
Zea terus tersenyum manis kearah orang-orang yang tengah mengucapakan selamat atas pernikahannya, walaupun sebenarnya didalam lubuk hatinya rasa sedih terus ia sembunyikan. Di hari kebahagiaan ini lagi-lagi ia merasa ada sesuatu yang sangat ganjal di hatinya, dan sesuatu itu adalah orangtuanya. Ya, dia sebenarnya menginginkan kedua orangtuanya yang harusnya sekarang berdiri disamping kirinya, bukan malah adik dari Daddy Aiden dan suaminya yang menemani dirinya di atas panggung itu. Tapi jika ia mengingat perilaku dari kedua orangtuanya itu, membuat dirinya kembali menghela nafas. Ia harus sadar diri jika ia tak boleh egois untuk melihat kembali orangtuanya yang entah keadaannya sekarang seperti apa karena saat Daddy Aiden mensetujui untuk memberikan uang kepada kedua orangtuanya maka, saat itu juga dirinya sudah menjadi milik keluarga Abhivandya seutuhnya. Bahkan marga yang tertera di belakang namanya juga sudah terganti menjadi marga Abhivandya.
Tapi jika ia boleh jujur, ia sangat hancur ketika orangtuanya memilih uang daripada dirinya. Tapi disisi lain ia sangat bersyukur karena ia jatuh di tangan keluarga yang tepat. Tidak ada siksaan dari kedua orangtuanya yang ia dapat, tak ada lagi kata-kata yang menyakiti hatinya dan tidak ada lagi orangtua yang selalu mengabaikannya. Karena kini ia hanya merasakan dirinya mendapat kasih sayang dari kedua mertuanya, suaminya, Kakak dan adik iparnya, bahkan kedua keluarga besar Abhivandya dan Genoveva tak kalah menyayanginya. Dan saat ia mengingat kasih sayang yang mereka berikan kepadanya itu, tak terasa satu tetes air mata meluncur begitu saja.
Azlan yang sedari tadi selalu menyempatkan dirinya untuk melirik kearah Zea pun ia di buat terkejut saat istri tercinta itu meneteskan air matanya.
"Hey, kamu kenapa?" tanya Azlan sembari memutar tubuh Zea agar menatap kearahnya. Dan untung saja saat itu tak ada tamu undangan yang naik ke panggung untuk memberikan selamat kepada mereka.
Ucapan dari Azlan tadi membuat Mommy Della dan Daddy Aiden juga Airen dan Dion menoleh kearah mereka berdua.
"Kenapa?" tanya Mommy Della yang mulai khawatir karena melihat air mata Zea yang menetes.
Zea menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
"Zea tidak kenapa-kenapa Mom. Zea tadi hanya sedikit terharu saja. Hehehe," ucap Zea dengan cengiran dibibirnya, tak lupa tangannya kini menghapus air mata yang dengan tak tau dirinya mengalir di pipinya.
"Kamu yakin?" tanya Mommy Della kembali.
Zea menganggukkan kepalanya dengan mantap.
__ADS_1
"Yakin Mommy. Zea tidak kenapa-kenapa. Dan terimakasih sudah mengkhawatirkan Zea." Mommy Della kini tampak menghela nafas lega.
"Syukurlah kalau gitu. Kamu harus terus bahagia sayang, jangan ada air mata kesedihan yang turun dari pelupuk mata kamu. Dan jika ada yang menyakitimu jangan segan-segan buat cerita sama Mommy. Karena jika kamu mengandalkan Azlan saja, Mommy tidak yakin dia akan jadi pendengar yang baik untuk kamu." Azlan yang sedari tadi diam dengan memperhatikan dua perempuan yang berada di hadapannya itu kini ia memelototkan matanya tak terima dengan ucapan dari Mommy Della tadi.
Dan saat Azlan ingin melontarkan kata-kata protesannya, tangan Mommy Della lebih dulu meraup bibir anaknya itu.
"Stttt, jangan protes! udah ada tamu undangan yang mau kesini lagi," ujar Mommy Della sembari melepaskan tangannya dari bibir Azlan. Lalu setelahnya ia kembali berdiri di sisi sang suami. Dan hal tersebut membuat Azlan kini mencebikkan bibirnya, sebelum bibirnya terpaksa harus ia lengkungankan ke atas saat beberapa tamu mulai menghampirinya.
