The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 228


__ADS_3

Mommy Della yang baru ingat akan kehadiran Zea di tengah-tengah keluarganya itu pun kini ia menepuk-nepuk tangan Daddy Aiden yang melingkar di pinggangnya itu. Daddy Aiden yang tadinya menyandarkan kepalanya di bahu Mommy Della dengan mata yang tertutup, kini ia membuka matanya lalu ia menatap wajah Mommy Della.


"Kenapa?" tanya Daddy Aiden.


Mommy Della mengkode Daddy Aiden dengan matanya. Daddy Aiden yang paham akan kode itu pun kini ia menatap arah pandang Mommy Della yang sekarang mengarah ke arah Zea.


Daddy Aiden yang melihat ada perempuan asing di rumahnya pun dengan cepat ia menegakkan kembali tubuhnya bahkan pelukannya tadi ia lepaskan dari tubuh sang istri.


"Ehemmm," dehem Daddy Aiden sembari merapikan jasnya.


Semua orang yang mendengar deheman tadi, menatap kearah Daddy Aiden tak terkecuali dengan Zea yang kini melemparkan senyumannya saat mata Daddy Aiden tak sengaja bertemu dengan tatapan Zea. Dan hal itu justru membuat Daddy Aiden salting sendiri saat melihat senyum dari Zea.


Tapi sebisa mungkin ia menyembunyikan hal tersebut, takut-takut jika Mommy Della nanti melihatnya, pasti dirinya akan habis di tangan sang istri saat itu juga.


"Ini siapa? Tidak adakah yang ingin mengenalkan gadis ini ke Daddy? Ini temannya Rea, Azlan atau Erland? Atau malah pacarnya Azlan atau Erland?" tanya Daddy Aiden dengan kepo.


"Dia pacarnya Azlan sekaligus temannya Erland," ucap Mommy Della yang membuat Daddy Aiden membeo.


"Emmmm, saya Zea, Om," ucap Zea sembari mengulurkan tangannya yang langsung di sambut hangat oleh Daddy Aiden.


"Saya Daddynya mereka bertiga. Dan jangan panggil saya dengan sebutan Om. Kelihatan tua banget saya kalau di panggil Om tuh. Lebih baik panggil saya dengan sebutan Daddy, seperti mereka bertiga kalau manggil saya," ujar Daddy Aiden yang diangguki oleh Zea.


"Kalau ini pacarnya Azlan, pacar kalian berdua dimana?" tanya Daddy Aiden kepada kedua anaknya yang lain, yang masih saja saling berpelukan.


Dan pertanyaannya itu membuat Erland dan Edrea mengerucutkan bibirnya.


"Dad jangan tanya mereka dengan pertanyaan itu. Karena pertanyaan itu tuh sensitif banget buat mereka berdua," ujar Mommy Della.


"Oh ya, kenapa bisa begitu, mereka masih jomblo gitu?" tanya Daddy Aiden.


"Hmmmm ya bisa di katakan jomblo, tapi ini lebih nyesek dari pada jomblo Dad," jawab Mommy Della.

__ADS_1


"Mom, stop jangan di teruskan lagi," sela Edrea yang tak dihiraukan sama sekali oleh Mommy Della.


"Dad mau tau kan kenapa Mom bilang begitu?" Daddy Aiden yang sudah penasaran tingkat dewa pun kini ia menganggukkan kepalanya.


"Mom," peringatan dari Erland.


"Mereka tuh punya nasib yang sama yaitu sama-sama di tolak sama orang yang mereka suka. Hahahaha," ucap Mommy Della diakhir dengan gelak tawanya. Daddy Aiden yang mendengar hal itu pun juga turut ikut tertawa. Entah apa yang lucu dari perkataan Mommy Della itu, yang penting saat sang istri senang, maka dia juga harus ikut senang.


"Dan lebih parahnya lagi, Erland jadi ban serep dari gadis yang dia sukai," sambung Mommy Della.


"Mommy!! Stop!" ucap Erland yang jadi malu sendiri.


"Oh ya? Malang sekali nasib kamu, Er. Hahahaha, laki-laki kok mau-maunya dijadikan ban serep sama seorang gadis. Dasar lemah," ujar Daddy Aiden yang membuat wajah Erland semakin murung saja.


"Ck, dahlah. Disini gak ada yang seru. Erland mau ke kamar dulu, bye," tutur Erland sembari beranjak dari duduknya. Tapi sebelum dirinya melangkahkan kakinya, ia menatap tajam kearah Daddy Aiden.


"Kenapa?" tantang Daddy Aiden.


"Hey! Kata siapa Daddy pernah dijadikan ban serep sama seseorang? Enak aja, tampang mahal begini kok di jadikan ban serep. Tuh mata orang yang menjadikan Dad ban serep perlu di ganti yang baru. Dan perlu kamu ingat ya, tidak ada di dalam sejarah hidup Daddy mengalami hal memalukan seperti itu. Ingat itu ingat!" teriak Daddy Aiden.


"Halah, bohongnya kelihatan banget. Maaf-maaf nih ya Dad, Erland berbicara sesuai dengan fakta dan dari sumber terpercaya. Jadi apa yang dikatakan oleh Erland tadi tidak hanya bualan semata. Kalau tidak percaya tanya aja tuh sama Mommy. Iya kan Mom? Apa yang Erland katakan tadi benar semua?" Teriak Erland yang berdiri di anak tangga rumah tersebut.


