
Mobil yang ditumpangi oleh Edrea juga ketiga penjahat tadi telah tiba di suatu rumah yang di kelilingi oleh orang berbadan kekar disetiap sudut rumah tersebut.
Setelah mobil tadi berhenti, salah satu orang berbadan kekar yang tadi duduk disamping Edrea, dengan perlahan keluar dari mobil tersebut dengan tangan yang membopong tubuh Edrea untuk membawanya masuk kedalam rumah tersebut.
"Langsung ke ruangan bos," ucap sopir taksi tadi mengintruksi kedua orang lainnya. Mereka kembali berjalan menuju lantai dua rumah tersebut yang dominan berwarna hitam itu hingga mereka sampai disalah satu pintu yang menjulang tinggi dan terlihat sangat mewah.
Sopir taksi tersebut langsung mengetuk pintu tadi hingga suara dari dalam ruangan tersebut mengintruksi untuk memperbolehkan mereka masuk.
Ceklekk!!!
Pintu tersebut terbuka dan langsung menampilkan seorang laki-laki yang tengah menatap keluar jendela dengan kursi putarnya yang tengah ia duduki sekarang.
"Apakah berhasil?" tanyanya dengan nada suara yang dingin.
"Berhasil bos," jawab sopir taksi tersebut yang membuat sang bos langsung memutar kursinya yang tadinya membelakangi ketiga anak buahnya ditambah Edrea, kini ia sudah berhadapan langsung dengan keempat orang tersebut.
Matanya kini terfokus ke Edrea setelah itu ia beranjak dari kursinya kemudian mendekati mereka berempat, lebih tepatnya ke arah tubuh Edrea.
Setelah sampai di depan salah satu anak buahnya yang membawa tubuh Edrea, tangan bos tersebut bergerak dan mengelus pipi Edrea dengan sangat lembut.
"Bawa dia ke kamar saya!" perintahnya dan langsung diangguki oleh anak buahnya yang menggendong Edrea dan segera membawa tubuh Edrea ke tempat yang sudah di perintahkan. Meninggalkan kedua temannya yang masih berdiri di ruangan sang bos.
Sedangkan bos tadi kembali ke mejanya lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas beserta bolpoin keatas meja.
"Isi berapapun yang kalian mau," ucapnya sembari duduk kembali di kursi kebesarannya.
__ADS_1
Dua anak buah tadi saling pandang dan tersenyum kemudian mereka mendekat kearah kertas tadi yang ternyata adalah sebuah cek dan dengan segera mereka pun mengisinya secara bergantian. Dan baru saja keduanya selesai mengisi, satu anak buah yang ditugaskan sang bos untuk menempatkan Edrea ke kamarnya pun telah kembali.
"Beres bos," ucapnya dan diangguki oleh bos tersebut.
"Isi sendiri berapa yang kamu mau." Anak buahnya tadi mengeluarkan ekspresi tak berbeda jauh dari kedua temannya. Dan dengan hati yang gembira ia langsung mengisi cek tadi.
"Sudah?" tanya bos tersebut. Ketiganya menganggukkan kepalanya.
"Keluar!" perintahnya dengan suara yang dingin. Ketiga anak buahnya tadi langsung lari terbirit-birit keluar dari ruangan tersebut. Mereka tak ingin menaruhkan nyawa mereka jika harus berlama-lama di ruangan yang sama dengan bos tersebut.
Setelah ketiganya keluar, bos tersebut langsung mengubah ekspresi wajahnya.
"Akhirnya kamu sekarang ada di tanganku," gumamnya diakhiri dengan senyum miring.
...****************...
Saat pikiran dan hatinya terus berperang, terdengar ketukan pintu yang membuat perhatiannya teralihkan.
Tok tok tok!!!
"Masuk!" teriaknya dari dalam kamar dan matanya tak beralih dari pemandangan di depannya.
Ceklekk!!!