...****************...
Sedangkan di sisi lain tapi masih di tempat yang sama, Erland yang sedari tadi duduk sembari menikmati minumannya itu mendengus berkali-kali saat menatap saudara kembarnya itu tengah berdiri tak jauh dari pandangannya. Dan saat matanya ia alihkan ke sisi kiri, lagi-lagi ia di buat menghela nafas panjang saat melihat saudara kembarnya yang lain tengah bermesraan dengan pasangannya.
"Dulu, gue pengen banget nikah lebih dulu dari pada mereka. Tapi sekarang justru gue yang di tinggal nikah sama mereka. Kalau ditinggal pas gue udah punya pasangan sih gak papa. Tapi masalahnya, gue sekarang gak punya pasangan. Kan kalau gini gue kelihatan ngenes banget," gumam Erland meratapi nasibnya saat ini.
"Ini semua gara-gara Kayla kampret, sialan itu. Kalau gue tau dia dari awal cuma mainin gue. Gue gak akan pernah suka sama dia. Arkhhhh awas aja ya lo, Kayla. Gue balas lo nanti," sambungnya.
"Kayla sudah mati kalau kamu lupa." Perkataan seseorang membuat dirinya kini menolehkan kepalanya kearah sumber suara yang kini tengah duduk di sampingnya.
"Bang," ucap Erland setelah ia mengetahui jika yang duduk disampingnya itu adalah Adam.
__ADS_1
Adam hanya melirik sekilas kearah Erland sebelum ia menyesap minuman di tangannya.
"Jadi masih mau balas perbuatan Kayla?" tanya Adam yang kini membuat Erland menghela nafas. Ia sudah tak tau lagi, berapa kali ia menghela nafas seharian ini untuk menenangkan perasaan campur aduk di dalam hatinya.
"Gak jadi. Er tadi lupa kalau Kayla udah meninggal." Adam yang mendengar hal tersebut tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dan setelah percakapan singkat itu, tak ada lagi pembicara yang terjadi diantara mereka berdua hingga berselang beberapa menit setelahnya, suara Erland kembali terdengar.
"Bang," panggilnya yang membuat Adam menoleh kearahnya dengan salah satu alis yang terangkat seakan-akan alis itu mewakili dirinya berbicara kepada Erland.
"Abang gak iri kah sama adik-adik Abang yang udah nikah duluan?" tanya Erland penasaran. Pasalnya sedari ia mengetahui Azlan menikah hingga Edrea menikah ekspresi wajah Kakak pertamanya itu tidak menunjukkan kegelisahan sedikitpun seperti dirinya saat ini.
"Gak. Kenapa harus iri?" Erland tampak menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ya kan Abang umurnya hampir kepala tiga. Ya walaupun masih beberapa tahun lagi tapi setidaknya umur Abang ini udah cukup matang buat menikah. Masak Abang betah jomblo disaat adik-adik Abang menebar ke-uwuan dihadapan Abang. Apa jangan-jangan Abang mau nunggu Erland punya istri juga baru Abang mau nikah?" ucap Erland yang membuat Adam terkekeh.
"Memangnya siapa yang mau sama orang yang gagal move on seperti kamu ini?" tanya Adam meremehkan. Erland yang mendapat ucapan itu dari sang kakak pun ia kini berdecak.
"Ck, emang Abang kira Erland ini kayak Abang yang gagal move on seperti yang Abang katakan tadi. Sorry to say ya bang. Er, udah lama move on dari dia. Gak kayak Abang yang setiap hari masih galau tentang perempuan itu. Sadar bang, masih banyak perempuan lain yang jauh lebih baik dari dia. Ini sudah hampir 5 tahun kejadian itu berlangsung, dan sekarang sudah 2022 jadi come on dong bang, move on. Jangan jadi laki-laki yang lembek karena cinta. Buktikan sama dia kalau Abang jauh lebih bahagia daripada saat bersama dia dulu," ucap Erland yang kini membuat Adam diam di tempatnya sebelum akhirnya Adam memilih beranjak dari tempat duduknya itu dan pergi meninggalkan Erland yang tengah memanggil namanya.
__ADS_1