Mommy Della yang di lempari pertanyaan itu pun kini ia gelagapan sendiri saat Daddy Aiden kini menatap kearah dirinya.


"Mom?" ucap Daddy Aiden yang membuat Mommy Della kini memperlihatkan cengirannya.


"Hehehe, Mommy kelepasan. Sorry Dad, jangan marah. Kalau marah malu sama calon mantu," rayu Mommy Della sembari mengelus lengan Daddy Aiden.


"Ck, ya udah lah, sesi ngambeknya di pending dulu. Tapi btw Ze, kamu mau gak jadi istri muda Daddy? Jangan jadi istrinya Azlan, dia masih miskin soalnya," ucap Daddy Aiden bercanda sekaligus sebagai balas dendam akan ketercemburuannya tadi terhadap Mommy Della yang bermesraan dengan Erland. Dan bercandaannya tadi justru membuahkan jeweran di telinganya dan pelototan mata dari Azlan.


"Aw, sakit sayang," rintih Daddy Aiden.

__ADS_1


"Sakit ya? Bodoamat. Sekarang coba ulang ucapanmu tadi. Ayo buruan, aku mau dengar sekali lagi," tutur Mommy Della.


"Gak, gak jadi. Tadi juga cuma bercanda sayang. Gak mungkin juga aku nikung anak sendiri dan duain kamu," ujar Daddy Aiden sembari mencoba melepaskan jeweran Mommy Della.


"Mau itu bercanda ataupun serius. Sama saja. Aku tidak peduli. Dan untuk malam ini, kamu jangan harap tidur di kamar. Tidur di luar selama satu bulan," ucap Mommy Della dengan melepaskan jewerannya tadi.


"Eh kok gitu. Jangan dong sayang. Aku tuh gak bisa tidur kalau gak meluk kamu. Jadi biarin aku tidur di kamar ya," tutur Daddy Aiden dengan memeluk tubuh Mommy Della.


"Lepas, jangan peluk-peluk. Jauh-jauh sana. Dan keputusanku tadi tidak bisa di ganggu gugat," ujar Mommy Della.


"Ayolah sayang. Jangan begini, kasihanilah suami kamu ini. Gini aja deh, aku sekarang transfer uang bulanan 3 kali lipat dari sebelumnya, dan uang itu mau buat apa aja terserah kamu. Ya penting kamu sekarang maafin aku, ya sayang ya. Maaf," tutur Daddy Aiden penuh permohonan.


"Oh jadi kamu nyogok aku nih ceritanya? Tapi sayangnya aku tidak akan berubah pikiran sama sekali, kecuali." Ucapan Mommy Della sengaja ia gantung agar semua orang terutama Daddy Aiden penasaran dengan kelanjutan ucapannya tadi.


"Kecuali apa?" tanya Daddy Aiden.


"Kecuali kamu berikan saham kamu untukku," ujar Mommy Della yang membuat Daddy Aiden melongo.


"Oh come on sayang. 50% saham aku udah atas nama kamu. Ya kali sekarang tambah lagi, yang ada lama-lama di perusahaan aku sendiri, aku sudah tidak memiliki saham sepeserpun," ucap Daddy Aiden.


"Ya sudah kalau tidak mau. Jangan harap aku memaafkan kamu," tutur Mommy Della sembari beranjak dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya menuju lantai atas.


Daddy Aiden yang melihat hal itu pun kini ia mengikuti langkah Mommy Della dengan ocehannya.


Sedangkan ketiga orang yang masih disana pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Si Mommy kalau ngambek ngeri juga, taruhannya saham coy. Untung Daddy punya perusahaan dimana-mana jadi gak terlalu bingung juga kalau nanti di perusahaan satu, semua saham atas nama Mommy," ujar Edrea


"Ahhhh kalau gini kan gue jadi pengen punya Papa gula. Biar kalau gue ngambek, sogokannya saham juga, kan lumayan," sambungnya sembari berdiri dari duduknya dan saat dirinya sudah melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya tadi kemudian ia memutar tubuhnya menghadap kearah Azlan dan Zea.


"Kakak ipar, trik dari Mommy tadi boleh di terapkan sama kakak ipar kalau bang Az buat salah, minta aja sahamnya. Tenang aja, dia sudah punya usaha sendiri. Jadi Kakak ipar gak perlu takut sama Mom atau Dad yang akan menegur kakak ipar kalau hal itu terjadi. Malah Rea yakin, tuh pasangan bucin dukung 100% aksi Kakak ipar nanti. Jadi good luck Kakak ipar," ujar Edrea sebelum dirinya benar-benar pergi dari hadapan dua orang tadi.

__ADS_1


Dan perkataan dari Edrea tadi membuat Azlan geram sendiri. Bahkan kini bantal sofa yang paling dekat dengan Azlan terlempar kearah Edrea yang untungnya tidak kena di tubuh Edrea. Jika saja terkena, sudah bisa di pastikan perang lempar bantal tak bisa terelakkan lagi. Sedangkan Zea, ia sedari tadi tersenyum melihat tingkah keluarga tersebut yang jauh dari ekspektasinya tadi. Ia kira keluarga Azlan akan terlalu bersikap serius, kaku dan penuh misterius karena terlihat dari kepribadian Azlan dan Erland yang selalu menyembunyikan identitas mereka dari orang luar. Tapi ternyata keluarga yang ia anggap misterius sebelumnya justru keluarga yang penuh dengan kehangatan.


__ADS_2