
Azlan yang melihat beberapa pistol mengarah ke dirinya pun ia memutar bola matanya malas. Sedangkan Zea, ia menengadahkan wajahnya untuk menatap Azlan.
"Az," panggil Zea.
"Az Az Az terus, panggil sayang bisa gak sih," timpal Azlan yang masih sensi.
"Astaga. Ya sudah, sayang, aku takut," ujar Zea.
"Tadi aja sok-sokan mau jadi tameng buat aku tapi sekarang malah takut gimana sih," ucap Azlan.
"Orang-orang ini juga dari tadi cuma bengong terus gak langsung gerak gimana caranya, malah mereka lihatin orang lagi pacaran. Mau nembak aja kelamaan pakai acara harus serempak pula yang gerakin pistolnya. Ck, kalian tuh dari komplotan preman mana sih sebenarnya. Gak ada gesit-gesitnya jadi preman. Udah lah ganti rok aja kalian jangan jadi preman tapi jadi cewek pengkolan," ucap Azlan.
"Bosnya juga bloon banget, cari orang modelannya begini. Bukannya dapat untung dan hasil yang memuaskan malah dapat kerugian. Haish," sambung Azlan yang terus saja mengomeli semua orang di dalam ruangan tersebut sekaligus ia mengulur waktu agar orang-orang yang tadi mengikuti dirinya sampai di lokasi.
Dan saat mulutnya baru saja terkatup, matanya tak sengaja menatap gerombolan orang-orang tengah berada di depan ruangan tersebut.
"Jangan bergerak! Kalian sudah kami kepung," ucap seorang polisi yang berhasil membuat orang-orang tadi dengan reflek mengangkat tangan mereka.
"Letakkan senjata kalian!" perintah polisi tersebut dengan perlahan mendekati orang-orang tadi. Dan perintahnya itu langsung di turuti oleh semua orang disana. Kemudian tanpa berselang lama, seorang polisi tadi memberikan kode kepada para partner kerjanya untuk segera meringkus semua penjahat di ruangan tersebut.
"Nah kan, kelamaan sih. Pakai acara bengong segala tadi gak langsung tembak aja. Jadinya kalian sendiri kan yang rugi. Bodoh kok di pelihara. Rasain dah tuh mendekam di penjara," ucap Azlan yang membuat polisi disana tampak menahan tawa mereka.
"Bawa semuanya pak pol, kasih hukuman yang seberat-beratnya kalau perlu kasih hukuman kebiri sekalian, biar mereka semua gak jelalatan lagi kalau ketemu sama perempuan terlebih dengan pacar saya," sambungnya.
"Baik tuan. Kita akan memberikan hukuman yang setimpal atas rencana yang telah merugikan anda. Saya ucapkan terimakasih atas kerjasamanya. Dan izin permisi terlebih dahulu, selamat malam," ujar polisi tersebut.
"Selamat malam," balas Azlan dan Zea secara bersamaan.
__ADS_1
Dan saat polisi itu melewati tubuh Erland dan Leon, para polisi itu tersenyum yang dibalas senyuman pula oleh dua orang tersebut.
Lalu saat dirasa semuanya aman juga para polisi itu sudah pergi, kedua orang tadi berniat untuk masuk kedalam apartemen tersebut. Tapi baru saja keduanya melangkahkan kakinya satu langkah kedepan, suara Azlan menghentikan langkahnya.
"Stop! Kalian jangan kesini dan tetap disitu," cegah Azlan.
"Lho lah kenapa kita gak di bolehin masuk bang? Kita masuk juga mau lihat kondisi didalam juga sekalian mau minta minum, haus nih habis lari-larian sama pak pol," ujar Erland.
"Stttt, jangan bawel. Sekarang kalian mudur sampai di tempat kalian tadi berdiri," perintah Azlan.
"Bang---" ucap Erland yang masih ingin protes dengan sikap Azlan saat ini.
"Diam! Turuti saja arahan gue tadi! jika kalian tidak menurutinya maka kalian akan mendapat sangsi langsung dari gue dan sangsinya akan gue jamin jauh lebih berat dari yang kalian bayangkan. Jadi mudur sekarang cepat!" perintah Azlan yang kali ini berhasil membuat dua orang itu kembali ke posisi semula.
