan sang Mommy.


"Dad, biarkan saja dia ada disini sama Rea," ucap Edrea dengan menahan lengan sang Daddy ketika ia ingin beranjak dari hadapan Edrea.


Lalu setelah mengucapkan hal tersebut Edrea bergerak untuk melepaskan gendong Daddy Aiden. Dan setelah ia berhasil melepaskan gendongan itu Edrea langsung memeluk Callie dengan sangat erat.


"Cup cup cup sayang. Mommy sudah ada sama Callie. Jadi sudah ya nangisnya," ujar Edrea dengan suara yang sangat lembut. Namun bukannya langsung diam, Callie justru semakin menangis hingga sesegukan. Dan hal tersebut membuat Edrea berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan Callie hingga Alice yang juga tak tega melihat wajah Callie yang memerah karena kebanyakan menangis itu pun ia kini mendekati Edrea dan setelah sampai ia menepuk bahu Edrea yang membuat sang empu langsung menoleh ke belakang.


"Boleh aku bantu untuk menenangkan dia?" tanya Alice yang membuat Edrea terdiam sesaat hingga akhirnya Edrea menganggukkan kepalanya untuk mensetujui peminta dari perempuan yang sama sekali tak ia kenal itu.

__ADS_1


__ADS_2