The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 135


__ADS_3

Dipagi harinya, triplets sudah siap untuk segera meluncur ke lokasi dimana lokasi itu tempat disekapnya Edrea saat itu. Dan kini triplets tengah menunggu sang Daddy yang entah sampai kapan akan turun menemui dirinya.


"Daddy! buruan!" teriak Edrea yang sudah bosan menunggu.


"Sabar dikit, Daddy baru turun juga," jawab Daddy Aiden yang tengah menuruni anak tangga dengan tangan yang saling bergandengan dengan Mommy Della.


Triplets terbengong saat melihat tampilan kedua orangtuanya terlebih tampilan Mommy Della yang baru kali ini mereka melihatnya.


Mommy Della tampak cantik dengan memakai pakaian serba hitam ditambah jaket kulit dengan warna yang senada. Rambut yang biasanya ia gerai kini ia kuncir kuda dan memperlihatkan anting keluarga Abhivandya begitu juga dengan sang Daddy yang juga memakai pakaian serba hitam.


"Uhhhh wow cewek mana tuh? bisa dong kalau spill nomor WA-nya," ucap Erland yang suka sekali menggoda sang Mommy.


Daddy Aiden yang mendengar ucapan dari Erland pun mendelikkan matanya kearah sang anak dan tangannya kini dengan posesif memeluk pinggang Mommy Della. Hal itu membuat ketiga anaknya berdecak.


"Bucin tak tertolong," tutur Azlan.


"Sudah-sudah kalian ini ribut terus. Berangkat sekarang sebelum nanti pada kabur semua orang-orang dirumah itu," ucap Mommy Della.


"Lho Mommy juga ikut?" tanya Edrea yang masih tak percaya.


"Ikut lah. Mom juga mau tau keadaan rumah itu, siapa tau juga Mom bisa ketemu penculik itu. Kalau sampai ketemu biar Mom hajar dia," jawab Mommy Della dengan menggebu-gebu.


Triplets tersenyum melihat Mommynya yang tengah antusias.


"Ya udah kalau gitu, kalian bertiga pakai satu mobil saja. Dad sama Mom pakai mobil sendiri. Berdua saja gak ada yang boleh numpang," tutur Daddy Aiden. Triplets memutar bola matanya malas kemudian mereka bertiga tanpa mengucapkan sepatah kata lagi keluar dari rumah tersebut, meninggalkan kedua orangtuanya yang tengah bucin itu.


Kemudian ketiganya mulai masuk kedalam mobil lalu Azlan sebagai pengemudi mulai menjalankan mobilnya keluar dari lingkungan rumahnya diikuti mobil Daddy Aiden. Tapi tanpa triplets tau jika Daddy Aiden sudah menyiapkan beberapa bodyguard yang akan membantu mereka nantinya dan sekarang para bodyguard itu dengan diam-diam juga ikut mengikuti mobil Azlan.


Butuh waktu 2 jam akhirnya mereka sampai di rumah yang beberapa hari yang lalu Edrea tempati. Tapi anehnya tempat itu sudah sangat sepi tanpa ada penunggu seperti dulu.


"Kok sepi," ucap Edrea sembari menatap keseluruhan penjuru lingkungan rumah tersebut pasalnya mobil yang di tumpangi oleh triplets dan Daddy Aiden sekarang sudah terparkir rapi di dalam lingkungan rumah tersebut. Beruntung bagi mereka karena pagar yang waktu itu dirusak Edrea belum di perbaiki.


"Lo gak lihat udah banyak mobil juga yang terparkir disini dan mobil itu mobil anak buah Erland. Kemungkinan orang-orang dirumah ini udah diamankan sama mereka," tutur Azlan sembari melepaskan seat beltnya lalu keluar dari mobil tersebut menyusul Erland dan kedua orangtuanya yang terlihat sudah berkumpul menjadi satu. Sedangkan Edrea menghela nafas dan ikut turun.

__ADS_1


"Kita langsung masuk aja. Didalam udah aman," ujar Erland yang langsung diangguki oleh keempat orang lainnya.


Saat satu keluarga tadi sudah menapakkan kakinya masuk kedalam rumah tersebut, anak buah Erland sudah menyambut mereka semua.


"Pagi bos," salam mereka yang dibalas anggukan oleh Erland.


Daddy Aiden dan Mommy Della tampak saling pandang, yang ia tahu anak-anaknya itu hanya memiliki beberapa anak buah khusus dari Daddy Aiden tapi kenapa anak buahnya itu tambah banyak sekarang. Tapi ya sudahlah yang penting mereka tidak memanfaatkan kekuasaan mereka untuk menindas orang-orang yang bersalah. Toh Erland juga memiliki geng motor jadi tak perlu diragukan lagi kekuatan dari putranya itu.


"Semuanya sudah aman?" tanya Erland.