Suara pintu terbuka dan langsung menampilkan wanita yang sangat cantik walaupun sudah tak muda lagi. Ia kini berjalan mendekati laki-laki tadi.
__ADS_1
"Kamu kenapa hmm? Kenapa gak ikut makan siang tadi?" tanyanya setelah berada disamping laki-laki tersebut tak lupa tangannya ia gunakan untuk mengelus lengan laki-laki itu.
Laki-laki tersebut menolehkan kepalanya menghadap kearah wanita tadi dan dengan sangat terpaksa ia menampilkan senyum yang jarang sekali dilihat oleh orang lain kecuali keluarga terutama ibunya.
"Aku masih kenyang Bun. Nanti kalau perut aku udah lapar, aku bakal makan kok," tuturnya dengan sangat lembut.
Wanita tersebut tampak menghela nafas kemudian mengangguk.
"Baiklah kalau gitu, tapi jangan sampai telat makan. Dan kalau ada masalah cerita sama bunda jangan kamu pendam sendiri. Siapa tau bunda bisa bantu kamu," ucapnya. Yap wanita tadi adalah ibu dari laki-laki tersebut.
"Gak ada kok Bun. Bunda tenang aja ya. Abang lagi gak ada masalah. Oh ya Monik mana? Dari tadi Abang gak denger suaranya?" tuturnya untuk mengalihkan pembicaraan dari sang bunda.
"Adik kamu lagi ikut Ayah kamu kerja." Laki-laki tersebut tampak mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ya sudah Bunda ke kamar dulu. Ada sesuatu yang harus bunda kerjakan. Jangan lupa makan, ingat kamu punya maag, jangan sampai tuh maag kambuh," peringatnya.
"Iya-iya Bunda. Bentar lagi Abang turun." Bundanya pun mengangguk kemudian ia mengelus kepalanya anak laki-laki satu-satunya itu walaupun harus berjinjit terlebih dahulu, lalu setelahnya ia keluar dari kamar tersebut.
Saat pintu kamar tadi kembali tertutup, laki-laki itu kini berjalan menuju ke ranjangnya dan mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang kemudian tangannya ia gerakkan untuk menarik laci nakas disisi ranjang. Setelah laci itu terbuka, ia langsung mengambil sebuah foto yang didalam foto itu terlihat ada 3 anak laki-laki dan 2 anak perempuan tengah berjejer rapi dengan senyum bahagia dengan wajah yang tampak tak ada beban sedikitpun.
Ia tersenyum saat tangannya mengelus foto salah satu anak perempuan dengan rambut yang terkuncir dua, terlihat sangat menggemaskan sekali.
"Jaga diri lo baik-baik. Jangan sampai lo kenapa-napa karena kalau lo sampai kenapa-napa gue akan nyalahin diri gue sendiri yang gak bisa jaga lo," ucapnya seolah-olah anak kecil itu tengah berhadapan langsung dengannya dan bisa mendengarkan apa yang ia katakan tadi.
Setelah mengatakan hal tadi, laki-laki tersebut langsung merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya yang di penuhi oleh warna hitam itu. Entah kenapa bayangan gadis itu seakan berada di langit-langit kamar tadi hingga senyuman laki-laki itu kembali menghiasi wajah tampannya.
__ADS_1
"Gue gak mau kehilangan lo untuk kedua kalinya. Gue akan jaga lo walaupun nyawa gue jadi taruhannya. Gue gak peduli, yang terpenting di hidup gue sekarang adalah lo," tuturnya setelah itu ia mencoba untuk memejamkan matanya guna untuk menenangkan pikirannya yang semakin berantakan dan terasa ingin pecah. Serta ia juga akan mencoba untuk menenangkan hatinya yang sedari tadi seperti tengah di porak-poranda hingga berantakan. Mungkin dengan ia tidur sebentar semuanya akan menjadi lebih tenang dari sebelumnya dan ia juga senantiasa meminta agar gadis yang sedari tadi terlintas didalam pikirannya itu selalu dalam keadaan baik-baik saja.