"Tutup mata kalian," perintahnya lagi.
"Apaan sih bang pakai tutup mata segala," ujar Erland yang langsung mendapat tatapan tajam dari Azlan.
"Kalau sudah balik badan!" tutur Azlan yang membuat kedua laki-laki tadi menghela nafas pasrah.
Dan setelah ia memastikan jika keduanya telah aman dan tak melihat kearah Zea, Azlan langsung menggendong tubuh kekasihnya itu menuju ke dalam kamar.
"Ganti baju kamu sekarang sekaligus beresin barang-barang kamu yang sekiranya penting," tutur Azlan sembari menjaga pandangannya agar ia tak khilaf karena tampilan dari Zea saat ini yang benar-benar seksi. Dan setelah mengucapkan hal tersebut, ia langsung menutup pintu kamar Zea dan pergi dari depan kamar tersebut tanpa menunggu balasan dari Zea.
Sedangkan Zea yang tak paham dengan Azlan yang menyuruhnya untuk berkemas pun ia hanya menggedikkan bahunya lalu setelahnya ia bergegas melakukan apa yang di perintahkan oleh Azlan tadi.
...****************...
__ADS_1
Beberapa menit telah berlalu, Zea yang sudah berganti pakaian dan berkemas pun dengan segera ia keluar dari kamar tersebut dan menghampiri Azlan yang tengah duduk di ruang tamu.
"Sudah?" tanya Azlan saat Zea sudah berada di hadapannya. Dan pertanyaannya tadi hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh perempuan tersebut.
"Kalau gitu kita pergi sekarang," ujar Azlan sembari berdiri dari duduknya lalu setelahnya ia menggandeng tangan kekasihnya itu untuk ia bawa keluar dari apartemen tersebut.
"Az," panggil Zea yang langsung mendapat tatapan tajam dari Azlan.
"Maaf-maaf keceplosan. Maksudku sayang," ralat Zea.
"Hmmmm kenapa?" tanya Azlan.
"Kita mau kemana? Ini tengah malam tau. Aku takut jika ada seseorang yang berniat jahat lagi sama kita," ujar Zea sembari menatap ke sekelilingnya yang masih tampak sepi.
"Kamu tenang saja oke, kita akan baik-baik saja. Kalaupun ada orang yang masih berani macam-macam sama kita, dia akan merasakan konsekuensinya. Dan aku sekarang akan membawa kamu ke rumah," ucap Azlan yang membuat Zea mengangguk paham.
Dan tanpa siapapun ketahui jika disetiap pergerakan dari keempat orang tadi ternyata saat ini tengah di pantau oleh seseorang di dalam persembunyiannya.
"Sial, mereka masih saja selamat," gumam orang tersebut dengan kepalan ditangannya.
"Tapi tak apa mungkin hari ini dewa Fortuna masih berbaik hati untuk membantu mereka. Dan kalian jangan senang dulu karena cepat atau lambat kalian bisa gue musnahkan," ujar orang tersebut yang terus menatap keempat orang tersebut hingga mereka hilang dari pandangan.
Dan tak berselang lama dari kepergian keempat orang tadi, terdengar sirene mobil polisi mendekati gedung apartemen tersebut.
"Sial," umpatnya dan dengan sesegera mungkin ia kabur dari gedung apartemen tersebut sebelum para polisi datang menangkapnya.
Sedangkan keempat orang tadi yang sudah menempuh perjalanan 30 menit akhirnya mereka telah sampai di kediaman keluarga Abhivandya.
__ADS_1
Dan baru saja Zea menapakkan kaki memasuki rumah mewah tersebut, ia sudah disambut dengan teriakan Mommy Della yang memanggil namanya.
"Zea!" teriak Mommy Della sembari berjalan cepat kearahnya. Zea yang mendapat sambutan hangat dari keluarga kekasihnya itu pun tersenyum lebar lalu setelahnya ia berjalan dan memeluk tubuh Mommy Della dengan sangat erat. Ia benar-benar baru merasakan hangatnya sebuah keluarga dan pelukan tulus dari seorang ibu justru di keluarga orang lain bukan keluarganya sendiri. Menyedihkan sekaligus membuatnya bersyukur, setidaknya masih ada seseorang yang sayang kepadanya layaknya keluarganya sendiri.