"Sudah bos. Semuanya sudah kita amankan di salah satu ruangan di bawah tanah rumah ini. Tapi untuk ketua mereka kita masih melacak keberadaannya," jawab salah satu anak buah Erland yang langsung diangguki oleh sang empu.


"Vivian mana?" tanyanya lagi.


"Maaf-maaf aku telat," teriak Vivian yang baru sampai dengan nafas terengah-engah.


Semua orang di sana menoleh kearah sumber suara dan mendapati Vivian tengah berjalan gontai kearah mereka semua.


"Siap bos," jawab mereka semua dan perlahan anak buah Erland berpencar untuk mengistirahatkan tubuh yang sejak dini hari belum istirahat karena mencari lokasi rumah itu.


"Pagi Om, Tante," sapa Vivian saat dirinya sudah bergabung dengan keluarga sahabatnya itu tak lupa ia tersenyum manis kearah dua orangtua tersebut.


Mommy Della dan Daddy Aiden tampak mematung saat melihat wajah dan senyum dari Vivian bahkan hati mereka tampak menghangat. Seakan-akan mereka berdua tengah melihat sosok Aila di tubuh Vivian


"Dad, Mom. Disapa itu lho. Bukanya jawab malah bengong," tutur Edrea sembari menyenggol lengan kedua orangtuanya.


"Ahhh eh selamat pagi juga," balas mereka berdua.


Vivian masih tersenyum kemudian menyodorkan tangannya.


"Saya Vivian Om, Tante. Sahabat dari Azlan dan Erland." Tangan Vivian langsung disambut oleh tangan Daddy Aiden.


"Panggil saja Daddy Aiden jangan Om biar lebih akrab saja," tutur Daddy Aiden sembari melepaskan tangannya tadi dan kini tangan Vivian bergantian di genggam oleh Mommy Della.

__ADS_1


"Panggil Mommy Della aja. Biar sama seperti mereka bertiga." Vivian menganggukkan kepalanya.


"Senang bertemu dan berkenalan dengan Daddy Aiden dan Mommy Della," tutur Vivian. Kini Vivian tersenyum saat menatap Edrea dan tangannya langsung bergerak untuk memeluk tubuh Edrea.


"Gimana kabar kamu? Gak ada yang luka kan dari kejadian kemarin? Dua orang itu ngabarin Kakak setelah mereka nemuin kamu. Kurang ajar memang tuh dua orang," ucap Vivian di sela-sela pelukannya. Edrea pun terkekeh.


"Tenang aja Kak. Aku juga baik-baik aja kok. Kabar Kakak sendiri gimana?" tanya Edrea balik sembari melepas pelukannya.


"Seperti yang kamu lihat. Sangat-sangat baik." Edrea tersenyum mendengar ucapan dari Vivian itu.


"Oh ya kalau begitu kita mulai saja sekarang," sambung Vivian.


"Emangnya masalah yang satu udah kamu atasi Vi?" tanya Azlan.


"Anak buah aku udah bergerak dan dari pantauan mereka, pelaku dari masalah itu sama dengan pelaku dari penculikan Edrea," tutur Vivian.


Azlan dan Erland dengan kompak menganggukkan kepalanya. Tak tau saja tiga orang yang lainnya hanya memandang mereka dengan penuh tanda tanya.


"Kita mulai cari identitas dari pelaku di lantai atas. Rea tau kan dimana kamar yang dulu buat nyekap Lo?" tanya Erland. Edrea pun menganggukkan kepalanya dan tanpa diminta ia lebih dulu berjalan menuju lantai tiga.


Setelah menaiki beberapa anak tangga akhirnya mereka telah sampai di lantai tiga dan juga mereka telah sampai di kamar yang mereka maksud.


"Gak bisa dibuka," ucap Edrea yang mencoba untuk membuat pintu tersebut yang ternyata terkunci.


"Lo minggir dulu. Biar gue coba dobrak sama Erland," tutur Azlan. Edrea pun menyingkir dari depan pintu tersebut lalu kedua laki-laki tadi langsung mendobrak pintu hingga dobrakan ketiga, pintu itu berhasil mereka buka.


Dan betapa kagetnya mereka saat melihat kamar tersebut seperti kapal pecah bahkan bercak darah masih tertinggal di lantai kamar tersebut.


Setalah itu tatapan mereka semua kecuali Vivian kini langsung tertuju kearah Edrea. Edrea yang ditatap pun hanya nyengir kuda.


"Demi keselamatan diri sendiri," ucap Edrea untuk membela dirinya sendiri.


Mereka pun menghela nafas kemudian dengan segera mereka langsung menelusuri setiap sudut kamar tersebut mencari sesuatu yang menunjukkan barang bukti yang cukup kuat dari identitas pelaku tersebut.

__ADS_1


__ADS_2